yukie salon

yukie salon

Share

Smoting, cutting /potong, semir /color, hair mask /spa, mua /make up pengantin, wisuda, karnaval dll

29/09/2026

Semakin kamu pintar merawat diri,
Meskipun sudah memiliki anak,
Smakin banyak orang yang penasaran

27/09/2026
26/09/2026

Hidup sehat with yoga,,,,

26/09/2026

Puaskan aku di ran jang malam ini, setelah itu kita berce rai," ucap Mas Devan.

Suaranya rendah, serak, namun memiliki daya hantam yang luar biasa hingga sanggup membuat duniaku mendadak hening. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bib ir pria yang selama satu tahun ini berstatus sebagai suamiku. Pria yang malam ini menatapku bukan lagi dengan tatapan dingin nan asing, melainkan dengan tatapan seorang suami yang menginginkan istrinya di ma lam pertama.

Aku terpaku di ambang pintu kamar. Di tanganku, selembar kertas putih berisikan gugatan cer ai mere mas ego yang tersisa. Aku sudah lelah. Menikah dengannya karena dia harus menggantikan posisi calon suamiku, Denis, yang kabur di hari pernikahan kami. Ditambah lagi, selama setahun ini aku harus hidup bagai bayangan di rumah ini, dan rasa bersalah pada mendiang kakakku karena menikah dengan suaminya.

Mas Devan, kakak iparku yang sudah menduda selama lima tahun sejak kematian kakak kandungku, Mbak Sarah, selalu memperlakukanku layaknya orang asing. Dia enggan meny ent uhku, bahkan enggan menatap mataku terlalu lama. Dia selalu menghindar dan bersikap dingin seolah kami tak memiliki ikatan apapun.

Aku selalu mengira hatinya sudah mati dan terkunci rapat bersama kenangan mendiang Mbak Sarah, dan akupun sadar bagaimana bisa seorang Devan Satrio Nugroho yang mapan dan sukses mencintai adik iparnya yang selalu ia anggap anak kecil.

Namun malam ini, saat aku memutuskan untuk menyerah dan menyodorkan surat cer ai itu, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.

"Kenapa diam, Larissa? Bukankah ini yang kamu inginkan? Kebebasan?" Mas Devan melangkah maju.

Setiap derap langkahnya membuat jantungku berdegup kencang. Dia melonggarkan dasinya dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke sembarangan ke lantai. Aura dingin yang biasanya menyelimuti pria itu melebur, digantikan oleh gelombang amarah penuh intimidasi.

"Mas... apa maksudmu? Bukankah selama ini Kamu tidak pernah menginginkanku," bisikku, berusaha menahan getar di suaraku saat punggungku membentur daun pintu yang tertutup.

Mas Devan terkekeh sinis, namun ada kilat kepedihan yang sangat dalam di matanya. Dia merapat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulin dari napasnya. Kedua tangannya mengungkung tubuhku, menumpu pada daun pintu di kanan dan kiri kepalaku.

"Tidak pernah menginginkanmu?" Mas Devan berbisik tepat di depan bibi rku yang tertutup cadar, cadar yang tak pernah sekalipun ia buka. Napasnya yang hangat menerpa kulitku, membuat bulu kudukku meremang.

"Satu tahun, Larissa. Satu tahun aku menyiksa diriku sendiri untuk tidak men yentu hmu. Aku menahan diri setengah mati karena aku tahu kamu terpaksa menerima pernikahan ini! Kamu menangis meratapi Denis, calon suamimu yang pengecut itu, sementara aku di sini... Menahan diri karena menginginkanmu!"
Aku terbelalak. Jantungku serasa berhenti berdetak.

"A-apa?"

"Kamu pikir aku menikahimu hanya karena kasihan? Karena menyelamatkan muka keluarga?" Mas Devan mencengkeram rahangku lembut, memaksaku menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkaca-kaca. Di sana, tidak ada bayangan Mbak Sarah. Di sana, hanya ada pantulan diriku yang tampak begitu rapuh.

"Aku mencintaimu, Larissa. Jauh sebelum Denis mengenalmu, dan Sarah menikah denganku dan Jauh sebelum pernikahan ini terjadi!"

DEG!

Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari badai mana pun. Rahasia apa yang dia sembunyikan selama ini dariku?. Pria yang kukira masih terjebak di masa lalu dengan kakakku, pria yang selalu bersikap dingin seolah membenciku... ternyata menyimpan rasa yang begitu besar untukku.

Selama ini, dia menjaga jarak bukan karena membenciku atau belum move on, melainkan karena dia menghormatiku, melindungiku dari rasa bersalah karena dia mengira aku hanya mencintai pria lain.

"Mas Devan... kamu... bohong..." Air mataku luruh tanpa bisa dicegah.

"Aku tidak pernah berbohong soal rasaku kepadamu," bisiknya parau. Jemarinya menghapus air mata di pipiku dengan kelembutan yang teramat sangat, berbanding terbalik dengan ketegangannya tadi.

"Tapi malam ini, saat kamu membawa kertas ini dan berniat pergi dariku... aku sadar aku tidak bisa melepasmu. Jika kita memang harus berakhir, setidaknya beri aku satu malam di mana kamu benar-benar menjadi milikku. Bukan sebagai pengganti, bukan sebagai formalitas. Tapi sebagai Larissa, wanita yang aku cintai."

Sebelum aku sempat mencerna semuanya, Mas Devan menunduk. Dia menarik cadarku dan menyatukan bib ir kami dalam sebuah cium an yang menuntut, namun penuh dengan luapan emosi yang selama ini dia pendam. Ciu m an itu terasa begitu frustrasi, romantis. Ada rasa sakit, kerinduan, dan g aira h yang meledak-ledak di dalamnya.

Surat cer ai yang kupegang terlepas begitu saja dari jemariku, jatuh tak berarti di atas lantai.
Kedua tanganku yang gemetar perlahan naik, meremas kemeja di dadanya, sebelum akhirnya melingkar di leher kokohnya. Aku tidak menolak.

Sen tuha nnya entah bagaimana menyalakan api yang selama ini padam di dalam diriku. Malam ini, di bawah temaram lampu kamar, ketakutan dan kesalahpahaman kami melebur menjadi satu. Aku baru menyadari, pria yang selama ini kuanggap sebagai dinding es, nyatanya adalah api yang siap membakar seluruh duniaku, dan anehnya, aku rela membiarkan diriku tenggelam di dalamnya.

Judul Novel: Dear Mas Duda Premium

Penulis: Raradika07

Baca selengkapnya sampai tamat hanya di Apk KBM App yah kak

26/09/2026

Happy mid autumn vestifal
Selamat berlibur

25/09/2026

Happy autumn vestifal

24/09/2026

Sepakat

24/09/2026

Gilpy HONGKONG

21/09/2026

Alhamdulillah dapat penghargaan 🌹

Terima kasih banyak atas apresiasi dan penghargaan yang luar biasa ini. Semoga pencapaian ini membawa kebaikan dan manfaat bagi banyak orang."

Setetes darah sejuta harapan 🩸

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Ponorogo?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Website

Address


Jalan Raya Mlarak _siwalan/sambit (Pasar Gunung Sari
Ponorogo
63472

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when yukie salon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Ponorogo.