Kabar Gusmo
Jualanku Lareis
08/09/2026
Rumput Payung: Tanaman Hias Pembersih Air Kolam & Cara Perawatannya Ingin tahu lebih banyak tentang tanaman unik berarsitektur eksotis ...
08/09/2026
Cara Mudah Budidaya Arbei & Murbei Agar Cepat Berbuah Lebat! Ingin menanam buah yang mudah dirawat dan cepat panen di rumah? Arb...
08/09/2026
Seblak Terakhir di Alun-alun Kota Probolinggo Setiap sudut kota pasti menyimpan kenangannya sendiri, begitu juga ...
08/09/2026
Terung Pipit Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.
30/08/2026
TAHUN 1607, pagi di Monza terasa lebih kelam dari biasanya. Lonceng Biara Santa Margherita berdentang dengan irama yang lambat dan berat, seolah beban dosa dunia sedang digantungkan pada setiap getaran logamnya. Di dalam ruang bawah tanah yang dingin, di atas hamparan batu pualam yang kini bernoda merah pekat, terbaring tubuh seorang novis bernama Caterina. Matanya yang dulu bening seperti air mata kini membulat kosong, menatap langit-langit yang retak, seolah masih menyimpan ketakutan yang tak terucapkan dari detik-detik terakhir hidupnya.
Di sudut ruangan, berdiri seorang wanita dengan jubah biarawati yang lusuh. Suster Virginia—atau yang dulu dikenal dunia sebagai Mariana de Leiva—menatap mayat itu tanpa berkedip. Di wajahnya tergores campuran perasaan yang aneh dan mengerikan: kepuasan yang dingin bercampur dengan teror yang merayap di tulang belakangnya.
“Ini bukan pertama kalinya kematian datang mengetuk pintu biara ini karena ulahku,” bisiknya pelan, suaranya terdengar serak di ruangan yang sunyi. “Tapi kali ini… kali ini rasanya berbeda. Darah ini seolah menuntut balas, menembus pori-pori batu yang selama ini menjadi saksi bisu kebohongan suci kita.”
Santa Margherita di Monza: Cinta Terlarang dan Dosa Berdarah Suster Virginia - JISPRO Mengungkap skandal kelam Suster Virginia di Biara Santa Margherita Monza: cinta terlarang, kehamilan rahasia, dan pembunuhan.
Kalau ada yang berpikir program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu cuma sesederhana dan semudah menanak nasi, dibungkus, lalu bagi-bagi ke anak sekolah layaknya hajatan tasyakuran, tolong suruh orang itu duduk dulu. Di Kota Probolinggo, urusan perut massal itu ternyata punya kerumitan yang bikin pemerintah dan pengusaha dapur harus duduk bareng.
Jumat (21/8/2026), Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, mewanti-wanti dengan keras kalau program MBG bukan ajang asal kenyang. Targetnya memperbaiki asupan gizi untuk mencerdaskan generasi penerus. Otomatis, komposisinya pantang atau tidak boleh kaleng-kaleng. Harus ada karbohidrat, lauk pauk (ikan, ayam, atau telur), sayuran, tambahan protein nabati, semacam tahu dan tempe, hingga pelengkap seperti buah dan susu.
“MBG ini untuk memperbaiki gizi, bukan sekadar memberi makanan gratis. Karena tujuannya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka komposisi dan kualitas makanan harus benar-benar diperhatikan,” ujar Aminuddin.
Satu hal yang ditekankan Pak Wali Kota adalah urusan timing atau waktu penyajian. Aminuddin mengingatkan para pengelola dapur yang tergabung dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak membiarkan makanan menunggu terlalu lama. Makanan segar dan higienis yang didiamkan berjam-jam, ibarat menyediakan tempat agar bakteri berkembang biak.
Sumber: https://jisprokota.com/makan-bergizi-gratis-probolinggo-gapembi/
Penulis: Jispro
SELAMA ini kita mengenal Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenal paling tegas dan berwatak keras sepanjang sejarah pemerintahan kolonial di Nusantara. Beliau memerintahkan pembangunan jalan raya sepanjang kurang lebih seribu kilometer yang membentang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa hingga Panarukan di ujung timur. Dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, Daendels sering digambarkan sebagai penguasa yang kejam, yang memaksa rakyat bekerja dalam keadaan berat hingga menelan ribuan korban jiwa.
Meskipun demikian, kita patut mengakui bahwa atas pembangunan jalan tersebut, kota-kota di sepanjang jalur Pantura Jawa menjadi lebih mudah terhubung dan perdagangan pun semakin berkembang. Namun pertanyaan yang patut kita kaji ulang adalah apakah beliau sepenuhnya pihak yang paling bertanggung jawab atas penderitaan para pekerja.
Terdapat narasi yang berkembang bahwa Daendels sebenarnya telah menyediakan dana untuk upah dan konsumsi para pekerja, namun dana tersebut diduga tidak sepenuhnya sampai ke tangan pekerja karena diselewengkan oleh para pejabat pribumi termasuk para bupati yang menerima dana tersebut namun tidak menyalurkannya secara utuh. Hal ini tetap tidak meniadakan kenyataan bahwa sistem kerja paksa tetap diterapkan dan ribuan
Sumber: https://jisprokota.com/merdeka-100-persen-dari-penguasa-zalim/
Penulis: Jispro
30/08/2026
Delapan puluh satu tahun lamanya bendera Merah Putih berkibar di segenap penjuru negeri. Delapan puluh satu kali kita membunyikan lonceng kemerdekaan, mengucap syukur atas lepasnya ranting penjajah asing, berjanji akan membangun negeri yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun saat kita berkumpul di bawah naungan bendera itu pada hari kemerdekaan ke-81 ini, hati banyak orang tak sepenuhnya gembira.
Di tengah upacara yang khidmat, di tengah nyanyian lagu kebangsaan yang bergema, terasa ada getar yang lain gelisah. Seolah-olah kemerdekaan yang kita rayakan itu belum utuh. Seperti yang pernah diucapkan Tan Malaka: “Merdeka itu bukan hanya lepasnya penjajah asing. Merdeka itu juga bebas dari penindasan, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan yang dibuat oleh bangsanya sendiri.”
Hari ini, di usia kemerdekaan yang ke-81, kita seakan sedang merayakan kemerdekaan yang belum merdeka seratus persen—bebas dari penjajah asing, namun belum lepas dari belenggu yang diciptakan oleh para penguasa di negeri sendiri.
Kemerdekaan yang Terasa Semakin Jauh di Tengah Sengkarut Ekonomi
Kabar yang berhembus belakangan ini sungguh memilukan. Ekonomi Indonesia yang sempat diharapkan akan melesat menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, kini justru terjepit di antara harapan yang tinggi dan kenyataan yang pahit. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, sementara daya beli rakyat makin menurun. Banyak keluarga yang harus mengatur nafkah dengan sangat ketat, bahkan ada yang terpaksa mengurangi porsi makan sehari-hari.
Pengangguran masih menjelma bayang-bayang yang menakutkan bagi para pencari kerja, terutama kaum terpelajar yang setelah lulus tak menemukan tempat untuk mengabdikan ilmunya. Para kritikus pun tak segan-segan menyuarakan pendapatnya. Mereka menilai pemerintahan saat ini belum sepenuhnya berhasil mengelola keuangan negara dengan baik.
Merdeka Tapi Belum Seratus Persen: Menagih Keadilan di Tengah Sengkarut Kas Negara - JISPRO Menelisik makna kemerdekaan ke-81 RI di tengah ketimpangan ekonomi, nasib guru yang terabaikan, dan sengkarut pengelolaan keuangan negara.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Probolinggo
67221
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when Kabar Gusmo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.