Reseller Resmi Ms Glow Bpp

Reseller Resmi Ms Glow Bpp

Share

MS.Glow

Photos from Reseller Resmi Ms Glow Bpp's post 08/03/2025

kering kentang Mustofa RR

Photos from Reseller Resmi Ms Glow Bpp's post 07/03/2025

Open Order kripik sukun

10/01/2025

Syukur yang tepat, bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah. Sudah semestinya, syukur itu diwujudkan dalam amalan.

Coba perhatikan ibarat syukur yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim,

الشكر يكون : بالقلب : خضوعاً واستكانةً ، وباللسان : ثناءً واعترافاً ، وبالجوارح : طاعةً وانقياداً .
” مدارج السالكين ” ( 2 / 246 )

“Syukur itu dengan hati, dengan tunduk dan merasa tenang. Syukur itu dengan lisan, dengan memuji dan mengakui. Syukur itu dengan anggota badan, yaitu dengan taat dan patuh pada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2: 246)

Seorang yang dikenal zuhud di masa silam, yaitu Abu Hazim menyatakan tentang bersyukur dengan anggota badan adalah,

أن تكف عن المعاصي ، وتستعمل في الطاعات

“Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.”

Abu Hazim juga berkata,

وأما مَن شكر بلسانه ولم يشكر بجميع أعضائه : فمثَلُه كمثل رجل له كساء فأخذ بطرفه ، فلم يلبسه ، فلم ينفعه ذلك من البرد ، والحر ، والثلج ، والمطر ” .

“Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 84)

Semoga jadi renungan berharga di pagi ini.

—

Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Dzulqa’dah 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14121-syukur-bukan-hanya-mengucapkan-alhamdulillah.html

28/09/2024

Memiliki anak shalih yang senantiasa taat kepada Allah Ta’ala dan berbakti kepada orang tua merupakan kenikmatan besar yang harus disyukuri orang tua. Namun terkadang realita berbeda, justru anak menjadi sosok yang sulit dinasehati, s**a membantah, malas beribadah bahkan berteman dengan anak-anak yang kurang baik akhlaknya.

Begitu p**a ada anak yang semula rajin salat, giat belajar agama, penurut dan santun namun qadarullah berubah menjadi pribadi yang pemalas, susah diajak dalam ketaatan pada agama. Inilah ujian bagi orang tua, akankah ia mampu mendidiknya dengan baik agar mereka menyadari kesalahannya atau justru orang tua membiarkannya. Karena telah dinasehati ribuan kali namun belum juga ada perubahan.

Syaikh Abdurrazzaq Al Badr hafizhahullah berkata: “Tidak mungkin menjadi baik salah satu keturunan kecuali jika Allah memperbaikinya untukmu. Bagaimanapun engkau bersungguh dalam memperbaiki akhlaknya, menuntunnya di atas kebenaran dan menyuruhnya senantiasa istiqamah, tidak mungkin ia akan istiqamah dan menjadi baik kecuali jika Allah yang memperbaikinya untukmu. Karena yang memberi hidayah adalah Allah dan yang memberi taufiq adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu sepantasnya seorang muslim memperbesar harapannya kepada Allah dan berdoa kepada Allah dan terus-menerus berdoa kepada Allah. Agar Dia memperbaiki keturunannya sebagaimana kekasih Ar-Rahman berdoa: ‘Ya Rabb kami semoga Engkau menjadikan kami -suami-istri- orang yang tunduk patuh pada Engkau dan menjadikan anak keturunan kami orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau.’” (Syarhu Tafsiri Ayati Al-Qur’an Al-Karim, 8).

Demikianlah nasehat indah untuk orang tua agar tetap berbaik sangka kepada Allah Ta’ala dengan memperbanyak mendoakan anak agar diberi hidayah untuk mengikuti kebenaran dan selalu dalam ketaatan. Tentunya semua ini juga diiringi dengan ikhtiar seperti bersabar dalam membimbing atau menasehatinya, tetap bermuamalah dengan anak secara baik dan tunjukkan padanya bahwa kita sebagai orang tua tetap menyayanginya.

Mendoakan anak agar menjadi shalih merupakan perbuatan nabi dan orang-orang shalih. Allah Ta’ala dalam Al Qur’an menukilkan doanya Nabi Ibrahim ‘alahissalam:

“Ya Tuhan

01/09/2024

di save ya no wa aunty RR 😁

30/08/2024

Sikap keempat: Memperbanyak istigfar kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang mungkin pernah dizalimi atau disakiti

Sikap keempat yang hendaknya dilakukan ketika seseorang berada dalam puncak kesulitan adalah memperbanyak istigfar kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa musibah itu disebabkan oleh dosa dan kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Perhatikanlah ayat di atas, yang menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Apabila Allah menghukum dan menimpakan musibah atas setiap dosa dan kesalahan kita, niscaya kita akan binasa. Akan tetapi, Allah memaafkan sebagian besar dari dosa dan kesalahan tersebut.

Oleh karena itu, apabila kita tertimpa suatu musibah yang berat atau berada dalam problematika hidup yang pelik, mohon ampunlah kepada Allah dan bertobatlah kepada Allah. Renungkanlah bagaimanakah perkataan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (p**a di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Ketika mendapatkan musibah, segeralah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Allah pun menurunkan karunia berupa hujan dari langit, juga harta dan anak keturunan.

Senada dengan ayat di atas, terdapat sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istigfar yang luar biasa.

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف

Photos from Reseller Resmi Ms Glow Bpp's post 29/08/2024

pengantaran Rabo 28 Agustus 2024
Trimakasih 😍

17/08/2024
16/08/2024

Sosial media dengan segala praharanya. Pamer ini pamer itu. Niatnya untuk mensyukuri nikmat Allah padanya ataukah hanya pamer belaka, ingin dibilang kaya, ingin dibilang populer atau semacamnya. Sebagai penonton pun tak jarang tertimpa hasad di dalam diri. Apakah aku yang hasad terhadap nikmatnya, ataukah dia yang hanya ingin pamer?

Hati pun sakit ketika melihatnya jauh lebih unggul dalam masalah harta dan pop**aritas, apakah karena salah memperlihatkan nikmat kepada orang yang tak punya? Atau apakah hati yang berpenyakit hasad tak terima takdir Allah Sang Pemberi Nikmat?

Nikmat yang Allah ta’ala berikan tentu saja merupakan hal yang harus seorang muslim yang beriman syukuri. Namun, apakah syukur itu?

Apa itu Syukur?

Syukur secara bahasa adalah memuji orang yang berbuat baik, dan secara istilah adalah menampakkan nikmat Allah kepada hambaNya dan di hatinya bersaksi, raganya mematuhi dan mentaati dalam rangka memuji dan mengakui bahwa nikmat yang hamba peroleh adalah semata-mata dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitabnya, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah menjelaskan tentang syukur. Seorang hamba bersyukur kepada Rabb ta’ala bisa dengan hati, lisan, dan badan. Dan cara untuk mensyukuri nikmat Allah ta’ala itu ada tiga macam,

1. Bersyukur dengan hati

Dengan mengakui keesaan peribadahan hanya untuk Allah semata, cinta dan kembali hanya kepadaNya, dan juga ibadah-ibadah hati yang lain yang disyariatkan. Dan peribadahan hati tersebut termasuk bersyukurnya hati kepada Allah ta’ala. Syukur hati ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam ketika sebagian sahabat bertanya kepadanya, “telah diturunkan (ayat) tentang emas dan perak, seandainya kami mengetahui harta yang terbaik, maka kami akan mengambilnya? Kemudian Nabi menjawab,

أفضله لسان ذاكرا و قلب شاكرا،  و زوجة مؤمنة تعينه على إيمانه

“(Harta) yang terbaik adalah lisan yang senantiasa berzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri yang beriman yang senantiasa membantu suaminya di atas iman.” (HR. At-Tirmidzi No. 3019, sahih)

2. Bersyukur dengan lisan

Dengan memujiNya, mengucapkan “alhamdulillah”, dengan bertasbih, bertahlil, dan menceritakan nikmat

19/07/2024

Islam telah menggariskan bahwa tidak semua makanan boleh masuk ke dalam tubuh kita. Makanan halal boleh untuk dikonsumsi sedangkan makanan haram terlarang untuk dikonsumsi. Di antara akibat mengonsumsi makanan haram adalah membuat doa sulit terkabul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik) dan tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Di samping itu, makanan haram akan memberikan efek negatif tersendiri bagi tubuh kita, karena inilah hikmah mengapa Allah dan Rasul-Nya melarang sesuatu. Sebaliknya, makanan yang halal dan baik akan menumbuhkan darah dan daging yang baik, perilaku dan perbuatannya pun insya Allah cenderung baik.

Menurut keterangan para ahli, makanan yang ki

28/06/2024

Ketika mendengar kata “investasi” mungkin kebanyakan dari kita akan tertuju pada hal yang dikeluarkan oleh seseorang untuk mendapatkan aset atau bisnis jangka panjang yang menguntungkan bagi masa depan sang investor.

Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, investasi adalah aktivitas menempatkan modal baik berupa uang atau aset berharga lainnya ke dalam suatu benda, lembaga, atau suatu pihak dengan harapan pemodal atau investor kelak akan mendapatkan keuntungan setelah kurun waktu tertentu.

Maka tak mengherankan jika banyak orang rela mengeluarkan banyak hal demi investasi yang menguntungkan; dengan harapan dapat lebih menjamin masa depan yang cerah serta bahagia, sehingga lebih menjamin kehidupan yang baik bagi dirinya maupun orang tersayangnya.

Maka investasi pun saat ini banyak dilirik karena banyak menawarkan kelebihan-kelebihan yang menguntungkan bagi sang calon investor.

Ada sebuah investasi yang amat menguntungkan yang bisa memberikan keuntungan yang sangat besar bagi investornya, dunia maupun akhirat, namun sayangnya masih banyak yang belum menyadarinya.

Investasi tersebut adalah “anak”. Bagi yang telah memiliki keluarga serta telah dikaruniai momongan, maka berbahagialah karena anda memiliki sebuah investasi besar yang sangat menguntungkan, tetapi mungkin anda belum menyadarinya.

Ini bukan hanya sekedar omong kosong, ataupun bualan para pembicara tema parenting di panggung-panggung seminar, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui lisan rasul-Nya telah menyampaikan perihal tersebut jauh ribuan tahun silam.

Simaklah petikan hadits berikut: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.”
(HR. Muslim no. 1631).

Mungkin kebanyakan dari kita sudah sering mendengar atau membaca hadist ini, atau bahkan ada beberapa yang telah menghafalnya, tetapi mungkin banyak dari kita yang belum memaknainya dengan

21/06/2024

Ilmu diin (agama) itu lebih baik daripada harta. Pernyataan ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini.

Hadits Ali Tentang Ilmu Lebih Baik daripada Harta

Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata:

ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛


العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu.

Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.”

Ilmu itu lebih baik daripada harta:

– Ilmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu.

– Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan).

– Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum).

– Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.

– Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya.

– Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.

– Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mer

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Balikpapan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Jln. Prapatan
Balikpapan
76111