Bremm
Terpercaya
05/05/2022
Semua Kebutuhan Pria Tersedia Disini Diskon Sampai 61%
👇👇
Toko Online Sandal Gunung OutdoorPro | Shopee Indonesia Selamat Datang di Sandal Gunung. 100% Original untuk brand Outdoor Pro, Forester dan Dhaulagiri, Dll Harap tanyakan stok terlebih dahulu sebelum order Penting!!! • Refund wajib ada video unboxing atau video saat membuka paket dan jika ada permasaahan bisa dimusyawarahkan dengan fitur chat dari sho...
04/03/2022
4 Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh di Tengah Lonjakan Omicron
Penting untuk selalu menjaga daya tahan tubuh agar kuat melawan serangan virus dan kuman penyebab penyakit, apalagi di tengah lonjakan kasus COVID-19 varian Omicron. Pasalnya, daya tahan tubuh yang lemah bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi dan penyakit.
Selain disiplin menerapkan protokol kesehatan, Anda juga perlu menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan daya tahan tubuh yang kuat, tubuh pun bisa terlindungi dari berbagai penyakit, termasuk COVID-19.
4 Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh di Tengah Lonjakan Omicron.
Salah satu cara alami untuk menjaga daya tahan tubuh tetap kuat adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Hal ini karena pola hidup dapat memengaruhi seberapa baik fungsi sistem kekebalan tubuh dalam mencegah dan melawan penyakit infeksi.
Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Omicron Melonjak
Ada beberapa cara alami untuk menjaga dan memperkuat daya tahan tubuh, terutama di tengah lonjakan varian Omicron. Cara yang dapat dilakukan meliputi:
1. Mengonsumsi makanan bergizi
Konsumsi makanan kaya akan nutrisi penting untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh yang optimal. Berikut ini adalah pilihan makanan bergizi yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh:
Berbagai macam buah dan sayuran, seperti jambu biji, jeruk, kiwi, apel, kangkung, bawang, bayam, ubi jalar, dan wortel
Makanan fermentasi, termasuk yogurt, kimchi, dan natto
Makanan tinggi protein, seperti makanan laut, daging tanpa lemak, dan daging unggas
Makanan yang mengandung lemak baik, seperti alpukat, salmon, biji chia, dan minyak zaitun
Selain itu, minum air putih yang cukup juga penting untuk menunjang daya tahan tubuh dan mencegah dehidrasi.
2. Berolahraga secara rutin
Cara ini juga efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, berolahraga secara rutin bisa membuat tidur menjadi lebih nyenyak dan mengurangi stres. Kedua hal tersebut baik untuk memperkuat daya tahan tubuh.
Jadi, usahakanlah untuk berolahraga minimal 30 menit setiap hari, misalnya jalan santai, bersepeda, joging, atau yoga.
3. Mencukupi waktu tidur dan istirahat
Tidur atau istirahat yang cukup juga dapat memperkuat daya tahan tubuh. Itulah sebabnya ketika sedang sakit, seseorang dianjurkan lebih banyak tidur agar sistem imunnya dapat melawan penyakit dengan lebih baik.
Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa orang yang tidurnya kurang dari 6 jam setiap malam lebih rentan terkena flu daripada orang yang biasa tidur 6 jam atau lebih.
Idealnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar 7–9 jam setiap malamnya, sedangkan anak-anak dan remaja butuh sekitar 8–14 jam.
Jika Anda mengalami kesulitan untuk tidur, cobalah batasi penggunaan gadget minimal 1 jam sebelum tidur, ciptakan suasana tidur yang nyaman, dan tidurlah di waktu yang sama secara konsisten.
4. Mengonsumsi suplemen penunjang daya tahan tubuh
Pada sebagian orang, asupan makanan saja kadang belum bisa memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Namun, jangan khawatir, Anda bisa mengonsumsi suplemen makanan tambahan untuk menjaga daya tahan tubuh tetap kuat.
Bila daya tahan tubuh kuat, Anda pun tidak mudah sakit dan lebih kuat melawan berbagai infeksi bakteri atau virus, termasuk virus COVID-19 varian Omicron.
Ada beberapa kandungan nutrisi dalam suplemen yang baik untuk daya tahan tubuh, antara lain:
Vitamin C
Vitamin C telah dikenal sebagai salah satu nutrisi yang baik untuk memperkuat daya tahan tubuh. Kekurangan vitamin C bisa membuat tubuh rentan terkena penyakit. Namun, tak jarang suplemen vitamin C justru meningkatkan risiko kambuhnya penyakit asam lambung.
Meski demikian, suplemen dengan kandungan buffered vitamin C dianggap bisa menjadi pilihan bagi penderita penyakit asam lambung. Hal ini diduga karena kandungan tersebut mampu mengurangi tingkat keasaman pada vitamin C, sehingga lebih nyaman di lambung.
Jumlah asupan vitamin C yang Anda bisa konsumsi, yakni 500–1000 mg per hari. Menurut sebuah penelitian, konsumsi vitamin C dalam jumlah tersebut memberikan efek antiradang, yang bermanfaat dalam menjaga kekebalan tubuh.
Vitamin D3
Selain vitamin C, nutrisi yang juga penting dalam menjaga daya tahan tubuh adalah vitamin D3. Memenuhi kebutuhan vitamin D3 bisa mencegah berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan, pneumonia, bahkan COVID-19.
Kekurangan vitamin ini dihubungkan dengan risiko terkena COVID-19 dengan gejala yang berat. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih mendalam untuk membuktikan peran vitamin D3 dalam mencegah COVID-19.
Zinc
Zinc merupakan salah satu mineral yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh, termasuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa zinc berpotensi meredakan dan mempersingkat gejala flu.
Dengan mengonsumsi suplemen yang mengandung formula vitamin lengkap, daya tahan tubuh diharapkan tetap kuat sehingga berbagai penyakit bisa dihindari, apalagi di tengah kasus COVID-19 varian Omicron yang melonjak.
Jika ingin mengonsumsi suplemen, baik dalam kemasan botol, kaleng, atau serbuk, pastikan produk suplemen yang Anda konsumsi telah terdaftar di BPOM untuk memastikan keamanannya.
Selain itu, bila Anda menderita diabetes atau berisiko menderita diabetes, sebaiknya pilihlah produk suplemen dengan kandungan gula yang rendah guna mencegah lonjakan kadar gula darah.
Kesehatan
Tips Menghadapi Lonjakan Kasus Omicron
Lonjakan kasus COVID-19 varian Omicron memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Pasalnya, virus Corona varian ini diketahui lebih cepat menular daripada varian terdahulu. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko penularannya.
Varian Omicron merupakan salah satu jenis varian COVID-19 yang perlu diwaspadai (variant of concern) karena tingkat penularannya yang tinggi dan berisiko menyebabkan infeksi berulang dibandingkan dengan varian lainnya, seperti varian Delta.
Tips Menghadapi Lonjakan Kasus Omicron.
Namun, penelitian awal menunjukkan bahwa efikasi vaksin COVID-19 dosis lengkap cukup baik dalam memberikan perlindungan terhadap kasus COVID-19 varian Omicron. Oleh karena itu, melengkapi vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi lonjakan kasus Omicron.
Tips Menghadapi Lonjakan Varian Omicron
Selain menjalani vaksinasi, ada beberapa langkah pencegahan lain yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi lonjakan varian Omicron, yaitu:
1. Selalu kenakan masker saat di luar rumah
Di tengah lonjakan varian Omicron, siapa pun harus selalu memakai masker saat di luar rumah. Hal ini karena memakai masker dengan benar dapat melindungi diri dari risiko tertular penyakit sekaligus menularkan penyakit ke orang lain. Selain itu, gantilah masker jika sudah kotor atau rusak dengan masker yang baru.
2. Hindari bepergian jauh
Bila tidak ada keperluan mendesak, Anda sangat disarankan untuk menahan diri tidak bepergian ke negara atau daerah dengan transmisi penularan kasus Omicron yang tinggi. Sebaiknya manfaatkan waktu luang di rumah bersama keluarga untuk saling menjaga dan mengurangi risiko penularan varian Omicron.
3. Olahraga secara rutin
Rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik selama minimal 30 menit setiap hari dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga Anda pun bisa kuat melawan paparan virus Corona.
Tak hanya itu, mencukupi waktu tidur, menghentikan kebiasaan merokok, dan membatasi konsumsi minuman beralkohol turut membantu dalam menjaga imunitas tubuh.
4. Penuhi asupan gizi seimbang
Memenuhi asupan gizi seimbang tentunya diperlukan agar tubuh tetap fit dan terhindar dari beragam penyakit, termasuk COVID-19. Arti dari asupan gizi seimbang adalah konsumsi makanan dan minuman yang mengandung beragam nutrisi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
Jadi, ketika Anda mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok, jangan lupa untuk menambahkan lauk pauk berupa sumber protein hewani atau nabati, seperti daging ayam atau tempe. Selain itu, tambahkan p**a beragam jenis sayuran serta buah-buahan untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.
5. Konsumsi buah tinggi vitamin C
Vitamin C diketahui memiliki peran penting dalam memperkuat daya tahan tubuh. Untuk memperoleh khasiatnya, Anda bisa mengonsumsi buah-buahan dengan vitamin C tinggi, seperti jeruk, mangga, pepaya, dan kiwi.
Selain itu, jambu biji juga dikenal sebagai sumber vitamin C yang baik, bahkan kandungan vitamin C-nya lebih tinggi daripada buah lainnya. Anda dapat mengonsumsi jambu biji secara langsung setelah dibersihkan atau diolah menjadi jus. Anda pun dapat mengonsumsi jus jambu biji kemasan yang lebih praktis dan higienis.
Cara Aman Beraktivitas di Luar Rumah dan Sekolah
Selain menjaga daya tahan tubuh, agar aktivitas di luar rumah tetap aman, Anda juga perlu selalu menjalankan protokol kesehatan, mulai dari memakai masker dengan benar, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hingga menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.
Bagi para orang tua, mengingat sudah diberlakukan pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka, ada beberapa tips yang perlu diterapkan agar anak terhindar dari penularan COVID-19 selama belajar di sekolah, di antaranya:
Memenuhi vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 6 tahun ke atas bila sudah memenuhi syarat pemberian vaksin
Memastikan anak dalam kondisi sehat dan tidak memiliki gejala umum COVID-19, seperti demam, batuk, serta pilek
Menyajikan sarapan bernutrisi untuk anak sebelum ia berangkat ke sekolah
Menyiapkan bekal makanan dari rumah beserta alat makan pribadi dan air minum sesuai kebutuhan
Menyiapkan masker cadangan dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) untuk anak
Menyiapkan perlengkapan pribadi anak, baik alat tulis maupun perlengkapan ibadah
Setelah anak sampai di rumah, biasakan anak untuk langsung mandi dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi dengan keluarga di rumah. Orang tua pun dianjurkan untuk melakukan disinfeksi terhadap barang-barang yang dibawa anak ke sekolah, seperti tas, jaket, maupun sepatu.
Selain mematuhi protokol kesehatan, cara menghadapi lonjakan kasus Omicron yang tak kalah penting adalah menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh melalui langkah-langkah yang telah disebutkan di atas. Dengan begitu, penularan COVID-19 varian Omicron pun dapat dicegah.
20/01/2022
Mencegah Demam Berdarah pada Anak
Kasus demam berdarah cenderung meningkat setiap musim hujan. Agar anak terhindar dari gigitan nyamuk penyebab demam berdarah ada beberapa langkah yang dapat dilakukan para orang tua.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tercatat ada 95.893 penderita demam berdarah di sepanjang tahun 2020. Sekitar 52% di antaranya adalah anak-anak usia 0–14 tahun.
Mencegah Demam Berdarah pada Anak .
Gejala Demam Berdarah pada Anak
Penyakit demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejala demam berdarah biasanya akan muncul 4–10 hari setelah digigit nyamuk tersebut.
Gejala demam berdarah pada anak yang biasa muncul antara lain:
Demam tinggi (40°C)
Sakit kepala
Nyeri otot, tulang, atau sendi
Mual dan muntah
Nyeri pada belakang mata
Kulit beruam atau mudah memar
Gusi berdarah atau mimisan
Pencegahan Demam Berdarah
Demam berdarah dapat menyebabkan pendarahan di dalam tubuh, kerusakan organ, syok, hingga kematian. Agar anak terhindar dari penyakit ini, perlindungan terbaik untuknya adalah dengan menjauhkannya dari gigitan nyamuk.
Beberapa cara yang dapat orang tua lakukan untuk mencegah gigitan nyamuk pada anak adalah:
1. Mendapatkan vaksin dengue
Sejak tahun 2016, vaksin dengue sudah resmi beredar di Indonesia. Vaksin ini dapat diberikan kepada anak usia 9–16 tahun, baik yang sudah pernah menderita demam berdarah maupun belum. Pemberian vaksin dengue dilakukan sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan.
Meskipun tidak bisa sepenuhnya mencegah demam berdarah, vaksin dengue dapat meringankan gejala yang muncul apabila anak nantinya terkena demam berdarah, sehingga risiko anak perlu dirawat di rumah sakit pun akan lebih rendah.
Sayangnya, vaksin dengue belum termasuk dalam program imunisasi nasional sehingga tidak bisa didapatkan di Puskesmas. Saat ini, vaksin dengue hanya bisa didapatkan di klinik, rumah sakit, atau praktek dokter anak.
2. Memberantas sarang nyamuk
Untuk mencegah gigitan nyamuk penyebab demam berdarah pada anak, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus, yaitu:
Menguras dan membersihkan tempat yang sering menjadi penampungan air, seperti bak mandi, toren air, ember, akuarium, dan tempat penampungan air lainnya
Menutup rapat berbagai tempat penampungan air dan mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk
Memanfaatkan kembali (mendaur ulang) limbah barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah
Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk di tempat penampungan air
Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi rumah
Memberikan larvasida pada tempat penampungan air yang susah dikuras
Memperbaiki saluran dan talang air yang tersumbat
Menanam tanaman pengusir nyamuk
Menyalakan AC atau kipas angin
Mengenakan baju lengan panjang, celana panjang, dan kaus kaki
3. Menggunakan produk antinyamuk
Menggunakan produk antinyamuk juga dapat membantu anak terhindar dari penyakit demam berdarah. Produk antinyamuk yang berdedar di pasaran banyak yang mengandung bahan aktif DEET (diethyltoluamide).
Produk antinyamuk dengan kandungan DEET hingga 10% dianggap aman untuk digunakan oleh anak usia 6 bulan hingga 12 tahun. Untuk anak usia 6 bulan hingga 2 tahun, pemakaian produk antinyamuk ini hanya boleh sekali sehari. Sedangkan untuk anak usia 2–12 tahun maksimal 3 kali sehari
20/01/2022
Kenali 4 Bahaya Darah Rendah Beserta Gejalanya
Bahaya darah rendah umumnya dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup, pola makan, dan pengobatan yang tepat. Hal ini penting dilakukan sebab tekanan darah rendah yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu beragam gejala yang mengarah ke komplikasi berbahaya.
Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada kurang dari 90/60 mmHg, sedangkan tekanan darah normal untuk orang dewasa adalah 120/80 mmHg. Kondisi darah rendah umumnya menimbulkan gejala berupa pusing, mual dan muntah, tubuh terasa lemas, pandangan buram, dan sesak napas.
Kenali 4 Bahaya Darah Rendah Beserta Gejalanya.
Hiptensi dapat terjadi karena beberapa faktor, termasuk pertambahan usia dan keturunan. Selain itu, kehamilan, infeksi, dehidrasi, penyakit jantung, pendarahan, dan konsumsi obat-obatan tertentu juga bisa menyebabkan hipotensi.
Apabila tekanan darah rendah dibiarkan tanpa penanganan atau tidak dikontrol dengan baik, kondisi ini tak jarang menimbulkan komplikasi berbahaya bagi penderitanya.
Komplikasi Darah Rendah yang Berbahaya
Darah rendah yang diobati dengan tepat jarang menimbulkan komplikasi. Namun, jika tidak ditangani dengan benar, ada beberapa bahaya darah rendah yang dapat terjadi akibat komplikasi, di antaranya:
1. Penyakit jantung
Hipotensi ortostatik ringan umumnya hanya berlangsung selama beberapa menit. Jika terlalu sering terjadi, kondisi ini dapat memicu masalah pada jantung, seperti gagal jantung, gangguan irama jantung, dan bahkan serangan jantung.
Tekanan darah yang rendah dapat menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah. Apabila tidak segera dilakukan pengobatan, kondisi ini bisa memicu penurunan fungsi organ jantung dan berakhir menjadi penyakit jantung.
2. Stroke
Selain memicu penyakit jantung, tekanan darah rendah berisiko tinggi menyebabkan stroke. Kondisi ini terjadi ketika kurangnya suplai aliran darah ke otak, sehingga sel otak dapat mengalami kerusakan dan menyebabkan fungsi otak terganggu.
Stroke umumnya dapat menimbulkan gejala atau tanda, seperti satu sisi anggota tubuh melemah, ucapan tidak jelas, satu sisi wajah tidak dapat digerakkan, hilangnya penglihatan secara tiba-tiba, penurunan kesadaran, dan sakit kepala yang hebat.
3. Gagal ginjal
Kondisi tekanan darah rendah dapat menyebabkan penurunan aliran darah yang disaring oleh ginjal. Hal ini dapat memicu kerusakan pada ginjal, sehingga ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, lama-kelamaan akan menyebabkan gagal ginjal.
Gagal ginjal awalnya bisa saja tidak bergejala, tetapi kondisi ini pada akhirnya dapat menimbulkan gejala, seperti bengkak di wajah dan tubuh, jarang buang air kecil, sesak napas, mudah mengantuk, dan penurunan kesadaran.
4. Syok
Kondisi darah rendah juga dapat memicu terjadinya syok. Syok dapat terjadi jika tekanan darah menurun drastis, sehingga organ tubuh tidak berfungsi dengan baik karena tidak menerima cukup darah.
Syok akibat darah rendah dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti sesak napas, denyut jantung cepat tetapi lemah, keringat dingin, pucat atau sianosis, serta pingsan.
Hello Guys..
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Darmawangsa Residence
Bekasi
15410