Angin Kehidupan
�Hidup ibarat angin kadang sepoi-sepoi kadang ribut
SUNGGUH LUAR BIASA ...
Ibu saya bangun tiap hari jam 3.30 pagi. Setiap hari.
Saya tau ini karena waktu masih tinggal di rumah, saya sering begadang sampai subuh buat kerja. Dan setiap kali saya keluar kamar jam 4 pagi buat ambil minum, ibu sudah di sajadah.
Matanya merem. Bibirnya gerak pelan. Dan saya selalu diam di belakang pintu, nggak berani lewat, nunggu beliau selesai.
Suatu malam saya begadang sampai jam 4. Deadline klien. Mata sudah berat tapi belum selesai.
Saya keluar kamar buat cuci muka. Ibu sudah selesai sholat, lagi duduk di ruang tengah, baca Yasin.
"Belum tidur?" tanya beliau tanpa angkat kepala.
"Belum, Bu. Lagi kejar deadline."
"Ya udah. Tapi jangan lupa sholat subuh."
Terus lanjut baca lagi. Nggak ceramah. Nggak marah. Cuma ingetin sholat, lalu balik ke Yasin-nya.
Tapi malam itu saya dengerin sesuatu yang bikin saya berhenti.
Setelah baca Yasin, ibu berdoa. Suaranya pelan banget, hampir bisikan.
Saya nggak sengaja dengerin. Dan di antara doa-doanya, saya dengerin nama saya disebut.
Disebut satu per satu. Nama saya, nama abang, nama bapak. Satu-satu. Pelan. Kayak beliau hafalin daftar orang yang harus dilindungi setiap malam.
Saya balik ke kamar. Duduk di kursi. Nggak lanjut kerja.
Layar laptop masih nyala, deadline masih kejar, tapi pikiran saya cuma di satu tempat: ibu yang setiap pagi jam 3.30 bangun, sholat, baca Yasin, dan sebut nama anak-anaknya satu per satu dalam doa.
Setiap hari. Tanpa kita minta. Tanpa kita tau. Tanpa kita pantas.
Kita sering bilang "self-made." Saya bangun ini sendiri. Saya usaha sendiri. Saya capek sendiri.
Tapi nggak ada yang beneran sendiri.
Di belakang semua usaha kita, ada orang yang nggak tidur buat doain kita. Yang nggak ngerti apa itu "digital marketing" atau "content creator" tapi tetap minta ke Tuhan supaya anak-anaknya dimudahkan.
Dan kita nggak pernah tau berapa banyak hal buruk yang nggak terjadi ke kita karena doa jam 3 pagi yang nggak pernah kita dengerin.
Kalau kamu baca ini dan ibu kamu masih ada, telepon sekarang.
Nggak perlu bilang yang besar-besar. Nggak perlu dramatis.
Cukup: "Bu, udah makan belum?"
Itu aja. Karena buat ibu, telepon dari anaknya yang nanya soal makan itu sudah cukup buat bikin harinya.
Dan kalau beliau tanya "kamu gimana?", jawab jujur sekali-kali.
Beliau lebih kuat dari yang kamu kira.
🥹🥹
Baru pulang dari pemakaman sepupu suami dan menyadari satu hal. Dari banyak orang yang menangis dan gak percaya almarhumah meninggal, ada satu orang yang paling remuk hatinya, yaitu bapaknya. (Tentunya selain suami dan anak yang ditinggalkan)😭😭
Almarhumah sepupu suami meninggal dalam kondisi tidur siang dan sedang hamil muda. Gak sakit, tanpa keluhan medis apapun. Suami yang dikabari via telepon pun sampai teriak kaget. Gue yang lagi belanja baca chat di WAG keluarga besar berkali-kali baca ulang info meninggalnya😭😭
Langsung pulang, kita bareng ke rumah duka. Dari kita datang sampai pulang, ada banyak orang yang gue temui. Om F (ayah almarhumah), ibu sambungnya yg masya Allah baik bgt, dan tiga saudaranya yang perempuan semua. Tiga saudara menangis dan mata bengkak, gak bisa diajak ngobrol dan hanya gue peluk sebentar.
Tante A, ibu sambung mereka, matanya juga bengkak, tapi beliau yang sigap siapin ini itu sampai ngedatengin pemandi jenazah dianterin sepupu yang lain. Di sudut lain, gue lihat suami almarhumah yang berdiri dgn tatapan kosong, ditemani orangtuanya. Anaknya yang masih umur enam tahun nampak main dan belum paham situasinya.
Fokus gue kemudian terkunci ke om F. Beliau gak ada duduk sedetik pun. Dari lari ke musala, lapor ke rukun kematian, nyiapin tenda, sampai ke motongin batang pohon pisang untuk memandikan jenazah. Raut wajah seperti biasa. Gak ada nangis, gak ada tatapan kosong. Tapi gua tahu hatinya remuk banget melihat anaknya terbujur kaku di ruang tengah.
Gue bilang ke suami buat tetap bertahan di sana sampai beres memandikan jenazah. Selain karena keluarga mereka lelakinya sedikit, juga karena suami dan almarhumah sepupunya dekat banget udah kayak kakak-adek. Gue balik duluan ke rumah sekalian beberes dan masak karena kita buru-buru pergi.
Siang tadi, benar dugaan gue. Orang yang paling tegar kelihatannya, justru orang yang paling rapuh. Om F yang udah masuk ke liang kubur bersama para menantu, langsung lemes dan nangis ketika menyambut jenazah putrinya. Buat berdiri aja harus dipapah.
Hatinya remuk, putri yang dia sayang dan dirawat sejak kecil, justru pergi duluan di usia yang kurang lebih sama ketika istrinya (ibu almarhumah) meninggal dulu. Om F dan suami almarhumah pergi paling akhir dari makam. Kita sempat lihat mereka duduk tertunduk, bahu terguncang menangis dalam diam
😭😭😭
Dulu pernah ada 1 moment gue deep talk sama bokap gue. Waktu itu, bokap gue mau berangkat ke kantor sekalian nganterin gue ke kampus. Karena posisi gue masih mahasiswa baru yang belum kenal Jakarta, sekali-kali gue nebeng bokap.
Di perjalanan, tiba-tiba bokap gue ngomong tanpa filter : "Mama kamu itu kalo papa tinggalin, bener-bener jadi gembel".
Omongan bokap gue terasa nancep di hati dan sangat menusuk nurani gue sebagai manusia
Bokap gue bukan sosok suami yang seburuk itu, dan bukan juga seorang ayah yang jahat. Itu adalah ekspresi yang natural dari seorang manusia yang sudah menahan sabar selama kurang lebih 20 tahun. Tentunya, ada sebab kenapa bokap gue sampe keluar kata-kata seperti itu.
Tapi, terlepas dari apapun pemicunya, hal ini sangat berperan besar dalam membentuk cara pandang gue tentang laki-laki dan juga pernikahan.
Mulai dari saat itu, gue cuma pegang 1 prinsip. Kalo pun gue suatu saat berumah tangga, gue gak akan pernah mau full time jadi IRT. Peduli setan mau suami gue punya penghasilan apa gak, dia mau kerja apapun selama bukan koruptor dan bukan pelaku kriminal kelas berat, gue gak mau peduli berapapun penghasilannya. Intinya, gue harus tetap punya penghasilan sendiri. Gue gak bakal mau ambil resiko jadi gelandangan kalo tiba-tiba suami gue error dan gue ditelantarin.
Selama berumah tangga sama bokap gue, nyokap gue ngejalanin hidup yang bener-bener hedon. Dia jadi seolah punya kuasa atas banyak hal dan juga orang, hanya berbekal nafkah dari bokap gue. Nyokap gue bener-bener menghidupi peran dia sebagai ratu, lengkap dengan princess treatment full dari bokap gue. Bahkan gaji bokap gue 80% dikasih ke nyokap gue. 20% totally cuma untuk akomodasi bokap gue untuk urusan kerjaan, itupun masih dibagi buat uang jajan gue sama ade gue karena nyokap gue super pelit.
Bokap gue hampir gak pernah pegang uang pribadi selama nikah sama nyokap gue. Makan aja pun di rumah. Bokap gue gak pernah jajan di luar kecuali bareng keluarga. Begitu orang tua gue pisah, kehidupan nyokap gue berangsur-angsur nyungsep, walaupun sampe 2 tahun pasca pisah bokap gue masih tetap kasih nafkah, tapi itu hanya cukup utk biaya hidup dia pribadi. Gak ada lagi princess treatment. Bahkan ngomong sama nyokap gue pun jadi kayak ngomong sama musuh.
Untuk ukuran minimum seorang kepala rumah tangga, bokap gue udah ideal, walaupun di masa itu lebih terkesan goblok. Salah satu kekurangan bokap gue adalah, beliau seorang people pleaser next level. Bertanggung jawab dan sayang keluarga itu harus, tapi goblok sih jangan ya. Selain people pleaser, bokap gue s**a mendam kemarahan. Sekalinya muncak, dia bisa jadi monster tiba-tiba.
Dan yang harus jadi pelajaran buat kaum perempuan, lo harus sebisa mungkin mandiri. Upgrade diri. Kalo udah punya suami yang bener, bertanggung jawab, sayang keluarga, tolong tau diri. Gak usah banyak tingkah. Nafkah dari suami itu ditabung, jangan pake hura-hura gak jelas cari validasi sana sini. Jangan sombong. Kesombongan adalah awal dari kejatuhan, syukur kalo jatuhnya gak sampe nyungsep. Nyokap gue adalah contoh nyata dari seorang princess yang gak tau bersyukur.
Istri yang luar biasa juga bisa berawal dari bagaimana suami memperlakukannya..
Memang nggak ada obaatnya kalau sudah kecanduan 😭😭
Luar biasanya seorang istri...
Ini yang disebut dikasi hAti minta j4ntun9...
Click here to claim your Sponsored Listing.