Graha Kosmetik

Graha Kosmetik

Share

Tempat cerita-cerita dan skincare pilihan

16/09/2026

SAAT RUMAH TANGGA EVA GOYAH
RICKY HADIR SEBAGAI MANTAN TERINDAH
_________________

MANTAN TERINDAH UNTUK EVA

Bab 1: Pertemuan

Terik sinar matahari seperti memanggang kepala dan wajah Eva. Titik-titik peluh muncul di dahi dan pipinya, juga mengalir di punggung dan dada, hingga baju dan rambutnya basah.

Wajah Eva kusam tanpa bedak dan bibirnya pucat, tanpa p**asan lipstik. Sendalnya yang tipis tak mampu melindungi telapak kakinya dari panas aspal. Kedua tangannya kaku, menahan berat belasan kotak nasi pesanan Bu Andi. Bebannya masih ditambah dengan menggend**g Alya yang baru genap berusia setahun bulan depan. Sedangkan Lisa, anak pertamanya, berjalan di samping sambil memegang ujung rok Eva.

Pandangan Eva nanar menatap sedan-sedan mewah yang silih-berganti melintas di jalan. Terbayang nyamannya berada di salah satu sedan itu. Pasti udara panas ini tak terasa, berganti dengan sejuknya hembusan angin AC.

Ah, tak usahlah sedan mewah, Eva akan sangat senang seandainya saja punya ongkos untuk menumpang ojek atau angkot. Sayang tak sepeserpun u@ng ada di dompetnya. Sejak suaminya tak lagi bekerja, usaha membuat nasi box inilah yang menjadi tumpuan hidup keluarga kecil Eva.

Pembayaran dari Bu Andi nanti sangat Eva harapkan untuk ongkos p**ang. Bahkan Eva sudah berjanji dalam hati, setelah mendapatkan ua@ng nanti, dia akan membelikan kue-kue dan minuman untuk Alya dan Lisa. Pasti mereka senang. Mereka anak-anak yang pintar dan sangat mengerti beban kedua orangtuanya. Sama sekali tidak rewel bahkan ketika harus berjalan kaki sejauh ini di tengah hari.

“Bun, haus…” Lisa menarik baju Eva perlahan.

Eva menghela napas. Dia meletakkan plastik besar di atas trotoar, lalu merogoh tas slempangnya. "Ini, sayang...,” Dia menyodorkan botol berisi air putih.

Lisa meneguknya cepat. Kelihatan sangat menikmati air yang membasahi bibirnya." Sudah, Bun. "

Eva sedang memasukkan botol ke dalam tas, saat sebuah sedan hitam mengilat berhenti tepat di sisinya.

Jendela mobil berwarna gelap itu terbuka. Seraut wajah muncul. " Eva, ya...?” tanya pria itu ragu.

Eva tertegun mendengar namanya dipanggil. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Belum pernah Eva sekaget ini. Wajah itu sangat dikenalnya. Wajah yang pernah mengisi hatinya bertahun-tahun yang lalu.

Eva mengerjapkan mata beberapa kali. Barangkali panas matahari ini menimbulkan efek halusinasi atau fatamorgana? Entah apa namanya, yang jelas kondisi melihat sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Tapi tidak, setelah matanya terbuka kembali wajah itu masih ada. Raut yang sangat dikenalinya. Paras yang tidak berubah, bahkan setelah lima tahun mereka tak saling berjumpa. Wajah seorang pria dengan hidung yang tinggi, rahang yang kokoh dan tarikan bibir tegas, dihiasi mata yang selalu berbinar ramah. Ah, bukankah dia tinggal nun jauh di Amerika sana?

“Ricky...?”

“Ya, ampun. Eva, apa kabar,” Ricky segera turun dan menjabat tangan Eva erat.

"Kabar baik." Eva berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Ini sungguh waktu yang sangat tidak tepat untuk bertemu dengan mantan pacar.
‌
“Kamu mau kemana?” tanya Ricky lagi dengan tangan masih menggenggam jemari Eva.

“Eh… aku… mau ke.. Jalan Wijaya Kusuma,” Eva berusaha fokus. Dia menarik pikirannya kembali ke dunia nyata. Mengusir bayang-bayang masa lalu yang sekejap mampir di benaknya. Dengan halus dia berusaha membebaskan tangannya dari pelukan jemari Ricky.

“Ayo aku antar. Kebetulan kita searah. " Senyum mengembang di wajah Ricky. Wajahnya sumringah seperti orang yang menemukan sebongkah berlian. Senyum yang dulu sangat lekat di hati Eva.

Keraguan mampir di hati Eva. Sungkan rasanya harus semobil dengan Ricky. Tapi dengan menerima tawarannya, berarti ia bisa sampai lebih cepat di rumah Bu Andi. Lebih cepat p**a menerima pem bayaran pesanannya. Dan anak-anaknya tidak perlu susah berjalan di tengah panas matahari lagi. Eva bimbang.

Inikah yang dinamakan dejavu? Pikir Eva dalam hati saat duduk di dalam mobil Ricky. Dia merasa terlontar kembali ke masa lalu. Saat-saat manis kala dia dan Ricky masih menjalin hubungan istimewa. Semua teman-temannya menjuluki Eva dan Ricky sebagai pasangan yang tidak pernah terpisahkan. Semua kegiatan mereka lakukan bersama, belajar di kampus, jalan-jalan ke mall, olahraga, semuanya.

Seingat Eva, hubungan mereka berjalan sangat mulus. Tidak ada ganjalan yang berarti. Mereka hampir tidak pernah bertengkar. Cemburu? Ada sesekali rasa itu datang saat Ricky melihat Eva bicara terlalu akrab dengan teman-teman prianya. Juga kala Eva merasa Ricky terlalu sibuk dengan hobinya bermain game. Tapi semua itu hanya bumbu pemanis hubungan cinta mereka. Bukan pertengkaran hebat yang mengundang tangis.

Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya Eva ketika hubungan mereka berakhir begitu saja. Ya bahkan tanpa kata putus. Ricky menghilang begitu saja satu minggu setelah wisuda. Tiba-tiba saja Eva tidak bisa menghubungi pria itu. Ponselnya mendadak tidak aktif. Teman-temannya tidak tahu kemana Ricky pergi. Bahkan kala mendatangi rumah Ricky, Eva hanya melihat rumah tidak berpenghuni.

Entah apa yang terjadi saat itu. Hingga kini terkadang tanya itu masih mampir ke hati Eva. Hatinya hancur. Kesedihannya seperti tak berujung. Tak habis pertanyaan muncul di hatinya tentang penyebab kepergian Ricky. Apakah karena ada wanita lain? Atau Ricky sudah mulai bosan? Tentu saja tidak ada satupun yang terjawab. Eva hanya bisa pasrah dan membiarkan waktu menyembuhkan luka hatinya. Masih berharap satu hari nanti dia bisa kembali bertemu Ricky untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.

Dan kini saat bertemu kembali dengan Ricky, bibirnya sama sekali tidak kuasa untuk berkata-kata tentang masa lalu mereka.

Eva baru menyadari kalau bertemu kembali dengan mantan pacar ternyata rasanya sama sekali tidak indah. Mantan adalah mantan, dia sudah bukan pacar lagi. Apalagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kemesraan sudah menghilang, bahkan keakraban tidak lagi terasa. Yang tersisa hanyalah rasa canggung dan salah tingkah. Itulah yang dirasakan Eva saat ini saat bersama Ricky. Kalau saja tidak melihat dua putrinya yang sangat lelah pasti Eva akan menolak menerima tawaran Ricky. Dia merasa tidak nyaman berada dalam satu mobil dengan pria itu. Padahal mereka tidak berdua seperti dulu, ada Taryo supir Ricky dan tentu saja Alya serta Lisa.

Udara panas dan terik matahari tidak lagi terasa di dalam mobil. Hembusan angin sejuk dan wangi langsung menyambut Eva dan dua putrinya. Kenyamanan yang mengundang rasa kantuk Alya dan Lisa yang sudah lelah berjalan.

“Lisa, geser sedikit, nak,” Eva berusaha memperbaiki posisi duduk Lisa yang bersandar di lengan Ricky.

“Enggak pa-pa, Va,” cegah Ricky. “Kasihan nanti dia terbangun.”

Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Eva dan Ricky sama-sama tertegun. Hening terjadi saat pandangan mereka bertemu membuat kecanggungan di antara mereka terasa makin kental. Buru-buru Eva mengalihkan pandangannya pada Alya yang tertidur di pangkuannya. Jari-jarinya membelai rambut Alya yang basah oleh keringat.

“Jadi sekarang kamu berb isnis catering?” tanya Ricky berbasa-basi untuk mencairkan suasana.

Eva mengangkat wajahnya dan tersenyum sopan. “Iya, baru merintis sih, Rick. Masih usaha kecil-kecilan.”

“Semua usaha juga awalnya kecil, Va. Aku yakin catering kamu ini akan berkembang pesat.”

“Aamiiin, terimakasih doanya.”

“Dan boleh d**g kalau kantorku pesan makanan ke kamu? Kamu bisa buat kue-kue untuk rapat kan?”

“Bisa, bisa, Rick. Cuma kalau bisa pesanannya jangan terlalu mendadak ya. Maklum deh semuanya masih aku kerjakan sendiri. Apalagi aku masih harus bagi waktu dengan mengurus anak-anak,” tawaran Ricky membangkitkan semangat bisnis Eva. Setiap peluang adalah rezeki untuk anak-anaknya.

“Pasti. Aku akan kasih kabar beberapa hari sebelumnya. Aku minta telepon kamu ya, biar gampang kalau mau pesan makanan.”

Eh? Eva terdiam sejenak. Bertukar nomer telepon berarti membuka lagi jalur komunikasi di antara mereka. Rasa tidak nyaman menyelinap di hati Eva mengingat status mereka di masa lalu. Apakah dia harus meminta izin suaminya?

Ah, Ferdi pasti tidak keberatan. Antara Eva dan Ricky sudah tidak ada sesuatu yang istimewa lagi. Pria itu meminta nomer teleponnya semata untuk urusan bisnis.

Dengan pertimbangan itu Eva menyebutkan deretan angka nomer teleponnya, yang langsung direkam Ricky dalam ponselnya.

“Maaf, Bu. Di depan belok kanan ya?” tanya Pak Taryo, supir Ricky.

“Oh, iya, Pak. Enggak jauh dari perempatan ini ada rumah tingkat warna biru muda,” Eva melanjutkan memandu Pak Taryo menuju rumah Bu Andi.

“Biarkan saja anak-anak tidur di mobil,” bisik Ricky saat mobil sudah berhenti di rumah tujuan. Suaranya pelan karena tidak mau membangunkan Alya dan Lisa.

Eva mengangkat wajahnya heran. “Tapi…”

“Biar dijaga Taryo.” lanjut Ricky meyakinkan Eva. “Kamu tidak lama kan?”

Ricky memerintahkan Taryo untuk membuka kaca mobil sedikit sebagai jalan untuk oksigen masuk. Setelah itu Taryo membantu menurunkan box-box makanan dari bagasi, lalu berdiri di samping pintu mobil, menunggu.

“Yuk,” ajak Ricky. Sementara Eva masih terpana karena di depannya berdiri pria berpenampilan rapi lengkap berdasi dengan dua tangan menenteng box makanan.

“Tidak usah, Rick,” kata Eva melihat Ricky ikut menenteng box makanan.

“Kenapa? Ini enteng kok, biar aku bantu biar cepat selesai. Jadi kamu enggak perlu bolak-balik ke mobil.”

Bahkan Bu Andi juga ternganga melihat Eva datang bersama seorang pria tinggi dan tampan. Wanita setengah baya itu buru-buru membuka pintu pagar rumahnya. “Ah, Mbak Eva sudah datang, ayo silakan masuk,” sapanya ramah sambil melirik-lirik sedan biru mengilap yang parkir tepat di depan pagar. “Mobil baru nih?” Mata Bu Andi membelalak penuh selidik.

Eva tahu pasti sebentar lagi beritanya datang diantar pria bermobil mewah akan tersebar.

“Ah bukan mobil saya, Bu,” jawab Eva tersipu. “Itu mobil teman saya.”

“Oh begitu,” Bu Andi melempar senyum ke Ricky.

“Ayo silakan duduk dulu, Mbak. Saya sediakan minum ya. Mau minum apa nih? Teh manis dingin atau hangat?”

“Tidak usah, Bu,” tolak Eva karena merasa tidak nyaman dengan keramahan Bu Andi yang berlebihan. Sungguh, biasanya Bu Andi tidak pernah seramah ini. Apakah ini efek dari kehadiran Ricky? Evan tidak tahu. “Kebetulan saya buru-buru. Itu anak-anak tidur di mobil.”

“Yah, padahal saya masih pengen ngobrol-ngobrol dulu,” Bu Andi tampak kecewa, dia masih ingin mengorek informasi tentang pria tampan di sampingnya itu.

“Maaf ya, Bu. Mungkin lain kali, kalau sedang senggang saya datang lagi.”

“Benar ya. Janji lo datang ke sini lagi. Jangan lupa ajak Mas ini.”

Wajah Eva memerah mendengan kata-kata Bu Andi. Dia melirik Ricky dengan pandangan meminta maaf, tapi pria itu hanya tersenyum lebar, tidak tampak terganggu dengan kata-kata Bu Andi.

“Maaf, ini kwitansinya, Bu,” Eva ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Bu Andi. Makin lama dia di rumah ini, Bu Andi akan leluasa menyalurkan hasratnya mencari informasi.

“Oh ya ya, hampir lupa. Ini ua@ ngnya ya,” dari dompetnya, Bu Andi mengeluarkan beberapa lembar limapuluh ribu dan menyerahkannya ke tangan Eva.

“Terima kasih, Bu. Ditunggu pesanan selanjutnya,” Eva menerima uang itu dan dengan hati-hati menyimpannya dalam tasnya yang sudah lusuh.

“Pasti, pasti, nanti kalau saya ada acara lagi pasti pesan sama Mbak Eva,” Bu Andi menjawab tanpa memandang wajah Eva. Matanya terpaku pada Ricky. Cepat-cepat Eva pamit.

“Sekarang kamu mau kemana, Va?” tanya Ricky saat mereka berjalan beriringan menuju mobil.

“Pulang, Rick.”

“Aku antar ya?”

“Aduh jangan nanti merepotkan. Aku biasa naik kendaraan umum kok. Apalagi sekarang tidak perlu membawa box makanan itu. Lebih mudah.”

“Sudah tanggung, sekalian saja. Kasihan anak-anak, pasti masih tidur.”

“Memang kamu enggak ada keperluan lain?”

Ricky tertawa, “Tenang saja kalau urusanku gampang diatur. Yang penting kamu bisa p**ang ke rumah dengan cepat dan selamat.”

Lagi-lagi dengan pertimbangan anak-anak, Eva menyetujui usul Ricky untuk mengantar mereka p**ang. Tentu saja dia kaget ketika mobil Ricky berjalan menyimpang dari jalur yang seharusnya.

“Enggak lewat jalan sini. Rick.”

“Memang,” senyum lebar tergambar di wajah Ricku. “Kita mampir makan sebentar ya. Sudah lewat jam makan siang. Anak-anak belum makan kan?”

“Tapi…” sebenarnya Eva memang sudah berniat mengajak anak-anak mampir ke warung makan setelah mendapat pembayaran dari Bu Andi.

Mobil memasuki tempat parkir restoran ayam goreng.

“Anak-anak s**a makan di sini kan?” Ricky bertanya lagi.

Eva mengangguk ragu. Ayam goreng berbalut tepun itu selalu jadi makanan kes**aan anak-anaknya. Apalagi di restoran itu tersedia tempat bermain untuk anak-anak. Makanan enak dan tempat bermain jadi daya tarik kuat restoran ini. Tidak heran bila Lisa dan Alya sering merengek, mengajak Eva untuk mampir menikmati hidangan ayam goreng di sini. Tentu saja Eva jarang sekali bisa mengabulkan permintaan mereka. Uang di dompetnya sangat terbatas. Biasanya Eva akan membujuk Alya dan Lisa untuk membuat sendiri ayam goreng seperti itu. Lebih murah pasti, meski rasanya tidak sama.

Terbit kagum dalam hati Eva akan perhatian Ricky pada anak-anaknya. Bagaimana dia tahu kalau anak-anak s**a ke restoran semacam itu?

“Horeeee…!” baru saja mobil berhenti di tempat parkir, Lisa sudah bangun dan bersorak. Matanya membulat kegirangan menatap bagian depan bangunan restoran itu. Mata Eva menghangat melihat kegembiraan di mata puterinya.

“Yuk," ajak Ricky mengulurkan tangannya. Menuntun Lisa turun. “Mari aku bantu,” ujarnya dengan ringan mengambil Alya dari pangkuan Eva.

“Biar aku saja, Rick. Berat.”

Ricky tersenyum lebar. “Rasanya aku lebih kuat dari kamu. Lebih baik kamu mengawasi Lisa saja. "

Eva mengikuti pandangan Ricky dan langsung menjerit tertahan. Lisa sudah berlari masuk ke restoran. “Lisa, tunggu mama,” Eva segera berjalan cepat ke arah Lisa yang sudah berdiri di pintu masuk. Tidak tahan untuk segera bermain di area playground dalam restoran

“Silakan masuk, Bapak, Ibu,” sapa waiter yang kebetulan sedang berdiri di dekat pintu masuk. “Puterinya cantik sekali,”

Eva tersipu mendengar sapaan itu, dia melirik Ricky. Pria itu tampak tampak tidak keberatan dengan kata-kata yang dilontarkan waiter. Ricky malah tersenyum lebar, seperti senang sekali karena waiter itu mengiranya suami Eva dan ayah anak-anaknya. Mereka memang mirip gambaran ideal keluarga bahagia, ibu dan bapak serta dua orang anak.

Novel Mantan Terindah untuk Eva
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

15/09/2026

SAAT PERNIKAHAN SAVANNAH RETAK, IA BERTEMU DENGAN PRIA YANG LEBIH MEMIKAT.

“Rasanya enggak ada, Mas. Enggak terlalu sakit juga. Aku cuma lemas dan pusing sedikit. Mungkin masih shock. Repot nanti kalau dirawat di rumah sakit. Lebih baik aku istirahat di sini saja.”

Mau tidak mau Dito mengikuti keinginan Kalista.

Ada benarnya juga pendapatnya. Kalau Kalista dirawat di rumah sakit tentu akan sedikit sulit buat Dito menjenguknya.

Di tempat umum seperti itu kemungkinan kepergok orang lain sangat besar.

Berbeda kalau Kalista beristirahat di apartemen, Dito bisa menjenguknya kapan saja.

“Kalau begitu, kamu istirahat saja di kamar ya. Jangan banyak bergerak dulu.”

Kalista tersenyum dan mengangguk, lalu membiarkan Dito membimbingnya.

Di saat-saat kurang sehat seperti ini pastinya Kalista sangat menikmati curahan perhatian dan sayang dari Dito.

Setelah membantu Kalista berbaring di tempat tidurnya, Dito menyelimuti Kalista, lalu dia duduk di samping tempat tidur. Tangannya kembali membelai-belai rambut Kalista.

Setiap sentuhan Dito mampu menggetarkan hati Kalista.

Setelah kecelakaan tadi pagi, dia bersyukur sekali masih diberikan kesempatan bertemu dengan kekasihnya itu.

Begitu baiknya Dito. Begitu besar cinta dan sayangnya pada Kalista. Dalam hati, Kalista berjanji: tidak akan melepaskan Dito untuk selamanya.

“Sori, aku enggak bisa lama-lama ya, Ta,” ada senyum meminta maaf di wajah Dito.

“Yaaa… kamu mau pergi sekarang? Aku kan masih ingin ditemani,” pinta Kalista manja.

“Iya, kan masih banyak yang harus aku urus…,” Dito tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tidak mau Kalista teringat lagi soal kecelakaan hari ini.

Padahal memang Dito harus mengurus mobil dan membereskan soal kecelakaan ini.

Dito pergi ke apartemen Kalista dulu, untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

“Kalau kamu merasa ada yang sakit atau mendadak pusing, telepon aku ya.”

Kalista mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa berat, tapi dia tidak berani bilang ke Dito, Kalau bilang pasti Dito akan memaksanya ke rumah sakit.

“Tidak ada yang sakit pun pasti aku telepon kamu nanti,” katanya menggoda.

Dito tertawa, “Ini serius lo. Janji, kalau terasa sakit kamu langsung telepon aku.”

“Iya, pasti.”

“Tunggu sebentar.” Dito keluar kamar dan masuk kembali membawa botol air minum dan sekaleng biskuit dari dapur.

Diletakkannya biskuit dan air minum itu di atas nakas di samping tempat tidur Kalista.

“Ini kalau kamu lapar atau haus nanti. Biasanya Canti sampai di apartemen jam berapa?”

“Sekitar jam tujuh, Mas.”

“Perlu aku telepon Canti supaya dia p**ang lebih cepat?”

“Enggak perlu. Aku enggak pa-pa kok.”

“Ya sudah, aku pergi dulu ya,” Dito mengecup dahi Kalista.

“Mas...”

Dito yang sudah sampai di pintu kamar, berbalik mendengar panggilan Kalista.

“Hati-hati.”

Senyum tergambar di wajah Dito. “Pasti.”

***

“Dito…! Dito…!” Savannah berteriak histeris melihat mobil Dito yang sudah tidak berbentuk itu.

“Hai, kalian baru p**ang?”

Savannah berbalik mendengar suara Dito. Matanya mengerjap beberapa kali melihat sosok suaminya yang baru muncul dari dalam rumah.

Perasaan Savannah campur aduk melihat Dito tampak santai dengan kaos T-Shirt dan celana pendek lusuh. Pakaian sehari-harinya di rumah.

“Dito…!” seru Savannah sambil berlari lalu memeluk suaminya erat.

Entah kekuatan dari mana, dia tiba-tiba mampu berlari ke arah Dito. Rasa lemas di kakinya menghilang melihat suaminya dalam kondisi baik-baik saja.

Sesuatu yang tidak terbayangkan melihat kerusakan mobilnya sangat parah.

Tangis Savannah pecah di dada Dito, mengingat kemungkinan terburuk yang telah melintas di benaknya.

Tentu saja Dito yang baru saja keluar rumah terkejut menerima pelukan Savannah.

Dito sudah terbiasa melewatkan hari-hari hanya dengan sedikit bicara apalagi sentuhan dari istrinya.

Cepat Dito mengangkat cangkir kopi yang dibawanya. Jangan sampai cangkir itu tersenggol Savannah, lalu cairan panas itu menyiram Savannah atau Dito sendiri.

Terheran-heran dengan kelakuan istrinya, Dito menekan canggung punggung Savannah dengan satu tangan.

Tangannya yang lain masih mengangkat cangkir tinggi-tinggi. Mata Dito memandang Supri dan Marina dengan kikuk, menyadari bahwa Savannah mulai terisak di pelukannya.

Marina buru-buru memberi kode pada Dito untuk pamit.

Tidak mungkin memberitahu Savannah karena posisi berdiri sahabatnya itu membelakangi Marina. Dan Marina tidak ingin mengganggu momen Dito dan Savannah.

Dito mengangguk tanda mengerti kode Marina. Supri ikut pamit dengan sedikit membungkuk dan kembali ke mobil. Dia harus memasukkan mobil ke dalam garasi sebelum p**ang.

P**i Savannah menempel di dada Dito, hingga dia bisa mendengar detak jantung suaminya.

Kedekatan fisik ini mengingatkan Savannah pada tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Aroma tubuh Dito, yang tidak berubah, memasuki indera penciuman Savannah.

Mendadak kesadaran menyentak benak Savannah.

Apa yang sedang dia lakukan?

Savannah bisa merasakan Dito tidak membalas pelukannya. Buru-buru dia melepaskan dekapannya, lalu melangkah mundur.

Ah, Savannah kesal pada dirinya sendiri. Tidak biasanya dia lepas kontrol seperti itu.

Kondisi mobil Dito yang rusak berat membawa dugaan hal yang paling buruk telah terjadi, hingga dia begitu senang melihat suaminya itu berdiri tegak tanpa luka sedikitpun.

Savannah berpaling dan mengusap air matanya cepat-cepat, walau dia tahu usahanya percuma. Dito sudah melihat sendiri tangisannya.

Sosok yang berdiri di depannya berhasil membuat perasaan Savannah campur aduk.

Gelombang kegembiraan menerpa hatinya melihat sosok pria yang sampai saat ini masih berstatus suaminya itu. Namun ada kesal yang menyelinap di hati Savannah karena Dito sama sekali tidak bereaksi pada pelukannya.

Yah, bukannya Savannah mengharapkan kemesraan dari Dito. Tapi… tidakkah Dito sadar kalau Savannah hampir pingsan melihat mobilnya ringsek seperti itu?

Apakah dia tidak tahu kalau Savannah sudah membayangkan yang tidak-tidak?

Savannah menghembuskan napas panjang untuk mengatur debaran dadanya.

“Ini… kenapa?” kata Savannah terbata. Emosi yang berkecamuk di hatinya mengacaukan pikirannya.

Savannah memandang berganti-ganti antara mobil dan Dito.

“Oh, kecelakaan,” kata Dito dengan nada masih datar.

“Iya, tapi…”

“Sudahlah, jangan dibahas,” Dito menyandarkan punggungnya di dinding, lalu menghirup kopi dari dalam cangkirnya.

Savannah terdiam. Jelas Dito tidak ingin membicarakan hal ini.

Savannah menduga Dito masih kaget. Siapa yang tidak kaget kalau mengalami kecelakaan separah ini?

“Kamu enggak luka?”

Dito tersentak mendengar pertanyaan Savannah. Dia memandang Savannah heran.

Baru Dito sadar kalau Savannah pasti mengira dia yang menyetir mobil ini.

Dito menjawan pelan, “Oh aku baik-baik saja.”


Savannah meninggalkan Dito yang masih memandangi mobilnya. Dia mengerti Dito tidak ingin diajak bicara tentang kecelakaan itu.

Tak apalah, bagi Savannah yang penting Dito selamat. Dia kaget sendiri memikirkan kelakuannya tadi.

Mengapa dia begitu takut ada sesuatu terjadi pada Dito? Bukankah selama ini mereka sudah seperti orang asing.

Aduh, apa yang Dito pikirkan melihatnya histeris seperti itu. Juga tindakannya memeluk Dito. Di depan Marina dan Supri lagi. Savannah merasakan pipinya panas karena malu.

Savannah langsung menuju dapur. Sepertinya dia perlu segelas air putih dingin untuk meredakan emosinya.

Savannah menuang segelas air putih dingin, meminumnya beberapa teguk lalu mendekap gelas dingin di dada.

Berharap kesejukan dalam gelas mampu meredakan detak jantungnya. Mengurangi sisa kecemasan dalam hatinya.

Selesai minum, Savannah langsung meletakkan gelas di bak pencuci piring.

Matanya melihat sesuatu yang tidak biasa. Ada plastik pembungkus keju dan sosis tergeletak di sudut bak cuci piring.

Apakah Irah sudah p**ang?

Pandangan Savannah mencari-cari, tapi tidak menemukan bayangan asisten rumah tangganya itu.

Atau Dito yang memasak? Seingat Savannah, Dito paling malas ke dapur.

Dito akan memilih menahan lapar berjam-jam, sampai ada orang yang membuatkan makanan untuknya atau delivery datang dari restoran terdekat, daripada harus turun ke dapur.

Savannah mengangkat bahu, lalu memungut plastik-plastik pembungkus itu dan membuangnya ke tempat sampah.

Di atas meja makan, ada dua kotak kue masih terbungkus kantong plastik bertuliskan Delisia Bakery. Pasti Supri yang membawanya ke dapur tadi.

Savannah mengeluarkan isi kotak itu dan memindahkannya ke piring. Dengan pisau dipotong-potongnya brownies keju itu.

Savannah menghela napas, niatnya membicarakan soal kontrak jelita dengan Dito sambil menikmati brownies tampaknya harus diundur.

Hari ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan soal shooting iklan sabun. Dito pastinya masih kaget setelah mengalami kecelakaan hebat itu.

Savannah merasakan sudah menjadi saksi suatu keajaiban, karena melihat suaminya selamat dengan kondisi mobil hancur seperti itu.

Savannah membawa sepiring brownies itu ke ruang TV. Diletakkannya piring kue itu di atas meja.

Siapa tahu Dito tertarik memakannya, tapi tidak terlihat bayangan Dito.

Apakah dia sudah berada di dalam kamarnya?

Atau masih di teras meratapi nasib buruk yang dialami mobilnya.

Dua Cinta Savannah
Bisa dibaca di KBM App
Akun dewi_muliyawan

15/09/2026

SEMINGGU SETELAH PAPA MENINGGAL, MELINA DIUSIR DARI RUMAH
SUAMINYA MEREBUT SEMUA W4RIS4N

___________________

SUAMI PEREBUT W4RISAN

Bab 7 Terpikat Sarah

Dadaku berdetak cepat saat berjalan kembali ke ruang pesta. Tas pesta ku dekap erat, seolah takut kehilangan. Ada benda yang sangat berharga di dalamnya. Bukan em4s, perm 4ta atau dol4r, tapi sebuah ponsel. Benda yang hampir semua orang punya itu kini jadi sangat berharga, karena semua ponselku disita keluarga Mas Arya.

Benakku segera merancang siapa saja teman-teman papa yang akan kutelepon. Mereka yang punya profesi pengacara dan notaris ada di puncak daftar dalam otakku.

Sayangnya, pemandangan di depanku memaksa benakku berhenti bekerja. Kulihat Mas Arya tampak berbincang akrab dengan seorang perempuan.

Tubuh wanita itu tinggi dan langsing. Rambutnya yang berwarna coklat tergerai menutupi punggungnya yang terbuka. Ikal-ikal cantik menghias kilau rambutnya. Keturunan Eropa terlihat jelas dari hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih.

“Itu Sarah,” bisik Lita di telingaku. Nada bangga terdengar jelas di suaranya. “Model internasional, masuk deretan wanita tercantik di Indonesia. Pacar baru Arya." Tambahnya lagi tanpa diminta.

Huh, aku mendengus. Boleh saja dia model dan artis, tapi aku juga tidak akan kalah bila diadu. Berikan baju-bajuku dan peralatan make up-ku, aku bisa tampil lebih glowing dari dia. Pasti dia juga tidak bermodal. Ciri-ciri perempuan yang mengincar harta.

Pasti dia menduga Mas Arya yang memiliki sederet perusahaan dan propertI. Kalau dia tahu semua itu adalah milikku, kujamin dia akan terbirit-birit meninggalkan Mas Arya.

Lita salah mengartikan amarah yang terpancar di sorot mataku.

“Kenapa cemberut? Cemburu ya?” tanyanya dengan senyum mengejek.

“Jangan mimpi," sergahku cepat." Untuk apa aku cemburu?” kataku segera melangkah menjauh dari Mas Taufan.

Untuk apa melihat kelakuan minus pria itu. Suami yang seharusnya menyayangi dan melindungiku malah melakukan hal yang memalukan.

Lebih baik aku mencari Om Ridwan lagi atau teman-teman papa yang lain. Aku berniat meminta pertolongan mereka daripada mataku sakit melihat Mas Arya dengan wanita itu.

"Hei, mau kemana kamu?! seru Lita. Dia kesulitan mengikuti langkahku yang cepat karena gaunnya yang panjang menyapu lantai.

Sayangnya belum sampai aku menemukan Om Ridwan, tiba-tiba tanganku dicekal. “Ayo p**ang...” desis Mama Mertuaku tepat di telinga.

“Ha? Kenapa p**ang sekarang? Baru saja berapa menit di sini,” kataku sambil sedikit meronta. "Pesta juga baru mulai."

“Sudah cukup. Yang penting Ridwan tahu kamu baik-baik saja. Arya tadi sudah bilang pada mereka kalau kita enggak bisa terlalu lama di sini karena ada acara di tempat lain."

Sepertinya niatku meminta bantuan dari teman-teman papa sudah terbaca keluarga Mas Arya. Buktinya mereka sama sekali tidak memberikan kesempatan padaku untuk sendirian. Ada Lita dan Tika yang bergantian mengikuti langkahku. Dan sekarang Mama Mas Arya sudah terburu-buru mengajakku p**ang.

“Tapi…” mataku berkaca. Kulihat di tengah ruangan Om Ridwan dan isterinya sedang tertawa-tawa. Ingin sekali aku bergabung ke sana dan mengadukan nasibku ini pada mereka.

“Ayo cepat…” Lita ikut memepetku.

Otakku berpikir cepat. Minta tolong dengan satu teriakan saja selesai sudah. Aku yakin banyak orang di sini dengan senang hati menolongku. Tapi akibatnya nama baik keluargaku akan hancur. Skandal ini akan jadi makanan pecinta gosip. Bisa-bisa jadi viral dan menjadi berita di berbagai media. Aku tidak mau nama baik papa dan mama rusak. Biarlah aku mengalah lagi sekarang. Pasti nanti ada jalan lain.

Aku akan bertindak lebih cerdas. Sementara ini biar kuikuti permainan mereka. Lihat saja aku akan bermain dengan cantik. Ponsel dari Jovan tadi akan menjadi alat untuk memulai langkah pertamaku. Pikiran ini membuat hatiku lebih tenang.

“Loh, Mas Arya mana?” spontan aku bertanya karena mobil sudah melaju sementara Mas Arya tidak ikut, padahal tadi kami berangkat bersama. Seperti biasa pertanyaanku tidak segera mendapat jawaban, justru ejekan yang keluarga Mas Arya lontarkan dengan senang hati.

“Heh, masih berharap bersama Arya rupanya?” senyum kemenangan mampir di bibir Tika. Bibirnya terangkat miring hingga ekspresi wajahnya tampak begitu sinis. Heran, padahal dulu dia begitu manis padaku.

“Makanya kalau masih cinta jangan pura-pura benci. Urus tuh suaminya yang benar. Kalau sudah kabur dengan perempuan lain baru menyesal.”

Coba, ya itu Tika komentarnya selalu pedas. Dulu mana berani dia berkata begitu padaku. Kalimat yang keluar dari bibirnya selalu penuh puja dan puji. Melina yang cantik, baik, ramah,” begitu terus berulang-ulang.

14/09/2026

GARA-GARA REUNI AKU MENEMUKAN BUKTI SUAMIKU BERSELINGKUH

______________________

Cinta Rahasia Suamiku
Bab 3 Menggeledah

Penasaran, aku berusaha mengambil pulpen itu dari tangan Sophie. Aku ingin melihat lebih jelas lagi. Tapi...

Syuut… cepat sekali pulpen itu sudah berpindah tangan. Aku dan Sophie melongo melihat Stella sudah menimang-nimang pulpen itu. Sumpah kecepatan tangan Stella, saat merampas pulpen itu dari tangan Sophie, setara dengan bayangan.

“Eh, kamu mau mengambil pulpen ini ya?” Stella menimang-nimang pulpen itu di telapak tangannya. “Untuk apa?”

“Iya nih, kok agak-agak mencurigakan ya,” Yuni memandangku dengan memicingkan matanya. Seakan ingin meneliti niatku. "Jangan-jangan mau dikantongin..."

“Apaan sih kalian ini?" Jelas aku protes diperlakukan seperti ini. Aku tidak bermaksud mencuri atau akan merusak alat tulis itu." Bukan untuk apa-apa, aku cuma mau lihat pulpen itu sebentar. Kelihatannya bagus,” kataku berkilah dengan tangan terulur, ingin mengambil pulpen itu dari tangan Stella.

Sayangnya, Stella kembali bergerak lebih cepat dia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, hingga sekali lagi aku gagal meraih pulpen itu.

Sudah tentu sekarang kami menjadi pusat perhatian gara-gara keributan kecil ini. Sekarang semua mata peserta arisan tertuju pada kami. Mereka memandang dengan rasa ingin tahu. Bisik-bisik gosip mulai terdengar samar.

Aku melirik Jenna. Ingin tahu sikapnya sebagai pemilik pulpen. Dia malah tampak salah tingkah. Jenna menolak memandangku. Setiap kali aku menatapnya dia membuang muka.

Aku yakin dia pasti dia bingung harus bertindak apa. Membiarkan kami ribut-ribut bisa merusak acara arisan kali ini. Tapi dia tidak juga berusaha melerai. Jangan-jangan takut kalau aku nekat bertanya darimana dia mendapat pulpen ini dan rahasianya bersama Niko terbongkar.

Sophie berkali-kali menarik ujung bajuku, kode keras agar aku menghentikan keributan ini, tapi sudah kepalang basah. Aku tidak mau mengalah. Ini sangat penting. Aku harus memastikan pemilik pulpen itu.

“Norak ih. Pulpen orang kok mau dilihat-lihat. Belum pernah tahu pulpen mahal ya?” Lagi-lagi bibir Yuni melontarkan kata-kata hinaan. Wajahnya tampak puas bisa mencelaku seperti itu.

Seperti api yang disiram dengan bensin, Stella juga ikut-ikutan melontarkan hinaan. “Biar kamu tahu ya, harga pulpen ini mahal banget. Jangan berani-berani memegangnya, nanti kalau rusak, bisa pingsan kamu disuruh mengganti.”

Aku mendecakkan lidah. Tidak sabar melihat angkuhnya mereka. Kalau mereka tahu akulah yang membelikan pulpen itu untuk Niko bisa-bisa mereka pingsan berbarengan.

“Tolong d**g aku cuma mau lihat pulpen itu sebentar. Atau kalau aku tidak boleh pegang, aku bisa minta tolong Sophie untuk memotret pulpen itu,” Aku masih menahan diri dan meminta dengan baik-baik.

“Untuk apa minta fotonya? Oh aku tahu. Pasti nanti foto itu mau kamu upload di media sosial ya. Biar dapat like banyak. Supaya orang-orang kagum karena kamu punya barang mewah… Ih enggak tahu malu.” Kali ini Kumala yang mengambil kesempatan merendahkan aku. Padahal aku tahu persis dia sendiri yang s**a mengunggah barang-barang bermerk di akunnya.

Sophie sering menunjukkan info tentang Kumala karena mereka berteman dan saling follow. Isi media sosialnya cuma tas, sepatu dan busana serba mevvah. Foto-foto barang mewah yang entah dia ambil darimana, karena menurut Sophie kehidupan Kumala tidak semewah yang terlihat dari akun media sosialnya. Suami Kumala yang dulu pengusaha sukses sudah bangkrut gara-gara terjerat kasus penipuan.

“Atau foto itu mau kamu buat contoh untuk cari barang kw, iya ‘kaan…” Penampilan Yuni memang selembut putri tapi kata-katanya nyelekit di dalam hati. "Dasar enggak mau kalah dengan Jenna. Kamu tuh enggak se-level dengan Jenna, tahu enggak. Dia artis terkenal, bukan seperti kamu yang enggak jelas.”

Ingin rasanya aku nyeletuk kalau justru Yuni yang sering memakai barang-barang K W. Sekali lihat saja aku bisa memastikan tas dengan logo H yang ditentengnya itu bukanlah barang original.

Sekali lagi aku melirik Jenna. Sekarang wajahnya tampak pucat. Pasti dia baru sadar kalau sudah menggunakan pulpen milik Niko. Tapi dengan cepat dia menguasai diri. Dasar artis, pasti jago berakting.

Dengan wajah sok polos Jenna berkata, “Sudah-sudah jangan ribut, malu ‘kan. Seperti anak kecil saja, bertengkar gara-gara pulpen. Ingat d**g kita bertemu sekarang ini kan untuk menjalin persaudaraan, sayang kalau acara 4r isan kita jadi berantakan.”

“Kania tuh yang mulai Jen. Kalau dia enggak norak lihat-lihat pulpen kamu pasti juga semua baik-baik saja,” Seolah tidak puas sudah mem-bully, kini Stella menimpakan kesalahan padaku.

“Sudah, sudah,” Jenna meraih pulpen itu lalu memasukkannya ke dalam tas. “Kita pakai pulpen yang lain saja supaya tidak ada yang ribut.” Dia meminta alat tulis lain dari Yuni.

“Tapi…” aku masih berusaha berkilah, tapi Jenna tidak mau mendengar. Dia segera melanjutkan acara. Dan kalau Jenna sudah bertitah, semua pun menurut.

“Yuk, kita mulai saja. Kirim bukti transfernya ya…?”

“Oh, u4ng di-transfer, Soph?” aku berbisik pada Sophie, maksudku untuk mengonfirmasi sekaligus meminta nomer r3 keningnya. Belum sempat Sophie menjawab Kumalah yang duduk di sampingnya sudah berkomentar tanpa diminta.

“Ya, iyalah… memangnya 4r isan di kampung, pakai u4ng c4 sh?!?” katanya dengan kepala bergoyang-goyang seperti boneka dari India.

Dasar tukang nguping ya. Rupanya dia sengaja duduk di dekat aku dan Sophie untuk mencuri dengar pembicaraan kami. Pasti nanti akan dijadikan bahan bergosip di antara mereka. Hih, ingin rasanya kucubit hidung dan dagunya yang panjang, seperti menggunakan terlalu banyak silikon, itu dengan keras.

“Sudah tidak usah ditanggapi,” bisik Sophie. Aku mengangguk setuju. Senang bisa melihat Kumala cemberut karena kata-kata pedasnya tidak berhasil membuatku emosi.

“Kania jadi ikut 4ris an ‘kan?” Jenna bertanya sambil tersenyum manis. Aku bisa merasakan senyumnya tidak tulus. Lebih mirip senyum yang biasa dia tunjukkan di atas panggung atau layar televisi.

Aku terdiam menimbang-nimbang.

“Iya, pikirkan dulu baik-baik. Jangan sampai nanti di tengah 4ris an tiba-tiba enggak mampu bayar. Kita juga yang repot…”

Kesal aku jadinya karena melihat peserta arisan yang lain mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Stella yang julid setengah mati.

“Gimana, Nia? Jadi ikut enggak?” Sophie berbisik mengkonfirmasi.

“Ikut saja,” Akhirnya aku memutuskan. “Kamu saja yang bayari ya. Nanti aku tr4 nsfer ke kamu." Aku melirik Sophie

Sophie mengangguk. “Beres.”

***

Sepanjang acara dan selama perjalanan p**ang, aku sangat gelisah. Tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan mencari pulpen Niko.

Sampai di rumah buru-buru aku memeriksa kamarku. Semua laci dan lemari aku periksa. Siapa tahu pulpen Niko tertinggal di situ.

Sedang asik mencari pintu kamar tidurku diketuk. Tidak mungkin Niko sudah p**ang jam segini. Perlahan aku membuka pintu sedikit. Nyaris mengintip. Astaga, leganya hatiku melihat Narti, asisten rumah tanggaku yang berdiri di balik pintu. Aku membuka pintu lebih lebar.

“Ibu, sedang mencari apa?” Mata Narti membelalak heran.

Jelas dia keheranan melihat kamarku yang biasanya rapi kini seperti kapal pecah karena semua isi lemari dan laci berhamburan di atas karpet.

“Aku sedang mencari barang, Ti. Sudah kamu tidak usah banyak tanya. Bantu saya bereskan saja ya…”

Aku tidak ingin menjelaskan terlalu banyak pada Narti. Dia hanya diperlukan untuk merapikan kembali isi kamar yang sudah kuacak-acak ini.

“Memangnya ada yang hilang, Bu? Saya enggak ngambil apa-apa kok…”

Halah, Narti malah tetap berdiri dengan wajah ketakutan. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Narti… Siapa yang nuduh kamu ngambil barang?” Aku bertanya dengan nada tidak sabar. Narti ini kadang-kadang terlalu sensitif. “Aku sedang mencari surat penting.”

“Oh surat ya, Bu…” Senyum kembali muncul di bibir Narti. “Bukan emas atau barang mahal?”

“Bukan, ayo cepat bantu rapikan. Nanti Bapak keburu p**ang.” Aku melirik jam di atas Nakas. Waktuku tidak banyak, hari ini Niko berjanji p**ang lebih sore. Padahal aku masih harus mencari di ruang kerjanya.

Setelah mendapat jaminan bukan barang berharga yang hilang, Narti segera melakukan tugasnya dengan baik. Dengan cepat barang-barang yang sudah kuacak-acak segera kembali rapi. Narti memang cepat dalam bekerja.

Tidak menemukan barang yang kucari, ragu-ragu aku masuk ke ruang kerja Niko. Selama ini bisa dibilang aku tidak pernah masuk ke ruangan ini. Niko sangat menjaga privasinya. Dia tidak s**a aku masuk ke ruangan ini. Sekarang aku jadi bertanya-tanya mungkinkah ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Narti masih membuntutiku. Kami bergerak dalam diam. Setiap kali isi satu laci selesai diperiksa, segera Narti membereskannya lagi. Lemari besar yang menempel di dinding usai kugeledah. Baru saja aku membuka laci di meja kerja Niko…

Klik!

Aku tersentak kaget. Tanganku sampai mematung tidak bergerak. Pintu ruang kerja Niko terbuka.

Novel Cinta Rahasia Suamiku

Bab lengkap di KBM App
Akun dewi_muliyawan

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Banten?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Tangerang
Banten
15820