Nella Ohoira

Nella Ohoira

Share

Bahagia itu kita sendiri yang tentukan��

10/02/2026

10/02/2026

Selamat malam ❤️

17/01/2025

Merayakan tahun ke-2 saya di Facebook. Terima kasih atas dukungan berkelanjutan. Saya tidak mungkin berhasil tanpa Anda semua. 🙏🤗🎉

14/03/2024

Selamat malam tmn"😇

29/02/2024

Kadang kita merasa terobsesi dengan hal" yang tak berguna,namun itulah yang membuat kita terus maju dan semangat💫

Selamat pagi semua🤗

Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) - Tary Mentary 03/11/2023

AKU BUKAN MESIN PENCETAK ANAK

Part 2
Istri sudah bertindak

Aku segera menggend**g Dede Azam dan memindahkannya ke dalam box bayi. Aku bingung, bagaimana cara membersihkan Pup-nya ini?

Aku pernah melihat istriku membersihkan bekas pup dengan tisu basah. Kucari tisu basah di perlengkapan bayi. Namun, tak kutemukan. Ternyata tisu ada di tumpukan baju-baju Dede yang berserakan di lantai.

Setelah selesai membersihkan si Dede, kini tinggal si Kakak. Mereka berdua masih saja belum berhenti menangis. Sepertinya mereka haus dan lapar.

Aku sungguh bingung dan panik tak tau harus berbuat apa? Yang aku tau mereka berdua masih minum Asi, jika sudah seperti ini aku harus bagaimana?

Dalam kepanikanku, terlihat ada seseorang datang. Ia berjalan perlahan ke arah kami. Langkah kakinya semakin dekat dan membuat hatiku berdebar tak karuan. Ternyata malaikat penolongku sudah datang. ya, dialah istriku. Ia sudah kembali p**ang dengan membawa banyak sekali kantong belanjaan.

Habis belanjakah ia? Jika benar, uang dari mana? Aku hanya memberinya uang jajan tiga puluh ribu sehari.

Semua kebutuhan rumah sudah ku penuhi. Dari mulai belanja bulanan dapur, sayuran dan perlengkapan anak sudah kubelikan semua. Ia tinggal enak duduk manis saja di rumah, semua sudah tersedia.

"Dari mana saja kamu? Tinggalin anak seenaknya aja! Kamu sengaja mau buat anak kita mati kelaparan! Gila kamu ya!"

Aku tak bisa mengontrol lagi amarahku. Melihat rumah berantakan dan anak menangis tak terurus membuatku semakin stres.

Bagaimana bisa seorang Ibu tega meninggalkan anak-anaknya di dalam rumah yang terkunci dari luar? Tak habis pikir aku dengan jalan pikiran Aisyah.

"Habis shoping! Bosan di rumah terus!" jawabnya ketus.

"Uang dari mana? Papa kan tak pernah memberi uang banyak ke Mama?"

"Jual motor!" jawabnya sambil berlalu dari hadapanku.

Istriku kemudian menggend**g kedua anakku sekaligus yang sedang menangis kehausan. Ia membawa mereka masuk ke dalam kamar. Aku membuntutinya dari belakang.

"Uang yang kuberi setiap hari kurang? Harusnya itu lebih dari cukup. Karena semua kebutuhanmu sudah kupenuhi semua!"

Ku Ikuti dia memasuki kamar, perdebatan pun masih berlangsung.

"Cukup, kalau tak selalu di pinta kakakmu setiap hari!" ucapnya dengan menatapku tajam.

"Apa maksudmu? Mengapa membawa-bawa nama kakakku dalam masalah ini?"

Aku tak terima, Aisyah mulai tak sopan dengan Kakakku.

"Kau tanya sendiri saja sana sama orangnya! Aku tak mau dikira jadi istri pengadu!" ucapnya kembali. "cepat keluar dari sini! Aku mau istirahat!" hentaknya kepadaku.

"Tapi ... " ucapanku terpotong.

"PERGI!" teriaknya mengejutkanku. Suaranya melengking tajam hingga urat syaraf di keningnya jelas terlihat.

Aisyah kemudian mendorongku ke luar kamar dan menutup pintu dengan keras, sampai dinding terasa bergetar.

BRAK!

KLIK! KLIK!

Pintu ditutup diikuti suara kunci yang di putar.

Apa maksud ucapan Aisyah tadi? Apa hubungannya masalah ini dengan Mbak Ratih? Mengapa ia bilang uangnya dipakai Mbak Ratih setiap hari? Aku tak tau kalau Mbak Ratih sering datang ke rumahku. Mengapa Aisyah baru cerita sekarang? Apakah ini hanya karangannya saja biar aku merasa Iba?

Pikiranku bertraveling kemana-mana. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Sendi-sendiku terasa lemas tak berdaya. Tak habis pikir bisa-bisanya Istriku punya pikiran untuk menjual motor hanya untuk shoping, dengan alasan tak masuk akal.

Bukankah semua kebutuhannya sudah kupenuhi. Baju dan kosmetik rutin kubelikan tiap bulan.

Mau masak tak perlu repot ke pasar. Semua sudah tersedia di kulkas. Apakah kurangnya aku sebagai seorang suami?

Terbesit dalam pikiranku. Apa mungkin Istriku sudah gila?

Kutepis pikiran itu jauh-jauh. Mataku tertuju pada keadaan sekitar rumah. Tak betah rasanya melihat pemandangan tak enak di sekitarku ini. Segera dibersihkan semua yang berserakan di lantai dan mencuci semua pakaian yang terkena pup anak-anakku.

Lantai ku'pel bersih memakai soklin lantai, setelah rapi di dalam, segera aku ke depan untuk menyalakan lampu.

Ternyata lampu depan putus, bukan sengaja tak dinyalakan. Aku segera pergi ke toko listrik untuk membeli lampu dan segera kembali untuk memasangnya.

Akhirnya selesai juga merapikan rumah. Rasa lelah ini menjalar di seluruh tubuhku.

Inikah yang dikerjakan Istriku setiap hari di rumah? Sambil mengasuh dua anak p**a.

Ya Allah. Sungguh Zalim sekali aku kepada istriku. Pantas saja kini tak pernah lagi kulihat senyum di wajahnya. Ternyata selelah ini pekerjaannya di rumah. 'Maafkan suamimu ini Istriku'

"Mama, buka pintunya d**g, Papa tak marah kok kalau Mama menjual motor. Motor lama memang harus diganti baru. Nanti kita beli baru lagi aja ya," ucapku merayunya.

Seberapa keras aku memanggilnya namun percuma, tak ada jawaban. Panggilanku tak di hiraukannya. Semarah itukah ia kepadaku? Bukankah seharusnya aku yang marah kepadanya? Akan ditinggal, rumah berantakan, motor dijual, enak-enakkan shopping p**a!

Mungkin kalau suaminya bukan aku, sudah di tinggalin dia oleh suaminya. Untung cinta, jika tidak, entahlah seperti apa.

Kurebahkan tubuh ini di atas sofa, biarlah untuk malam ini aku tidur di ruang tamu sampai Aisyah membukakan pintu. Esok pagi pasti marahnya sudah reda, aku tau sekali sifat Aisyah, ia tak pernah marah terlalu lama.

Terbayang saat pertama kali aku melihatnya, Aisyah sangat manis dan murah senyum. Aku sungguh tergila-gila kepadanya. Segala cara aku lakukan agar bisa mendapatkan cintanya.

Setiap hari aku datang ke tempat ia mengajar hanya untuk memberikan sekuntum bunga dan sekotak cokelat yang kutitipkan pada anak muridnya. Awalnya ia menolak dan selalu memulangkan kembali semua pemberianku. Namun, sekeras-kerasnya batu pasti akan terkikis juga. Begitu pun dengan hatinya, semakin lama di hujani cinta, akhirnya hatinya luluh juga.

"Owek ... Owek ... "

Terdengar suara tangisan Dede azam yang sangat mengganggu tidurku. Baru saja aku akan bermimpi indah, suara tangisan itu membuyarkan mimpi-mimpiku. Tak seperti biasanya tangisannya begitu keras. Namun, aku hiraukan suara tangisan itu.

Aku menutup kedua kupingku dengan bantal dan menutup tubuhku dengan selimut tebal agar suara berisik tangisan itu tak terdengar.

Tiba-tiba Aisyah menarik selimutku dan berteriak tepat di telingaku.

"BANGUN! GANTIAN NIH JAGA ANAK-ANAK! AKU JUGA MAU TIDUR NYENYAK!"

Aku pura-pura tak mendengarnya. Rasa kantuk ku lebih kuat dibandingkan suara teriakan istriku. Biasanya juga ia tak masalah menjaga anak-anak. Kenapa sekarang meminta bantuanku untuk bergantian berjaga?

"Apaan sih Mah! Papa ngantuk nih! Besok pagi kan harus pergi kerja!" ucapku dengan semakin merapatkan selimut.

"BANGUN! ATAU ANAKMU AKU JUAL! SEPERTI AKU JUAL MOTORMU ITU!" ancam Aisyah.

Aku terkejut, hampir saja meloncat dari pembaringan. Bisa-bisanya Aisyah mengancamku seperti itu! Ini seperti bukan istriku! Aku seperti tak mengenalnya kali ini!

Kemudian ia menangis meraung-raung menjambaki rambutnya sendiri seperti orang kesurupan. Kemudian tertawa terbahak bahak ketika menatapku dan kembali menangis lagi.

Aku membelalakkan mata melihat kejadian di hadapanku ini. Dadaku bergemuruh cepat. Keringat dingin menjalar di seluruh tubuh.

"Aisyah sayang, kamu baik-baik saja kan? Yang kupikir tadi tak benar kan? Kamu tak benar-benar gila kan?" ucapku lirih

Aku bingung mau menenangkan siapa dahulu, Istriku dahulu? Atau Babyku dahulu? Jangan sampai aku ikut ketularan gila juga seperti istriku itu!

Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) - Tary Mentary Ayo bergabung dan subscribe buku Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Tary Mentary di aplikasi KBM.

Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) - Tary Mentary 03/11/2023

AKU BUKAN MESIN PENCETAK ANAK

"Aku mau, kita punya anak delapan dalam jarak yang dekat-dekat, biar capeknya sekalian."

Kuingatkan berulang kali kepada istriku. Terlihat ekspresinya selalu datar saat aku mengucap kata itu. Padahal tak ada salahnya punya anak banyak, yang penting semua kebutuhannya bisa terpenuhi.

"Mama harus bisa mendidik anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang soleh dan soleha. Mulai dari sekarang berlatihlah. Papa larang Mama menonton Tv. Pegang Hp hanya untuk menelepon keluarga saja. Tak ada kuota internet. Jika ingin menonton Youtube tunggu Papa p**ang kerja, tontonan kita harus yang berfaedah. Tinggalkan tontonan drakor yang sering Mama tonton dahulu sebelum menikah dengan Papa."

Sengaja kubuat peraturan itu agar ia disiplin waktu. Biar waktunya bermanfaat tak terbuang percuma hanya untuk berlama-lama menonton Drakor kesukaannya. Semua kulakukan untuk kebaikannya. Karena aku sangat mencintainya. Aku tak mau ia seperti istri-istri di luaran sana yang melalaikan tugasnya sebagai seorang istri karena asik nonton drakor, bergibah dengan para tetangga atau menghamburkan uang untuk arisan dan shopping.

Istriku baru saja melahirkan seorang putra yang sangat tampan. Kulihat perjuangannya saat melahirkan sangat mengharukan.

Tak tega rasanya ingin segera memberitahukan keinginan hati ini. Namun, aku harus segera mengingatkannya, takut dia lupa dan berubah pikiran.

"Setelah masa nifas selesai, siap-siap hamil lagi ya. Biar nantinya terlihat seperti anak kembar."

Istriku hanya diam membeku. Ia malah sibuk menyusui Adam, putra kami. Aku dihiraukannya. Tak sopan sekali ia jadi seorang istri!

Aku menikahinya karena kupikir dia cocok menjadi Ibu dari anak-anakku kelak. Tapi nyatanya apa yang kudapat sekarang? Nihil!

Aisyah namanya, seorang guru TK yang membuatku terpesona. Ia begitu enerjik, murah senyum dan satu yang membuatku kagum. Ia penyayang anak-anak. Ini dia wanita yang kucari selama ini.

Namun, setelah menikah ia berubah. Tak lagi seceria dahulu. Bicara hanya seperlunya. Aku bagaikan menikahi sebuah patung! Aku tak tau apa inginnya, setiap kutanya ia hanya diam. Benar kata orang-orang, jika wanita itu sulit dimengerti.

"Aku ingin memberi ASI eksklusif dulu untuk putra kita. Setelah itu baru memikirkan program punya anak lagi," ucap Aisyah datar. Matanya menerawang entah kemana. Padahal aku sedang berada tepat di hadapannya.

Aku senang, akhirnya setelah sekian lama baru ini ia mengomentari ucapanku. Walaupun jawabannya tak seperti yang kuharapkan.

"Jangan membantah. Ini demi kebaikan kita juga. Banyak anak banyak rezeki. Ingat tujuan pernikahan, agar mempunyai keturunan untuk mencetak generasi penerus bangsa dan agama! Atau kamu lupa apa yang di bilang parazi saat mengubur ari-ari anak kita waktu itu? Dia bilang kantung telur kamu masih ada delapan lagi. Jadi kamu masih bisa melahirkan delapan anak lagi untukku," ucapku menimpali perkataannya.

"TAPI AKU BUKAN MESIN PENCETAK ANAK!" hentaknya dengan suara melengking tinggi.

Aku tersentak ke belakang. Telinga ini terasa berdengung mendengar teriakannya.

Suaranya meledak-ledak. Baru kali ini ia terlihat sangat marah. Biasanya ia selalu menuruti semua ucapanku.

"Iya, Papa tahu, Mama memang bukan mesin pencetak anak. Mama adalah Istri solehanya Papa, anak itu anugerah yang diberi Allah kepada kita sebagai orang tua. Hanya wanita terpilih saja yang diberi rahim subur seperti Mama. Papa mohon, Papa hanya ingin delapan anak saja. Apakah permintaan Papa itu terlalu berat buat Mama?"

Aku lembutkan suara ini untuk menenangkan hatinya. Kemudian membelai surai indah nan panjang tanpa hijab di kepala itu.

"Beratlah Pa, sekarang kita tukar posisi aja deh kalau begitu. Aku yang kerja cari uang. Papa yang cetak anak, gimana?" ucapnya dengan suara tegas dengan mata menyalang ke arahku.

"Andai saja itu bisa akan Papa lakukan. Tapi sayangnya kodrat Papa terlahir sebagai seorang laki-laki. Jika Papa perempuan, Papa juga mau kok cetak anak sebanyak-banyaknya. Tapi, ya sudah nanti lagi kita bicarakan ini, maafkan Papa jika menyinggung perasaan Mama. Papa tak ingin berdebat lagi."

Kuakhiri drama ini dengan hati tak menentu. Sesulit inikah mengartikan perasaan wanita? Aku tak tau salahku di mana? Mengapa ia semarah itu kepadaku? Benar pepatah mengatakan. Wanita selalu benar. Jika salah, lelakilah penyebab kesalahannya.

**
"Hei Akmal, kusut sekali mukamu itu. Digosok dulu lah itu muka biar rapih. Kasih pelembut pakaian sekalian biar licin dan wangi," ucap sahabatku Roni saat di kantor.

"Huh, gimana gak mau lecek mukaku. Punya istri rasa tak punya. Sibuk sekali ngurusin anak. Sampai suami diabaikan," dengusku kesal.

"Ha, ha, ha! Rasakan Kau! Salah sendiri paksa istri punya anak banyak. Repot sendiri kan kau jadinya! Eh, bukan kau deh yang repot. Tapi istrimu itu yang repot! Makanya sewa pembantu atau baby sitter bro, untuk bantu istrimu di rumah! Jangan tunggu istrimu jadi stres dahulu barulah kau bertindak!" Roni menepuk bahuku kencang.

"Halah, baru dua aja kok repot. Tak akan membuatnya stres juga kali. Ibuku punya anak sepuluh saja yang jaraknya dekat-dekat biasa aja tuh! Kita seharusnya mencontoh orang tua jaman dulu. Buktinya mereka bisa mengurus anak banyak tanpa bantuan Baby sitter atau pembantu. Pekerjaan rumah kepegang, suami terurus. Gimana gak hebat tuh orang tua jaman dulu!" Protesku kepadanya.

"Jangan samakan Bro, jaman dulu dan jaman sekarang berbeda. Kita hidup sudah di jaman modern loh! Bukan di jaman batu lagi."

Ucapan Roni begitu menohok di hati. Setelah aku pikir, ada benarnya juga yang dikatakan Roni. Mungkin sikapku yang terlalu berlebihan kepada Aisyah sehingga membuatnya jadi stres. Tapi, masa begitu saja sudah stres sih!

Kuakui, aku tak pernah membantunya mengurus anak, bahkan memegang pekerjaan rumah pun tidak. Fokusku hanya bekerja mencari nafkah yang banyak demi keluarga. Semua urusan rumah, istriku yang menghandelnya. Bukankan suami istri sudah punya tugasnya masing-masing? Jadi tak salah d**g jika aku hanya menjalankan kewajiban menjadi seorang suami dengan mencari nafkah saja? Selebihnya urusan rumah biarlah menjadi tugas seorang istri.

**

Hari ini, seperti biasa aku p**ang malam. Ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan.

Setibanya di rumah, terlihat lampu depan belum dinyalakan. Sampah di halaman rumah berserakan. Sehingga terlihat seperti rumah kosong.

'Ngapain saja Istriku di rumah? Dasar pemalas!' gerutuku dalam hati.

Kuketuk pintu berulang kali. Namun, tak ada jawaban. Terdengar suara anak-anakku di dalam sedang menangis. Suara tangisnya semakin kencang dan parau.

'Sedang apa sih Aisyah di dalam! Anak nangis didiamkan! Suami p**ang tak dibukakan pintu!' gerutuku kesal.

"Assalamualaikum! Ma ... Buka pintunya! Papa p**ang nih!"

Berulang kali kuketuk, tak ada jawaban. Aku geram! Sudah lelah di kantor, kini setibanya di rumah dibuat emosi!

Tanpa berpikir panjang, kudobrak pintu rumah. Saat pintu terbuka, alangkah terkejutnya melihat rumah dalam keadaan gelap dan berantakan seperti kapal pecah.

Terlihat anak-anak tak memakai celana dengan pup yang berantakan kemana-mana.

Baby Azam tergeletak di lantai dingin, tanpa alas. Sedangkan Kakak Adam terlihat sedang merangkak ke sana kemari mengacak semua barang yang bisa ia gapai.

Aku stres melihat keadaan rumah seperti ini! Kucari Istriku ke seluruh penjuru rumah. Namun, tak kutemukan keberadaannya.

Kemanakah istriku pergi? Apakah ia kabur dari rumah? Mengapa ia tega melakukan ini terhadap kami? Apa salahku sebagai seorang suami, sehingga ia tega meninggalkan anak-anak yang tak berdosa ini?!

Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) - Tary Mentary Ayo bergabung dan subscribe buku Aku Bukan Mesin Pencetak Anak (TAMAT) agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Tary Mentary di aplikasi KBM.

29/08/2023

26/05/2023

Hallo😇

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Ambon?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Ambon