Penulis Receh

Penulis Receh

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Penulis Receh, Health/Beauty, Desa Rawasari kec. Cilebar kab. Karawang, Karawang.

15/07/2026

Yukk yang hobinya baca novel. Ke aplikasi FIZZO aja bacanya dapet koin p**a...
Dan jangan lupa baca novel karya aku 🥰

27/05/2026

🌹 Jodohku di pesantren 🌹

Bab 27

Hana berjalan pelan melewati halaman pesantren sambil memegang map tipis dari Bu Ratna.

Di dalamnya ada salinan esai yang ia tulis untuk lomba itu, lengkap dengan beberapa catatan kecil dari Bu Ratna. Sampai sekarang, ia masih sulit percaya bahwa tulisannya benar-benar lolos seleksi tahap pertama.

Rasanya aneh.

Selama ini ia selalu merasa dirinya biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak terlalu istimewa. Ia hanya seseorang yang berusaha bertahan di antara banyak orang yang tampak jauh lebih hebat.

Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihat sesuatu dalam dirinya.

Bukan nilai ujian.

Bukan peringkat kelas.

Tetapi pikirannya.

Perasaannya.

Suaranya.

Dan itu membuat langkahnya terasa lebih ringan.

“Hana!”

Suara Aisyah memanggil dari kejauhan.

Hana menoleh. Sahabatnya itu berlari kecil mendekat dengan wajah penuh rasa penasaran.

“Katanya Bu Ratna manggil kamu? Kenapa? Kamu bikin masalah ya?”

Hana terkekeh kecil.

“Iya. Aku ketahuan terlalu rajin.”

Aisyah memutar mata.

“Serius.”

Hana tersenyum, lalu menyerahkan map itu.

Aisyah membukanya cepat. Matanya langsung membesar.

“Lolos seleksi?!”

Nada suaranya terlalu keras sampai beberapa santri menoleh.

“Pelan-pelan!” bisik Hana panik.

Tapi Aisyah justru memeluknya erat.

“Ya Allah, Hana! Ini luar biasa!”

Hana ikut tertawa kecil.

“Jujur aku juga masih tidak percaya.”

Aisyah melepaskan pelukannya, lalu menatap Hana dengan bangga.

“Aku bilang juga apa? Kamu itu selalu meremehkan dirimu sendiri.”

“Bukan meremehkan… cuma realistis.”

“Bukan. Itu namanya kebiasaan meragukan diri.”

Hana hanya tersenyum kecil.

Mungkin Aisyah benar.

Terlalu lama hidup dalam keraguan membuat seseorang sulit percaya bahwa dirinya juga layak berhasil.

“Terus tahap berikutnya apa?” tanya Aisyah.

“Presentasi tulisan minggu depan.”

Aisyah langsung terdiam.

Lalu menatap Hana penuh arti.

Hana mengerti tatapan itu.

“Jangan bilang apa yang sedang kamu pikirkan.”

“Kamu harus bicara di depan banyak orang.”

“Aisyah.”

“Di depan guru-guru.”

“Hentikan.”

“Dan mungkin Pak Wira juga ada di sana.”

Hana menutup wajahnya dengan tangan.

“Astaga…”

Aisyah tertawa puas.

“Nah, itu ekspresi yang kutunggu.”

Hana menghela napas panjang.

Semangat yang tadi tumbuh perlahan kembali diuji kenyataan.

Presentasi.

Berbicara di depan banyak orang.

Itu jauh lebih menakutkan daripada menulis.

Menulis memberinya waktu untuk berpikir.

Berbicara menuntut keberanian saat itu juga.

Dan keberanian… bukan sesuatu yang selalu mudah ia miliki.

—

Malam harinya, setelah kegiatan belajar bersama, Hana duduk di mushala kecil dekat taman belakang pesantren.

Tempat itu sering menjadi ruang tenangnya.

Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu sunyi.

Cukup untuk berpikir.

Ia membuka kembali lembar esainya.

Judulnya sederhana:

“Tangan yang Tetap Bertahan”

Tulisan itu bercerita tentang perjuangan seseorang yang tumbuh bersama kehilangan, tetapi memilih tetap berjalan meski hidup berkali-kali mengujinya.

Sebenarnya, tanpa banyak orang tahu, tulisan itu adalah tentang dirinya sendiri.

Tentang luka yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan.

Tentang ketakutan yang selalu ia sembunyikan.

Tentang harapan kecil yang terus ia jaga agar tidak padam.

Ia membaca ulang setiap paragraf perlahan.

Ada bagian yang membuat dadanya sesak.

Ada bagian yang membuatnya ingin menangis.

Dan ada bagian yang membuatnya sadar—

mungkin selama ini, ia memang lebih kuat daripada yang ia kira.

“Hana?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Ustadz Fahmi berdiri tidak jauh darinya.

Seperti biasa, wajahnya tenang.

“Masih di sini? Belum kembali ke asrama?”

Hana segera merapikan kertas di tangannya.

“Sebentar lagi, Ustadz.”

Ustadz Fahmi mendekat.

“Itu tulisan lomba?”

Hana mengangguk.

“Iya.”

Beliau duduk di bangku kayu dekatnya.

“Bu Ratna sudah bercerita. Selamat.”

Hana tersenyum kecil.

“Terima kasih, Ustadz.”

“Kenapa wajahmu tidak terlihat seperti orang yang baru mendapat kabar baik?”

Hana tertawa kecil.

“Karena kabar baik itu datang bersama kabar menegangkan.”

“Presentasi?”

Hana mengangguk lemah.

“Saya lebih takut itu daripada ujian.”

Ustadz Fahmi tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena kalau ujian salah, yang tahu hanya nilai saya. Tapi kalau presentasi salah… semua orang melihat.”

Jawaban itu membuat Ustadz Fahmi mengangguk pelan.

“Manusia memang sering lebih takut dinilai daripada gagal itu sendiri.”

Hana terdiam.

Kalimat itu terasa sangat tepat.

“Kalau saya tidak bisa?”

tanyanya lirih.

Ustadz Fahmi menatapnya.

“Hana, menurutmu kenapa tulisanmu bisa lolos?”

Ia berpikir sejenak.

“Mungkin… karena saya beruntung?”

Beliau tersenyum tipis.

“Bukan.”

Hana menunduk.

“Karena tulisan itu jujur. Orang bisa merasakan ketulusan yang ditulis dengan hati.”

Ia melanjutkan,

“Kalau kamu bisa menulis dengan keberanian seperti itu, maka kamu juga bisa menyampaikannya.”

“Tapi saya takut.”

“Berani bukan berarti tidak takut.”

Hana terdiam.

“Berani adalah tetap melangkah meski takut.”

Kalimat itu menancap kuat dalam pikirannya.

Kadang seseorang hanya membutuhkan satu orang untuk mengingatkannya bahwa rasa takut bukan alasan untuk berhenti.

Dan malam itu, Ustadz Fahmi kembali menjadi pengingat itu.

—

Di sisi lain pesantren, Pak Wira sedang memeriksa beberapa laporan akademik di ruang guru.

Bu Ratna masuk sambil membawa beberapa dokumen.

“Masih di sini, Pak?”

Pak Wira mengangguk singkat.

“Masih ada yang harus diselesaikan.”

Bu Ratna meletakkan map di meja.

“Termasuk daftar peserta presentasi lomba esai.”

Pak Wira melirik sekilas.

Matanya berhenti pada satu nama.

Hana.

Ia terdiam beberapa detik.

“Dia ikut lomba ini?”

Bu Ratna mengangguk.

“Dan tulisannya sangat bagus.”

Nada suaranya jelas—bukan sekadar informasi, tapi juga pembelaan.

Pak Wira membuka map itu.

Ia membaca beberapa paragraf pertama.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Tulisan itu sederhana, tapi jujur.

Tidak berlebihan.

Tidak dibuat-buat.

Ada luka di sana.

Ada perjuangan.

Ada sesuatu yang terasa sangat manusiawi.

Dan entah kenapa, setiap kalimat membuat Pak Wira merasa tidak nyaman.

Bukan karena tulisannya buruk.

Justru karena terlalu baik.

Terlalu nyata.

Seolah memaksa seseorang melihat sesuatu yang selama ini sengaja dihindari.

Bu Ratna menatapnya.

“Kadang anak-anak tidak butuh kita menjadi hakim bagi hidup mereka, Pak.”

Pak Wira tidak menjawab.

Bu Ratna melanjutkan perlahan.

“Mereka hanya butuh seseorang yang percaya bahwa mereka bisa.”

Kalimat itu seperti mengetuk ruang yang lama terkunci.

Namun Pak Wira tetap diam.

Karena beberapa penyesalan memang tidak mudah dijawab dengan kata-kata.

—

Hari-hari berikutnya diisi dengan ujian yang terus berjalan.

Setiap pagi Hana datang dengan rasa gugup.

Setiap siang ia p**ang dengan campuran lega dan cemas.

Ada soal yang terasa mudah.

Ada yang membuatnya ingin menangis.

Tetapi perlahan ia belajar satu hal penting—

ia tidak harus selalu sempurna untuk tetap berharga.

Dan itu mengubah banyak hal.

Di sela-sela ujian, ia juga mulai mempersiapkan presentasi esainya.

Awalnya kacau.

Sangat kacau.

Ia berkali-kali lupa urutan.

Suaranya terlalu pelan.

Tangannya gemetar.

Aisyah bahkan pernah tertawa karena Hana tiba-tiba diam selama satu menit hanya karena lupa kalimat pembuka.

“Kalau begini, nanti kamu presentasi pakai bahasa isyarat saja,” godanya.

Hana melempar bantal kecil ke arahnya.

Namun di balik semua itu, ia terus mencoba.

Setiap malam.

Sedikit demi sedikit.

Ia berlatih di depan cermin.

Di halaman asrama.

Kadang di mushala.

Kadang hanya dalam hati sebelum tidur.

Ia tahu ia belum hebat.

Tapi setidaknya, ia tidak lagi lari.

Dan itu sudah sebuah kemajuan besar.

—

Hari presentasi akhirnya tiba.

Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Atau mungkin hanya karena tangan Hana yang terlalu gugup.

Ia berdiri di depan aula kecil pesantren sambil menggenggam mapnya erat.

Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Di dalam aula, beberapa guru sudah hadir.

Bu Ratna.

Ustadz Fahmi.

Beberapa ustadzah.

Dan tentu saja—

Pak Wira.

Melihat sosok itu, rasa percaya dirinya sempat goyah.

Aisyah yang berdiri di sampingnya langsung berbisik,

“Jangan lihat beliau. Lihat masa depanmu.”

Hana hampir tertawa.

“Nasihat macam apa itu?”

“Nasihat mahal. Gratis hari ini.”

Bel dipukul pelan.

Acara dimulai.

Satu per satu peserta maju.

Semakin dekat gilirannya, semakin dingin telapak tangannya.

Nomor tiga.

Nomor empat.

Nomor lima.

“Hana Rahmawati.”

Namanya dipanggil.

Dunia seperti berhenti sesaat.

Aisyah menggenggam tangannya cepat.

“Kamu bisa.”

Hana menelan ludah.

Lalu berdiri.

Langkah menuju depan ruangan terasa sangat panjang.

Setiap pasang mata seperti memperhatikannya.

Ia berdiri di depan.

Tangannya memegang kertas.

Jantungnya berisik sekali.

Ia menarik napas.

Sekali.

Dua kali.

Lalu ia teringat—

Berani bukan berarti tidak takut.

Berani adalah tetap melangkah meski takut.

Ia mengangkat kepala.

Menatap ke depan.

Dan mulai berbicara.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

Suaranya sempat bergetar.

Namun ia melanjutkan.

Tentang kehilangan.

Tentang perjuangan.

Tentang orang-orang yang tetap berjalan meski hidup berkali-kali membuat mereka ingin berhenti.

Tentang tangan-tangan rapuh yang justru paling kuat karena tidak pernah menyerah.

Semakin lama, suaranya semakin stabil.

Ia tidak lagi membaca.

Ia bercerita.

Dari hati.

Dan ketika seseorang berbicara dari hati, orang lain akan mendengarnya dengan cara yang berbeda.

Ruangan menjadi sunyi.

Bukan karena bosan.

Tetapi karena semua orang benar-benar mendengar.

Bahkan Pak Wira.

Ia duduk diam, menatap Hana tanpa ekspresi yang mudah dibaca.

Namun ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang tidak biasa.

Ketika Hana menyelesaikan kalimat terakhirnya, suasana hening beberapa detik.

Lalu tepuk tangan terdengar.

Pelan.

Kemudian semakin ramai.

Hana hampir tidak percaya.

Ia menunduk kecil.

“Terima kasih.”

Lalu kembali ke tempat duduknya.

Tangannya masih gemetar.

Tapi kali ini bukan karena takut.

Melainkan lega.

Dan mungkin… bangga.

Aisyah langsung memeluknya.

“ITU tadi luar biasa!”

Hana tertawa sambil hampir menangis.

“Aku pikir aku akan pingsan.”

“Tapi kamu tidak pingsan. Kamu bersinar.”

Kalimat itu membuat Hana terdiam.

Bersinar.

Ia belum pernah memikirkan dirinya dengan kata itu.

Tapi hari ini…

mungkin untuk pertama kalinya, ia mulai percaya.

—

Setelah acara selesai, para peserta diminta menunggu hasil penilaian.

Hana duduk diam di bangku taman belakang aula.

Tangannya masih dingin.

Namun hatinya jauh lebih tenang.

Apa pun hasilnya nanti, hari ini ia sudah menang melawan dirinya sendiri.

Dan itu lebih besar dari sekadar juara.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Hana menoleh.

Pak Wira.

Ia berdiri beberapa langkah darinya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, beliau berkata—

“Presentasimu… bagus.”

Hana terdiam.

Ia benar-benar tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut beliau.

Pak Wira melanjutkan,

“Kamu… lebih kuat dari yang saya kira.”
.........

Bersambung

27/05/2026
Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Karawang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Desa Rawasari Kec. Cilebar Kab. Karawang
Karawang