Karta
selamat datang
kami mencoba memberikan yang terbaik
24/04/2021
Ini Alasan Tangan Gemetar Jangan Dianggap Remeh
Setiap orang, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia, dapat mengalami tangan gemetar, umumnya karena kelelahan, kedinginan, marah, atau ketakutan. Namun, keluhan ini tidak boleh dianggap remeh jika sering terjadi atau disertai gejala lain.
Orang lanjut usia kerap mengalami tangan gemetar, misalnya saat menuang minuman atau hendak meraih benda tertentu. Gejala ini memang bisa jadi merupakan tanda penuaan alami yang terjadi secara normal.
Namun di sisi lain, tangan gemetar berisiko menjadi gejala awal dari penyakit yang lebih berbahaya. Pada kasus yang parah, tangan gemetar dapat menjadi pertanda gangguan saraf terkait penyakit degeneratif, seperti penyakit Parkinson.
Tangan gemetar umumnya disebabkan oleh adanya gangguan pada otak yang mengontrol pergerakan tubuh. Gerakan yang tidak disadari dan tidak diinginkan ini dapat bersifat ringan atau parah, sementara maupun kronis, tergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Ini Alasan Tangan Gemetar Jangan Dianggap Remeh - Alodokter
Bahaya di Balik Tangan Gemetar
Tangan gemetar yang menetap, atau sering dirasakan bisa jadi menandakan penyakit atau kondisi tertentu, seperti:
Tremor esensial, yaitu gemetaran pada bagian tubuh saat hendak digerakkan. Tremor pada tangan umumnya terjadi pada tangan yang sering digunakan, namun bisa juga terjadi pada keduanya. Kondisi ini belum diketahui penyebab dan pengobatannya.
Penyakit Parkinson, yaitu penyakit kronis yang mengganggu fungsi otak dan koordinasi gerakan tubuh. Tremor pada penyakit Parkinson justru terjadi saat penderita diam atau saat otot sedang tidak digunakan, dan berkurang ketika penderita bergerak.
Kejang.
Dystonia.
Kadar gula darah rendah.
Kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
Multiple sclerosis, yaitu gangguan pada sistem saraf, otak, dan tulang belakang, yang berdampak kepada gerakan tubuh.
Stroke.
Neuropati perifer, yaitu kerusakan pada sistem saraf tepi.
Tumor otak.
Penyakit Huntington.
Keracunan zat tertentu, seperti merkuri, karbon monoksida, dan mangan.
Kelebihan konsumsi kafein dan alkohol.
Efek samping konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat antipsikotik, obat asma, amfetamin, dan kortikosteroid.
Meskipun tangan gemetar pada penyakit Parkinson memiliki sifat khas yang dapat dibedakan dengan tremor esensial, namun gejala kedua penyakit ini dapat memburuk seiring waktu jika tidak segera ditangani.
Selain tangan, penderita tremor esensial dapat mengalami tremor pada anggota tubuh lain, seperti pada kelopak mata, bibir, kepala, lengan, atau pita suara. Tremor esensial ini dapat bersifat genetik.
Diagnosis dan Penanganan Tangan Gemetar
Gejala tangan gemetar yang ringan, atau bukan disebabkan oleh penyakit, umumnya dapat membaik sendiri. Hal ini berlaku untuk tangan gemetar akibat stres, kedinginan, kelelahan, atau konsumsi kafein dan alkohol.
Keluhan tangan gemetar perlu diwaspadai dan segera diperiksakan ke dokter jika:
Semakin memburuk, bahkan saat sedang beristirahat.
Terjadi berkepanjangan, parah, atau sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Diiringi dengan gejala lain, seperti lemas, sakit kepala, gerakan lidah tidak normal, otot menjadi kaku, atau muncul gerakan yang tidak bisa dikendalikan.
Untuk memastikan diagnosis dan mencari penyebabnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik disertai penunjang, seperti tes darah dan urine, CT scan, MRI, elektromiografi atau EMG (pemeriksaan saraf otot), dan EEG (pemeriksaan listrik otak).
Setelah diagnosis tangan gemetar ditentukan, dokter akan memberikan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya. Sedangkan untuk meringankan keluhan gemetar atau tremor pada tangan, dokter dapat memberikan obat golongan beta-blockers propanolol, obat penenang, obat antikejang, atau suntikan botox. Jika keluhan tidak membaik dengan pengobatan, dokter mungkin akan menyarankan operasi.
24/04/2021
Vitamin C, Si Penangkal Demam Berdarah Saat Musim Hujan
Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang kerap muncul saat musim hujan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari penyakit ini. Salah satunya adalah mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C. Lalu, apa kaitan vitamin C dengan demam berdarah?
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue. Penyakit yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini mudah sekali menyebar di negara beriklim tropis, seperti Indonesia. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan yang sangat mendukung untuk perkembangbiakan nyamuk, terutama saat musim hujan.
Vitamin C, Si Penangkal Demam Berdarah Saat Musim Hujan - Alodokter
Peranan Vitamin C untuk Mencegah Demam Berdarah
Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan atau sistem imunitas untuk melawan virus, bakteri, jamur, serta parasit penyebab penyakit. Namun, kekuatan sistem kekebalan setiap orang tidaklah sama dan terkadang imunitas tubuh bisa saja melemah.
Saat daya tahan tubuh melemah, kemampuan tubuh untuk melawan mikroorganisme penyebab penyakit menjadi berkurang. Akibatnya, kuman penyebab penyakit dapat dengan mudah menyerang dan menyebabkan infeksi, termasuk demam berdarah.
Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk memperkuat sistem imunitas tubuh dan terhindar dari demam berdarah adalah mencukupi kebutuhan vitamin C. Vitamin ini dapat menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap kuat melawan mikroorganisme penyebab penyakit dan mencegah infeksi.
Dosis rekomendasi asupan vitamin C harian yang perlu dipenuhi oleh orang dewasa adalah 75-90 mg. Vitamin ini banyak ditemukan pada sayur serta buah-buahan, dan salah satunya adalah jambu biji.
Kandungan Nutrisi Jambu Biji
Jambu biji atau guava sangat kaya akan vitamin C. Bahkan, kandungan vitamin C dalam jambu biji dua kali lipat lebih banyak daripada kandungan vitamin C dalam jeruk.
Dalam satu buah jambu biji, terkandung sekitar 125 mg vitamin C. Jumlah ini setara dengan 140% dari angka kebutuhan vitamin C harian. Tidak hanya vitamin C, buah jambu biji pun kaya akan kandungan antioksidan, folat, vitamin A, dan serat. Nutrisi-nutrisi tersebut dapat memperkuat daya tahan tubuh untuk melawan virus Dengue penyebab demam berdarah.
Selain jambu biji dan jeruk, jeruk bali, kiwi, leci, stroberi, dan pepaya juga bisa menjadi pilihan buah sumber vitamin C yang bisa Anda konsumsi. Dan bukan hanya buah-buahan, asupan vitamin C juga dapat diperoleh dari sayuran, misalnya tomat, bayam, kangkung, kentang, brokoli, dan paprika.
Cara Lain Mencegah Demam Berdarah
Selain menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan memperbanyak asupan vitamin C, Anda juga perlu melakukan langkah-langkah berikut ini untuk mencegah demam berdarah:
1. Bersihkan dan tutup tempat penampung air
Kuras dan bersihkan tempat penampung air, seperti bak mandi, tempayan, ember, atau pot bunga, minimal satu minggu sekali untuk mencegah nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Lakukan secara rutin dan jangan lupa tutup rapat tempat penampung air di rumah setiap selesai dipakai.
2. Hindari menumpuk barang bekas
Air hujan bisa tertampung dalam sampah plastik, kaleng, atau sterofoam di sekitar rumah. Wadah penampung air ini dapat menjadi lingkungan yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak, sehingga bisa menularkan penyakit demam berdarah.
Oleh sebab itu, hindari menumpuk barang bekas di dalam rumah atau di lingkungan sekitar rumah. Lebih baik buang atau kubur barang yang sudah tidak terpakai.
3. Gunakan kasa dan kelambu
Pasanglah kasa pada setiap lubang ventilasi untuk mencegah nyamuk DBD masuk ke dalam rumah. Selain itu, Anda juga bisa memasang kelambu pada tempat tidur supaya terhindar dari gigitan nyamuk.
4. Gunakan obat anti nyamuk
Untuk mencegah gigitan nyamuk DBD, Anda bisa menggunakan losion antinyamuk atau menggunakan obat nyamuk dalam bentuk semprot, bakar, dan elektrik. Namun, penggunaan obat antinyamuk perlu dilakukan secara berhati-hati, terutama jika ada bayi, anak-anak, atau penderita asma di dalam rumah.
Ketika musim hujan melanda, jagalah kondisi tubuh Anda dengan memperbanyak asupan vitamin C serta makanan sehat lainnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bila perlu, konsultasikanlah dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda memerlukan asupan vitamin C tambahan dari suplemen.
24/04/2021
Memilih Obat Anti Nyamuk yang Aman untuk Bayi
Obat antinyamuk kerap menjadi pilihan untuk mencegah gigitan nyamuk yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk pada bayi. Namun, Anda harus lebih berhati-hati, karena tidak semua jenis obat antinyamuk aman untuk bayi.
Bayi umumnya memiliki kulit yang masih sensitif. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan produk yang bersentuhan langsung dengan kulit bayi, termasuk obat antinyamuk.
Memilih Obat Anti Nyamuk yang Aman untuk Bayi - Alodokter
Hal ini karena ada kandungan bahan aktif dan dosis tertentu pada obat antinyamuk yang tidak aman dioleskan ke kulit bayi.
Memilih Obat Antinyamuk yang Aman dan Tepat
Bahan aktif yang umum digunakan pada obat antinyamuk, yaitu diethyltoluamide atau DEET. Zat ini dinilai efektif untuk menangkal gigitan nyamuk. Meski demikian, bayi berusia 2 bulan ke bawah tidak boleh memakai obat antinyamuk mengandung DEET.
Zat aktif lainnya yang tidak boleh digunakan pada bayi dengan usia tersebut, antara lain picaridin (memiliki efek yang sama seperti DEET), IR3535, dan minyak lemon eukaliptus. Khusus obat anti nyamuk yang mengandung minyak lemon eukaliptus, Anda baru diperbolehkan mengoleskannya ke kulit si Kecil saat dia berusia tiga tahun ke atas.
Dosis obat anti nyamuk juga perlu diperhatikan. Jangan pilih obat anti nyamuk yang mengandung DEET sebanyak 30 persen atau lebih. Takaran tersebut tidak direkomendasikan untuk si Kecil. Lagi p**a, tinggi rendahnya konsentrasi DEET tidak berhubungan dengan efektivitas menangkal nyamuk.
Sebagai contoh, obat anti nyamuk yang mengandung DEET sebesar 10 persen efektif mencegah gigitan nyamuk selama 2 jam. Sementara yang kandungannya 24 persen mampu menangkal nyamuk hingga 5 jam.
Kedua takaran tersebut sama-sama efektif mencegah gigitan nyamuk. Perbedaannya hanya terletak pada jangka waktu perlindungan.
Tips Mengaplikasikan Obat Antinyamuk pada Bayi
Lakukan petunjuk pemakaian di bawah ini agar si Kecil aman dari sengatan nyamuk serta zat-zat yang terkandung dalam obat atau losion anti nyamuk:
Hindari mengoleskan obat anti nyamuk di sekitar mata dan mulut.
Gunakan obat anti nyamuk secukupnya di area telinga.
Berikan obat anti nyamuk pada pakaian dan kulit yang tidak tertutup pakaiann.
Hindari penggunaan obat antinyamuk bila ada infeksi atau luka pada kulit Si Kecil.
Hindari menggunakan obat antinyamuk bersamaan dengan tabir surya.
Jangan mengoleskan obat antinyamuk ke telapak tangan Si Kecil, karena ia s**a memasukkan tangannya ke mulut.
Pastikan Si Kecil tidak memainkan atau menggigit botol obat antinyamuk.
Sebaiknya tidak memilih obat antinyamuk dalam bentuk semprot, karena rentan terhirup Si Kecil. Agar aman, semprotkan dulu ke tangan Anda, lalu usapkan pada kulit Si Kecil.
Selain menggunakan obat antinyamuk, Anda pun bisa mencegah Si Kecil dari gigitan nyamuk dengan memakaikan Si Kecil baju yang menutupi seluruh kulitnya. Memasang kelambu di sekitar tempat tidurnya juga bisa Anda lakukan untuk menghindari Si Kecil dari gigitan nyamuk.
Hentikan pemakaian obat antinyamuk jika terjadi iritasi pada kulit Si Kecil. Apabila iritasi tidak kunjung membaik, konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.
24/04/2021
Ketahui Faktor Risiko Diabetes dan Cara Mengendalikannya
Diabetes merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Tak hanya lansia, tetapi juga anak muda. Oleh karena itu, penting untuk mengenali faktor risiko diabetes agar Anda dapat mencegah terjadinya penyakit ini dan menjauhi komplikasinya.
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah dalam tubuh. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin atau menggunakannya dengan efektif. Insulin merupakan hormon yang berperan untuk mengatur gula darah.
Ketahui Faktor Risiko Diabetes dan Cara Mengendalikannya - Alodokter
Sekitar 9,1 juta penduduk Indonesia diperkirakan menderita penyakit diabetes. Berdasarkan kelompok usia, penderita diabetes paling banyak berada pada rentang usia 55–74 tahun. Meski demikian, penyakit ini juga dialami oleh orang muda di usia 20-an hingga 40-an.
Kenapa Orang Usia Muda Berisiko Terkena Diabetes?
Diabetes memang dapat dipengaruhi oleh faktor usia. Semakin bertambah usia Anda, semakin besar p**a risiko Anda untuk terkena diabetes. Hal ini diduga terjadi karena tubuh tidak lagi mampu memproduksi insulin dengan jumlah yang sama seperti saat masih muda.
Selain itu, seiring bertambahnya usia, sel-sel tubuh pun mungkin akan menjadi lebih sulit untuk memanfaatkan insulin, sehingga gula darah dapat lebih mudah meningkat. Meski demikian, bukan berarti orang yang usianya masih muda aman dari penyakit diabetes.
Risiko diabetes tetap bisa terjadi pada orang yang usianya masih muda, terutama jika memiliki faktor risiko berikut ini:
Obesitas
Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas berisiko terkena diabetes. Hal ini terjadi karena jaringan lemak berlebih di tubuh bisa menyebabkan tubuh sulit menggunakan insulin secara efektif. Kondisi ini disebut resistensi insulin.
Selain itu, orang yang obesitas juga berisiko tinggi mengalami sindrom metabolik, yakni salah satu kondisi yang dapat memicu terjadinya diabetes.
Tidak menjaga pola makan
Setiap orang, baik anak-anak, orang dewasa muda, atau bahkan para lansia, akan berisiko lebih tinggi untuk mengalami diabetes apabila tidak menjaga pola makannya dengan baik.
Kebiasaan sering mengonsumsi minuman atau makanan manis, minuman bersoda, dan jarang mengonsumsi serat, seperti buah dan sayuran, diketahui turut berkontribusi dalam meningkatkan risiko diabetes.
Malas olahraga
Jarang berolahraga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes pada kelompok usia muda. Hal ini dikarenakan tubuh kurang mampu menggunakan glukosa dengan efektif sebagai energi apabila jarang bergerak atau berolahraga. Akibatnya, gula darah pun akan cenderung mudah meningkat dan sulit terkontrol.
Faktor genetik atau keturunan
Faktor genetik atau keturunan merupakan salah satu faktor risiko diabetes. Oleh karena itu, risiko terjadinya diabetes di usia muda juga dapat meningkat bila Anda memiliki anggota keluarga, misalnya orang tua atau saudara kandung, yang juga menderita penyakit kronis ini.
Penyakit tertentu
Anda juga berisiko terkena diabetes jika menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, sindrom metabolik, atau sindrom polikistik ovarium (PCOS).
Yuk, Kendalikan Gula Darah Sekarang Juga
Untuk mencegah atau mengurangi risiko diabetes, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut ini untuk mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh:
1. Memeriksa kadar gula darah secara rutin
Pemeriksaan gula darah dapat dilakukan setelah berpuasa selama 8–10 jam sebelum makan dan 1–2 jam setelah makan. Tes gula darah bisa dilakukan di laboratorium atau di rumah menggunakan alat pemeriksa gula darah (glukometer). Jangan lupa untuk mencatas hasilnya saat melakukan pemeriksaan.
Pada orang yang memiliki faktor risiko diabetes, tes gula darah ini bisa dilakukan setiap 3–6 bulan. Jika gula darah Anda tinggi, Anda dapat melakukan pemeriksaan gula darah puasa dan pemeriksaan HbA1C untuk memastikan apakah Anda menderita diabetes atau tidak.
2. Menjaga asupan dan pola makan
Pola makan yang baik merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah dan mengontrol diabetes. Anda dapat menjaga pola dan asupan makanan dengan berbagai cara berikut ini:
Hindari makanan yang tinggi kalori, gula, karbohidrat, lemak jenuh, dan lemak trans, misalnya es krim, kue manis, permen, coklat, daging olahan, dan daging berlemak.
Konsumsi makanan tinggi serat, seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, termasuk gandum atau oatmeal.
Perbanyak minum air putih dan hindari minuman manis, soda, atau yang mengandung pemanis tambahan.
Konsumsi makanan secara perlahan dan kendalikan porsi makan menggunakan piring berukuran kecil saat makan.
3. Berolahraga secara teratur
Tidak hanya baik untuk menurunkan berat badan, olahraga juga dapat membantu Anda mengendalikan kadar gula darah dan mencegah terjadinya resistensi insulin.
Oleh karena itu, luangkan waktu setidaknya 30 menit sehari untuk berolahraga. Anda dapat memilih olahraga yang bersifat ringan, seperti jalan santai, naik turun tangga di rumah, dan yoga. Selama pandemi ini, Anda sebaiknya berolahraga di dalam rumah agar bisa tetap menerapkan physical distancing.
4. Mengurangi stres
Stres bisa membuat tubuh kesulitan mengendalikan gula darah. Untuk mengurangi stres, Anda bisa mencoba meditasi, mendengarkan musik, mengerjakan hobi dan hal lain yang Anda s**ai, atau sekadar berbagi cerita dengan teman dan keluarga.
5. Tidak merokok
Kebiasaan merokok dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, dan retinopati.
Diabetes dan COVID-19
Salah satu dampak yang disebabkan oleh penyakit diabetes adalah melemahnya daya tahan tubuh. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dapat membuat kerja sistem kekebalan tubuh terganggu, sehingga tubuh kurang kuat untuk melawan berbagai penyebab infeksi, misalnya virus dan bakteri.
Hal inilah yang membuat penderita diabetes termasuk dalam golongan yang lebih rentan terkena COVID-19. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa sekitar 25% pasien COVID-19 dengan gejala berat merupakan penderita diabetes.
Selain itu, penderita diabetes yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona juga disebut bisa berisiko mengalami komplikasi serius, seperti ketoasidosis diabetik dan sepsis.
Apabila Anda memiliki satu atau lebih faktor risiko diabetes, lakukanlah langkah-langkah pencegahan diabetes di atas dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Jangan ragu p**a untuk segera menemui dokter apabila Anda mengalami gejala diabetes, seperti sering merasa haus dan sangat lapar, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, kesemutan atau mati rasa, kelelahan, pandangan kabur, atau jika terdapat luka yang sulit sembuh.
24/04/2021
Memahami Cara Kerja dan Risiko Efek Samping KB Suntik
KB suntik merupakan jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Banyak wanita memilih metode KB suntik karena praktis dan efektif dalam mencegah kehamilan. Meski demikian, jika Anda hendak memilih KB suntik, ada beberapa efek samping KB suntik yang penting untuk diketahui.
KB suntik dilakukan dengan menyuntikkan hormon progestogen buatan ke lengan atau bokong setiap 12 minggu sekali. Hormon ini serupa dengan hormon progesteron alami yang diproduksi tubuh ketika wanita sedang menstruasi.
Memahami Cara Kerja dan Risiko Efek Samping KB Suntik - Alodokter
Selain itu, ada juga jenis KB suntik yang disuntikkan setiap 1 bulan sekali. KB suntik yang digunakan tiap bulan ini biasanya mengandung progestogen dan estrogen.
Jika dilakukan dengan benar dan sesuai jadwal, metode kontrasepsi KB suntik memiliki efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan, yakni hingga lebih dari 99%.
Cara Kerja KB Suntik
Setelah disuntikkan, hormon progestogen akan dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah. Hormon di dalam KB suntik ini dapat mencegah proses pembuahan dengan tiga cara, yaitu:
Menghentikan ovulasi atau proses pelepasan sel telur dari ovarium setiap bulannya
Mengentalkan lendir di leher rahim, sehingga sperma terhalang dan sulit masuk ke rahim untuk membuahi sel telur
Membuat lapisan rahim menjadi lebih tipis, sehingga bila ada sel telur yang berhasil dibuahi, sel tersebut tidak akan berkembang karena kondisi rahim tidak mendukungnya
Agar bekerja dengan efektif, KB suntik biasanya diberikan pada 5–7 hari pertama dalam siklus menstruasi. Jika KB suntik digunakan pada saat siklus menstruasi Anda sudah melewati hari ke-7, Anda perlu menggunakan alat kontrasepsi tambahan, seperti kondom atau pil KB.
Apabila Anda baru melahirkan dan sedang menyusui, KB suntik sudah bisa diberikan pada minggu ke-6 setelah bersalin. KB suntik juga bisa digunakan pada wanita yang baru saja mengalami keguguran dalam waktu beberapa hari.
Beberapa Efek Samping KB Suntik
Meski sangat efektif dalam mencegah kehamilan, ada beberapa efek samping KB suntik yang dapat terjadi, yaitu:
Peningkatan berat badan
Menstruasi tidak teratur
Muncul bercak darah pada va**na
Perubahan mood
Sakit kepala
Mual
Nyeri payudara
Penurunan gairah seksual
Pengeroposan tulang dan peningkatan risiko terkena osteoporosis
Alergi
Selain itu, jika Anda berencana untuk hamil lagi, Anda perlu menunggu sekitar 1 tahun setelah penggunaan KB suntik dihentikan.
Karena bisa menimbulkan beberapa efek samping dan interaksi dengan beberapa obat-obatan, KB suntik juga tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita yang memiliki kondisi berikut ini:
Sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti anakinra, aminoglutethimide, acarbose, dan atorvastatin
Pernah atau sedang menderita penyakit tertentu, seperti kanker payudara, penyakit jantung, stroke, atau penyakit liver
Memiliki tulang yang lemah atau keropos, misalnya karena osteoporosis
Sedang hamil atau memiliki rencana untuk menjalani progam hamil
Sering mengalami perdarahan pada va**na
Memiliki riwayat alergi terhadap KB suntik
Biarpun efektif dalam mencegah kehamilan, KB suntik tidak dapat melindungi Anda dari penyakit menular seksual (PMS). Oleh karena itu, untuk mencegah penularan penyakit tersebut, Anda tetap perlu menjalani perilaku seks yang aman dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seksual dan tidak berganti pasangan seksual.
Agar KB suntik tetap aman dan efektif untuk Anda gunakan, ada baiknya Anda berkonsultasi ke dokter kandungan terlebih dahulu.
Jika Dokter menilai Anda kurang cocok menggunakan KB suntik, baik karena efek samping KB suntik atau riwayat penyakit yang Anda miliki, maka dokter mungkin akan menyarankan penggunaan metode kontrasepsi lain, seperti KB susuk, IUD, atau penggunaan kondom.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Jaln Kincir
Bekasi