Bacarita Genre
Menyajikan Cerita dengan dengan berbagai Genre :romance inspirasi, imajinasi, dll
"MAAFKAN IBU YANG LUPA"
Sejak kecil, rumahku hanya ada aku dan Ibu.
Ibu adalah segalanya bagiku. Dia yang membesarkanku sendirian setelah Ayah meninggal saat aku masih bayi. Setiap hari Ibu mengajariku banyak hal, terutama satu pelajaran yang selalu diulang-ulang:
“Kita harus selalu baik pada orang yang sakit jiwanya, Nak. Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya kehilangan memori baiknya.”
Di belakang rumah kami yang sederhana di pinggir desa, sering muncul seorang perempuan aneh. Rambutnya acak-acakan, bajunya kotor dan robek, matanya kosong. Kadang dia berteriak memanggil “Anakku!” dengan suara serak yang membuat aku ketakutan. Kadang dia duduk berjam-jam di bawah pohon mangga, menangis sambil menggambar lingkaran-lingkaran di tanah dengan jari telunjuknya.
Waktu aku berumur enam tahun, perempuan itu tiba-tiba mendekatiku dan meraih tanganku. Aku menjerit ketakutan dan lari masuk rumah.
Ibu langsung memelukku erat.
“Jangan takut, Sayang,” bisik Ibu lembut sambil mengusap punggungku. “Dia ODGJ… orang dengan gangguan jiwa. Dia bukan jahat. Dia hanya kehilangan memori baiknya. Dulu pasti dia ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kita harus menerimanya dengan baik. Kalau dia lapar, kasih dia nasi. Kalau haus, kasih air. Jangan pernah usir dia. Mengerti?”
Aku mengangguk di pelukan Ibu. Sejak hari itu, setiap kali perempuan ODGJ itu datang, Ibu selalu menyuruhku membawakan makanan atau minuman. Ibu sendiri sering duduk di sampingnya, berbicara pelan meski perempuan itu jarang menjawab dengan kata yang masuk akal.
“Kasih sayang adalah obat terbaik untuknya,” kata Ibu berkali-kali. “Kamu harus belajar menerima orang seperti dia, Nak. Suatu hari kamu akan mengerti betapa pentingnya itu.”
Aku tumbuh besar dengan pelajaran itu tertanam kuat. Aku tidak lagi takut pada perempuan itu. Bahkan saat aku SMA dan kuliah di kota, setiap pulang ke desa, aku selalu mencarinya. Aku memberinya makan, duduk sebentar di sampingnya, dan kadang mendengar dia berbisik “Anak… Ibu… maaf…” dengan suara yang semakin lemah.
Ibu selalu tersenyum bangga setiap melihatku melakukannya.
“Kamu anak yang baik sekali,” katanya sambil mengelus rambutku. “Ibu bangga padamu.”
Tahun demi tahun berlalu. Perempuan ODGJ itu semakin tua dan kurus. Tubuhnya semakin rapuh, tapi dia masih datang ke rumah kami hampir setiap hari.
Suatu malam saat aku pulang libur semester, aku terbangun karena suara tangisan pilu dari belakang rumah. Aku keluar diam-diam. Perempuan itu sedang memeluk sebuah syal lama yang sudah robek-robek. Dia menangis sambil berulang-ulang:
“Aku meninggalkan anakku… aku tak sanggup merawatnya… aku sakit… maafkan Ibu…”
Aku mendekat dan berlutut di depannya. “Siapa yang Ibu tinggalkan?”
Dia mendongak. Matanya merah. Untuk sesaat, tatapannya hampir jernih.
“Bayiku… yang kutinggalkan di depan pintu rumah tetangga… karena aku takut melukainya…”
Tubuhku merinding. Aku berlari masuk rumah dan membangunkan Ibu.
“Ibu… perempuan itu bilang dia pernah meninggalkan bayinya di depan pintu rumah orang. Ibu… apa hubungannya dengan kita?”
Ibu terdiam lama. Wajahnya yang biasanya tenang tiba-tiba terlihat sangat lelah dan sedih. Dia mengajakku duduk di ruang tamu, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari dalam lemari yang selalu terkunci.
Di dalam kotak itu ada foto lama yang sudah menguning.
Foto seorang perempuan muda yang cantik sedang menggendong bayi perempuan. Wajah perempuan itu… persis seperti wajah perempuan ODGJ yang selama ini datang ke rumah kami.
Ibu menghela napas panjang, suaranya bergetar.
“Nak… sebenarnya… aku bukan ibu kandungmu.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Ibu melanjutkan dengan suara pelan:
“Aku adalah Ibu Maria tetangga dekat ibu kandungmu. Ibu kandungmu bernama Anastasia Dia sakit jiwa berat sejak melahirkanmu — skizofrenia parah. Dia sering kehilangan ingatan, berhalusinasi, dan takut dirinya akan melukai bayinya. Malam itu, dia kabur dari rumah sakit jiwa dan meninggalkanmu di depan pintu rumahku dengan surat: ‘Tolong rawat anakku. Aku tak sanggup.’
Aku merawatmu sejak saat itu. Aku memutuskan untuk menjadi ‘Ibu’ bagimu karena aku tak mau kamu merasa terbuang. Tapi ibu kandungmu… dia tak pernah pergi jauh. Dia terus berkeliaran di sekitar desa ini, dekat dengan rumah ini, karena sebagian kecil hatinya masih ingat bahwa anaknya ada di sini.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Jadi… perempuan ODGJ yang selama ini aku kasihani… yang Ibu ajari aku untuk selalu baik padanya… itu adalah…”
“Iya,” kata Ibu (Maria) sambil menangis. “Itu ibu kandungmu sendiri. Aku tak pernah bilang yang sebenarnya karena aku takut kamu akan trauma atau membencinya. Aku memilih mengajari kamu untuk menerimanya dengan baik, berharap suatu hari kamu bisa memberi kasih sayang pada ibumu yang sakit, walaupun dia tak pernah sadar sepenuhnya.
Setiap kali kamu memberinya makan… kamu sebenarnya sedang memberi makan ibu kandungmu. Setiap kali kamu tersenyum padanya… kamu sedang tersenyum pada ibumu yang hilang ingatannya.” kata Maria dengan Isak tak tertahan.
Aku berdiri gemetar, lalu berlari ke belakang rumah. Perempuan itu masih duduk di tanah, memeluk syalnya dengan erat.
Aku berlutut di depannya, memeluknya untuk pertama kalinya dengan seluruh hatiku.
“Ibu… ini aku… anak Ibu yang Ibu tinggalkan dulu…”
Dia menatapku lama. Matanya berkedip-kedip, seolah ada sesuatu yang berusaha menerobos kabut tebal di ingatannya. Tangan gemetarnya menyentuh pipiku.
“Anak… Ibu…?”
Suaranya rapuh, hampir hilang. Air matanya jatuh pelan.
Malam itu, untuk sesaat, ibu kandungku memanggilku “anakku” dengan suara yang hampir utuh.
Tapi keesokan paginya, dia kembali lupa. Dia berdiri pelan dan berjalan menjauh ke arah hutan, sambil berbisik sendiri seperti biasa.
Mbok Sari berdiri di sampingku, memegang bahuku dengan tangan yang hangat.
“Aku minta maaf, Nak… karena selama ini berpura-pura menjadi ibumu. Tapi aku benar-benar mencintaimu seperti anak sendiri.”
Aku menangis tersedu di pelukannya.
Selama dua puluh tahun, aku diajari untuk selalu menerima dan menyayangi seorang ODGJ… tanpa pernah tahu bahwa orang itu adalah ibu kandungku sendiri.
Dan orang yang selama ini aku panggil “Ibu” dengan penuh kasih sayang, ternyata adalah orang baik yang merawatku sejak bayi.
Aku kehilangan ibu kandungku dua kali:
sekali saat dia meninggalkanku karena penyakitnya,
dan sekali lagi setiap kali ingatannya hilang.
Tapi aku juga menemukan dua ibu:
satu yang melahirkanku tapi hilang di ingatannya sendiri,
dan satu yang merawatku dengan cinta yang begitu besar hingga rela berbohong seumur hidupnya.
17/03/2026
KEIKHLASAN
Di puncak Wolo Bobo, kabut tipis turun seperti tirai yang lembut. Dari tempat yang sering disebut negeri di atas awan itu, hamparan bukit terlihat seperti gelombang hijau yang tak pernah berhenti. Angin sore membawa aroma tanah basah dan kenangan.
Di sanalah, dua tahun lalu, Lidia pertama kali menerima pengakuan dari Aris, pemuda Lamaholot yang datang merantau dan tanpa sengaja merantau juga ke dalam hatinya.
Hari itu mereka berdiri berdampingan di tepi pagar kayu Wolo Bobo. Matahari muncul perlahan dari balik gunung, seakan ikut menyaksikan awal cerita mereka.
Namun sore ini berbeda.
Langit tetap indah, tetapi hati Lidia terasa berat seperti batu yang dibawa dari lembah. Aris berdiri di depannya sambil menatap Ine Rie yang berdiri kokoh, persis sama seperti dulu, hanya saja kali ini mereka datang bukan untuk memulai.
“Kita sudah berusaha, memberi pencerahan tetapi sepertinya Orang tua kita tidak akan pernah sepakat,” kata Lidia pelan. "Adat dan budaya masing-masing sudah terlampau mengakar pada mereka", Suara paraunya hampir tenggelam oleh angin.
Bukan karena mereka tidak saling mencintai. Namun, perbedaan antara dua rumpun keluarga terasa semakin nyata. Keluarga Lidia bersikukuh pada adat dan waktu yang mereka anggap sakral. Sementara keluarga Aris memegang teguh cara hidup dan tradisi dari tanahnya sendiri. Tak ada yang mau mengalah.
Di antara dua dunia itu, cinta mereka seperti jembatan yang terus diguncang badai.
Aris menatap kabut yang bergerak perlahan di bawah mereka.
“Kalau saja dunia tidak seruwet ini🥹,” katanya lirih.
Lidia tersenyum tipis🙂. Senyum yang tidak benar-benar bahagia.
“Kita memulainya di sini,” katanya sambil memandang jauh ke lautan awan keemasan yang bercampur dengan cahaya mentari senja. “Mungkin memang harus kita akhiri di sini juga😭😭😭.”
Sejenak mereka diam. Burung-burung kecil melintas, seolah tidak tahu bahwa dua hati sedang belajar untuk saling melepaskan.
Lidia menarik napas panjang.
Hari itu ia memutuskan sesuatu yang paling sulit dalam hidupnya yaitu berhenti mencintai seseorang yang sebenarnya masih ia cintai.
Ia melangkah mundur satu langkah.
“Terima kasih sudah pernah membuat Wolo Bobo jadi tempat paling indah dalam hidupku. Terimakasih atas kasih sayang tulus, walau tak harus ku miliki", katanya.
Aris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, menahan sesuatu yang hampir jatuh dari matanya.
Kabut perlahan naik, menutupi lembah di bawah mereka.
Dan seperti kabut yang menelan pemandangan sore kisah mereka pun perlahan menghilang, menyisakan kenangan bahwa di negeri di atas awan itu, dua orang pernah saling mencintai, sebelum akhirnya belajar untuk saling merelakan.
Note: cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan peristiwa, tokoh dan latar, itu semua HANYA kebetulan. Terimakasih 🙏😊
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when Bacarita Genre posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.