Anandaz Novel

Anandaz Novel

Share

midwery and writer

21/06/2025

Ada yang sama nggak kayak aku? Disuruh hemat sama mertua dan suami karena belum punya anak dan agar bisa punya aset, sehingga sehari hanya dijatah 5000 sehari. Hadeh...

NAFKAH LIMA RIBU

"Kamu cuma memberikan n4fkah pada istrimu lima r1bu sehari?" tanya Roni tidak percaya. Pandangannya melotot ke arah Wahyudi, temannya yang sedang nongkrong di warung kopi, Cak Dul.

Wahyudi menjentikkan ibu jari dan telunjuknya dengan mantap.

"Tentu saja! Istri ku itu luar biasa! Kami kan baru saja menikah. Belum setahun. Jadi belum punya anak. Buat apa dia diberi n4fkah banyak-banyak? Sedangkan anak saja belum punya," ujar Wahyudi tertawa.

Roni, temannya tetap saja melongo. "Ah, tetap enggak masuk akal. Jangan-jangan sehari-hari kamu cuma makan sama garam. Belum minyak dan beras kan?"

"Hm, minyak, beras, sama keperluan di kamar mandi itu aku yang bel1. U4ng lima r1bv itu khusus lauk."

"Jangan-jangan kamu makan sama garam? Ya kan? Ngaku kamu!" tanya Roni tetap tidak puas.

"Ish, nggak ya. Hebatnya istriku itu walaupun n4fkah lima r1bu, tapi sehari-hati aku makan enak. Ayam b4kar, sambal cumi, tadi aja aku makan sate," Pamer Wahyudi bangga. Dia menepuk dada dan hidungnya kembang kempis.

"Hah? Pasti istrimu itu kerja kan?" tanya Roni lagi. "Mustahil lah kalau istrimu gak kerja, n4fkah lima ribu bisa makan enak bergizi. Atau pesugihan?"

Wahyudi mendelik.

"Ngawur aja kamu! Istriku nggak kerja. Nggak pesugihan juga. Makanya cari istri itu kayak istriku," ujar Wahyudi pongah.

"Nggak mungkin! Barang-barang dan sembako sekarang m4hal semua. Naik semua! Pasti ada sesuatu yang disembunyikan istri mu, Yud!"

Wahyudi mengibaskan tangannya di hadapan wajah Roni. "Sesuatu apaan? Dia itu istri dari desa. Nggak mungkinlah macem-macem. Dia nurut banget lho sama aku!" ujar Wahyudi.

"Lalu dvit g4ji kamu yang l1ma jvta dari pabrik, kamu buat apa?"

"Aku kirim ke ibuku. Ibuku kan sudah membel1kan aku rumah. Jadi nggak salah kan kalau aku memberi kan tiga jvta g4ji untuk ibuku dan dua jvta kupegang sendiri. Untuk Adelia 150 r1bu saja sebulan.

Roni terdiam. Malas mendebat lagi. Walau dia masih sangsi tentang pernyataan temannya itu.

"Ah, ya sudah. Aku pulang dulu. Pasti Adelia sudah membuat kejutan dengan memasak kare ayam atau sop iga. Yok, duluan ya," pamit Wahyudi melambaikan tangan dan menaiki motor maticnya.

Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya Wahyudi saat melihat seorang laki-laki tinggi dengan beberapa lelaki besar dan gempal hampir melompati pagar rumahnya.

"Heh! Tunggu! Tunggu! Ada apa ini? Kenapa kalian mau menerobos masuk rumah saya? Saya laporkan ke polisi loh!" seru Wahyudi terkejut.

Laki-laki bertubuh tinggi besar berbaju serba hitam itu mendekatinya dengan tertawa.

"Hahahah! Ini bukan rumah kamu lagi! Istrimu telah mem1nj4m u4ng ser4tus jvta dengan menj4m1nkan s3rtif1kat rumah ini pada saya. Dan beberapa bulan ini, istri mu tidak bisa memb4y4rnya. Jadi rumah ini menjadi milik saya!"

"Apa?"

Next?

Di kbm app dan GN sudah tamat .
oleh : ananda zhia
Judul : NAFKAH LIMA RIBU

16/06/2025

Duh, gimana ini!
Minta doanya, istriku sekarang dalam proses melahirkan dan bidan yang menolong nya adalah mantanku! 😫

PASIENKU ADALAH ISTRI MANTAN

[Minta doanya, istriku sekarang dalam proses melahirkan dan bidan yang menolong nya adalah mantanku!]

Aku membaca status Facebook milik netizen lalu tertawa terbahak-bahak, membuat Nur, teman yang saat ini sedang dinas denganku mendelik.

"Lagi baca apa sih? Kayaknya lucu banget?" tanya Nur yang kepo lalu mencond**gkan tu bu hnya ke arahku.

Aku menunjukkan hp dengan postingan yang baru saja kubaca. Seketika Nur tergelak.

"Hahaha! Suami pasien pasti deg-degan kalau istirnya diapa-apain sama mantannya. Eh, tapi kan bidannya seharusnya profesional d**g. Walau pun menolong persalinan istri mantan, nggak boleh sembarangan," ujar Nur menatap ku.

"Nah itu tahu. Aku tertawa bukan karena membayangkan bidannya akan melakukan hal yang tidak-tidak pada pasien. Tapi aku membayangkan si suami yang jadi mantan pacar bidan ini mempunyai perasaan takut tanpa bukti. Ya kan?"

"Iya sih. Berati mungkin mantan pacar dan bidan ini putus nya nggak baik-baik saja sampai mantannya ketakutan," ujar Nur.

"Ah, bod* amat, Nur. Yang penting kan kita tetap profesional siapapun pasien nya," tukasku.

"Hm, yang bener? Kalau ternyata nanti ada pasien yang merupakan istri nya mantan nya mbak Adel, mbak nggak boleh grogi lho!"

Aku tertawa. "Nggak lah! Aku sudah profesional!" sahutku percaya diri.

Kring! Kring!

Mendadak terdengar suara telepon ruangan.

"Halo, selamat sore dengan Adelia, ruang bersalin. Ada yang bisa dibantu?"

"Ini dokter Andi, UGD. Ada pasien inpartu. Siapkan ruang bersalin dan ruang nifas kelas satu, Mbak."

"Siap, Dokter."

Aku menutup telepon dan berkata pada Nur.

"Daripada ngomongin mantan, mending ini kerja saja Nur, dapat duit. Oh ya, aku akan menyiapkan kamar bersalin, kamu yang menyiapkan ruang nifas ya," sahutku tertawa dan menuju ke arah ruang bersalin.

"Oke, Mbak!" Nur pun melesat ke ruang nifas.

Roda brangkard terdengar dari kejauhan, rupanya pasien sudah datang. Dan aku tercengang saat melihat laki-laki yang berjalan di belakang petugas UGD. Laki-laki itu juga terkejut saat menatap ku. Tampak matanya yang melotot seorang melihat hantu.

Semakin dekat dengan ku, laki-laki itu semakin salah tingkah dan menunduk.

"Ini Pasiennya dokter Wildan. Dari UGD sudah lapor pasien baru. Kamu lengkapi formulir nya, kamu periksa, dan kamu laporkan hasil nya pada dokter Wildan ya?" ujar mas Arif perawat UGD yang menyerah kan pasien inpartu itu.

"Oke, Mas." Aku menerima lembar status pasien setelah membantu pasien pindah dari brangkard UGD ke bed ruang bersalin. Aku membaca status pasien sekilas, namanya Rania.

Pasien ini tampak mendesis kesakitan. Hanya ada seorang perempuan berusia setengah abad dan suami pasien itu.

Aku menatap ke arah pasien itu. "Kalau sakitnya terasa semakin sering, ibu napas panjang dari hidung keluar lewat mulut ya," instruksi ku pada pasien yang cantik itu. Sementara itu wajah sang mantan rampak memucat. Ya, kami memang putus dengan tidak baik-baik saja. Dia meninggalkanku karena memilih dijodohkan dengan pasien ini.

Pasien itu mengangguk. "Iya, Mbak. Rasanya sakit sekali perut saya," ujar sang pasien. Dia emang belum tahu siapa aku. Tapi itu tidak penting saat ini.

"Kayaknya saya ingin mengejan," ujar pasien itu.

"Saya periksa pembukaan nya dulu, kalau sudah buka lengkap, ibu boleh mengejan sekuat tenaga," sahutku tersenyum.

Pasien ku mengangguk. Dan aku pun memakai sarung tangan steril.

"Wah, buka lengkap. Saya laporkan dulu ke dokter nya."

Tepat saat itu Nur datang ke ruangan bersalin lagi.

"Biar saya yang lapor, Mbak." Nur segera meraih telepon dan melaporkan ke dokter Wildan. Lalu beberapa saat kemudian kembali kepadaku.

"Mbak, kata dokter Wildan, beliau masih ada operasi di klinik Bunda, jadi pasien ditolong bidan," ujar Nur.

Aku mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Sekarang ibu mengejan kalau perutnya keras dan ingin buang air besar ya," ujar ku. Aku menghela napas sejenak. Sedikit tidak percaya kalau aku akan mengalami apa yang kubaca tadi di Facebook.

Pasien mengangguk dan mulai mengejan. Mendadak sang mantan menatapku.

"Adel, jangan kamu d**g yang menolong istriku! Biar dokter Wildan saja!" ucapnya penuh rasa khawatir. Terlihat istrinya yang kaget tapi tetap diam saja saat suaminya memanggil namaku langsung.

Aku dan Nur mengerutkan kening. "Lah, memangnya kenapa, Pak? Dokter Wildan sedang ada operasi di klinik nya," tanyaku bingung.

Mantanku mulai ragu. Dia menatap ragu ke arah ku dan istri nya bergantian.

"Karena...aku takut anakku kamu cubit dan istriku nanti kamu rapetin 'anu'nya jadi bikin aku gak bisa 'anu', " sahut sang mantan takut-takut.

"Hah?"

Next?

Sudah tamat di kbm app.

Oleh : Ananda Zhia
Judul : PASIENKU ADALAH ISTRI MANTAN

12/06/2025

Baru dua bulan ada tukang cilok ganteng mangkal di depan SD tempat ku kerja, teman kostku ditangkap polisi berturut-turut.

Aku baru tahu bahwa ternyata tukang cilok itu adalah...

TUKANG CILOK TERNYATA INT3L 8 B

Pukul sepuluh lewat sedikit. Kafe tempat mereka biasa bertemu sudah ramai, tapi di ruang privat paling ujung, Haris dan Aluna duduk berhadapan.

Tatapan Haris langsung tertuju ke wajah Aluna.

"Wajah kamu pucat banget. Seperti orang susah tidur. Apa kamu nggak bisa tidur karena mikirin aku?" tanyanya sambil menyungging senyum kecil.

Aluna mencubit lengannya pelan. "Mas, serius deh. Aku benar-benar nggak bisa tidur. Aku lagi banyak pikiran. Takut kalau selain Mbak Rani, ada teman kosku yang lain yang juga pakai benda terlarang itu."

Haris menghela napas, nadanya kini lebih serius. "Kamu pernah masuk ke kamar teman-teman kos kamu?"

"Ya, dua-tiga kali. Tapi nggak lama. Aku kan baru dua bulan kos di situ."

"Waktu kamu masuk, ada barang aneh nggak? Kayak tumpukan kardus, paket-paket aneh, atau obat-obatan apotek yang nggak umum?"

Aluna berpikir keras. "Hmm… nggak ada, Mas. Setahuku ya kayak kamar biasa. Ada meja belajar, kasur, kadang boneka."

Haris mengangguk pelan. Ia membuka catatan kecil dari sakunya, menuliskan sesuatu.

"Kalau kamu lihat bungkus itu lagi, atau muncul yang lain, langsung kabarin aku. Tapi jangan bertindak sendirian, Aluna. Ini bukan masalah kecil. Kalau benar itu barang haram, kamu bisa dalam bahaya."

"Aku ngerti… tapi Mas, kalau ternyata Dina—"

"Jangan menyimpulkan dulu. Dina bisa aja nggak tahu apa-apa. Atau justru dia tahu dan pura-pura nggak tahu. Semua kemungkinan bisa. Tapi ingat: jangan konfrontasi langsung. Jangan berani sendirian."

Pelayan datang membawa steak wagyu mereka, aroma daging panggang memenuhi ruangan.

Tapi kali ini, tak ada tawa ringan. Tak ada gombalan khas Haris.

Hanya keheningan penuh pikiran dan kekhawatiran.

Aluna menusuk potongan steak di hadapannya. Tapi potongan itu hanya diputar-putar di piring.

"Mas... gimana kalau aku pindah kos?"

Haris mengangkat kepala. "Kalau kamu pindah sekarang, mereka bisa curiga. Apalagi kalau memang ada yang sedang menyembunyikan sesuatu di situ. Kamu harus tahan. Kita perlu tahu lebih banyak dulu."

Aluna mengangguk pelan, meski hatinya bergemuruh.

Haris menyentuh punggung tangannya dengan lembut. "Aku janji, aku nggak akan biarin kamu sendirian. Tapi kita harus hati-hati."

Aluna menatap Haris. Di balik kata-katanya yang tenang, mata lelaki itu menyimpan sesuatu. Sesuatu yang belum sepenuhnya ia ceritakan.

"Setelah ini, kita langsung ke rumahku kan?" tanya Aluna memecah keheningan dalam acara makan mereka.

Haris menoleh dan menatap ke arah Aluna.

"Ya. Tentu saja. Aku juga sudah memesan steak wagyu tiga porsi untuk oleh - oleh keluarga kamu," sahut Haris tersenyum.

Aluna tercengang.

"Hah? Jangan, Mas! Aku nggak mau merepotkan kamu! Kan mahal banget harganya!?" seru Aluna merasa tak enak.

Haris menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya ke arah Aluna.

"Enggak. Sama sekali nggak repot kok, Lun. Jangan sungkan dan jangan merasa terbebani. Santai saja, aku tidak masalah."

Aluna menghela napas panjang. 'Sepertinya memang mas Haris ini bukan tukang cilok biasa. Tapi aku nggak mungkin menanyakan siapa mas Haris sebenarnya karena aku tahu dia tidak nyaman dan mungkin hal itu berkaitan dengan pekerjaannya.

Lebih baik aku menunggu mas Haris yang menceritakan sendiri tentang pekerjaannya atau identitas asli dirinya,' batin Aluna sambil melanjutkan makannya.

"Oh ya, wajah kamu kok kayak ibu - ibu sih, Lun?!" tanya Haris dengan serius menatap ke arah Luna.

Aluna sontak mera ba wajahnya dengan panik.

"Benarkah?! Waduh, aku nggak merasa makai make up aneh - aneh, Mas. Mungkin mataku kehitaman dan mata panda ya karena kurang tidur jadi kelihatan seperti ibu - ibu?" tanya Aluna.

Haris tertawa.

"Wajahmu seperti ibu - ibu. Ibu dari anak - anakku."

Aluna pun juga ikut tersenyum lebar dengan p**i bersemu merah.

"Hahaha, kamu bisa saja, Mas!"

Haris tersenyum. "Kamu tahu nggak persamaan kamu dengan kemerdekaan?"

"Hah? Nggak tahu, Mas. Pertanyaan kamu kok aneh," ujar Aluna bingung.

Haris tertawa. "Persamaan kamu dengan kemerdekaan itu sama - sama harus diperjuangkan dengan sepenuh hati," ujar Haris membuat Aluna menggeleng - gelengkan kepalanya sekali lagi.

"Hilih gombal, Mas! Pretttt!"

Haris tersenyum - senyum melihat Aluna yang salah tingkah.

"Oh ya, bu Guru Cinta! Aku punya temen yang kerja di salon dan sekarang sedang masa promo. Jadi sebelum ke rumahmu, bagaimana kalau kamu ke salon dulu."

Aluna tampak ragu.

"Tapi uangnya..."

"Tenang saja. Biar aku yang mengurusnya. Murah kok. Ya mau ya?" tanya Haris dengan nada memaksa.

Aluna pun mengangguk walaupun merasa tak enak hati.

Dan sesampai nya di salon, Aluna mendapatkan perawatan facial dengan masker wajah LED dan kemudian Aluna mendapatkan fasilitas make up juga. Gadis itu lagi - lagi terkejut saat melihat ternyata Haris membelikan tunik dan celana panjang untuknya.

"Kemarin teman ku launching butik dan menawarkan harga promo. Saat aku melihat stelan tunik, jilbab, dan jilbab ini, aku ingat kamu. Dan kupikir kamu pasti cocok mengenakannya, makanya aku membelinya untukmu. Cobalah!" instruksi Haris sambil memberikan paper bag warna cokelat pada Aluna.

Aluna terpana.

"Kamu baik sekali. Dengan apa aku membalas kebaikan kamu ini?!"

Haris tersenyum.

"Ijinkan aku bermain ke kos mu lebih sering. Bahkan aku ingin berkenalan dengan pemilik kos mu. Bisa kan bu Guru Cinta?" tanya Haris.

Aluna mengacungkan jempolnya.

"Tentu saja. Ya sudah, aku ganti baju dulu ya?!" tanya Aluna sambil meraih paper bag dari Haris dan masuk ke ruang ganti baju.

Beberapa saat kemudian, Haris melihat Aluna dengan takjub.

"Wah! Kamu keren dan cantik sekali! Ayo kita pulang, kujamin saudara tirimu itu tidak akan bisa meremehkan mu lagi," ujar Haris yakin.
--

Matahari bersembunyi di balik awan saat motor Haris melaju menyusuri gang sempit menuju rumah keluarga Aluna. Rumah bertingkat dua itu berdiri sederhana dengan pagar besi hitam dan taman kecil yang rapi. Begitu memasuki halaman, mereka langsung disambut suara tawa kecil dari dalam.

Di ruang tamu, hanya ada Lita dan Rendi. Lita sedang menggulung rambut dengan jari, Rendi sibuk dengan ponselnya.

"Assalamualaikum."

Saat Aluna mengucap salam, Lita dan Rendi sontak menoleh ke arahnya. Rendi melongo melihat mantan pacarnya, sampai Lita harus mencubit pa ha calon suaminya itu.

"Astaga, aduh!"

Next?

Selengkapnya di kb m app
Oleh ananda zhia
Judul : TUKANG CILOK TERNYATA 1NT3L

11/06/2025

Baru dua bulan ada tukang cilok ganteng mangkal di depan SD tempat ku kerja, teman kostku ditangkap polisi berturut-turut.

Aku baru tahu bahwa ternyata tukang cilok itu adalah...

TUKANG CILOK TERNYATA INT3L 8 A

Cahaya lampu dapur yang temaram memantul samar di lantai keramik. Aluna duduk mematung, menatap bungkus plastik kecil yang terbuka sebagian di bawah meja. Serbuk putih di dalamnya tampak seperti bedak halus, tapi hatinya menolak percaya itu hal biasa. Suasana malam yang tadinya tenang berubah menegang, seperti udara yang membeku menjelang badai.

Aluna berpikir cepat. Dia nyaris menunduk dan tangannya hampir terulur untuk menyentuh benda itu—

"Aluna, sedang apa kamu?"

Suara itu membuatnya tersentak.

Aluna menoleh cepat. Dina berdiri di ambang pintu dapur, bayangan tubuhnya memanjang karena cahaya dari ruang tengah. Gadis itu mengenakan piyama motif boneka, tampak berantakan seperti baru bangun tidur.

"Aku... haus," jawab Aluna cepat, sambil berdiri dan meraih ceret air putih di atas meja.

Dina tidak mengatakan apa-apa. Matanya sekilas melirik lantai, lalu kembali menatap Aluna. Tanpa senyum.

Aluna buru-buru menuang air ke gelas dan meneguknya, lalu bergegas kembali ke kamarnya.

---

Pintu kamar dikunci cepat. Aluna berdiri mematung di baliknya, napasnya belum stabil.

Tadi itu… Dina melihat ke lantai. Apa dia tahu ada serbuk itu? Apa dia... yang menjatuhkannya?

Aluna duduk di tepi ranjang, wajahnya pucat. Ia menatap bayangannya di cermin kecil yang menempel di dinding.

"Apa mungkin Dina... terkait sama Mbak Rani? Atau serbuk itu narkoba?" gumamnya pelan. Suara sendiri terdengar seperti milik orang asing. Akhirnya Aluna memutuskan untuk menghubungi Haris.

Ia meraih ponsel di meja.

[Mas Haris, apa kamu sudah tidur? Aku menemukan bungkus kecil berisi serbuk putih di dapur. Aku merasa serbuk itu seperti obat terlarang, seperti di film-film. Tapi aku nggak bisa motret karena mendadak Dina nyusul ke dapur. Aku bingung harus gimana?]

Belum sampai satu menit, tanda centang dua biru muncul. Lalu...

Haris is typing...

Jantung Aluna berdetak cepat.

[Jangan disentuh. Bisa jadi itu cuma gula bubuk atau sesuatu yang nggak bahaya. Tapi bisa juga sebaliknya. Jadi bersikaplah biasa aja. Santai, alami, dan se-natural mungkin.]

[Besok pagi sebelum kita ke rumahmu, kita ngobrol dulu. Ingat, pura-puralah nggak tahu dan jangan ubah sikap ke teman-teman kosmu. Dan kamu yang tenang, ya. Aku selalu ada untukmu. Kalau ada keanehan lain, langsung hubungi aku. Jangan bertindak sendiri.]

[Jangan lupa kunci kamar kos sebelum kamu tidur.]

Aluna menarik napas panjang, lalu membalas:

[Sudah kukunci kamarku, Mas. Sekarang aku mau istirahat saja. Terima kasih ya.]

[Sama-sama. Besok kita ketemu di kafe steak lagi ya. Aku mau ngobrolin soal serbuk putih tadi di private room-nya.]

[Oke, Mas. Jam 10 pagi ya, setelah itu kita ke rumah orang tuaku.]

Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Tapi malam itu, tidur tak benar-benar datang.

Next?

Selengkapnya di kb m app
Oleh ananda zhia
Judul : TUKANG CILOK TERNYATA 1NT3L

09/06/2025

Baru dua bulan ada tukang cilok ganteng mangkal di depan SD tempat ku kerja, teman kostku ditangkap polisi berturut-turut.

Aku baru tahu bahwa ternyata tukang cilok itu adalah...

TUKANG CILOK TERNYATA INT3L 6

Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di genangan air. Di seberang sana, tempat karaoke dengan lampu neonnya yang mencolok tampak hidup seperti sarang rahasia para pemuja malam.

Klik.

Aluna menurunkan ponsel, wajahnya tegang. Suara lalu lintas samar-samar terdengar, tapi semuanya seolah meredup oleh denyut keras di dadanya.

Sebuah sentuhan ringan di bahunya menyadarkan Aluna dari kebekuan.

“Eh, kenapa berhenti?” Haris mencond**gkan tubuh, menatap wajah Aluna dari samping. “Dan… kamu baru aja motret apa barusan?”

Aluna menelan ludah. “Mas… itu…”

Ia mengangkat dagunya, menunjuk dengan lirih ke arah tempat karaoke. “Aku lihat mas Rendi. Calon suami Lita. Dia masuk ke sana… bareng cewek. Bajunya... minim banget.”

Haris mengikuti arah pandang Aluna. Sebuah senyum kecil yang tidak menyenangkan muncul di sudut bibirnya, tapi menghilang secepat ia muncul.

Ia menatap sejenak ke arah gedung karaoke, lalu berbalik menatap Aluna. “Ayo masuk dulu. Makan. Nanti kita bahas yang itu.”

Aluna masih terpaku, tapi Haris meraih pergelangan tangannya dengan lembut dan menggandengnya menuju pintu kafe. Sebuah lonceng kecil berdenting saat mereka masuk, disambut hangat oleh udara dingin dari pendingin ruangan dan aroma panggangan yang menggoda.

Interior kafe membuat mata Aluna membulat kagum. Lampu gantung bergaya industrial menggantung rendah, tembok bata ekspos, rak buku, dan lukisan-lukisan minimalis menghiasi ruang. Musik akustik mengalun lembut. Di sudut ruangan, ada beberapa bilik private room. Di sisi lain, terdapat ruang bebas rokok dengan jendela besar menghadap jalanan.

“Cantik banget tempatnya…” gumam Aluna tak sadar.

Haris mengangguk. “Kita duduk di non-smoking area aja, ya? Biar kamu nggak perlu hirup aroma ‘sisa kenangan mantan’ dari asap rokok orang.”

Aluna tertawa pelan. Mereka duduk di pojok ruangan bebas rokok, tepat di bawah lukisan bunga matahari yang melingkar seperti pusaran cahaya.

Matanya masih menjelajah interior. “Kok kamu tau banget tempat ini? Udah pernah ke sini, ya?”

Haris hanya tersenyum. “Mungkin… Atau mungkin aku sering riset tempat makan buat kencan pertama yang berkesan.”

“Jadi ini kencan?” Aluna menaikkan alis, menggoda.

Haris menatap matanya. “Kalau kamu menganggapnya begitu, aku akan lebih bahagia dari mendapatkan cilok segerobak," sahut Haris, dia lalu mengeluarkan ponsel untuk memindai barcode menu di meja. Matanya menelusuri deretan nama makanan yang membuat perutnya mendadak lapar.

“Steak wagyu, iga bakar madu, grilled salmon…” gumamnya.

Haris mendekat ke arah Aluna sedikit, tangannya bertumpu di meja dengan santai. “Mau menu steak wagyu? Menu iga bakar? Atau… menu- a bersamaku?”

Aluna menganga lalu terkekeh. “Ya ampun, gombalanmu makin nggak kuat. Hahaha!”

“Aku serius,” kata Haris dengan senyum santai. “Menu yang paling mengenyangkan itu: hubungan yang saling dukung, ditambah kejujuran dan sambal matah.”

“Ya udah deh, aku ikut kamu aja. Kita pesen yang sama, biar nggak berantem rebutan lauk.”

“Bagus. Jiwa damai dan hemat.”

Haris bangkit, melangkah ke resepsionis, lalu kembali dengan dua struk di tangan. Ia duduk dan menyerahkan air putih botolan ke Aluna.

“Udah pesen. Tunggu 15 menit. Sementara itu, boleh aku tanya sesuatu?”

Aluna mengangguk.

Haris mencond**gkan tubuh. “Kamu… mau ngapain dengan foto Rendi tadi?”

Aluna memandangi ponselnya sejenak, lalu mendesah. “Aku mau kirim ke Lita. Biar dia tahu siapa calon suaminya.”

Tapi Haris menggeleng. “Jangan.”

Aluna mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena kalau kamu kasih foto itu sekarang, kemungkinan besar dia bakal marah. Nggak bakal percaya, malah nuduh kamu cemburu atau iri. Bahkan bisa jadi kamu dipojokkan sebagai perusak hubungan.”

“Tapi bukti udah jelas…”

“Kadang kebenaran tidak cukup kalau yang menerimanya belum siap. Dan Lita… bukan tipe orang yang bisa bedakan cinta sama obsesi.”

Aluna terdiam. Kata-kata Haris seperti angin dingin yang menyapu pikirannya. Ada logika di sana, dan juga luka lama yang terasa disentuh perlahan.

“Kamu tahu… aku baru ketemu adik tiri mu barusan,” kata Haris sambil memainkan tutup botol airnya. “Tapi naluri itu nggak bisa dibohongi. Lita bukan perempuan yang tulus. Dia lebih peduli sama tampilannya daripada isinya.”

Aluna memeluk lengannya sendiri, menatap kosong ke arah meja. “Jadi… aku biarkan aja pernikahan mereka terjadi?”

“Kadang membiarkan orang belajar dari pilihan buruknya adalah satu-satunya cara mereka bisa dewasa. Jangan jadi pahlawan dalam kisah orang yang belum mau diselamatkan.”

Aluna menatap Haris lama. “Kamu selalu ngomong bijak kayak tokoh utama di film-film. Sebenarnya kamu kerja apa selain jual cilok, Mas?"

Haris terkekeh.

“Aku nggak sebijak itu,” Haris mengangkat bahu, “tapi aku ngerti rasanya kalau seseorang yang kita anggap keluarga malah menusuk dari belakang.”

Aluna tersenyum tipis. “Besok kamu jadi ke rumah?”

“Jadi. Aku akan bilang ke keluargamu bahwa aku serius. Biar nggak ada lagi urusan jodoh-jodohan absurd dari zaman Majapahit itu.”

Aluna tertawa.

Haris menyandarkan punggungnya. “Ngomong-ngomong… kamu betah tinggal di kos itu?”

Aluna mengangguk pelan. “Iya. Teman-temannya baik. Kecuali ya… kejadian terakhir ini.”

“Kejadian?”

“Temen kosku, Rani. Dia ditangkap polisi. Katanya karena obat-obatan. Aku nggak nyangka. Dan…”

Dan di sinilah suara Aluna melambat.

“Aku lihat kamu. Waktu itu. Di dekat mobil polisi.”

Hening sejenak.

Haris diam. Tangannya yang tadi santai di meja, kini mengepal pelan.

“Kamu… ada hubungan sama penangkapan itu, Mas?”

Aluna menatapnya dalam-dalam, mencoba membaca ekspresi di balik wajah santainya.

Dan Haris...

Hanya menatap balik, tanpa senyum kali ini.

"Jadi jujurlah, Mas Haris. Hanya antara kita saja. Apa kamu ada kaitannya dengan penangkapan mbak Rani yang ngekos dengan ku kemarin?" tanya Aluna dengan nada penasaran yang mendesak.

Next?

Selengkapnya di kb m app
Oleh ananda zhia
Judul : TUKANG CILOK TERNYATA 1NT3L

04/06/2025

Baru dua bulan ada tukang cilok ganteng mangkal di depan SD tempat ku kerja, teman kostku ditangkap polisi berturut-turut.

Aku baru tahu bahwa ternyata tukang cilok itu adalah...

TUKANG CILOK TERNYATA INTEL 2

Langit sore masih menyisakan merah jingga saat Aluna masuk ke dalam kamar kosnya. Suara pintu kayu yang mengeluh perlahan saat ditutup terasa berbeda—terdengar lebih berat, lebih sunyi. Seolah dinding kamar ini tahu bahwa dunia di luar baru saja berubah.

Tas ranselnya diletakkan sembarangan ke atas kasur. Seragam gurunya terasa menempel lembap, tapi bukan karena keringat—melainkan ketegangan yang belum juga menguap.

Di luar jendela, kerumunan warga yang tadi ramai mulai bubar. Hanya tersisa satu dua suara ibu-ibu yang masih bergosip dari kejauhan.

Aluna menatap tembok putih kamarnya, matanya kosong. Foto-foto kecil yang menempel di papan gabus—kebersamaan dengan teman-teman kos, acara ulang tahun Dewi tahun lalu, selfie bersama Rani saat buka puasa bersama—semuanya terasa seperti potongan dari hidup orang lain.

"Rani... ditangkap," gumamnya, nyaris tak percaya. Wanita itu, yang s**a ngasih tips skincare dan sering pinjam blender buat bikin jus detoks... ternyata dijemput polisi. Tangannya diborgol. Wajahnya basah air mata.

Suara pintu diketuk dua kali. Cepat. Ringan.

Aluna berbalik. Pintu terbuka sedikit, dan sosok mungil dengan rambut dikuncir dua masuk tergesa. Dina.

“Lun...” katanya sambil mendesah. “Kamu lihat tadi?”

Aluna mengangguk pelan. “Lihat.”

Dina menutup pintu dengan cepat lalu menguncinya. “Aku nggak nyangka... Rani. Masa sih dia jualan obat?”

Aluna duduk di tepi kasur, meremas-remas ujung kerudungnya. “Dia bahkan sering ikut pengajian di musholla belakang.”

“Ya itu, makanya,” gumam Dina sambil menaruh ponselnya di meja. “Kita tuh nggak tahu siapa yang kita ajak ngobrol setiap hari, Lun. Dunia sekarang gi la. Hati-hati deh. Jangan gampang percaya sama orang.”

Tatapan Aluna menajam, menelusup pelan ke wajah Dina. Kata-kata itu seperti menyelinap ke dalam da da, membelah keraguan. Tapi ia tak menjawab. Hanya mengangguk sekali.

Dina duduk di lantai, menyender ke kasur Aluna. “Aku tuh mikir, jangan-jangan... ya jangan-jangan ada yang ngawasin kita juga. Jangan sampai ada yang bawa-bawa nama kita.”

Aluna mencibir pelan. “Kamu kayak nyalahin Rani sepenuhnya. Gimana kalau dia cuma dijebak?”

Dina menghela napas, lalu berdiri. “Ya, semoga aja begitu. Tapi tetap, hati-hati, Lun. Teman tuh nggak semua kelihatan aslinya.”

Setelah Dina keluar, kamar Aluna kembali sepi. Tapi pikirannya gaduh. Wajah Haris, dengan senyum jail dan celemek batik kotor, berkelebat di benaknya. Lalu berubah menjadi Haris yang berdiri di balik jendela mobil, dengan rompi intel dan tatapan taj a m.

Dan Aluna mulai bertanya-tanya...

Siapa sebenarnya yang harus dia percayai?

---

Pagi harinya, suara ayam tetangga bersahutan dengan bel sepeda anak SD. Jalanan depan sekolah sudah ramai. Guru-guru masuk ke ruang guru sambil mengobrol soal peristiwa kemarin.

Aluna melangkah pelan, pikirannya masih dibalut bayangan malam tadi.

Dan di sanalah dia. Seolah tak terjadi apa-apa.

Haris. Di depan gerobaknya.

Masih dengan rambut gondrong terikat. Masih dengan celemek batik yang sama. Masih dengan baskom besar berisi cilok rebus dan saus kacang beruap.

“Mari mari... cilok cinta untuk anak-anak cerdas!” serunya sambil menggoyang-goyangkan botol saus. “Bu Guru Cintaku juga boleh, diskon khusus hari Jumat!”

Aluna menahan napas. Dia tidak tahu harus kesal, bingung, atau malah lega. Langkahnya melambat saat melewati gerobak itu.

Dan tentu saja, Haris melihatnya.

“Bu Guru Cintaku!” sapanya dengan senyum lebar. “Aku kirain kamu udah pindah planet dari tadi nggak keliatan!”

Aluna mendengus pelan, mengamati Haris dengan sungguh - sungguh.

'Benarkah apa yang kulihat kemarin saat mas Haris memakai rompi hitam seperti polisi?' batin Aluna sambil mendekat ke arah baskom cilok yang menguarkan aroma gurih dan membuatnya lapar. Beberapa anak yang sudah selesai dilayani, tersenyum sejenak pada Aluna lalu pergi sambil menenteng plastik berisi cilok.

"Bu guru Cinta, kok melamun? Disapa muridnya diam saja? Sedang memikirkan cicilan apa memikirkan saya?" seloroh Haris. Aluna tersenyum kecut.

"Cilok sepuluh ribu. Campur antara tahu, cilok, siomay, Mas. Bumbunya seperti biasa," pinta Aluna.

Haris mendekat sedikit, menunduk, lalu berbisik. “Bu, bu guru pantun bukan sih?" tanya Haris.

Aluna mengerut kan dahinya.

"Hah, bukanlah! Saya manusia. Bukan pantun, Mas."

"Oh, saya kira pantun. Soalnya cakep sih," ujar Haris tertawa. Tangannya cekatan melayani permintaan cilok Aluna.

"Dih, Mas bisa saja." Aluna tertawa.

"Beneran loh. Ngomong ngomong, bu guru, make upnya pakai spidol kah?" tanya Haris sambil menuang bumbu cilok.

Aluna tertawa dan me ra ba p**inya. "Enggak d**g. Memangnya bisa make up dengan spidol? Apa wajah saya aneh sehingga disangka make up dengan spidol?" tanya Aluna.

"Oh, saya kira make upnya dengan spidol. Karena cantiknya permanen," ujar Haris tersenyum sambil menyerahkan ciloknya pada Aluna.

"Nggombal mulu, Mas. Ini uangnya," ujar Aluna sambil menyerahkan uang sepuluh ribu dari saku baju.

"Nggak usah, Bu guru. Kan saya bilang gratis. Bayarnya pakai nomor whatsapp saja," ujar Haris dengan mimik jenaka.

Aluna mendengus, tapi matanya melembut. Ada sesuatu dari nada suara Haris yang membuatnya sulit benar-benar marah.

"Hm, saya nggak bisa memberikan nomor whatsapp pada sembarang orang," ujar Aluna terus terang.

Haris menyerahkan tus**an cilok. “Kalau begitu izinin saya... main ke kos.”

Aluna membelalak. “Hah?”

“Ya, buat kenalan sama temen kos Bu Guru yang belum saya kenal. Siapa tahu bisa nambah pelanggan.”

Aluna terdiam. Jantungnya berdebar. Ini hanya rayuan konyol atau...

Atau misi baru?

Senyum Haris semakin lebar. “Gimana, Bu Guru Cintaku?”

Sebelum Aluna sempat menjawab, suara panggilan dari ruang guru terdengar.

“Bu Aluna, ditunggu kepala sekolah!”

Dia buru-buru melangkah pergi, menoleh sekali lagi ke belakang.

Dan Haris masih berdiri di sana, tersenyum manis.

Next?

Selengkapnya di kb m app
Oleh ananda zhia
Judul : TUKANG CILOK TERNYATA INTEL

03/06/2025

Ayah kamu guru di pesantren, Abangmu dosen pendidikan agama islam, tapi kamu malah pacaran sama non muslim? Mau ditaruh dimana muka Abi!!!!?

TEMBOKNYA TERLALU TINGGI

“Ana, kamu tahu nggak?” Kristian menatap gadis di sampingnya dengan senyum lebar. “Kalau satu tahun lalu aku nggak nyasar ke lab anatomi, mungkin kita nggak akan pernah ketemu.”

Ana tertawa, menyibak rambut yang tertiup angin sore. Mereka duduk berdua di bangku taman kecil di belakang fakultas kedokteran, tempat biasa mahasiswa tingkat akhir melepaskan penat. Di tangan Kristian, sebuket bunga kecil terselip di antara catatan kuliah yang sudah tak berguna lagi.

“Kalau kamu nggak nyasar,” Ana membalas, “aku juga nggak akan jatuh cinta sama anak paling ceroboh di angkatan.”

Kristian tertawa. “Eh, siapa dulu yang pertama ngajakin makan bakso di kantin kampus? Ngaku aja, kamu yang duluan s**a!”

Ana mencubit lengan Kristian pelan, p**inya merona. “Ssst, jangan keras-keras. Nanti gengsi aku hilang.”

Mereka berdua tertawa bersama. Tawa yang tulus, ringan, dan muda. Sore itu, langit tampak bersih, dan kampus terasa seperti dunia milik berdua. Sudah tiga tahun mereka menjalin hubungan. Satu tahun penuh perjuangan, tugas koas, praktikum panjang, pasien rewel, hingga malam-malam ujian yang penuh kopi dan doa.

Kristian meraih tangan Ana. “Sebulan lagi kita wisuda, Na. Setelah itu… aku mau temui orang tuamu.”

Ana menoleh, menatap mata Kristian. “Kamu serius?”

Kristian mengangguk. “Serius. Aku ingin hubungan ini sah. Aku ingin mereka tahu bahwa aku ingin bahagiakan kamu.”

Ana tersenyum, namun senyuman itu samar. Ada sedikit keraguan yang melintas di matanya, namun dia menepisnya cepat-cepat. “Baiklah. Minggu depan, kamu ikut aku ke rumah. Mereka ingin bertemu.”

---

Hari Minggu datang lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Ana tampak anggun dengan rok panjang dan blus sederhana. Kristian, yang biasanya santai dengan hoodie dan sneakers, kini memakai kemeja rapi dan celana bahan. Di tangannya ada kotak oleh-oleh kecil yang dibelinya tadi pagi.

Rumah Ana di pinggiran kota, bergaya semi-modern dengan nuansa islami yang kental. Beberapa kaligrafi tergantung di dinding ruang tamu. Ayah Ana, Pak Ruslan, adalah seorang guru agama di pesantren. Ibunya, Bu Sarah, mengenakan jilbab panjang dan menyambut mereka dengan senyum lembut.

“Silakan duduk, Nak Kristian,” ujar Pak Ruslan ramah.

“Terima kasih, Pak,” jawab Kristian sopan.

Mereka berbasa-basi tentang kampus, rencana setelah wisuda, dan keinginan Ana untuk mengambil program spesialis. Obrolan berlangsung hangat sampai akhirnya Pak Ruslan menatap Kristian lebih dalam.

“Maaf ya, Nak, Bapak ingin bertanya sesuatu yang agak pribadi,” ucap Pak Ruslan pelan. “Soal agama.”

Kristian menegakkan tubuhnya sedikit. Ana menunduk.

“Kalau boleh tahu,” lanjut Pak Ruslan, “Nak Kristian… salat di mana biasanya?”

Kristian diam beberapa detik. Ia menghela napas.

“Saya… saya tidak salat, Pak. Karena saya bukan muslim.”

Hening. Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Ana menggigit bibir bawahnya. Bu Sarah menatap Ana dengan kaget. Pak Ruslan mengerutkan dahi, namun tetap menjaga nada suaranya tenang.

“Kristian… maksud kamu, kamu non muslim?”

Kristian mengangguk pelan. “Saya kristiani, Pak. Tapi saya menghargai agama Ana. Saya belajar banyak soal Islam dari Ana, dan saya sangat menghormatinya.”

Pak Ruslan menghela napas panjang. Tangannya menyatu di depan dada, seperti menahan emosi.

“Anakku… tidak pernah bilang soal ini,” gumamnya. Ia menatap Ana tajam. “Ana, kamu tahu hubungan kalian ini tidak mudah, bukan?”

Ana mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. “Abi… Kristian orang baik. Dia menghormati aku, dan…”

“Baik tidak cukup, Nak. Dalam agama kita, menikah dengan yang seiman itu syarat mutlak. Ini bukan soal baik atau buruk. Ini soal prinsip.”

Bu Sarah tampak gelisah. “Kristian, kami tidak membencimu. Tapi ini mengejutkan. Kami kira kamu… sudah satu jalan.”

Kristian mengangguk, menahan diri untuk tidak defensif. “Saya mengerti, Bu. Dan saya tidak ingin memaksa apa pun. Tapi saya mencintai Ana. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi pasangan yang layak.”

Pak Ruslan menghela napas. “Kalau begitu, berikan kami waktu. Ini bukan keputusan mudah.”

---

Dalam perjalanan pulang, suasana dalam mobil hening. Kristian menyetir pelan. Ana memandang ke luar jendela.

“Maaf…” gumam Ana akhirnya. “Aku harusnya bilang ke mereka dari awal.”

“Bukan salahmu, Na,” ujar Kristian. “Mereka berhak tahu. Dan aku juga nggak mau memulai hubungan ini dengan kebohongan.”

“Tapi aku takut…” suara Ana nyaris seperti bisikan. “Takut mereka nggak izinkan kita bersama.”

Kristian memegang tangan Ana sebentar. “Kita masih punya waktu. Kita belum kalah.”

Ana tersenyum kecil, namun air mata mulai mengalir di p**inya.

Next?

Selengkapnya di k bm app
Oleh ananda zhia
Judul : TEMBOKNYA TEMBOK TINGGI

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Banyuwangi?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Genteng, Jalan Jember Nomor 109
Banyuwangi
68465