Tutorial Make Up Cewek

Tutorial Make Up Cewek

Share

Tutorial make up simple dan rutinitas perwatan diri

07/01/2026

“Hiatus??? Emangnya aku komik?”

Aku tuh sering bingung sama diri sendiri.
Katanya pengin jadi konten kreator sukses…
tapi giliran disuruh usaha, rasanya berat banget.

Orang lain pegang 5–10 akun,
sehari bisa upload 3–5 video atau tulisan.
Lah aku?
Satu akun aja, satu konten sehari, rasanya kayak ngangkat galon pakai satu tangan.
Padahal bukan nggak ada waktu.
Jujur aja, waktu ada.
Cuma sering kalah sama scroll nggak jelas, ngegame,
atau baca-baca curhatan orang lain yang malah bikin aku mikir,
“Lah kok ini mirip hidup aku?”
Yang bikin aku makin heran sama diri sendiri:
aku cuma produktif pas lagi sedih.
Pas hati lagi kacau.
Pas marah.
Pas ngerasa jatuh.
Di momen itu, ide kayak nggak ada habisnya.
Unek-unek numpuk.
Kata-kata ngalir sendiri.
Tulisan-tulisan ini lahir dari hati paling dalam,
dari hal-hal yang nggak bisa aku ceritain ke siapa pun.

Tapi masa iya aku harus sedih terus biar bisa berkarya?
Masa iya harus terpuruk dulu baru produktif?
Capek juga hidup kayak gitu.
Siapa sih yang mau sedih terus?
Anehnya, pas aku lagi “normal”,
apalagi pas bahagia…
kepala kosong.
Nulis satu kalimat aja rasanya maksa.
Baru mulai, udah mentok.
Bahasanya hambar, nggak hidup, dan nggak selesai-selesai.
Terus orang bilang,
“Kenapa nggak bahas topik lain aja?”
Masalahnya aku ngerasa…
aku nggak pintar.
Nggak punya pengetahuan hebat.
Nggak punya pengalaman keren.
Nggak punya apa-apa yang pantas dibahas.
Tapi kenapa pas sedih bisa?
Karena yang aku tulis cuma curhatan.
Sesi jujur sama diri sendiri.
Hal-hal yang nggak bisa aku simpan sendirian,
karena katanya… kalau dipendam terus bisa jadi penyakit.
Mau curhat aja ribet ya?
Takut dibilang drama.
Takut dibilang lebay.
Padahal ya… manusia juga butuh berbagi, kan? 😅

Sekarang aku pengin tahu,
apa di sini ada yang kayak aku?
Yang justru paling jujur dan produktif saat lagi jatuh,
tapi kehilangan kata-kata saat hidupnya baik-baik saja?
Coba ceritain di kolom komentar, aku baca satu-satu.
Mungkin ada yang mirip sama kaya aku.
Atau cuma nau sekedar sharing2 aja juga boleh😍

06/01/2026

“Kamu hanya iri.”

Kalimatnya pendek, tapi rasanya kayak ditampar pelan… dan kena tepat di hati.

Jujur aja, sering kali masalah kita bukan karena nggak bisa.
Tapi karena iri.
Iri lihat orang lain berani mulai.
Iri lihat orang lain pelan-pelan jalan, sementara kita masih di tempat yang sama.
Ironisnya, ide itu sudah lama ada di kepala kita.
Sudah direncanakan, dipikirkan, bahkan dibayangkan berkali-kali.
Tapi berhenti di situ.
Nggak pernah benar-benar dilahirkan jadi tindakan.

Kenapa?
Karena kita takut.
Takut dicaci.
Takut dibicarakan.
Takut gagal.
Bahkan… takut dipuji.
Kita terlalu sibuk membayangkan komentar orang lain,
sampai lupa satu hal:
mau benar atau salah, mau sukses atau jatuh,
orang tetap akan bicara.
Lucunya, kita sering bilang “takut gagal”,
padahal mencoba saja belum.

Kita pengin sukses, tapi nggak pengin melewati proses capek, jatuh, dan diremehkan.
Kita lihat hasil orang lain,
tanpa mau tahu luka, lelah, dan harga yang mereka bayar sebelumnya.
Akhirnya kita memilih zona nyaman.
Tempat aman.
Tempat yang nggak menyakitkan…
tapi juga nggak membawa kita ke mana-mana.
Padahal hati kita sudah berkali-kali berbisik,
“Coba aja.”
“Mulai aja.”
“Tinggal satu langkah.”
Tapi nyali kita keburu ciut.
Dan tanpa sadar, kita menunda hidup kita sendiri.

Opini pribadiku sederhana:
solusinya nggak ada di luar sana.
Nggak ada di motivator, nggak ada di buku, nggak ada di orang lain.
Solusinya ada di diri kita sendiri.
Kalau kita nggak berani berubah,
maka hidup kita akan berhenti sejau keberanian kita hari ini.
Dan jangan berharap berhasil,
kalau untuk memulai saja kita masih bersembunyi.

Sekarang aku tanya ke kamu —
apa yang sebenarnya kamu takutkan: gagal…
atau melihat orang lain berhasil duluan sementara kamu masih diam di tempat?

Curhatan hati seorang istri..

24/12/2025

23/12/2025

Membaca di Era Serba Video

Di tengah arus konten video yang semakin mendominasi, tidak semua orang merasa video adalah cara paling efektif untuk menerima informasi.
Sebagian orang justru lebih nyaman dengan tulisan.

Membaca memungkinkan kita langsung menuju inti pembahasan tanpa harus menunggu. Dalam hitungan detik, informasi bisa dipahami, disimpan, bahkan dianalisis kembali.
Untuk data, fakta, atau informasi terbaru, tulisan sering kali lebih efisien.
Strukturnya jelas, bisa dibaca ulang, dan tidak bergantung pada durasi. Berbeda dengan video yang menuntut waktu dari awal hingga akhir.
Hal yang sama berlaku dalam komunikasi sehari-hari.

Bagi sebagian orang, pesan tertulis terasa lebih rapi dan mudah dipahami dibandingkan voice note. Tulisan memberi ruang untuk mencerna, tanpa harus memutar ulang berkali-kali.
Preferensi ini bukan soal benar atau salah.
Ini tentang cara setiap orang memproses informasi dengan nyaman.

Di era digital, pilihan medium seharusnya menyesuaikan kebutuhan, bukan tren semata.
Dan membaca, hingga hari ini, tetap menjadi cara yang relevan untuk memahami dunia.

Rabu, 24 desember 2025

23/12/2025

Aku capek, iya.
Hampir setiap hari.

Pekerjaan ibu yang tiada habisnya.
Capek dari pagi sampai malam.
Capek dari hal-hal kecil yang kelihatannya sepele,
tapi kalau dikumpulin, rasanya berat.
Kadang badanku pegal,
kadang pikiranku penuh.
Ada hari aku pengin rebahan tanpa diganggu apa pun.

Tapi di tengah capek itu,
selalu ada momen kecil yang bikin hatiku hangat.
Pelukan tiba-tiba.
Tawa tanpa alasan.
Atau panggilan minta tolong dari semua orang di rumah.

Aku selalu merasa bangga saat dibutuhkan.
Walau kadang kewalahan,
saat suami dan anak-anakku mencariku
hanya untuk hal sepele,
aku gak pernah benar-benar keberatan.
Meski kadang diselingi omelan 😄

Di saat-saat itu aku sadar,
lelah ini gak pernah benar-benar kosong.
Ada rasa penuh yang gak bisa dijelasin dengan kata-kata.
Aku mungkin sering kelelahan,
tapi hatiku tahu…
aku sedang berada di tempat yang tepat.
Kalau kamu ibu yang capek tapi hatinya tetap hangat,
kita sama 🤍

Follow halaman ini,
biar kita saling menguatkan tanpa harus selalu terlihat kuat.

Apakah ibu ingin bercerita juga tentang kesehariannya. Tulis dikolom komentar.
Hanya sekedar sharing biar kita berasa ada temen curhat

23/12/2025

“Aku ibu yang capek…
tapi entah kenapa, aku juga bahagia.”

Jadi seorang ibu itu memang capek.
Capek yang kadang bikin badan pegal dan kepala penuh.
Bangun pagi sebelum mata benar-benar siap,
tidur malam setelah semua orang terlelap.
Hari-hariku diisi hal-hal kecil
yang kelihatannya sepele,
tapi menguras tenaga.
Aku capek ngurus rumah,
capek ngurus anak,
capek mikirin banyak hal sendirian.
Tapi di tengah capek itu,
aku sering tiba-tiba tersenyum.
Saat anak manggil,
“Bu…”
dengan suara paling lembut yang cuma dia punya.
Saat lihat anak tidur pulas,
dan aku sadar…
ternyata aku masih sanggup bertahan sejauh ini.
Aku bukan ibu yang selalu sabar.
Aku juga sering lelah,
kadang ingin sendiri,
kadang ingin dimengerti.
Tapi setiap hari aku belajar satu hal:
capek dan bahagia bisa datang bersamaan.
Aku bahagia bukan karena hidupku mudah,
tapi karena aku tahu
siapa yang sedang aku perjuangkan.
Dan bantuan dari suami walau sekecil apapun sangat amat membantu memulihkan energiku. Bahkan kadang hanya dengan sebuah pelukan tenaga seperti dicharge full kembali.

Kalau kamu ibu yang capek tapi masih bisa tersenyum,
aku tahu rasanya 🤍

Follow halaman ini,
tempat ibu-ibu jujur tentang lelah dan bahagianya.

Walau terlambat,
Selamat Hari Ibu,
Selamat anda telah menjadi ibu yang hebat bisa bertahan sampai hari ini.

21/12/2025

20/12/2025

19/12/2025

18/12/2025

17/12/2025

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Jakarta