Risalah Bumi
Bumi beserta alam raya telah menyediakan semua kebutuhan manusia.
Fitrah Manusia: Makhluk Yang Baik
Oleh: Suparmono Ichsan
Ahad, 03-10-1444 H/23-04-2023 M
Bismillahitawaqalna’alallah
Berpuasa Ramadhan, orang-orang beriman dalam satu bulan penuh telah “mengeringkan lautan ego-nya.” Berlapar dan menahan dahaga saat haus sepanjang siang hari. Melawan ego alamiah jasadiyah, yang semestinya harus makan tatkala lapar serta minum untuk menghilangkan dahaga, terlebih lagi bila cuaca sedang panas ekstrem.
Suatu pilihan yang secara jasadiyah pasti terasa berat dan tidak nyaman, namun terasa ada nikmat secara ruhani. Baik karena takut dosa bila tidak berpuasa ataupun yang menjalaninya dengan s**a rela, pada dasarnya ini semua digerakkan oleh kesadaran untuk memenuhi panggilan keimanan.
Manusia yang dikenali secara kasat mata sebagai makhluk jasadiyah, pada dasarnya adalah sebagai makhluk ruh. Yang akan mati dan kembali menjadi tanah adalah jasad-nya, sedangkan ruh-nya akan kembali kepada-Nya.
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil sumpah terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini." (Al-A’raf, QS. 7: 172).
Ayat ini mengingatkan bahwa pernah terjadi perjanjian di alam ruh. Akal manusia yang tidak percaya akan berdalih bahwa mereka merasa tidak pernah bersaksi akan hal ini. Tidak ada ingatan dalam memory otak. Tidak akan ingat saat lahir dan pertama kali dimandikan hingga disusui oleh ibunya. Bahkan kejadian di usia 3 – 5 tahun pun pasti hanya sedikit sekali yang bisa diingat.
Maka Al-Qur’an mengabarkan bahwa setiap jiwa keturunan Adam ketika di alam ruh sudah berikrar untuk membenarkan dan bersumpah bahwa Allah adalah sebagai Robb-nya.
“Pengertian Rabb itu bukan sekadar Tuhan. Tetapi lebih luas, Dia sebagai Maha Pencipta, termasuk Sang Maha Pengatur, Maha Mendidik, Maha Memiliki dan Maha Menata. Belum bisa menemukan terjemahan Rabb dalam satu ungkapan bahasa Indonesia,” (Prof. Dr. KH. M. Roem Rowi, M.A.)
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Ar Rum, QS. 30: 30).
Fitrah manusia itu baik. Semua manusia mencintai akan hal amanah, kejujuran, integritas, keikhlasan, keberanian, kekuataan, perdamaian, mempertahankan kehormatan, memperjuangkan hak, kebersihan, kesucian, kedermawanan, kekayaan, kebaikan, pengasih, pemurah, kasih sayang, pengetahuan/ilmu, kesetiaan dan semua sifat baik lainnya.
Kembali pada sifat asal dan pembawaan manusia yang berlaku universal. “Kullu mauludin yuladu 'alal fithrati.” Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah. (Al-Hadits). Makna Idul Fitri adalah manusia harus siap untuk menerima kenyataan bahwa dirinya sebagai makhluk baik, maka harus diperlakukan dengan tatakelola yang baik. Dan Al-Qur’an memfasilitasi itu semua.
Allahua’alam, walhamdulillah.
21/04/2023
Puasa dan Solidaritas Sosial (Bagian-2)
Zakat Fitrah, Menyempurnakan Puasa Ramadhan
Oleh: Suparmono Ichsan
Kamis, 29-09-1444 H/20-04-2023 M.
Al Qur’an meletakkan perintah untuk menunaikan zakat sejajar dengan perintah menegakkan sholat. Demikian pentingnya perintah zakat, setidaknya dimuat dalam 31 ayat.
Berikut diantaranya:
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (Al-Baqarah, QS. 2: 43)
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah, QS. 2: 110)
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Al-Maidah, QS. 5: 55)
Islam mensyari’atkan beberapa zakat. Zakat fitrah wajib bagi semua orang: laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, bayi baru lahir serta hamba sahaya. Sedangkan zakat mall (zakat harta) ditunaikan berdasarkan hitungan nishob.
Tujuan zakat adalah untuk membersihkan jiwa dan hartanya. Bagi muzakki, dengan menunaikan zakat maka akan membesihkan dirinya dari sifat pelit, kikir dan apatis terhadap kondisi sosial sekitar (orang miskin), karena dalam harta seseorang ada hak orang lain. Sedangkan bagi mustahik, karena sudah menerima zakat, akan membersihkan dirinya dari sifat iri dan dengki.
Menutup dan menyempurnakan ibadah puasa bulan Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW membawa syari'atNya, zakat fitrah:
فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةَ لِلصَّائِمِ مِنْ الَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةَ لِلْمَسَاكِيْنَ
"Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri orang puasa dari perbuatan sia-sia (al-laghw) dan perkataan kotor (ar-rafats), sekaligus untuk memberi makan orang-orang miskin."
Rasullullah menunaikan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan, bukan mata uang dirham atau dinar yang saat itu berlaku sebagai alat bayar dan alat tukar.
Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
“Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fitri berupa satu sho’ bahan makanan, atau satu sho’ kurma, atau satu sho’ gandum, atau satu sho’ kismis/anggur kering.” (HR. Bukhari no. 1437 dan Muslim no. 985)
Dalam riwayat lain dari Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985 disebutkan:
أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ
“Atau satu sho’ keju.”
Sho’ adalah satuan takaran. Di zaman Rasulullah yang berlaku adalah sha’ masyarakat Madinah, setara dengan empat mud. Satu mud adalah seukuran satu cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan. Maka satu sha’ adalah empat kali cakupan penuh dua telapak tangan normal yang digabungkan.
oooOOOooo
Sholat adalah tiang agama, dengan memperhatikan kedudukan yang sejajar dengan sholat, maka zakat bisa disebut sebagai satu diantara tiang agama.
Allahua’lam, walhamdulillah.
Puasa dan Solidaritas Sosial (Bagian – 1)
Nabi Yusuf AS, Puasanya Pejabat Negara.
Oleh: Suparmono Ichsan
Rabu, 28-09-1414 H/19-04-2023 M
Bismillahitawaqalna ‘alallah.
“Aku khawatir jika perutku selalu kenyang, aku lupa terhadap orang yang lapar."
Adalah kalimat mashur Nabi Yusuf AS, ketika ditanyakan mengapa masih tetap berpuasa, sedangkan saat itu sudah menjadi pejabat negara.
Yusuf AS memiliki tradisi laku puasa yang panjang untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Sejak dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya yang dipimpin Yahuda, hingga ketika menjalani hukuman dalam penjara demi menjaga nama baik pembesar negeri Mesir akibat fitnah.
Saat di dalam sumur maupun di dalam penjara, Yusuf AS sedang “dipaksa” uzlah, mengasingkan diri untuk merenung. Puasa adalah sebagai jalan menajamkan hati, sehingga Yusuf AS memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Kecerdasan dan kontemplasi yang mendalam telah membuka ruang dalam jiwanya ilmu untuk membuka hijab dari rahasia-rahasia yang tidak diketahui orang lain.
Nabi Yusuf AS memiliki keahlian untuk menafsirkan mimpi.
وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
Raja berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang takbir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi." (Yusuf, QS. 12: 43).
Nabi Yusuf AS menterjemahkannya bahwa akan terjadi musim paceklik yang panjang.
Dengan kecerdasan yang dimiliki, Yusuf AS dipercaya untuk mengelola potensi negara dan ditunjuk menjadi bendahara negeri Mesir dengan julukan Al Mu’minun Amin (Ahli yang kokoh dan terpercaya).
Dengan otoritasnya sebagai pejabat pengelola negara, Nabi Yusuf berhasil menjaga suplai logistik dan kebutuhan pokok masyarakat saat terjadi krisis pangan selama paceklik tujuh tahun. Sebagai catatan penting: bahwa ketersediaan pangan dan keamanan tidak bisa dipikul oleh individu ataupun kelompok. Masalah yang sangat vital ini hanya bisa dihadirkan oleh negara.
Keberhasilan Yusuf AS tak lepas dari kebersaihan jiwa dan ketajaman hatinya yang tetap terjaga dengan laku puasa. Sekalipun ketika itu, bila mau semua fasilitas kemewahan tersedia, karena Yusuf AS telah menjadi pemimpin di negeri Mesir.
Allahua’lam, walhamdulillah.
Puasa Bukan Monopoli Manusia
Oleh: Suparmono Ichsan
Selasa, 21-09-1444 H/11-04-2023 M
Pada dasarnya perintah puasa sudah tertulis dalam DNA makhluk ciptaannya. Baik binatang maupun tetumbuhan.
Binatang, makhluk yang terdekat manusia berpuasa atas panggilan insting-nya. Naluri alamiah untuk alasan kesehatan, keberlangsungan hidup dan melanjutkan keturunan.
Induk ayam betina, mengerami telurnya hingga menetas. Selama dua puluh satu hari induk ayam tidak makan dan minum. Akibatnya suhu tubuhnya naik, untuk menghangatkan telurnya dalam sarang hingga waktunya menetas.
Model pengeraman telur ayam ini telah diadopsi menjadi mesin penetas telur dalam industri peternakan.
Yang spektakuler dan sering menjadi i’tibar bagi manusia adalah puasanya ulat menjadi kupu-kupu. Metamorfosis sempurna.
Telur kupu-kupu yang menempel di daun, menetas menjadi ulat. Selama menjadi ulat, dia hampir tak pernah berhenti makan. Tahapan berikutnya ulat mulai merubah dirinya menjadi kepompong. Air liurnya menjadi dinding pembungkus, pelindung kokoh yang menggantung di daun atau ranting.
Dalam fase kepompong, ulat menjalani laku bertapa. Tidak kena sinar matahari, tidak makan dan minum.
Proses dan perjuangan berat yang sangat tidak nyaman selama kisaran 15 – 20 hari ini berakhir dengan berubah wujud menjadi kupu-kupu. Hewan indah dipandang yang bisa terbang bebas, hinggap di bunga untuk mengisap madu.
Bunga pun mendapat mashlahat darinya, karena telah membantu proses penyerbukan.
Beruang, menjalani puasa dengan ber-hibernasi saat cuaca turun ekstrim akibat dari musim dingin. Di daerah dingin Alaska, hibernasi beruang bisa sampai tujuh bulan. Sedangkan di tepi pantai Amerika Utara masa hibernasi berlangsung 2 – 5 bulan.
Saat akhir musim gugur, beruang telah mempersiapkan cadangan makanan dengan cara makan jauh lebih banyak dari dari biasanya. Dalam satu hari bisa makan sampai 45 kg dari berbagai jenis: berry, serangga, ikan, akar, rumput, dan hewan-hewan kecil lain. Dalam seminggu berat badannya bisa mencapai 30 pound (15 kg).
Beruang berhibernasi dalam sarang yang letaknya bisa di bawah pohon besar, di celah di bawah air terjun, atau di lubang pohon, dan juga lubang gua.
Untuk mempersiapkan sarang yang rumit ini, beruang memerlukan waktu 3-7 hari.
Saat hibernasi, metabolisme beruang menurun sebanyak 50%- 60%. Bernapas satu kali dalam 45 detik dari yang biasanya dalam 6 - 10 detik untuk sekali nafas. Detak jantung turun menjadi 8 - 19 kali per menit dari 40-50 per menit. Berat badan beruang menyusut 15-20% selama hibernasi.
Masih banyak binatang yang berpuasa. Ada ular, kelelawar, kucing, ikan, lintah dll.
Tetumbuhan berpuasa untuk merespon dan menyesuaikan dengan siklus alam, musim hujan dan musim kemarau.
Pohon jati akan menggugurkan semua daunnya selama musim kemarau, maka proses fotosintesis/”memasak” berhenti.
Pohon jati mulai berpuasa saat memasuki musim kemarau dan akan “berbuka puasa” ketika musim hujan datang. Daunnya tumbuh, dan kembali memasak di siang hari.
Tradisi puasa pohon jati ini bisa mengidentifikasi umurnya, dengan menghitung lapisan kayunya. Lapisan terang pertanda tumbuh di musim hujan, sedangkan lapisan berwarna gelap terbentuk saat menggugurkan daunnya di musim kemarau.
oooOOOooo
Jika manusia tidak mau berpuasa maka kelasnya turun di bawah derajat binatang dan tetumbuhan yang memiliki tradisi berpuasa.
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“... Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah, QS. 2: 184)
Jika puasa manusia tidak membawa perubahan ke arah peningkatan kualitas hidup, maka puasanya tidak lebih baik dari puasa ulat dan induk ayam.
Allahu’alam, walhamdulillah.
Puasa: Berlatih Mengendalikan Nafsu (Bagian – 2)
Teladan Menundukkan Ego.
Oleh: Suparmono Ichsan
Senin, 20-09-1444 H/10-04-2023 M
Bismillahitawaqalna ‘alallah.
Berikut saya hadirkan kembali dua peristiwa dalam sejarah awal perjuangan Islam, sebagai contoh tentang kemampuan menguasai ego/nafsu untuk meraih kemenangan.
Peristiwa 1
Dalam Perang Badar, Rasulullah Muhammad SAW bertindak sebagai panglima perang yang memimpin langsung Tentara Islam menghadapi tentara kafir Quraisy. Sampai lokasi yang ditetapkan, Rasullulah bersama tentaranya berhenti dengan mengambil posisi di dekat sumber air terdekat di Badar.
Al-Habbab bin Al-Mundzir, seorang "prajurit rendahan” mengajukan pertanyaan: “Wahai Rasulullah, apakah ini wahyu yang Allah turunkan kepadamu agar engkau tidak maju dan tidak mundur dari sini, atau sekadar pendapat, siasat perang, dan strategi?” Rasulullah menjawab: “Ini adalah pendapat, siasat dan strategi perang.” Jawab Rasullulah.
Selanjutnya Al-Habbab bin Al-Mundzir mengajukan usul agar bergeser menuju posisi lain yang lebih strategis untuk menguasai mata air, sekaligus memutus akses tentara kafir Quraisy dari sumber mata air. Dan Nabi SAW menerima usul tersebut.
Sebagaimana kita pahami, perang yang terjadi di tahun 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriyah ini dimenangkan secara gemilang oleh Tentara Islam.
+ + + +
Bila tanpa jiwa besar, bagaimana mungkin seorang panglima perang bisa menerima usul “prajurit rendahan” di hadapan para perwira dan seluruh pas**an. Panglima telah menanggalkan ego dan ke-aku-annya demi untuk memenangkan peperangan dalam rangkaian misi besar.
Pelajaran 2
Dalam perang Khandaq, Ali ibn Abi Thalib yang masih terhitung sangat yunior berani melayani tantangan duel Amr bin Abdul Wahab Al-Amiri, jagoan senior paling ditakuti dari kalangan Musyrikin Quraisy.
Dalam duel satu lawan satu ini, Ali radhiallah’anhu unggul, Amr bin Abdul Wahab sudah terpojok maka Ali bisa dengan leluasa menebas leher lawannya. Namun Ali tidak melakukannya karena Amr bin Abdul Wahab meludahi wajah menantu Rasulullah ini.
Ali diam, marah. Ali Radhiallahu tidak mau membunuh karena kesumat amarah. Tidak mau bertindak karena dorongan motif pribadi, namun semata-mata karena Allah. Setelah amarahnya reda, duel dilanjutkan. Ali radiallah’anhu memenangkan pertarungan, lawan terbunuh.
Terbunuhnya tokoh musyrikin ini menjatuhkan mental tentara sekutu kaum musyrik yang mengepung Madinah. Perang ini berakhir dengan mundurnya koalisi tentara musyrikin.
+ + + +
Bila yang diludahi wajahnya itu manusia biasa-biasa saja, niscaya akan marah semarah-marahnya. Marah besar! Namun totalitas iman Ali radhiallahu’anhu telah menuntunnya untuk bertindak semata karena Allah.
Bila saja Ali ibn Abi Thalib ketika itu terpancing amarah, bisa jadi akhir cerita akan berbeda. Karena orang yang sedang marah biasanya tindakannya tidak terkontrol, tidak berhati-hati dan tidak cermat.
oooOOOooo
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqaan, QS. 25: 43-44)
Pemenang sejati tidak pernah disandang oleh harimau sirkus yang telah menjadi hewan ternak, telah dikurung dan tunduk oleh sebatas jatah perutnya. Pertarungan di arena kehidupan hanya bisa dimenangkan oleh pemberani yang jiwanya tidak terkurung oleh hawa nafsunya.
Kemenangan hakiki hanya milik yang telah mampu menguasai diri, jiwa dan langkahnya tidak dijerat nafsu. Manusia yang mengenali jati diri-nya sebagai manusia.
Allahu’alam, walhamdulillah.
Puasa: Berlatih mengendalikan Nafsu (Bagian-1)
Mengenali Nafsu
Oleh: Suparmono Ichsan
19-09-1444 H/09-04-2023 M
Kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk Al-Jasad dan makhluk An-Nafs. Al-Jasad adalah tubuh kasar kita, fisik. Sedangkan An-Nafs adalah diri yang bagian dalam, inner dari Al-Insan. Manusia yang sehari-hari kita kenali dengan kasat mata adalah dari fisiknya, al-jasad.
Al-Qur’an membicarakan An-Nafs dalam beberapa ayat, ada tiga karakter An-Nafs:
1. An-Nafsul Muthmainnah.
Ini adalah diri, bagian dalam manusia itu yang tenang.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya". (Al Fajr, QS. 89: 27 – 28)
Hanya jiwa yang tenang yang bisa memenuhi panggilan kembali kepada aturan Allah, untuk mendapatkan ridlo-Nya. Menjalani hidup dengan prinsip-prinsip yang ada di dalam Diinul Islam, di atas tuntunan Al-Qur’an dan apa yang dicontohkan nabi-Nya.
Sehingga ia memiliki kualitas yang baik dalam kehidupan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Ia berbuat secara benar, bertindak jujur, ia melakukan amanah.
Nafs muthmainnah bila diabaratkan jasad adalah jasmani dengan kondisi seimbang yang memilki kesehatan prima, tidak terganggu oleh penyakit.
2. An-Nafs Al-Lawwaamah.
وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Al Qiyamah, QS 75: 2)
Lawwaamah secara bahasa berarti selalu melakukan cercaan/keluhan. Ini berarti diri yang melakukan penyimpangan dan menyesalinya. Orang yeng demikian cenderung memiliki kepribadian lemah yanag s**a mengeluh.
Ia masih terbuka untuk menerima nasihat, menerima mas**an-mas**an yang bisa kembali menyehatkan nafsnya dari penyimpangan itu.
3. An-Nafs La Ammaarotun Bissuu’, diri yang amarah Bissuu’.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Yusuf, QS 12: 53)
Nafs ini harus selalu didekatkan rahmat Allah. Karena nafsu amarah bisa selalu mengajak kepada kejahatan, penyimpangan, keingkaran dan kemaksiatan. Yang mengakibatkan kerusakan. Ia akan melakukan berbagai bentuk penyimpangan. Berupa penyimpangan kalbu yang menggerakkan lisan dan anggota badannya.
Maka mengelola amarah harus dengan selalu mengikatkan qalbu-nya kepada Allah.
oooOooo
Dalam hidupnya, manusia pada hakikatnya adalah pergulatan antara nafsu-nafsu yang ditandai dengan pasang surutnya iman yang mewujud dalam tindakan.
Tersedia beberapa pilihan. Menjadi pribadi baik yang tangguh atau pribadi baik yang lemah. Atau menjadi pribadi buruk yang tangguh atau pribadi buruk yang lemah.
Semua hasilnya sangat dipengaruhi kemampuan membaca dan memenangkan peta pertarungan nafsu dalam diri.
Allau’alam, walhamdulillah.
(Dipersilahkan Membuat Judul Sendiri)
Oleh: Suparmono Ichsan
18-09-1444 H/08-04-2023 M
Sesungguhnya manusia tidak pernah merespon kenyataan, tindakan manusia adalah hanya merespon apa yang ada dalam pikirannya terhadap suatu kenyataan. Bingung ya? Berikut ini adalah ilustrasinya.
Saat Anda yang awam, dan keluarga sedang duduk di taman, tiba-tiba datang seekor ular kobra seukuran satu meter. Apa yang Anda lakukan? (i) Pergi menghindar dari ular tersebut (ii) ambil kayu atau apa saja yang bisa untuk memukul ular itu, atau setidaknya mengusir, (iii) berdiri gemetaran karena ketakutan.
Namun bila Anda seorang pawang sekaligus pencinta hewan melata, tidak akan melakukan itu semua.
Dengan berhati-hati dan penuh s**acita bergerak mendekati kobra, melakukan observasi dengan bermain-main dan menggodanya. Setelah kobra marah dan berdiri dengan leher mengembang bersiap untuk menyerang, maka si pecinta satwa melata ini akan mencium tengkuk kepala kobra bagian atasnya.
Dan ular yang menduduki level tertinggi dalam rantai makanan ini ini pun jinak. Selanjutnya terserah si pawang: mau dipelihara atau dilepas ke habitat yang lebih aman.
Satu kejadian yang sama, tapi respon dan tindakan berbeda. Karena yang dalam pikiran kedua orang ini tidak sama, beda ilmu, beda isi kepala, beda cara pandang.
Dalam pikiran orang awam bahwa kobra adalah ular berbahaya. Racun dalam gigitannya bisa melumpuhkan syaraf jantung dalam hitungan menit dan mengakibatkan kematian. Maka harus dihindari.
Sedangkan dalam pandangan pecinta hewan melata, kobra adalah makhluk cantik ciptaan Tuhan yang menantang adrenalinnya. Maka harus diselamatkan dan dicintai sebagai sesama makhluk-Nya.
oooOOOooo
Bila untuk menyikapi seekor ular kobra saja ada ilmunya. Apalagi dalam menyikapi kehidupan yang lebih kompleks, sudah pasti ilmunya lebih dari sekadar menjinakkan kobra. Ada etika, aturan dan tata caranya agar bisa menjalaninya dengan selamat.
Semua ada ilmunya. Ada kabar gembira dan s**a cita, tidak usah khawatir tersesat. Karena Allah telah mengutus para rasul-Nya dengan membawa petunjuk, Al-Qur’an sebagai jalan keselamatan.
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (p**a) mereka bersedih hati” (Al An’am, QS 6: 48)
Berdampingan dengan kabar gembira atas anugerah Al-Qur’an sebagai petunjuk agar selamat dunia dan akhirat, ada peringatan bagi yang mengingkarinya.
Dengan dalih apapun untuk menolak keseluruhan atau sebagian dari kitab suci yang dibawa rasul-Nya, maka akan dibinasakan dan disediakan azab yang pedih.
Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh.
وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang lalim azab yang pedih.” (Al-Furqaan, QS. 25: 37).
oooOOOooo
Ada ilmunya agar selamat dalam merespon "kobra-kobra" kehidupan, dan ilmu itu telah diturunkan oleh yang Maha Berilmu.
Allahu’alam, walhamdulillah.
Berbuka Puasa: Menyadarkan Pentingnya Pangan.
Oleh: Suparmono Ichsan
17-04-1444 M/07-04-2023 M
Semua orang butuh pangan. Yang miskin dan lemah hingga sehebat dan sekuat apapun manusia, untuk melangsungkan hidupnya, setiap hari membutuhkan beberapa gelas air minum dan dua atau tiga porsi makan. Ada sandang dan papan, selebihnya merupakan aksesoris peran pendukung kehidupan.
Perintah untuk bertumbuh dimulai sejak sperma bertemu sel telur yang berkembang menjadi embrio dalam rahim ibu. Allah mengirimkan makanan melalui darah ibunya untuk menghantar segala nutrisi yang dibutuhkan, baru berhenti saat sudah lahir ke dunia.
Untuk bayi mungil lucu yang menggemaskan, Allah telah menyiapkan makanan terbaik untuk persediaan selama dua tahun: Air Susu Ibu, ASI. Tak ada satupun makanan yang kebaikannya bagi bayi bisa melampaui ASI.
Dunia kesehatan modern menganjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. ASI murni tanpa makanan tambahan.
oooOOOooo
Makanan adalah sesuatu yang memberikan nutrisi bagi tubuh manusia. Nutrisi adalah zat yang menyediakan energi untuk aktivitas, pertumbuhan, semua fungsi tubuh seperti bernapas, mencerna makanan, dan menjaga suhu tubuh. Nutrisi juga menyediakan bahan untuk pertumbuhan dan perbaikan tubuh, serta untuk menjaga kesehatan sistem kekebalan - (definisi FAO).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah, QS. 2: 168)
Sebagai pemilik seluruh alam raya, Allah sudah mempersilahkan sekalian manusia untuk makan apa yang telah disediakan-Nya di bumi. Dengan catatan makanan yang halal dan baik, karena makanan yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain.
Bagi pekerja sektor konstruksi di lapangan terbuka dengan terik matahari, tentu berbeda kebutuhan karbohidrat dan gulanya dengan karyawan kantoran di ruang tertutup.
Begitupun sesama pekerja dalam satu ruangan, namun berat badannya berbeda, maka kebutuhan konsumsi air minumnya tidak sama. Dalam sehari kebutuhan rata-rata minum per kilogram berat badan adalah 30 ml.
Penyakit yang ditimbulkan akibat pola makan lebih berbahaya dibandingkan akibat kurang makan.
Diabetes, kanker, gagal ginjal, auto imun, jantung dan liver adalah contoh gangguan kesehatan akibat pola makan yang salah dan berlebihan. Maka Allah melarang manusia mengikuti langkah setan dengan tabiat memperturutkan hawa nafsu dan s**a berlebihan.
Ooo OOO ooo
Masalah pangan dan keamanan ibarat dua sisi mata uang. Bila suatu wilayah terjadi krisis pangan maka akan diikuti dengan krisis keamanan. Akibat dari aksi penjarahan bahan pangan.
Begitu p**a sebaliknya, bila suatu wilayah terjadi masalah keamanan, maka akan menganggu aktifitas produksi, yang mengancam ketersediaan bahan pangan.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (Al Baqarah, QS. 2: 126).
Sarat tegaknya suatu peradaban adalah ketersediaan pangan yang kokoh. Suatu bangsa yang ketahanan pangannya lemah lebih rawan bergejolak dan mudah runtuh.
Faktanya kita hidup dalam ironi. Negeri subur ini masih menjadi importir beras dari Thailand dan Vietnam, impor kedelai dari Amerika Serikat, mendatangkan bawang putih dari Cina, memas**an cabe dari India hingga Spanyol serta impor aneka buah dari luar negeri.
Allah menganugerahkan negeri yang subur untuk bertanam padi, bawang putih, cabe, bawang merah, kedelai dan aneka buah-buahan. Bukan negeri padang pasir yang tandus.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran, QS. 3: 191).
Allahua’lam, walhamdulillah.
Tadarus Ramadhan, Tradisi Hidup Cerdas
Oleh: Suparmono Ichsan
16-09-1444 H/06-04-2023M
Ketika sedang membaca berarti ada dua entitas yang sedang berdialog dalam senyap. Antara pemilik ilmu/pengetahuan dengan pembacanya yang menyimak lewat apa yang sudah tertera dalam medianya.
Media tera bisa berupa halaman buku, kanvas, layar monitor, lembar-lembar/batu-batu prasasti atau yang lain.
Al-Qur'an menurut bahasa berarti bacaan atau yang dibaca. Menurut istilah, Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi umat manusia, sebagai jalan keselamatan dunia akhirat.
Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6.326 ayat. Bila ditambah 112 kalimat basmallah dalam awalan surat maka 6.348 ayat. Berdasar waktu turunnya ada dua yakni ayat-ayat makiyah dan ayat-ayat madaniah.
Berdasarkan sifatnya ada ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyaabihaat. Isi Al-Qur’an adalah ayat-ayat kalam Allah. Bisa sebut bahwa kalam Allah berdasarkan tempat/media tera-nya, ada ayat ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.
Ayat-ayat qauliyah ada dalam Al-Qur’an, ayat tertulis dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Asy Syura, QS 42: 51).
Isi Al-Qur’an sebagai sumber hukum, terjaga otentisitasnya, tidak bisa berubah, baku dan final serta terbatas jumlah ayatnya.
Ayat-ayat kauniyah adalah berupa alam raya dengan seluruh hukum yang menyertainya. Seluruh isi alam beserta fenomena yang terjadi, misalnya peristiwa alam, sosial, dan sebagainya.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali-Imran, QS. 3: 190).
Ayat-ayat kauniyah sangat luas nyaris tak terbatas. Apa yang ada di langit, antara langit dan bumi, di permukaan bumi dan yang ada dalam perut bumi, semua adalah ayat-ayat Allah.
Seluruh fenomena alam yang ada di jagat raya, di angkasa dan luar angkasa, fenomena gelap terang, siang malam, di bumi, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata, semua adalah ayat-ayat/tanda-tanda kekuasaan Allah.
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Lukman, QS. 31: 27).
Berdampingan dengan membaca untuk memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an, Allah menyediakan bacaan yang tak akan pernah habis: ayat-ayat kauniyah yang membentang seluas alam raya. Semua adalah tanda-tanda kebesaran Allah.
Satu-satunya kitab suci yang proses turunnya diawali diawali dengan perintah membaca adalah Al-Qur’an. Iqro!
Maka ummat Islam wajib mengembangkan tradisi keilmuan, sehingga menjadi ummat yang terpelajar, pandai, cerdas, dan bertindak di atas ilmu. Karena alam menanti sentuhan tangan-tangan orang beriman, muslimin yang hanif: detail dan teliti. Alam ingin lestari.
Allahua’lam, walhamdulillah.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Medan