Hidan
selamat datang
kami mencoba menyediakan yang terbaik dan menarik
27/04/2021
Akathisia: Efek Samping Obat Antispikotik yang Harus Segera Ditangani
Akathisia adalah suatu gangguan pergerakan tubuh yang membuat penderitanya tidak bisa diam dan terus melakukan gerakan tanpa henti. Kondisi ini perlu ditangani karena dapat sangat mengganggu aktivitas penderitanya. Mari kenali penyebab akathisia dan cara penanganannya.
Akathisia berasal dari kata Yunani ‘akathemi’ yang berarti ‘tidak pernah duduk’. Akathisia umumnya terjadi akibat efek samping dari obat antipsikotik yang digunakan untuk mengobati gangguan kesehatan mental, seperti gangguan bipolar, skizofrenia, dan depresi berat.
Akathisia: Efek Samping Obat Antispikotik yang Harus Segera Ditangani - Alodokter
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, akathisia dibagi menjadi 3 jenis, yaitu akathisia akut yang berlangsung selama kurang dari 6 bulan, akathisia kronis yang berlangsung lebih dari 6 bulan, serta akathisia tardif yang gejalanya baru muncul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah mengonsumsi obat antipsikotik.
Ragam Gejala Akathisia
Orang dengan akathisia biasanya selalu merasa gelisah, tegang, dan mengalami dorongan tidak terkendali untuk terus bergerak. Beberapa gerakan yang biasanya muncul akibat akathisia ini meliputi:
Berjalan mondar-mandir
Mengayun-ayunkan tangan dan seluruh tubuh, baik sambil berdiri atau duduk
Memindahkan beban badan dari satu kaki ke kaki lainnya ketika berdiri
Menyeret kaki sambil berjalan
Mengangkat lutut seperti sedang baris-berbaris
Mengulurkan kaki atau mengayunkan kaki sambil duduk
Waspadai Penggunaan Obat-obatan Penyebab Akathisia
Meski tidak semua pengguna obat antipsikotik akan mengalami akathisia, hampir 50% orang yang mengonsumsi obat tersebut akan mengalami efek samping ini, terutama dalam beberapa minggu pertama setelah memulai pengobatan.
Selain obat antipsikotik, akathisia juga bisa disebabkan oleh beberapa jenis obat lain. Namun, sebagian besar akathisia disebabkan oleh obat antipsikotik. Beberapa jenis obat-obatan yang juga dapat menyebabkan efek samping akathisia adalah:
Obat antipsikotik, seperti chlorpromazine, haloperidol, dan clozapine
Obat penurun tekanan darah golongan antagonis kalsium
Obat antidepresan, seperti antidepresan trisiklik dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI)
Obat pereda mual dan muntah, seperti prochloperazine
Hingga kini, belum bisa dipastikan mengapa efek samping ini bisa terjadi. Beberapa ahli berasumsi bahwa efek samping ini terjadi karena obat antipsikotik memblokir reseptor otak yang sensitif terhadap dopamine, yakni zat kimia otak yang berfungsi sebagai pengantar pesan untuk membantu mengendalikan gerakan.
Risiko mengalami akathisia akan meningkat jika seseorang menggunakan obat antipsikotik generasi lama, seperti haloperidol dan chlorpromazine, dengan dosis yang tinggi. Kondisi ini umumnya dialami oleh orang dewasa dan lansia.
Selain itu, ada juga beberapa kondisi medis yang dianggap dapat meningkatkan risiko terjadinya akathisia, seperti penyakit Parkinson, ensefalitis (radang otak), dan cedera otak.
Penanganan Medis Akathisia
Orang yang mengalami akathisia perlu mendapatkan pertolongan medis segera saat mulai menunjukkan gejala. Dalam kebanyakan kasus, dokter mungkin akan menurunkan dosis obat yang diduga menyebabkan akathisia atau mengganti obat tersebut dengan jenis obat lain.
Sejauh ini, belum ada pengobatan untuk menyembuhkan akathisia. Namun, ada beberapa obat yang dinilai dapat meringankan gejala akathisia, antara lain:
Obat penenang golongan benzodiazepine, misalnya lorazepam
Obat penghambat beta, seperti propranolol
Obat penghambat adrenergik, seperti clonidine
Obat antikolinergik, seperti trihexyphenidyl
Obat antihistamin, seperti promethazine
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin B6 juga dapat meredakan gejala akathisia. Kendati demikian, tidak semua kasus akathisia bisa diatasi dengan obat-obatan tersebut.
Meski terkesan ringan dan tidak mengancam nyawa, akathisia tetap tidak boleh disepelekan. Jika terlambat atau tidak diobati, akathisia berisiko menimbulkan stres, gangguan perilaku, psikosis berat, bahkan muncul keinginan untuk bunuh diri atau melakukan tindak kekerasan.
Oleh sebab itu, apabila muncul gejala akathisia setelah menggunakan obat-obatan tertentu, segeralah konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan.
27/04/2021
Enzim Kelenjar Pencernaan yang Penting bagi Tubuh Manusia
Kelenjar pencernaan berperan untuk menghasilkan berbagai enzim pencernaan. Enzim-enzim yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan ini dibutuhkan untuk membantu proses pencernaan makanan, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh.
Secara umum, proses pencernaan makanan akan dibantu oleh sekelompok enzim yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan. Enzim pencernaan ini berperan untuk memecah nutrisi yang terkandung di makanan dan mengubahnya menjadi bentuk yang sederhana, agar dapat diserap oleh tubuh.
Enzim Kelenjar Pencernaan yang Penting bagi Tubuh Manusia - Alodokter
Berbagai Kelenjar Pencernaan
Berikut ini adalah bermacam-macam kelenjar yang termasuk dalam kelenjar pencernaan:
1. Kelenjar ludah
Fungsi utama kelenjar ludah adalah untuk menghasilkan air liur. Selain menghasilkan air liur, kelenjar ini juga berperan dalam menghasilkan enzim pencernaan, seperti lisozim, lipase lingual, dan amilase. Kelenjar ludah terletak di hampir semua bagian mulut, mulai dari di bagian atas p**i, di bawah rahang bagian bawah, dan di bawah lidah.
2. Lambung
Selain sebagai tempat menampung makanan dari kerongkongan, lambung juga memiliki fungsi lain, yaitu mengeluarkan enzim yang dapat membantu proses pencernaan. Enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh lambung, meliputi pepsin, lipase, asam klorida (HCI), dan gastrin.
3. Kelenjar pankreas
Kelenjar yang juga ikut berperan dalam menghasilkan enzim pencernaan ialah kelenjar pankreas. Enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas meliputi lipase, amilase, protase, dan tripsin.
4. Usus halus
Usus halus juga turut serta dalam mengeluarkan sekelompok enzim yang berguna untuk memudahkan proses penguraian makanan dan membantu penyerapan nutrisinya. Enzim pencernaan yang dihasilkan oleh usus halus adalah maltase, sukrase, dan laktase.
5. Kelenjar empedu
Kelenjar empedu juga memegang peran penting dalam proses pencernaan makanan. Meski tidak menghasilkan enzim pencernaan, namun kelenjar empedu mengeluarkan hormon yang berguna untuk membantu proses pengenceran lemak di makanan.
Enzim-Enzim Pencernaan dan Fungsinya
Secara umum, ada banyak enzim yang berperan dalam menjalankan proses pencernaan makanan di dalam tubuh manusia. Namun, ada tiga enzim utama yang bertugas dalam menguraikan makanan.
Berikut ini tiga enzim pencernaan utama yang perlu Anda ketahui:
Amilase
Amilase adalah enzim yang bertugas untuk memecah zat pati atau karbohidrat menjadi gula (glukosa). Ada dua jenis enzim amilase, yaitu ptialin dan pankreas.
Amilase ptialin adalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah untuk menghancurkan gula ketika masih berada dalam rongga mulut hingga masuk ke perut. Sementara itu, amilase pankreas adalah enzim yang bertanggung jawab untuk melanjutkan pekerjaan ptialin dengan mencerna gula yang masuk ke dalam usus halus.
Lipase
Lipase adalah enzim yang bertugas untuk memecah lemak dari makanan yang Anda konsumsi menjadi asam lemak dan gliserol. Enzim lipase bisa diproduksi oleh kelenjar pencernaan yang ada di mulut, lambung, dan pankreas. Selain diproduksi oleh kelenjar pencernaan, enzim lipase juga ditemukan di dalam air susu ibu (ASI) untuk memudahkan bayi mencerna molekul lemak.
Protease
Protease adalah enzim pencernaan yang bertugas memecah protein di makanan menjadi asam amino. Enzim protease dapat diproduksi di lambung, pankreas, dan usus halus. Meski demikian, sebagian reaksi kimia terjadi di lambung dan usus halus.
Tanpa bantuan enzim yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan, makanan tidak akan bisa diubah menjadi energi yang diperlukan tubuh. Oleh karena itu, Anda perlu menjaga kesehatannya. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami masalah pencernaan yang mungkin disebabkan oleh gangguan pada kelenjar pencernaan dalam menghasilkan enzim.
Terakhir diperbarui: 4 September 2019
26/04/2021
Kateterisasi Jantung, Ini yang Harus Anda Ketahui
Kateterisasi jantung adalah prosedur medis yang bertujuan untuk mendeteksi kondisi jantung, serta mengatasi berbagai penyakit jantung dengan menggunakan kateter, yaitu sebuah alat menyerupai selang tipis berukuran panjang yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah, kemudian diarahkan menuju jantung.
Kateterisasi Jantung, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter
Melalui kateterisasi jantung yang dibantu dengan foto Rontgen dan zat pewarna (kontras), dapat diamati pembuluh darah jantung (koroner), sehingga dapat diketahui bila terdapat sumbatan atau plak di dalam pembuluh darah koroner. Tindakan ini dinamakan angiografi koroner, yaitu salah satu jenis tindakan kateterisasi jantung yang paling sering dilakukan. Selain foto Rontgen, kateterisasi jantung juga dapat dikombinasikan dengan USG.
Selain angiografi koroner, prosedur kateterisasi jantung dapat dilakukan untuk mengambil sampel jaringan otot jantung atau untuk melakukan bedah kecil. Kateterisasi jantung dilakukan oleh dokter jantung.
Indikasi Kateterisasi Jantung
Kateterisasi jantung dapat dilakukan, baik untuk keperluan diagnosis maupun tindakan pengobatan penyakit jantung. Contoh untuk keperluan diagnosis adalah:
Memeriksa adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah koroner (penyakit jantung koroner) yang menyebabkan nyeri dada.
Mengambil sampel jaringan jantung yang nantinya diperiksa di bawah mikroskop (biopsi) untuk melihat kemungkinan kardiomiopati atau miokarditis.
Memeriksa permasalahan pada katup jantung (penyakit katup jantung).
Memeriksa penurunan kemampuan bilik jantung dalam memompa darah, pada keadaan gagal jantung.
Memeriksa tekanan dan kadar oksigen di dalam bagian jantung, yang seringkali bermasalah pada kondisi hipertensi pulmonal.
Memeriksa adanya dugaan kelainan jantung bawaan (kelainan jantung kongenital).
Sedangkan kateterisasi jantung yang dilakukan untuk keperluan tindakan pengobatan, contohnya adalah:
Melakukan angioplasti, yaitu pelebaran pembuluh darah yang mengalami sumbatan dengan menggunakan balon. Ini bisa dilakukan bersamaan dengan pemasangan stent atau ring.
Memperbaiki otot jantung yang mengalami penebalan abnormal pada penderita hypertrophic obstructive cardiomyopathy.
Memperbaiki katup jantung atau menggantinya dengan katup buatan.
Menutup lubang yang ada pada jantung akibat kelainan jantung bawaan.
Mengatasi artimia pada jantung.
Peringatan Kateterisasi Jantung
Beberapa kondisi dapat menyebabkan pasien tidak diperbolehkan menjalani kateterisasi jantung, atau diperlukan pertimbangan khusus. Kondisi-kondisi tersebut adalah:
Gagal ginjal akut.
Menderita gangguan pembekuan darah.
Stroke.
Alergi terhadap kontras.
Menderita perdarahan saluran pencernaan.
Aritmia.
Menderita hipertensi yang tidak terkontrol.
Anemia.
Gangguan elektrolit.
Sedang infeksi.
Meskipun kondisi-kondisi di atas dapat menyebabkan pasien tidak bisa menjalani kateterisasi jantung, namun apabila sudah diobati, pasien diperbolehkan untuk menjalani prosedur ini. Untuk menghindari komplikasi kateterisasi jantung akibat kondisi tersebut, dokter akan melaksanakan prosedur persiapan kateterisasi jantung secara saksama.
Persiapan Kateterisasi Jantung
Pasien akan menjalani tes darah dan pemeriksaan rekam jantung (EKG) sebelum kateterisasi jantung dilakukan. Jika pasien merupakan penderita diabetes, pasien harus berkonsultasi dengan dokter terkait obat-obatan yang dikonsumsi sebelum menjalani kateterisasi jantung. Jika menderita alergi terhadap obat-obatan tertentu, beritahukan kepada dokter dengan segera.
Dokter juga akan meminta pasien untuk berhenti mengonsumsi obat pengencer darah, seperti warfarin atau aspirin. Jika pasien mengonsumsi obat atau suplemen lain, beritahukan kepada dokter. Jika memungkinkan, bawalah kemasan obat tersebut untuk diperlihatkan kepada dokter, agar informasinya lebih jelas dan rinci.
Pasien yang akan menjalani katetersisasi jantung akan diminta untuk berpuasa paling tidak 6 jam sebelum prosedur kateterisasi dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk menghindari munculnya efek samping akibat obat bius. Rambut di sekitar pembuluh darah yang akan ditusuk juga akan dicukur.
Pasien yang menjalani kateterisasi jantung seringkali harus menjalani rawat inap. Oleh karena itu, pasien harus mempersiapkan keperluan untuk menginap di rumah sakit, beserta keluarga yang akan mengantar jemput dan menemani selama di rumah sakit. Usahakan untuk tetap tenang dan rileks pada saat akan menjalani kateterisasi jantung. Jika merasa gelisah, beritahukan kepada dokter agar dapat dibantu menjadi tenang.
Prosedur Kateterisasi Jantung
Prosedur kateterisasi jantung dilakukan di ruangan khusus yang memiliki alat-alat pemindaian. Pasien yang menjalani kateterisasi jantung biasanya diberikan bius lokal, sehingga akan tetap sadar selama prosedur berjalan. Akan tetapi jika diperlukan, pasien akan diberi bius total, terutama bagi yang akan menjalani perbaikan atau penggantian katup jantung. Pasien akan dipasangkan selang infus untuk menyalurkan obat-obatan selama prosedur kateterisasi jantung berlangsung. Pasien juga akan ditempelkan elektroda pada dada untuk membantu dokter memantau kondisi jantung.
Lokasi penusukkan (bisa di lengan atau tungkai) akan diberikan obat bius agar kebas sebelum kateter dimasukkan. Jika kateter dimasukkan lewat pembuluh arteri di tungkai, dokter jantung akan membuat irisan kecil pada kulit sebagai jalur masuk kateter. Kateter dimasukkan ke dalam pembuluh arteri dengan dibungkus plastik khusus terlebih dahulu.
Kemudian dokter akan melakukan tindakan kateterisasi jantung sesuai dengan kebutuhan pasien. Di antaranya adalah:
Angingorafi koroner. Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan kontras untuk memperoleh gambar visual pembuluh koroner melalui kateter jantung. Setelah pewarna kontras dimasukkan, dokter akan memindai bagian jantung menggunakan foto Angiografi koroner dilakukan untuk melihat adanya penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah koroner.
Angioplasti koroner. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk melebarkan kembali pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat. Dokter akan memasukkan kateter bersamaan dengan balon kecil kempis melalui pembuluh darah, hingga mencapai pembuluh yang menyempit atau tersumbat. Sesampainya kateter di lokasi, dokter akan menggembungkan balon kateter, sehingga pembuluh darah akan melebar dan aliran darah kembali normal. Untuk menjaga agar pembuluh yang dilebarkan tidak menyempit atau tersumbat lagi, dokter dapat memasang kawat khusus yang dinamakan stent atau lebih dikenal dengan ring di lokasi tersebut.
Biopsi jantung. Tindakan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel jaringan jantung untuk diamati menggunakan mikroskop. Kateter yang digunakan untuk biopsi jantung biasanya dilengkapi dengan capit khusus untuk mengambil jaringan jantung. Kateter ini biasanya dimasukkan melalui vena di dekat leher atau di selangkangan. Pasien tidak akan merasakan apa pun pada saat sampel jaringan jantung diambil menggunakan kateter.
Valvuloplasti balon. Tujuan prosedur ini adalah untuk memperbaiki kembali katup jantung yang mengalami penyempitan dengan menggunakan balon. Prosedurnya mirip dengan angioplasti jantung, hanya saja targetnya adalah katup jantung. Kateter akan dipasang balon khusus, kemudian dimasukkan melalui pembuluh darah menuju ke katup jantung. Sesampainya di katup jantung, balon akan digembungkan, sehingga katup jantung akan melebar kembali. Jika diperlukan, katup jantung yang menyempit atau bocor akan dipasangi katup jantung buatan melalui prosedur penggantian katup jantung.
Perbaikan kelainan jantung bawaan. Tujuan dari prosedur ini adalah untuk memperbaiki kelainan pada jantung, misalnya lubang pada sekat antar bilik jantung (patent foramen ovale). Prosedur ini berbeda dengan kateterisasi jantung lainnya, karena akan menggunakan dua kateter yang dimasukkan melalui arteri dan vena. Alat khusus akan dipasang pada kateter untuk memperbaiki kelainan jantung. Jika kelainan yang terjadi adalah kebocoran katup jantung, dokter dapat memasang sumbat khusus untuk menghentikan kebocoran tersebut.
Ablasi jaringan jantung. Tujuan prosedur ini adalah untuk mengatasi aritmia yang disebabkan oleh kelainan jaringan jantung. Melalui kateter yang dimasukkan, dokter akan menghancurkan jaringan abnormal menggunakan suhu tinggi dalam bentuk gelombang radio, atau suhu rendah melalui gas nitrous oxide atau laser. Jaringan jantung yang diablasi akan hancur, sehingga denyut jentung kembali normal.
Trombektomi. Prosedur ini dilakukan untuk menghancurkan gumpalan darah yang berpotensi menyumbat pembuluh darah dan berpindah ke organ lain, misalnya ke otak dan mengakibatkan stroke. Kateter akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah hingga mencapai lokasi gumpalan darah. Sesampainya di lokasi, dokter akan menghancurkan gumpalan darah tersebut.
Katetersisasi jantung umumnya berlangsung kurang dari satu jam. Selama prosedur kateterisasi dilakukan, pasien akan diminta untuk menahan napas, menarik napas panjang, batuk kecil, dan menggeser posisi tangan oleh dokter. Ini untuk menghasilkan gambar kondisi jantung yang lebih akurat, tetapi hanya bisa dilakukan jika pasien diberi bius lokal. Kateter yang digerakkan selama kateterisasi jantung tidak akan menimbulkan nyeri pada pasien, meskipun selalu digerakkan selama prosedur berlangsung. Jika merasa tidak nyaman selama pelaksanaan kateterisasi jantung, beritahukan kepada dokter.
Lokasi irisan pembuluh darah tempat dimasukkannya kateter akan ditutup dengan jahitan, lalu ditutup dengan perban yang diberi penekanan untuk mencegah perdarahan.
Setelah Kateterisasi Jantung
Pasien akan dirawat setelah menjalani kateterisasi jantung untuk memantau kondisi setelah diberikan obat bius dan membantu pemulihan setelah menjalani kateterisasi jantung. Namun lamanya perawatan di rumah sakit setelah kateterisasi jantung bergantung kepada prosedur kateterisasi jantung yang dijalani.
Umumnya pasien sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dan berjalan setelah 6 jam. Jika kateter dimasukkan lewat lengan, waktu pemulihan biasanya lebih cepat jika dibandingkan kateter dimasukkan lewat lipat paha atau tungkai. Pasien diharuskan untuk beristirahat dan tidak menjalani aktivitas berat selama 2-5 hari setelah menjalani kateterisasi jantung, untuk mencegah terjadinya perdarahan.
Jika pasien menjalani kateterisasi jantung untuk tindakan pengobatan, seperti ablasi jaringan jantung atau angioplasti, waktu penyembuhan akan berlangsung lebih lama. Jika pasien menjalani pemeriksaan biopsi jaringan jantung, dokter akan menyampaikan hasilnya beberapa hari setelah pengamatan selesai dilakukan. Pasien yang menjalani kateterisasi jantung sebagai metode diagnosis, seperti angiografi, akan berdiskusi dengan dokter terkait metode pengobatan yang perlu dilakukan setelah melihat hasil diagnosis.
Risiko Kateterisasi Jantung
Kateterisasi jantung jarang menimbulkan komplikasi. Akan tetapi, risiko terjadinya komplikasi lebih besar pada pasien yang menderita diabetes atau penyakit ginjal, serta pada pasien lanjut usia. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat menjalani kateterisasi jantung, antara lain adalah:
Kerusakan jaringan jantung.
Reaksi alergi terhadap kontras atau obat-obatan yang digunakan selama prosedur kateterisasi.
Terbentuknya gumpalan darah yang dapat memicu terjadinya serangan jantung dan stroke.
Aritmia.
Kerusakan ginjal akibat bahan kontras yang digunakan.
Tekanan darah rendah.
Kerusakan pembuluh arteri di tempat kateter dimasukkan, atau pada daerah yang dilewati kateter.
Lebam, perdarahan, atau infeksi pada tempat dimasukkannya kateter.
Terjadinya penumpukan cairan pada selaput jantung (efusi perikardium) yang dapat mengganggu kerja jantung dalam memompa darah.
26/04/2021
Ketahui Ciri-Ciri Lemah Jantung dan Cara Menghindarinya
Ciri-ciri lemah jantung mungkin tidak akan terasa pada awalnya. Gejala kondisi ini biasanya baru muncul ketika sudah semakin parah. Oleh karena itu, penting untuk mengenali ciri-ciri lemah jantung agar dapat terdeteksi sejak dini dan penanganan dapat segera dilakukan.
Lemah jantung atau kardiomiopati adalah kondisi yang terjadi ketika otot jantung melemah sehingga tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik.
Ketahui Ciri-Ciri Lemah Jantung dan Cara Menghindarinya - Alodokter
Penyakit lemah jantung sering kali tidak diketahui penyebabnya. Namun, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami lemah jantung, di antaranya:
Usia lanjut (di atas 65 tahun)
Riwayat keluarga atau orang tua yang menderita lemah jantung
Efek samping obat-obatan
Kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
Penyakit tertentu, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan infeksi
Jika tidak segera ditangani, lemah jantung akan menyebabkan gagal jantung dan bahkan kematian.
Ciri-Ciri Lemah Jantung
Pada tahap awal, ciri-ciri lemah jantung biasanya belum dapat terlihat jelas atau bahkan tidak bergejala. Ketika memasuki tahap lebih lanjut atau sudah parah, ciri-ciri lemah jantung baru telrihat dan dapat dirasakan. Berikut ini adalah ciri-cirinya:
Pembengkakan pada tungkai kaki, pergelangan kaki, perut, dan pembuluh darah di leher
Mudah lelah dan letih
Sering batuk saat berbaring
Detak jantung sangat cepat dan berdebar
Dada terasa berat atau tertekan
Pusing dan sakit kepala
Sesak napas
Sering pingsan, terutama setelah melakukan aktivitas fisik
Penanganan terhadap Kondisi Lemah Jantung
Untuk memastikan apakah gejala yang dialami merupakan ciri-ciri lemah jantung, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Dalam mendiagnosis lemah jantung, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti:
Elektrokardiogram (EKG)
Ekokardiografi
Tes darah
Angiografi jantung
Foto Rontgen dada
Biopsi otot jantung
Setelah diagnosis lemah jantung dipastikan, pengobatan lemah jantung akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, perjalanan penyakit, dan penyakit penyerta yang dimiliki penderita. Penanganan lemah jantung bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obatan atau melalui operasi jantung.
Langkah-Langkah Pencegahan Lemah Jantung
Lemah jantung umumnya tidak dapat dicegah, terlebih jika penyebabnya adalah faktor genetik atau keturunan. Akan tetapi, risiko terkena penyakit ini bisa dikurangi dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti:
Tidak mengonsumsi minuman beralkohol dan narkoba
Memeriksakan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah secara rutin
Mencukupi waktu tidur
Mengendalikan stres
Melakukan olahraga secara teratur
Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang
Jika Anda mengalami ciri-ciri lemah jantung atau memiliki risiko terkena lemah jantung, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan cepat.
Hal lain yang juga perlu Anda ingat bahwa penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, baik lansia, orang dewasa, maupun anak-anak. Oleh karena itu, Anda harus selalu waspada.
26/04/2021
Tanda Alergi Obat dari yang Ringan hingga Berbahaya
Tanda alergi obat bukan hanya gatal dan muncul ruam di kulit. Pada kasus tertentu, alergi obat bisa menimbulkan tanda atau gejala lain yang lebih serius dan bahkan berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera diatasi. Agar tidak terlambat ditangani, yuk, kenali apa saja tanda-tanda alergi obat.
Alergi obat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan reaksi yang berlebihan dan menganggap zat atau bahan di dalam obat sebagai sesuatu yang berbahaya. Akibatnya, tubuh akan melepaskan berbagai zat pemicu peradangan, seperti histamin, ke dalam aliran darah sehingga memicu munculnya gejala dan tanda alergi obat.
Tanda Alergi Obat dari yang Ringan hingga Berbahaya - Alodokter
Hampir semua obat, baik obat resep, obat bebas, maupun obat herbal bisa menyebabkan reaksi alergi. Tanda alergi obat dapat muncul sesaat atau dalam hitungan menit setelah penderita alergi obat mengonsumsi obat-obatan yang menjadi pemicu reaksi alergi.
Namun, pada kasus tertentu, tanda alergi obat juga bisa muncul dalam waktu beberapa hari setelahnya. Ada beberapa jenis obat yang diketahui lebih sering menimbulkan reaksi alergi, di antaranya:
Antibiotik, terutama antibiotik golongan pen*silin dan sulfa
Antikejang atau antikonvulsan, misalnya carbamazepine, phenytoin, dan lamotrigine
Obat pereda nyeri seperti aspirin, ibuprofen, ketoprofen, metamizole, dan asam mefenamat
Obat-obatan kemoterapi
Obat bius atau anestesi
Obat antivirus, misanya nevirapine dan abacavir
Tanda Alergi Obat dan Penanganannya
Tanda alergi obat dapat dibagi berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu gejala ringan, gejala serius, dan gejala parah yang berpotensi membahayakan nyawa. Berikut ini adalah penjelasannya:
Tanda alergi obat ringan
Reaksi alergi obat dapat dikatakan ringan bila penggunaan obat hanya menimbulkan gejala ringan dan tidak mengancam nyawa, seperti:
1. Gatal-gatal
Gatal akibat alergi obat bisa muncul di bagian tubuh mana pun, termasuk kulit, bibir, lidah, tenggorokan, dan telinga. Terkadang, alergi obat juga bisa menyebabkan mata terasa gatal dan berair.
2. Ruam kulit
Ruam kulit akibat alergi obat biasanya terlihat seperti kulit yang kemerahan atau bersisik dan mengelupas. Ruam bisa muncul di bagian tubuh mana pun dan menyebar ke bagian tubuh lain, dengan ukuran ruam yang bervariasi.
3. Biduran
Biduran umumnya ditandai dengan bentol berwarna kemerahan berukuran kecil atau besar dan terkadang disertai dengan rasa gatal. Biduran biasanya muncul secara berkelompok.
4. Demam
Demam akibat reaksi alergi muncul ketika tubuh mengalami peradangan. Alergi obat bisa menyebabkan demam ringan, namun terkadang bisa juga menimbulkan demam tinggi.
Alergi obat yang menimbulkan demam biasanya bisa mereda dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari. Sedangkan gatal, ruam kulit, dan biduran akibat alergi obat juga bisa hilang secara alami dengan menghentikan penggunaan obat yang memicu reaksi alergi.
Dalam beberapa kasus, gejala tersebut perlu diatasi dengan mengonsumsi obat bebas golongan antihistamin.
Tanda alergi obat serius
Berikut ini adalah beberapa gejala dan tanda alergi obat yang tergolong serius:
Kulit melepuh dan mengelupas
Gangguan di saluran pernapasan, seperti batuk dan mengi
Gangguan saluran cerna, termasuk diare, kram perut, serta mual dan muntah
Gangguan penglihatan atau pandangan kabur
Pembengkakan di bagian tubuh tertentu, misalnya bibir, mata, lidah, dan tenggorokan
Selain itu, alergi juga bisa menimbulkan tanda dan gejala lain yang bersifat berat, misalnya sindrom Stevens-Johnson atau nekrolisis epidermal toksik.
Jika Anda mengalami tanda-tanda alergi obat yang serius, segeralah ke dokter. Untuk menangani kondisi tersebut, dokter mungkin akan meresepkan obat pereda gejala alergi, seperti antihistamin dan kortikosteroid.
Apabila alergi obat yang Anda alami menyebabkan mengi atau napas terasa berat, dokter mungkin akan meresepkan obat bronkodilator. Obat ini akan membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga memudahkan Anda untuk bernapas.
Tanda alergi obat parah
Dalam beberapa kasus, alergi obat juga dapat menimbulkan gejala yang parah atau disebut juga anafilaksis. Meski jarang terjadi, reaksi alergi berat dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala berikut ini:
Sesak napas
Jantung berdebar-debar
Tekanan darah menurun drastis
Lemas dan pusing
Sensasi kesemutan di kepala, mulut, tangan, dan kaki
Penurunan kesadaran atau pingsan
Gejala dan tanda alergi obat tersebut dapat muncul dalam hitungan menit setelah seseorang mengonsumsi obat pemicu alergi. Anafilaksis akibat alergi obat perlu mendapatkan penanganan medis secepatnya.
Jika terlambat ditangani, orang yang mengalami anafilaksis karena alergi berpotensi mengalami komplikasi fatal atau bahkan kematian.
Penanganan yang diberikan untuk kondisi ini umumnya berupa suntikan epinephrine. Suntikan epinephrine berfungsi untuk meningkatkan tekanan darah dan mengatasi pembengkakan pada saluran pernapasan, sehingga penderita alergi bisa bernapas secara normal kembali.
Apa pun reaksi alergi yang muncul, baik ringan maupun berat, Anda perlu segera menghentikan penggunaan obat-obatan yang menjadi pemicu alergi dan segera mencari pertolongan ke dokter.
Untuk menangani alergi obat yang Anda alami, dokter akan menyarankan Anda untuk menghentikan penggunaan obat atau mengganti obat tersebut dengan obat-obatan lain yang berisiko lebih rendah menimbulkan gejala alergi.
26/04/2021
Cara Mengatasi Alergi Obat dengan Tepat
Alergi obat dapat menimbulkan beragam gejala, mulai dari gejala ringan hingga berat. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui cara mengatasi alergi obat yang tepat agar gejala yang muncul dapat segera teratasi dan Anda terhindar dari kondisi yang dapat berakibat fatal, seperti syok anafilaktik.
Setiap obat umumnya memiliki efek samping, salah satunya adalah memicu reaksi alergi. Pada orang yang memiliki alergi obat, gejala alergi bisa muncul dengan cepat dalam hitungan jam atau secara perlahan dalam waktu beberapa hari sejak penggunaan obat.
Cara Mengatasi Alergi Obat dengan Tepat - Alodokter
Gejala alergi yang muncul pun bisa beragam. Pada reaksi alergi obat ringan, gejala yang muncul bisa berupa ruam dan gatal pada kulit, pembengkakan pada bibir dan wajah, muntah, sakit perut, serta diare.
Namun, reaksi alergi obat yang muncul terkadang bisa parah dan menimbulkan gejala berat seperti sesak napas, lemas, dan penurunan kesadaran atau pingsan. Kondisi ini disebut syok anafilaktik. Pada kasus tertentu, reaksi alergi obat juga bisa menimbulkan kondisi yang disebut sindrom Stevens-Johnson atau nekrolisis epidermal toksik.
Beberapa Cara Mengatasi Alergi Obat
Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi reaksi alergi obat yang muncul, di antaranya:
1. Mengenali obat pemicu alergi
Ini merupakan salah satu langkah penting untuk mengatasi alergi obat yang Anda alami dan mencegah Anda dari reaksi alergi yang mungkin muncul kembali di kemudian hari.
Pada dasarnya, hampir semua obat berisiko menimbulkan reaksi alergi. Namun, ada beberapa jenis obat yang cenderung lebih sering memicu reaksi alergi, antara lain:
Antibiotik, seperti pen*silin dan sulfa
Obat antikejang atau antikonvulsan
Obat antinyeri atau obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, asam mefenamat, dan metamizole
Obat-obatan antimalaria, seperti klorokuin
Obat-obatan kemoterapi
Obat bius atau anestesi
Obat asam urat alopurinol
2. Menghentikan penggunaan obat pemicu alergi
Setelah obat yang menjadi pemicu alergi diketahui, segera hentikan pemakaian obat tersebut dan hindari penggunaannya kembali di kemudian hari.
Jika Anda tidak yakin terhadap obat apa yang menjadi pemicu alergi obat, cobalah untuk mengingat dan mencatat semua obat-obatan dan suplemen, termasuk pengobatan herba, yang Anda konsumsi dalam jangka waktu 24–48 jam terakhir.
Setelah itu, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter dan bawa catatan tersebut agar dokter dapat membantu mengidentifikasi obat mana yang memicu reaksi alergi di tubuh Anda.
3. Melakukan perawatan di rumah
Jika gejala yang muncul tergolong ringan, Anda bisa melakukan berbagai cara mengatasi alergi obat, di antaranya dengan mandi air dingin, memberi kompres dingin atau mengoleskan losion calamine pada kulit atau area tubuh yang terasa gatal dan muncul ruam, serta konsumsi obat antihistamin.
4. Mengonsumsi obat pereda alergi
Reaksi alergi ringan umumnya bisa mereda dengan sendirinya dalam waktu beberapa jam atau hari. Kondisi ini juga biasanya dapat diatasi dengan pengobatan di rumah.
Akan tetapi, gejala alergi obat yang muncul terkadang bisa parah atau tak kunjung menghilang. Jika Anda mengalami alergi obat yang demikian, Anda perlu segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan.
Untuk mengatasi reaksi alergi obat yang parah, dokter dapat meresepkan obat-obatan berikut ini:
Obat antihistamin
Ketika mengalami reaksi alergi, tubuh Anda akan menghasilkan zat pemicu reaksi alergi yang dinamakan histamin. Zat ini bisa muncul ketika Anda terpapar dengan zat pemicu alergi, termasuk makanan, debu, hingga obat-obatan.
Untuk mengatasi reaksi alergi tersebut, dokter dapat meresepkan obat antihistamin. Obat ini sering digunakan untuk mengatasi alergi ringan hingga sedang atau alergi yang menimbulkan keluhan gatal dan ruam kulit yang parah.
Obat kortikosteroid
Alergi obat dapat memicu terjadinya peradangan dan pembengkakan di tubuh. Hal ini bisa menimbulkan gejala berupa hidung tersumbat, pilek, hingga sesak napas. Selain itu, pembengkakan juga bisa terjadi di bagian tubuh lain, misalnya wajah, bibir, dan selaput mata yang menyebabkan mata merah dan berair.
Untuk meredakan peradangan yang terjadi akibat alergi obat, dokter dapat meresepkan obat kortikosteroid. Obat kortikosteroid tersedia dalam bentuk obat minum, obat oles, obat tetes mata, hingga obat hirup atau inhaler.
Obat bronkodilator
Reaksi alergi obat bisa menimbulkan sesak napas. Pada penderita asma, reaksi alergi bisa memicu gejala asma kambuh. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter dapat meresepkan obat bronkodilator.
Obat ini akan membantu melebarkan saluran pernapasan sehingga bernapas akan menjadi lebih mudah. Bronkodilator tersedia dalam bentuk cair dan bubuk untuk digunakan dalam inhaler atau nebulizer.
Suntikan epinephrine
Suntikan epinephrine umumnya digunakan untuk mengatasi reaksi alergi obat yang parah (anafilaksis). Anafilaksis ditandai dengan gejala lemas, kesemutan, sesak napas, jantung berdebar kencang, dan pingsan.
Kondisi ini perlu segera ditangani karena berisiko menyebabkan komplikasi yang parah dan bahkan kematian.
5. Terapi desensitisasi
Terapi ini mungkin akan dilakukan juga Anda memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu yang perlu dikonsumsi dalam jangka panjang. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi risiko gejala alergi kambuh kembali di kemudian hari.
Terapi desensitisasi dilakukan dengan cara memberikan obat atau zat pemicu alergi ke dalam tubuh dengan jumlah kecil, lalu dosisnya ditingkatkan secara bertahap hingga tubuh penderita dapat mengenal dan menoleransi obat tersebut.
Bila Anda memiliki riwayat alergi obat, jangan lupa untuk mencatat jenis obat saja yang menimbulkan reaksi alergi. Tujuannya agar Anda dapat memberi tahu dokter atau petugas kesehatan mengenai riwayat alergi obat sebelum menjalani penanganan medis apa pun.
Jika Anda tidak mengetahui obat-obatan apa saja yang dapat memicu reaksi alergi, Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk menjalani pemeriksaan. Untuk menentukan pemicu alergi, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk menjalani tes alergi.
Saat mengalami reaksi alergi obat, cobalah untuk tidak panik dan segera hentikan semua obat-obatan yang Anda konsumsi. Jika gejala yang muncul tak kunjung membaik, segera ke dokter agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Bekasi