Do'a dan zikir
Allahu Akbar, Meneruskan nasihat dari berbagai sumber . Barakallahu fiik
23/05/2026
_*HIKMAH PAGI (509)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*UJIAN KEIKHLASAN DI TENGAH POTENSI RIYA’*
Qurban adalah ibadah yang sangat mulia. Tetapi di balik kemuliaannya, qurban juga menjadi ujian besar bagi hati manusia. Karena qurban adalah ibadah yang sangat mudah terlihat orang lain.
Orang bisa melihat hewan qurban kita. Orang bisa mengetahui berapa ekor yang kita sembelih. Bahkan kadang nama dan foto dipasang di mana-mana.
Di sinilah qurban menguji, apakah kita berqurban karena Allah, atau karena ingin dipuji manusia?
Inilah yang disebut riya’, yaitu beramal agar dilihat dan dihargai orang lain.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa riya’ adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Sebab amal yang terlihat besar bisa kehilangan nilainya di sisi Allah jika niatnya salah.
Allah melihat bukan ukuran sapi atau banyaknya kambing, tetapi ketulusan hati orang yang berqurban.
Kadang yang berat dalam qurban bukan membeli hewannya, tetapi menjaga niatnya.
Karena syaitan tidak selalu menggoda manusia agar meninggalkan ibadah. Kadang syaitan justru membiarkan orang beribadah, tetapi merusak keikhlasannya.
Maka setelah berqurban jangan sibuk menghitung pujian manusia. Jangan merasa lebih mulia dari orang lain. Jangan sampai qurban berubah menjadi ajang pamer kemampuan.
Qurban sejatinya mengajarkan kita untuk mengorbankan ego, kesombongan dan rasa ingin dipuji.
Kalau pun orang lain tahu kita berqurban, jadikan itu hanya sebagai konsekuensi, bukan tujuan.
Ibadah yang ikhlas mungkin tidak banyak dibicarakan manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, amal yang dipuji manusia belum tentu diterima oleh Allah.
Karena itu mari kita berqurban dengan hati yang bersih. Bukan untuk pop**aritas, bukan untuk gengsi, tetapi semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
HIKMAH PAGI - WhatsApp channel
Follow HIKMAH PAGI's WhatsApp Channel. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun setiap pagi selalu menyimpan kesempatan baru untuk belajar dan bertumbuh. Hikmah Pagi hadir sebagai renungan sederhana tentang pelajaran kehidupan sehari-hari yang berpijak pada Al-Qur’an dan hadis.
Penulis mengajak untuk memulai hari dengan kesadaran, memaknai peristiwa-peristiwa kecil dengan hati yang jernih, serta menata niat agar langkah tetap sejalan dengan nilai iman. Ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan membumi, Hikmah Pagi disajikan satu hikmah disetiap pagi, sebagai teman refleksi untuk menumbuhkan syukur, kesabaran, dan ketenangan dalam menjalani hidup.. Join 301 followers for the latest updates.
_*HIKMAH PAGI (504)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*DI BALIK SEPIRING NASI*
Pernahkah kita sadari bahwa doa makan yang kita baca selama ini menggunakan kata (ganti) kami bukan saya (Allaahumma barik lana bukan allahumma barik lii, ya Allah berkahilah kami bukan berkahilah saya)
Ini mengajarkan bahwa makanan yang kita makan bukan hasil kerja satu orang saja.
Di balik sepiring nasi yang kita santap, ada begitu banyak tangan, tenaga, keringat, dan doa orang lain yang terlibat.
Nasi yang kita makan melibatkan petani yang menanam padi di bawah panas matahari.
Sayur yang kita makan melibatkan petani kebun, pengangkut, pedagang pasar, hingga orang yang memasaknya.
Ikan yang kita santap melibatkan nelayan yang berlayar melawan ombak.
Daging yang kita makan melibatkan peternak yang merawat hewan bertahun-tahun.
Air yang kita minum melibatkan banyak orang yang membersihkan, memfilter, menyalurkan, dan mendistribusikannya.
Bahkan makanan yang sampai di meja kita juga melibatkan sopir, pedagang, buruh, penjaga toko, hingga orang yang mungkin tidak pernah kita kenal namanya.
Maka ketika kita berdoa, “Allahumma baarik lanaa…”, sesungguhnya kita sedang belajar bahwa hidup ini tidak bisa dijalani sendirian.
Ada keterlibatan banyak manusia dalam setiap nikmat Allah.
Karena itu doa makan bukan hanya doa untuk diri sendiri, tetapi doa sosial.
Doa yang diam-diam ikut mengalir kepada banyak orang yang berjasa dalam hadirnya makanan di hadapan kita.
Saat ini banyak orang merasa dirinya hebat sendirian. Padahal sekuat apa pun manusia, ia tetap membutuhkan orang lain.
Bahkan untuk makan satu suap nasi saja, kita bergantung pada kerja keras banyak orang.
Karena itu jangan sombong.
Kalau kita masih bisa makan enak hari ini, itu bukan hanya karena usaha kita, tetapi karena Allah menggerakkan begitu banyak manusia untuk saling membantu dalam kehidupan.
Maka mulai hari ini, jangan baca doa makan sekadar rutinitas.Tapi perlu menghayati bahwa ada petani yang berkeringat, ada nelayan yang berjuang, ada buruh yang bekerja, ada ibu yang memasak, dan ada banyak orang yang tanpa kita kenal ikut menjadi jalan datangnya rezeki dari Allah SWT.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
@semua
بسم الله الرحمن الرحيم
" Beberapa Hari Lagi Menuju Bulan Dzulhijjah
LARANGAN MENCUKUR RAMBUT DAN MEMOTONG KUKU BAGI YANG INGIN BERQURBAN
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”[2]
Maka hadits ini menunjukkan terlarangnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijah (mulai dari tanggal 1 Dzulhijah, pen).
Hadits pertama menunjukkan perintah untuk tidak memotong (rambut dan kuku). Asal perintah di sini menunjukkan wajibnya hal ini. Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang wajib ini. Sedangkan riwayat kedua adalah larangan memotong (rambut dan kuku).
Asal larangan di sini menunjukkan terlarangnya hal ini, yaitu terlarang memotong (rambut dan kuku). Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang melarang hal ini.
Secara jelas p**a, hadits ini khusus bagi orang yang ingin berqurban. Adapun anggota keluarga yang diikutkan dalam pahala qurban, baik sudah dewasa atau belum, maka mereka tidak terlarang memotong bulu, rambut dan kuku. Meraka (selain yang berniat qurban) dihukumi sebagaimana hukum asal yaitu boleh memotong rambut dan kulit dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari hukum asal ini.
Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
[Diambil dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal lIfta’, soal ketiga dari Fatwa no. 1407, 11/426-427, Darul Ifta’]
https://rumaysho.com/664-larangan-mencukur-rambut-dan-memotong-kuku-bagi-yang-ingin-berqurban.html
10/05/2026
_*HIKMAH PAGI (496)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*PENYAKIT LUPA BERSYUKUR*
Allah SWT berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al- Adiyat: 6).
Ayat ini pendek, tetapi sangat dalam maknanya.
Kata “kanuud” artinya manusia sering lupa bersyukur. Nikmat Allah begitu banyak, tetapi yang diingat justru kekurangan hidupnya.
Dikasih tubuh sehat, masih mengeluh.
Dikasih rumah, kendaraan mewah dan fasilitas hidup lainnya, masih iri dengan orang lain.
Dikasih pekerjaan, masih merasa kurang.
Dikasih keluarga, malah sibuk mencari perhatian di luar rumah.
Inilah penyakit manusia modern hari ini, mudah mengeluh, sulit bersyukur.
Kita hidup di era teknologi canggih. Makanan mudah didapat, informasi mudah diakses, komunikasi begitu cepat. Tetapi hati manusia justru semakin gelisah.
Mengapa demikian?
Karena banyak orang dekat dengan dunia, tetapi jauh dari Allah.
Hari ini orang bisa berjam-jam memegang HP, tetapi berat memegang Al-Qur’an beberapa menit saja.
Mudah update status, tetapi sulit memperbaiki kualitas shalatnya.
Semangat mengejar sinyal internet, tetapi lemah mencari sinyal hidayah.
Padahal kalau Allah mencabut satu nikmat saja, barulah manusia sadar betapa berharganya nikmat itu.
Ketika sehat, lupa bersyukur. Begitu sakit, baru sadar nikmat sehat luar biasa.
Ketika masih punya orang tua, sering membantah. Begitu mereka tiada, barulah terasa kehilangan.
Ayat tersebut juga mengingatkan kita agar jangan menjadi manusia “kanuud”, manusia yang pandai menghitung masalah, tetapi lupa menghitung nikmat Allah.
Ciri orang bersyukur bukan sekadar mengucap Alhamdulillah, tetapi menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah.
Punya ilmu, dipakai mengajar kebaikan. Punya harta, dipakai membantu sesama. Punya media sosial, dipakai menyebarkan manfaat.
Oleh karena itu, setiap kita perlu terus belajar bersyukur.
Sebab hati yang bersyukur akan lebih tenang daripada hati yang selalu membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
@semua
Ikuti saluran HIKMAH PAGI di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb7cCwz6GcG6Bd7Hjz0J
HIKMAH PAGI - WhatsApp channel
Follow HIKMAH PAGI's WhatsApp Channel. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun setiap pagi selalu menyimpan kesempatan baru untuk belajar dan bertumbuh. Hikmah Pagi hadir sebagai renungan sederhana tentang pelajaran kehidupan sehari-hari yang berpijak pada Al-Qur’an dan hadis.
Penulis mengajak untuk memulai hari dengan kesadaran, memaknai peristiwa-peristiwa kecil dengan hati yang jernih, serta menata niat agar langkah tetap sejalan dengan nilai iman. Ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan membumi, Hikmah Pagi disajikan satu hikmah disetiap pagi, sebagai teman refleksi untuk menumbuhkan syukur, kesabaran, dan ketenangan dalam menjalani hidup.. Join 301 followers for the latest updates.
_*HIKMAH PAGI (489)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*HIDUP TANPA HIDAYAH BAGAI HP CANGGIH TANPA JARINGAN*
_*Oleh: Muhammad Arham*_
Sekarang ini, hampir semua orang punya HP canggih. Layarnya jernih, memorinya besar, kameranya luar biasa. Tapi coba bayangkan, ketika HP itu tidak ada jaringan. Apa yang terjadi?
Tidak bisa kirim pesan. Tidak bisa telepon. Tidak bisa akses informasi, bahkan aplikasi terbaik pun jadi tidak berguna. Padahal secara fisik, HP itu sempurna.
Begitulah hidup manusia tanpa hidayah dari Allah.
Kita bisa saja cerdas, punya titel tinggi, punya harta, punya jabatan, bahkan terlihat sukses. Tapi kalau tidak tersambung dengan Allah, maka hidup ini kehilangan arah, kehilangan makna.
Hidayah itu ibarat jaringan langit.
Ia yang menghubungkan hati kita dengan kebenaran.
Ia yang membuat kita tahu mana yang benar, dan memberi kekuatan untuk menjalaninya.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa bukan mata yang buta, tapi hati yang ada di dalam dada. Artinya, masalah terbesar manusia bukan kurangnya fasilitas hidup, tapi terputusnya koneksi dengan petunjuk Allah.
Kadang kita sibuk “meng-upgrade” dunia kita. Upgrade kendaraan, upgrade rumah, upgrade gadget, tapi kita lupa meng-upgrade “sinyal iman” kita.
Padahal, tanpa hidayah, orang bisa salah jalan meski ilmunya tinggi. Orang bisa gelisah meski hartanya banyak. Orang bisa tersesat meski dikelilingi kemewahan.
Maka setiap hari kita membaca, "Tunjukkan kami jalan yang lurus".
Ini bukan sekadar bacaan, tapi pengakuan bahwa kita butuh jaringan hidayah setiap saat.
Bayangkan kalau HP kita kehilangan sinyal satu jam saja, kita sudah gelisah. Tapi kenapa ketika hati kita lama tidak tersambung dengan Allah, kita biasa-biasa saja?
Inilah yang harus kita renungkan.
Hidayah tidak datang hanya karena pintar. Tidak juga karena usia, tapi ia datang kepada hati yang mau mencari, mau merendah, dan mau mendekat kepada Allah.
Caranya, baca petunjukNya, perbaiki shalat, jaga hati dari dosa, dan terus minta hidayah.
Karena sejatinya, hidup yang paling bahagia bukan yang paling mewah, tapi yang paling terhubung dengan Allah.
Allaaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
01/05/2026
_*HIKMAH PAGI (487)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*MENDIDIK AKAL, MENJAGA AKHLAK DI ERA DIGITAL*
Setiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Ini bukan sekadar seremonial, tetapi momen untuk merenung, sudah sejauh mana pendidikan membentuk manusia, bukan hanya pintar, tapi juga berkarakter?.
Kita hidup di zaman yang luar biasa. Teknologi informasi berkembang sangat pesat. Dalam genggaman tangan, siswa hari ini bisa mengakses ilmu dari seluruh dunia. Ini adalah nikmat besar.
Namun di balik itu, ada tantangan yang besar dan dasyat.
Perilaku siswa masa kini mulai banyak dipengaruhi oleh dunia digital. Ada yang lebih sibuk dengan layar daripada belajar. Ada yang mudah terpengaruh budaya luar tanpa filter. Bahkan, tidak sedikit yang kehilangan adab, baik kepada guru maupun orang tua.
Padahal dalam Islam, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan otak, tapi juga kebersihan hati dan akhlak.
Imam Malik pernah berkata, "Pelajarilah adab sebelum ilmu."
Artinya, teknologi boleh maju, tetapi adab tidak boleh luntur apalagi mundur.
Hari ini kita lihat, informasi mudah didapat, tapi kebijaksanaan semakin langka. Komunikasi semakin cepat, tapi sopan santun semakin lambat. Banyak yang tahu segalanya, tapi lupa siapa dirinya. Inilah tantangan pendidikan kita hari ini.
Hardiknas seharusnya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya. Cerdas pikirannya, lurus akidahnya, baik akhlaknya.
Teknologi bukan musuh. Tapi tanpa iman dan akhlak, teknologi bisa menjadi bumerang.
Oleh karenanya;
*Guru* bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga mendidik.
*Orang tua* bukan hanya memberi fasilitas, tapi juga mengawasi.
*Siswa* bukan hanya mencari nilai, tapi juga mencari makna hidup.
Akhirnya, Hardiknas ini dapat dijadikan sebagai titik balik. Kita arahkan generasi muda agar tidak hanya “melek teknologi”, tapi juga “melek hati”. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukan seberapa canggih teknologi kita, tapi seberapa baik akhlak kita.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
@semua
Ikuti saluran HIKMAH PAGI di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb7cCwz6GcG6Bd7Hjz0J
HIKMAH PAGI - WhatsApp channel
Follow HIKMAH PAGI's WhatsApp Channel. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun setiap pagi selalu menyimpan kesempatan baru untuk belajar dan bertumbuh. Hikmah Pagi hadir sebagai renungan sederhana tentang pelajaran kehidupan sehari-hari yang berpijak pada Al-Qur’an dan hadis.
Penulis mengajak untuk memulai hari dengan kesadaran, memaknai peristiwa-peristiwa kecil dengan hati yang jernih, serta menata niat agar langkah tetap sejalan dengan nilai iman. Ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan membumi, Hikmah Pagi disajikan satu hikmah disetiap pagi, sebagai teman refleksi untuk menumbuhkan syukur, kesabaran, dan ketenangan dalam menjalani hidup.. Join 301 followers for the latest updates.
_*CERITA MALAM (305)*_
*ABU NAWAS MENGGAJI BAYANGAN*
_*Disadur oleh: Muhammad Arham*_
Di suatu siang yang terik, Abu Nawas berjalan santai di pasar Baghdad. Tiba-tiba ia melihat seorang majikan memarahi pelayannya.
“Kau ini kerja apa saja? Sudah kubayar mahal, tapi hasilnya nol!”
Si pelayan menunduk. “Tuan, saya sudah bekerja seharian…”
“Tapi aku tidak melihat hasilnya!” bentak sang majikan.
Abu Nawas mendekat, tersenyum kecil.
“Wahai Tuan, kalau begitu mulai hari ini gajilah bayangan saja.”
Semua orang langsung tertawa.
“Abu Nawas, kau ini makin aneh. Bayangan kok digaji!”
Abu Nawas tidak tersinggung. Ia justru mengambil sekeping uang, lalu meletakkannya di bawah sinar matahari.
“Lihat ini,” katanya. “Ini gaji untuk bayangan.”
Orang-orang bingung.
“Mana bayangannya?” tanya seorang pedagang.
Abu Nawas menunjuk bayangan uang itu di tanah.
“Nah, itu bayangannya. Sama seperti Tuan tadi—ingin melihat hasil tanpa memahami proses. Menggaji manusia tapi yang dihargai hanya ‘bayangan’ kerjanya saja.”
Sang majikan mulai terdiam.
Abu Nawas melanjutkan,
“Kalau Tuan hanya menghargai apa yang terlihat sekilas, bukan usaha yang sebenarnya, maka sama saja Tuan menggaji bayangan, bukan manusia.”
Kerumunan mulai mengangguk-angguk. Si pelayan pun tersenyum tipis.
Sang majikan akhirnya berkata pelan,
“Baiklah… mungkin aku yang keliru.”
Abu Nawas hanya tersenyum sambil berjalan pergi, meninggalkan pasar yang kini terasa lebih sunyi, karena orang-orang sedang berpikir.
Hikmah cerita
*Jangan menilai hanya dari yang terlihat, karena usaha sering tersembunyi.
*Menghargai proses lebih penting daripada sekadar hasil.
*Jika hanya melihat “bayangan”, kita bisa kehilangan nilai yang sebenarnya.
Barakallah fiikum.
_*SELAMAT BERISTIRAHAT*_
_*HIKMAH PAGI (483)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*JANGAN TERSESAT DI JALAN YANG DIPILIH SENDIRI*
_*Oleh: Muhammad Arham*_
Ada satu ayat yang sangat dalam maknanya dari Al-Qur'an, yaitu Surah Al-Fatihah ayat 7,yang artinya, ” (Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan p**a jalan mereka yang sesat.”
Ayat ini unik. Kenapa? Karena tidak hanya meminta “jalan yang benar”, tapi juga minta dijauhkan dari dua jenis jalan yang salah, yang dimurkai dan yang sesat.
Dalam ayat ini p**a dikemukakan ada tiga golongan manusia;
*Pertama,* orang yang diberi nikmat. Mereka tahu kebenaran, dan mereka jalani. Ilmunya ada, amalnya juga jalan.
*Kedua,* orang yang dimurkai. Ini menarik, karena mereka sebenarnya tahu yang benar, tapi tidak mau mengikuti.
Ibaratnya tahu diet sehat itu penting, tapi tiap malam tetap bilang, “Besok saja mulai dietnya.”
*Ketiga,* orang yang sesat. Mereka tidak tahu arah, akhirnya berjalan tanpa tujuan.
Seperti orang nyasar tapi percaya diri. Ditanya, “Mau ke mana?”
Jawabnya, “Tidak tahu, yang penting jalan dulu.”
Ayat ini juga sedang menggambarkan satu realitas hidup bahwa masalah manusia bukan cuma kebodohan, tapi juga pembangkangan.
Ada orang yang tersesat karena tidak tahu. Itu masih bisa diperbaiki dengan belajar. Tapi ada orang yang sudah tahu, malah memilih jalan lain. Ini yang lebih berbahaya.
Dalam kehidupan sekarang, fenomena ini sangat nyata.
Ada yang bilang, “Saya tahu itu salah… tapi ya
bagaimana lagi, enak sih.”
Ini bukan lagi masalah tidak tahu, tapi masalah tidak mau.
Makanya dalam ayat ini seseorang meminta dua perlindungan sekaligus. Dilindungi dari kebodohan (al-maghdub) yang menyesatkan dan dilindungi dari kesombongan (ad-dhalliin) yang membuat menolak kebenaran.
Kadang kita merasa sudah di jalan yang benar, padahal belum tentu.
Karena tanda orang di jalan yang benar bukan hanya merasa benar, tapi mau terus belajar dan mau dikoreksi.
Lucunya, manusia itu aneh. Kalau tersesat di jalan raya, langsung buka GPS. Tapi kalau tersesat dalam hidup, malah buka dan percaya komentar netizen.
Padahal petunjuk hidup sudah jelas ada dalam Al-Qur'an.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
_*HIKMAH PAGI (482)*_
_*بسم الله الرحمن الرحيم*_
_*السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*_
*MEMINTA JALAN TAPI SERING LUPA*
_*Oleh: Muhammad Arham*_
Dalam hidup ini, sering bingung menentukan arah. Mau ke mana? Pilihan mana yang benar? Bahkan kadang, lebih lama mikir mau makan apa daripada mikir hidup ini mau dibawa ke mana.
Nah, menariknya, di setiap rakaat shalat, seorang muslim membaca satu doa yang sangat sederhana tapi luar biasa dalam, "Ihdinasshiratal mustaqim", Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Secara logika, ini unik. Kenapa masih minta petunjuk, padahal sudah Muslim, sudah shalat, bahkan mungkin rajin ikut kajian?.
Jawabannya, karena mengetahui jalan tidak sama dengan bertahan di jalan.
Banyak orang tahu jalan ke masjid, tapi beloknya ke kasur, ke mall, ke warkop dst. Banyak yang tahu mana yang halal, tapi diskonnya yang haram lebih menggoda.
Di sinilah ffilosofi doa ini dalam sekali. Hidayah itu bukan sekali jadi, tapi harus diminta terus-menerus.
Seperti GPS. Kita pakai Google Maps, kalau salah belok, dia bilang: “putar balik”.
Nah, manusia juga begitu. Sering salah arah, dan doa ini adalah “putar balik” versi spiritual seorang muslim.
“Ihdina…” bukan hanya “tunjukkan”, tapi juga bimbing terus. Karena jalan lurus itu bukan jalan yang kosong hambatan. Justru seringkali jalannya sepi, tidak populer, bahkan kadang terasa berat melintasinya.
Makanya tidak dikatakan, “Tunjukkan aku jalan lurus,” tapi “tunjukkan kami jalan lurus.”
Artinya, butuh kebersamaan. Butuh lingkungan yang saling menguatkan.
Kalau sendirian, iman bisa naik turun. Tapi kalau berjamaah, bisa saling tarik kalau ada yang mulai melenceng.
Selain itu doa ini mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar berjalan, tapi berjalan di jalan yang benar.
Bukan sekadar cepat, tapi tepat.
Karena banyak orang yang cepat dalam hidup, tapi ternyata salah arah.
Dan ketika sadar, sudah terlalu jauh untuk kembali.
Maka, setiap membaca “Ihdinash-shirathal mustaqim,” hadirkan hati, rasakan bahwa hamba-Mu ini benar-benar butuh bimbingan. Karena pada akhirnya,
Kesuksesan terbesar bukanlah sampai ke tujuan dunia,
tapi tetap berada di jalan yang lurus sampai akhir hayat.
Allaahu a'lam wabaarakallaah
_*Selamat beraktivitas, semoga Allah SWT tetap mencurahkan hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.*_
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Mamuju
91464