KISAH Inspiratif DUNIA

KISAH Inspiratif DUNIA

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from KISAH Inspiratif DUNIA, Health/Beauty, Tambelangan, Jawa Rimur, Sampang.

06/09/2026

BELATI SUDAH MENEMPEL DI LEHERNYA…
TAPI AL-QUR’AN TIDAK JATUH DARI TANGANNYA.

Orang yang datang ke hadapan KH Abbas Buntet hari itu bukan datang untuk mengaji.

Ia datang membawa belati.

Niatnya satu:

Membunuh sang kiai.

Tetapi ada sesuatu yang membuat kisah ini begitu dalam.

Saat ancaman itu datang, KH Abbas sedang memegang Al-Qur’an.

Dan beliau tidak melepaskannya.

---

KH Abbas Abdul Jamil adalah salah satu ulama besar Buntet Pesantren, Cirebon.

Seorang kiai yang dikenal alim.

Seorang guru.

Seorang pengasuh pesantren.

Dan pada masa perjuangan kemerdekaan, beliau juga dikenal sebagai ulama yang tidak gentar berdiri di tengah perjuangan.

Tetapi sebelum kita sampai pada kisah perjuangannya, mari kembali kepada sebuah kejadian yang pernah diceritakan dalam tradisi pesantren.

Seseorang datang menghadap KH Abbas.

Awalnya seperti orang biasa.

Tetapi kemudian ia mengeluarkan senjata tajam.

Belati.

Tangan KH Abbas berada dalam posisi yang sulit.

Sementara tangan yang lain masih memegang Al-Qur’an.

Orang itu berusaha mengancam dan mencelakai beliau.

Namun KH Abbas tetap tenang.

Tidak panik.

Tidak berteriak.

Tidak menjatuhkan Al-Qur’an.

Kisah itu kemudian dikenang sebagai salah satu cerita tentang keberanian KH Abbas.

Dan bagi saya, yang paling menarik bukan soal “kesaktian”-nya.

Tetapi tentang ketenangan seorang ulama ketika menghadapi ancaman.

Sebab keberanian yang sebenarnya bukan ketika seseorang merasa dirinya kuat.

Tetapi ketika seseorang tetap teguh meskipun dirinya sedang berada dalam keadaan lemah.

---

Namun jangan salah.

KH Abbas bukan hanya dikenal karena keberaniannya.

Ada kisah lain yang justru memperlihatkan kelembutan hatinya.

Di lingkungan beliau ada seorang anak keturunan Tionghoa yang dikenal dengan panggilan Man Us.

Anak ini kemudian mendapatkan perhatian dan pendidikan dari KH Abbas.

Ia diperlakukan dengan kasih sayang.

Dibimbing.

Dididik.

Bahkan dikirim untuk belajar ke pesantren di Jawa Timur.

Setelah dewasa, ia kembali dan mengabdi sebagai guru madrasah.

Coba kita renungkan sebentar.

Seorang kiai besar.

Pengasuh pesantren.

Tokoh umat.

Pejuang kemerdekaan.

Tetapi masih memiliki ruang di hatinya untuk memperhatikan pendidikan seorang anak yang berbeda latar belakang.

KH Abbas seperti sedang mengajarkan kepada kita:

Bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh suku dan asal-usulnya.

Yang dilihat adalah manusianya.

Yang dibangun adalah akhlaknya.

Yang diperjuangkan adalah masa depannya.

Mungkin inilah sebabnya ulama dahulu begitu dihormati.

Karena ilmu mereka tidak hanya keluar dari mulut.

Tetapi terlihat dari cara mereka memperlakukan manusia.

---

Kemudian datanglah tahun 1945.

Indonesia baru saja merdeka.

Tetapi penjajah belum benar-benar pergi.

Surabaya menjadi salah satu tempat di mana sejarah bangsa dipertaruhkan.

Para ulama bergerak.

Para santri bergerak.

Resolusi Jihad telah menggema.

Dan dalam berbagai riwayat pesantren, ada satu sosok yang kedatangannya sangat dinantikan:

KH Abbas Buntet.

Konon, KH Hasyim Asy’ari menghendaki agar KH Abbas datang terlebih dahulu sebelum pertempuran besar dimulai.

Maka sang kiai meninggalkan Cirebon.

Menuju Surabaya.

Bukan menuju tempat yang aman.

Tetapi menuju medan yang penuh risiko.

Dan kemudian tibalah 10 November 1945.

Hari yang sampai hari ini kita kenang sebagai Hari Pahlawan.

Di sana, santri dan pejuang berhadapan dengan kekuatan militer Sekutu.

Mereka tahu risikonya.

Mereka tahu bahwa mereka bisa mati.

Tetapi mereka juga tahu:

Kalau kemerdekaan tidak dipertahankan, maka darah para pejuang sebelumnya akan sia-sia.

KH Abbas berada dalam barisan perjuangan itu.

Seorang kiai yang sehari-hari mengajarkan kitab.

Kini berada di tengah pergolakan sejarah.

Inilah wajah pesantren pada masa itu.

Santri tidak hanya belajar bagaimana membaca kitab.

Mereka juga belajar bagaimana mempertahankan kehormatan.

---

Dan kalau kita tarik garis dari ketiga kisah tadi...

Ada sesuatu yang sangat indah.

Ketika berhadapan dengan belati, KH Abbas menunjukkan keberanian.

Ketika berhadapan dengan seorang anak yang berbeda latar belakang, beliau menunjukkan kasih sayang.

Ketika berhadapan dengan penjajahan, beliau menunjukkan keberanian untuk berdiri bersama bangsanya.

Jadi jangan hanya mengenang KH Abbas sebagai kiai yang “sakti”.

Itu terlalu kecil untuk menggambarkan kebesaran beliau.

Kenanglah beliau sebagai ulama yang ilmunya melahirkan keberanian.

Kenanglah beliau sebagai kiai yang kekuatannya tidak menghilangkan kelembutan.

Dan kenanglah beliau sebagai santri yang ketika negeri ini memanggil, tidak memilih bersembunyi di balik kitab.

Sebab ada waktunya seorang santri duduk membaca kitab.

Ada waktunya ia berdiri membela kebenaran.

Dan ada waktunya ia harus menunjukkan bahwa cinta kepada agama juga bisa berjalan bersama cinta kepada tanah air.

Semoga Allah merahmati KH Abbas Buntet.

Semoga seluruh perjuangan, ilmu, pendidikan, dan pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah menempatkan beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واجعل قبره روضة من رياض الجنة.

الفاتحة لروح الشيخ الحاج عباس بن عبد الجليل بونتت رحمه الله تعالى.

Al-Fatihah... 🤲

Kalau kisah ulama seperti ini menurut panjenengan layak terus dikenang, jangan berhenti di sini.

Bagikan tulisan ini.

Barangkali ada satu orang yang hari ini baru mengenal nama KH Abbas Buntet karena tulisan ini.

Dan semoga dari satu orang itu, lahir generasi yang kembali mencintai para ulama dan sejarah perjuangan para santri.

والله أعلم بالصواب.

04/09/2026

🔥 DIDEMO RIBUAN WARGA, BUKAN KARENA GAGAL MEMIMPIN, TAPI KARENA MENOLAK JADI KADES 2 PERIODE !

Biasanya, seorang kepala desa berusaha keras agar kembali dipercaya memimpin. Namun kisah Gaguk, Kepala Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, justru berbeda. Pria kelahiran 1972 yang dikenal sebagai pengusaha atau Bos Tebu ini malah memilih tidak mencalonkan diri kembali untuk periode kedua.

Keputusan itu ternyata membuat ribuan warganya kecewa. Warga bahkan turun melakukan aksi dan membawa spanduk berisi permohonan agar Gaguk bersedia kembali memimpin Desa Kaliasri.

Lantas, apa yang membuat warga begitu ingin mempertahankannya?. Berikut beberapa hal yang membuat sosok Gaguk begitu dicintai Masyarakat :

👉 Tidak mengambil gaji selama menjabat.
Selama periode pertamanya sebagai kepala desa, Gaguk disebut tidak pernah mengambil gaji bulanannya.

👉 Gajinya dialihkan untuk kepentingan warga.
Dana tersebut digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk memberikan makanan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

👉 Tidak memanfaatkan tanah bengkok untuk kepentingan pribadi. Lahan bengkok yang merupakan fasilitas jabatan kepala desa, dengan luas sekitar 12 hektare, disebut tidak digunakannya untuk kepentingan pribadi.

👉 Mendorong pembangunan desa.
Di bawah kepemimpinannya, tata kelola serta pembangunan infrastruktur Desa Kaliasri dinilai mengalami perubahan yang signifikan.

👉 Membawa perubahan yang dirasakan masyarakat. Warga merasakan adanya kemajuan dan transparansi selama kepemimpinannya, sehingga suasana serta kehidupan di desa menjadi lebih baik.

Hingga akhirnya, keteguhan ribuan warga membuat hati Gaguk luluh. Ia menyatakan bersedia kembali maju dalam pemilihan kepala desa demi memenuhi aspirasi Masyarakat yang masih menginginkannya memimpin.

❤️ Dari kisah ini kita belajar : Jabatan bisa dicari, tetapi kepercayaan masyarakat tidak bisa dibeli. Ketika seorang Pemimpin memilih mengutamakan kepentingan Rakyat, bukan keuntungan pribadi, mungkin itulah alasan mengapa Rakyat sendiri yang memintanya untuk kembali.

Menurut Anda, apakah pemimpin seperti ini masih banyak di Indonesia ?.

Jika kisah ini dianggap menginspirasi, silahkan bagikan kepada orang lain. Siapa tahu, semakin banyak yang membaca, semakin banyak p**a yang teringat bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang pengabdian dan amanah. ❤️

Catatan :
Postingan ini dibuat sebagai informasi, motivasi, dan inspirasi. Tidak ada tujuan untuk membuka ruang perdebatan, caci maki, ataupun adu domba. Apalagi dikait-kaitkan dengan Muktamar NU dan Rais Aam. Jika terdapat informasi yang kurang tepat, akan diperbaiki. Bagi yang tidak berkenan, silahkan dilewati.

02/09/2026

Bank menolak petani
karena mereka tidak punya agunan.

Rentenir menjadi satu-satunya pilihan.

"Permohonan pinjaman Anda ditolak."

Kalimat itu berkali-kali diterima
para petani
di sebuah desa di Kabupaten Agam,
Sumatera Barat.

Lalu seorang pria
yang tidak tamat SD
mulai mengumpulkan
uang receh
dari para petani.

Setiap hari mereka
bekerja di sawah.

Mereka menanam.
Mereka memanen.

Namun ketika membutuhkan
modal usaha,
pintu bank justru tertutup.

Agunan tidak punya.

Penghasilan dianggap tidak pasti.

Pilihan yang tersisa
hanya rentenir.

Pinjam sedikit,
bayar lebih banyak.

Utang terus bertambah.

Panen berikutnya datang.

Hasilnya habis
bahkan sebelum sampai rumah.

Sebagian untuk utang.
Sebagian untuk bunga.

Dan mereka tetap harus
membeli bibit untuk musim berikutnya.

Hidup mereka tidak pernah
benar-benar berubah.

Masril muak melihat keadaan itu.

Ia sendiri hanya sempat
sekolah sampai kelas 4 SD.
Membuat keterbatasannya
terasa nyata.

Pagi-pagi,
Masril melihat petani
p**ang dari sawah.

Hasil panen dibawa p**ang.
Tetapi ketika modal berikutnya habis,
mereka kembali mencari pinjaman.

Namun ia percaya,
masalah petani bukan
karena mereka malas.

Mereka hanya tidak
diberi kesempatan.

_2006,

Masril mengumpulkan para petani.
Bukan untuk meminta bantuan.
Melainkan mengumpulkan iuran recehan.

Masril mulai mendatangi mereka.

Satu rumah.

Satu petani.

Satu iuran.

Tidak banyak.

Uang receh berpindah tangan
dan dikumpulkan menjadi satu.

Sedikit demi sedikit.

Dari uang itulah mereka mendirikan
Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis
yang dikelola sendiri oleh para petani.

Tidak ada kantor besar.

Tidak ada meja bank.

Yang ada hanya
uang yang dikumpulkan para petani
dan catatan pinjaman
yang mulai dibuat.

Banyak yang menertawakan.

Bagaimana mungkin petani
membangun lembaga
keuangan sendiri?

Namun yang dianggap mustahil
justru mulai berjalan.

Petani yang dulu ditolak
meminjam modal
kini bisa saling membantu.

Usaha mereka berkembang.

Untuk pertama kalinya,
seorang petani datang mencari modal
tanpa harus mendatangi rentenir.

Rentenir mulai kehilangan pengaruh.

Dana yang dikelola mencapai
puluhan miliar rupiah.

Ribuan keluarga petani
berhasil keluar dari jerat utang.

Orang-orang kemudian
mengenalnya sebagai...

Bank Tani.

Kini Bank Tani memiliki jaringan
ratusan cabang di berbagai daerah.

Semuanya berawal dari seseorang
yang hanya sempat sekolah
sampai kelas 4 SD.

Namanya...

Masril Koto.

Bank pernah menutup pintunya
karena mereka tidak punya agunan.

Masril membangun pintu
yang tidak meminta itu.

_

by AJRaharjo

13/08/2026

Saudara saudari Cahayaku semua nya

Subhanallah, ini pembelajaran yang sangat baik untuk anak-anak di rumah.
Sifat 20 Alloh adalah pelajaran dasar tauhid dalam ilmu aqidah, agar anak mengenal Alloh dengan benar: Alloh itu ada, sempurna, tidak sama dengan makhluk, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berfirman.
Yang penting untuk anak-anak: jangan dibuat menakutkan. Ajarkan dengan bahasa cinta:
“Nak, kita belajar sifat Alloh supaya hati kita makin sayang, takut berbuat dosa, rajin sholat, dan tahu bahwa Alloh selalu menjaga.”
Sifat 20 Alloh dengan Bahasa Anak-Anak
1. Wujūd — Alloh itu Ada
Artinya: Alloh benar-benar ada.
Walaupun tidak terlihat oleh mata, Alloh nyata adanya.
Contoh untuk anak:
“Kita tidak melihat angin, tapi kita tahu angin ada karena terasa. Begitu juga Alloh, tidak terlihat, tapi tanda-tanda kebesaran-Nya ada di seluruh alam.”
2. Qidam — Alloh tidak ada permulaan
Artinya: Alloh sudah ada sebelum segala sesuatu ada.
Alloh tidak dilahirkan dan tidak diciptakan.
Untuk anak:
“Sebelum langit, bumi, matahari, bulan, manusia, dan malaikat ada, Alloh sudah ada.”
3. Baqā’ — Alloh kekal selamanya
Artinya: Alloh tidak akan mati, tidak rusak, dan tidak berakhir.
Untuk anak:
“Manusia bisa tua dan meninggal. Mainan bisa rusak. Tapi Alloh tetap ada selamanya.”
4. Mukhalafatu lil-Ḥawāditsi — Alloh tidak sama dengan makhluk
Artinya: Alloh berbeda dari semua ciptaan-Nya.
Alloh tidak seperti manusia, tidak seperti cahaya, tidak seperti benda, tidak seperti apa pun.
Untuk anak:
“Kita tidak boleh membayangkan bentuk Alloh seperti manusia. Alloh Maha Suci, tidak sama dengan apa pun.”
5. Qiyāmuhu Binafsihī — Alloh berdiri sendiri
Artinya: Alloh tidak butuh siapa pun.
Semua makhluk butuh Alloh, tetapi Alloh tidak butuh makhluk.
Untuk anak:
“Kita butuh makan, minum, tidur, udara. Alloh tidak butuh semua itu.”
6. Waḥdāniyyah — Alloh Maha Esa
Artinya: Alloh hanya satu. Tidak ada Tuhan selain Alloh.
Untuk anak:
“Yang menciptakan kita hanya Alloh. Yang wajib kita sembah hanya Alloh.”
7. Qudrah — Alloh Maha Kuasa
Artinya: Alloh mampu melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki.
Untuk anak:
“Alloh menciptakan langit, bumi, laut, gunung, hewan, dan manusia. Semua mudah bagi Alloh.”
8. Irādah — Alloh Maha Berkehendak
Artinya: Semua yang terjadi atas kehendak Alloh.
Tidak ada yang terjadi tanpa izin Alloh.
Untuk anak:
“Kalau Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadi. Kalau Alloh tidak mengizinkan, maka tidak terjadi.”
9. ‘Ilmu — Alloh Maha Mengetahui
Artinya: Alloh tahu segala sesuatu.
Yang terlihat maupun tersembunyi.
Untuk anak:
“Alloh tahu isi hati kita. Alloh tahu kalau kita jujur, dan Alloh juga tahu kalau kita berbohong.”
10. Ḥayāh — Alloh Maha Hidup
Artinya: Alloh hidup sempurna, tidak tidur, tidak lelah, tidak mati.
Untuk anak:
“Kita kalau lelah perlu tidur. Alloh tidak pernah tidur dan tidak pernah lelah menjaga makhluk-Nya.”
11. Samā‘ — Alloh Maha Mendengar
Artinya: Alloh mendengar semua suara, baik keras maupun pelan.
Untuk anak:
“Doa yang kita baca pelan pun didengar oleh Alloh.”
12. Baṣar — Alloh Maha Melihat
Artinya: Alloh melihat segala sesuatu.
Tidak ada yang tersembunyi dari Alloh.
Untuk anak:
“Walaupun di tempat gelap, Alloh tetap melihat kita.”
13. Kalām — Alloh Maha Berfirman
Artinya: Alloh memiliki kalam/firman.
Al-Qur’an adalah kalam Alloh yang menjadi petunjuk bagi manusia.
Untuk anak:
“Alloh memberi petunjuk kepada kita melalui Al-Qur’an.”
Setelah 13 sifat ini, ada 7 sifat berikutnya yang menegaskan sifat sebelumnya.
14. Qādiran — Alloh selalu Maha Kuasa
Artinya: Alloh senantiasa memiliki kuasa.
Untuk anak:
“Alloh selalu mampu menolong hamba-Nya.”
15. Murīdan — Alloh selalu Maha Berkehendak
Artinya: Alloh senantiasa berkehendak sesuai hikmah-Nya.
Untuk anak:
“Alloh tahu apa yang terbaik untuk kita.”
16. ‘Āliman — Alloh selalu Maha Mengetahui
Artinya: Alloh selalu mengetahui semuanya.
Untuk anak:
“Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Alloh.”
17. Ḥayyan — Alloh selalu Maha Hidup
Artinya: Alloh hidup selama-lamanya.
Untuk anak:
“Alloh tidak pernah mati.”
18. Samī‘an — Alloh selalu Maha Mendengar
Artinya: Alloh selalu mendengar.
Untuk anak:
“Bisikan doa dalam hati pun Alloh dengar.”
19. Baṣīran — Alloh selalu Maha Melihat
Artinya: Alloh selalu melihat.
Untuk anak:
“Alloh melihat perbuatan baik kita, meskipun tidak ada orang yang melihat.”
20. Mutakalliman — Alloh selalu Maha Berfirman
Artinya: Alloh memiliki sifat kalam.
Untuk anak:
“Kita mengenal petunjuk Alloh melalui Al-Qur’an.”
Cara Mudah Mengajarkan ke Anak
Sahabat Cahayaku bisa ajarkan bertahap, jangan langsung semuanya sekaligus.
Hari pertama ajarkan:
Alloh ada. Alloh satu. Alloh tidak sama dengan makhluk.
Hari kedua:
Alloh Maha Kuasa. Alloh Maha Mengetahui. Alloh Maha Mendengar. Alloh Maha Melihat.
Hari ketiga:
Alloh tidak butuh kita, tapi kita selalu butuh Alloh.
Lalu biasakan anak menjawab dengan kalimat sederhana:
Siapa Tuhan kita?
Alloh.
Berapa Tuhan kita?
Satu.
Apakah Alloh sama seperti manusia?
Tidak. Alloh tidak sama dengan makhluk.
Apakah Alloh melihat kita?
Iya, Alloh Maha Melihat.
Apakah Alloh mendengar doa kita?
Iya, Alloh Maha Mendengar.
Lagu / Hafalan Ringkas Anak
Bisa dihafalkan pelan-pelan:
Alloh ada, Alloh satu,
Alloh kekal tak pernah layu.
Alloh tahu isi hati,
Alloh lihat setiap hari.
Alloh dengar doa hamba,
Alloh sayang pada semua.
Maka aku rajin sholat,
jujur, sopan, taat, dan hemat.
Pesan Tauhid untuk Anak
Ajarkan dengan lembut:
“Nak, Alloh itu dekat dengan ilmu dan kasih sayang-Nya. Kalau kamu takut, berdoalah. Kalau kamu salah, minta ampun. Kalau kamu senang, ucapkan Alhamdulillah. Kalau kamu bingung, minta petunjuk kepada Alloh.”
Intinya, sifat 20 bukan hanya hafalan, tetapi jalan agar anak tumbuh menjadi beriman, jujur, lembut, tidak sombong, dan merasa selalu dijaga oleh Alloh.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Saudara saudari Cahayaku semua nya bagi yg punya anak
Subhanallah, Alhamdulillah. Selain Sifat 20, pembelajaran anak di rumah sebaiknya disusun bertahap: dari iman, adab, ibadah, akhlak, doa harian, sampai cinta Rasulullah ﷺ.
Intinya, anak jangan hanya dibuat hafal, tetapi dibuat mengenal Alloh dengan hati yang gembira, mencintai Nabi ﷺ, terbiasa sholat, sopan kepada orang tua, dan jujur dalam hidup.
1. Tauhid Dasar
Setelah anak mengenal Sifat 20, lanjutkan dengan tauhid sederhana:
Siapa Tuhan kita? Alloh.
Berapa Tuhan kita? Satu.
Siapa yang menciptakan kita? Alloh.
Kepada siapa kita berdoa? Kepada Alloh.
Siapa yang memberi rezeki? Alloh.
Siapa yang menjaga kita? Alloh.
Ajarkan dengan lembut:
“Nak, semua yang kita punya adalah titipan Alloh. Maka kita harus bersyukur, tidak sombong, dan rajin berdoa.”
2. Rukun Iman
Ajarkan 6 rukun iman dengan bahasa ringan:
Iman kepada Alloh.
Iman kepada malaikat.
Iman kepada kitab-kitab Alloh.
Iman kepada rasul-rasul Alloh.
Iman kepada hari akhir.
Iman kepada qadha dan qadar.
Untuk anak cukup dijelaskan begini:
“Kita percaya kepada Alloh, percaya kepada malaikat, percaya kepada Al-Qur’an, cinta kepada para Nabi, ingat bahwa hidup akan kembali kepada Alloh, dan yakin semua ketentuan Alloh pasti ada hikmahnya.”
3. Rukun Islam
Ajarkan 5 rukun Islam:
Syahadat.
Sholat.
Zakat.
Puasa Ramadhan.
Haji bagi yang mampu.
Untuk anak, yang paling ditekankan dulu:
syahadat, sholat, puasa, sedekah, dan cinta masjid.
Kalimat sederhana:
“Islam itu mengajarkan kita menyembah Alloh, sholat, berbagi, menahan diri, dan menjadi manusia baik.”
4. Mengenal Nabi Muhammad ﷺ
Ini penting sekali, Sahabat Cahayaku. Anak-anak harus dibuat cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Ajarkan:
Nama beliau: Muhammad bin Abdullah.
Ayah beliau: Abdullah.
Ibu beliau: Aminah.
Kakek beliau: Abdul Muthalib.
Kota kelahiran beliau: Makkah.
Sifat utama beliau: jujur, amanah, penyayang, sabar, dan berakhlak mulia.
Kalimat untuk anak:
“Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling baik akhlaknya. Kita cinta Nabi dengan meniru akhlaknya.”
5. Adab kepada Orang Tua
Ini pembelajaran inti di rumah.
Ajarkan anak:
berkata lembut, tidak membentak, membantu orang tua, mendoakan ayah ibu, mencium tangan, meminta izin, tidak membantah dengan kasar.
Doa yang bisa diajarkan:
Rabbi-ghfir lī wa liwālidayya warḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā.
“Ya Alloh, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil.”
6. Adab Harian
Ajarkan adab kecil tapi sangat besar nilainya:
sebelum makan membaca Bismillah, setelah makan Alhamdulillah, masuk rumah salam, keluar rumah doa, sebelum tidur doa, bangun tidur syukur, masuk WC dengan adab, berpakaian sopan, menjaga kebersihan.
Untuk anak, ulangi dengan pola:
“Anak sholeh itu bersih, sopan, jujur, dan s**a berdoa.”
7. Doa-Doa Pendek Harian
Mulai dari doa yang mudah:
Sebelum makan:
Bismillāh
Sesudah makan:
Alḥamdulillāh
Sebelum tidur:
Bismika Allāhumma aḥyā wa amūt
Bangun tidur:
Alḥamdulillāhilladzī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilaihin-nusyūr
Masuk WC:
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-khubutsi wal-khabā’its
Keluar WC:
Ghufrānak
Tidak perlu semua sekaligus. Satu doa dihafalkan sampai lancar, baru lanjut.
8. Hafalan Surat Pendek
Urutan yang mudah:
Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Kautsar, Al-‘Ashr, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Kafirun.
Untuk anak, jangan dikejar cepat. Lebih baik sedikit tapi benar bacaannya.
Setiap selesai hafalan, beri pujian:
“MasyaAlloh, Alloh senang anak yang mau belajar Al-Qur’an.”
9. Sholat Dasar
Ajarkan anak mengenal:
nama sholat 5 waktu, jumlah rakaat, arah kiblat, wudhu, gerakan sholat, bacaan pendek, dan makna sholat.
Untuk awal, jangan langsung berat. Biasakan anak melihat orang tua sholat. Anak akan lebih mudah meniru daripada hanya diperintah.
Kalimat lembut:
“Sholat itu cara kita berbicara kepada Alloh.”
10. Akhlak Mulia
Ini buah dari semua pelajaran.
Ajarkan anak menjadi:
jujur, amanah, sabar, pemaaf, rendah hati, tidak mengejek, tidak mengambil barang orang, tidak berbohong, tidak kasar, s**a menolong, sayang hewan, sayang teman.
Bisa pakai tanya jawab:
Kalau menemukan uang teman, apa yang dilakukan?
Dikembalikan.
Kalau salah, apa yang diucapkan?
Maaf.
Kalau diberi sesuatu, apa yang diucapkan?
Terima kasih dan Alhamdulillah.
11. Mengenal Malaikat
Ajarkan 10 malaikat dengan tugasnya secara sederhana:
Jibril membawa wahyu.
Mikail mengatur rezeki dengan izin Alloh.
Israfil meniup sangkakala.
Izrail mencabut nyawa.
Munkar dan Nakir bertanya di alam kubur.
Raqib mencatat amal baik.
Atid mencatat amal buruk.
Malik menjaga neraka.
Ridwan menjaga surga.
Tekankan kepada anak:
“Malaikat adalah makhluk Alloh yang taat. Kita belajar supaya ikut taat kepada Alloh.”
12. Mengenal Surga dan Neraka
Untuk anak-anak, jangan terlalu menakut-nakuti. Jelaskan seimbang.
Surga adalah tempat kebahagiaan bagi hamba yang beriman dan taat.
Neraka adalah peringatan agar manusia tidak berbuat jahat dan tidak durhaka.
Kalimat yang aman:
“Kita berbuat baik bukan hanya takut neraka, tapi karena kita cinta Alloh dan ingin masuk surga dengan rahmat-Nya.”
13. Kisah Nabi dan Orang Sholeh
Anak-anak sangat cocok belajar lewat cerita.
Mulai dari:
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Yunus, Nabi Yusuf, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ﷺ.
Ambil hikmahnya, bukan hanya ceritanya.
Contoh:
Nabi Ibrahim mengajarkan tauhid.
Nabi Ismail mengajarkan taat kepada orang tua.
Nabi Yusuf mengajarkan sabar dan menjaga diri.
Nabi Yunus mengajarkan taubat.
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan akhlak mulia.
14. Dzikir Ringan untuk Anak
Jangan terlalu berat. Cukup:
Subhanalloh 11×
Alhamdulillah 11×
Allohu Akbar 11×
Lā ilāha illalloh 11×
Sholawat 11×
Bisa dibaca sebelum tidur atau setelah Maghrib.
Kalimatnya:
“Nak, dzikir itu membuat hati terang dan tidak mudah takut.”
15. Pendidikan Kebersihan dan Halal-Haram
Ajarkan:
bersih badan, bersih pakaian, bersih kamar, makan halal, tidak mengambil milik orang, tidak berkata kotor, tidak menyakiti hewan, tidak membuang sampah sembarangan.
Anak yang belajar agama juga harus belajar kebersihan, karena kebersihan bagian dari adab hidup seorang Muslim.
Urutan Belajar di Rumah yang Paling Mudah
Bisa dibuat jadwal sederhana:
Senin: Tauhid dan Sifat Alloh
Selasa: Doa harian
Rabu: Hafalan surat pendek
Kamis: Kisah Nabi
Jumat: Sholawat dan adab masjid
Sabtu: Akhlak dan adab kepada orang tua
Ahad: Praktik wudhu, sholat, sedekah, dan evaluasi ringan
Durasi cukup 10–20 menit sehari. Jangan terlalu lama, supaya anak tidak merasa agama itu berat.
Kunci Mengajar Anak
Sahabat Cahayaku, anak-anak paling mudah belajar dari contoh, bukan hanya nasihat.
Kalau orang tua sholat, anak ikut cinta sholat.
Kalau orang tua berkata lembut, anak ikut lembut.
Kalau orang tua s**a dzikir, anak ikut s**a dzikir.
Kalau orang tua mudah minta maaf, anak belajar rendah hati.
Maka pendidikan terbaik di rumah adalah:
orang tua menjadi contoh hidup dari ilmu yang diajarkan.
Semoga Alloh menjadikan anak-anak kita anak yang sholeh-sholehah, lembut hatinya, kuat imannya, terang pikirannya, baik akhlaknya, cinta Al-Qur’an, cinta Rasulullah ﷺ, berbakti kepada orang tua, dan menjadi cahaya kebaikan bagi keluarga. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

13/08/2026

MENGENAL DIRI, MENGENAL ILAHI

Menyingkap Tabir Cahaya Nurun ‘ala Nurin di Dalam Jiwa

Ada sebuah perjalanan yang tidak ditempuh dengan kaki, tetapi dengan hati.

Perjalanan itu adalah perjalanan mengenal diri.

Sebab selama manusia hanya mengenal tubuhnya, ia baru mengenal kulit kehidupan. Selama ia hanya mengenal pikiran, ia baru mengenal gelombang yang datang dan pergi. Tetapi ketika ia mulai menyelami hati, mengenali kelemahan dirinya, membersihkan nafsunya, dan menyadari ketergantungannya kepada Allah, di sanalah perjalanan Makrifatullah mulai menemukan arah.

Allah berfirman:

«“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 20–21)»

Ayat ini mengajak manusia untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, bukan untuk menjadikan diri sebagai Tuhan, tetapi untuk menyadari bahwa diri manusia adalah makhluk yang sepenuhnya bergantung kepada Sang Pencipta.

---

🌕 APA MAKNA “NURUN ‘ALA NURIN”?

Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 35:

«“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”»

Dan pada penghujung ayat:

«“Nurun ‘ala nur.”
Cahaya di atas cahaya.»

Dalam perjalanan tasawuf, ungkapan ini dapat direnungkan sebagai gambaran tentang bagaimana cahaya petunjuk Allah menerangi hati yang dibersihkan dan dipersiapkan untuk menerima petunjuk-Nya.

Bukan berarti manusia memiliki Dzat Allah di dalam tubuhnya.

Bukan p**a berarti manusia berubah menjadi Allah.

Allah tetap Allah, hamba tetap hamba.

Inilah batas tauhid yang harus dijaga.

Yang mengalami perubahan adalah kesadaran seorang hamba: dari lalai menjadi ingat, dari sombong menjadi tawadhu, dari bergantung kepada makhluk menjadi bergantung kepada Allah, dari mengikuti hawa nafsu menuju tunduk kepada kehendak-Nya.

---

🪞 MENGENAL DIRI: SIAPAKAH “AKU”?

Ketika seseorang berkata:

“Aku.”

Maka pertanyaannya:

Aku yang mana?

Tubuh?

Tubuh akan tua.

Pikiran?

Pikiran berubah.

Perasaan?

Perasaan datang dan pergi.

Keinginan?

Keinginan selalu berganti.

Lalu siapakah yang menyaksikan semuanya itu?

Di sinilah manusia diajak memasuki wilayah perenungan.

Dalam bahasa spiritual, diri memiliki lapisan-lapisan: jasad, nafs, qalb, ruh, dan kesadaran seorang hamba yang terus diarahkan kepada Allah.

Semakin seseorang mengenal keterbatasan dirinya, semakin ia memahami bahwa dirinya bukan pemilik mutlak kehidupan.

Napasnya bukan miliknya secara mutlak.

Denyut jantungnya bukan hasil kehendaknya sendiri.

Kemampuan melihat, mendengar, berpikir, mencintai, bahkan hidup—semuanya berada dalam kehendak dan pemeliharaan Allah.

Maka pengenalan terhadap diri seharusnya melahirkan satu kesadaran:

“Aku adalah hamba. Allah adalah Rabb-ku.”

---

🔥 TABIR YANG MENUTUP CAHAYA

Cahaya petunjuk bukan tidak ada.

Sering kali justru hati kita yang tertutup oleh tabir.

Tabir itu dapat berupa:

- kesombongan,
- cinta dunia yang berlebihan,
- iri dan dengki,
- amarah,
- syahwat yang tidak terkendali,
- merasa paling benar,
- riya,
- ujub,
- cinta kedudukan,
- dan keakuan yang terus berkata: “Aku.”

Semakin kuat ego mempertahankan dirinya, semakin sulit hati menerima kebenaran.

Karena itu jalan Makrifatullah bukan perlombaan mencari pengalaman mistik.

Bukan p**a mengejar kesaktian.

Bukan mencari pengakuan bahwa dirinya sudah sampai.

Justru semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin rendah hati, lembut, jujur, sabar, berakhlak, dan takut menyandarkan sesuatu kepada dirinya sendiri.

---

🌌 CAHAYA DI DALAM JIWA

Bayangkan sebuah cermin.

Jika cermin itu penuh debu, cahaya tetap ada, tetapi pantulannya menjadi kabur.

Begitu p**a hati manusia.

Allah tidak membutuhkan manusia untuk menerangi-Nya.

Manusialah yang membutuhkan cahaya petunjuk Allah.

Ketika hati dibersihkan melalui taubat, dzikir, shalat, membaca Al-Qur'an, muhasabah, dan memperbaiki akhlak, maka hati menjadi lebih jernih dalam menerima petunjuk.

Itulah salah satu makna spiritual dari perjalanan menuju Nurun ‘ala Nur:

cahaya petunjuk menuntun cahaya kesadaran manusia menuju kebenaran.

Bukan manusia menjadi sumber cahaya.

Tetapi manusia menjadi semakin mampu mengenali, menerima, dan mengikuti petunjuk Allah.

---

🕊️ DZIKIR: MENGHIDUPKAN KESADARAN

Dzikir bukan sekadar gerakan lisan.

Dzikir adalah proses membawa hati kembali kepada Allah.

Lisan berdzikir.

Pikiran mengingat.

Hati menyadari.

Perbuatan membuktikan.

Jika seseorang berdzikir tetapi lisannya menyebut Allah sementara perilakunya penuh kesombongan, maka masih ada pekerjaan besar dalam perjalanan batinnya.

Dzikir yang matang seharusnya melahirkan akhlak yang semakin baik.

Karena tujuan dzikir bukan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Tujuannya adalah membuat seorang hamba semakin sadar:

“Aku tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

---

🌿 DARI “AKU” MENUJU “ENGKAU”

Salah satu perjalanan terberat dalam tasawuf adalah menundukkan keakuan.

Pada awal perjalanan:

“Aku beribadah.”

Kemudian kesadaran berubah:

“Allah memberiku kemampuan untuk beribadah.”

Kemudian:

“Aku membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.”

Dan akhirnya seorang hamba semakin menyadari bahwa seluruh hidupnya berada dalam ketergantungan kepada Allah.

Inilah semangat fana yang harus dipahami dengan hati-hati.

Fana bukan berarti Dzat manusia melebur menjadi Dzat Allah.

Fana adalah lenyapnya dominasi keakuan, kesombongan, dan ego ketika seorang hamba semakin tunduk kepada Allah.

Kemudian baqa dapat direnungkan sebagai keadaan seorang hamba yang tetap hidup di dunia dengan membawa kesadaran untuk beribadah, berakhlak, dan menjalankan amanah Allah.

---

🌹 MAKRIFATULLAH BUKAN SEKADAR PENGETAHUAN

Orang dapat mengetahui banyak kitab tetapi belum tentu mengenal Allah dengan kedalaman hati.

Makrifat bukan sekadar banyak berbicara tentang rahasia.

Makrifat bukan gelar.

Makrifat bukan pengakuan:

“Aku sudah sampai.”

Justru orang yang semakin mengenal Allah akan semakin menyadari betapa luasnya kebodohan dirinya.

Ia semakin takut berdusta atas nama Allah.

Ia semakin menjaga lisannya.

Ia semakin menghormati syariat.

Ia semakin mencintai Rasulullah ﷺ.

Ia semakin menghargai manusia.

Ia semakin mudah memaafkan.

Dan ia semakin sadar bahwa segala pujian hakiki kembali kepada Allah.

---

✨ TANDA CAHAYA ITU MULAI MENYINARI HATI

Bukan dengan munculnya kesaktian.

Bukan dengan merasa dapat melihat perkara gaib.

Tetapi lihatlah akhlaknya.

Apakah shalatnya semakin baik?

Apakah lisannya semakin terjaga?

Apakah hatinya semakin lembut?

Apakah ia semakin rendah hati?

Apakah ia semakin sabar?

Apakah ia semakin takut menyakiti sesama?

Apakah ia semakin ikhlas ketika tidak dipuji?

Apakah ia tetap mengingat Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Jika iya, maka ada perubahan nyata dalam perjalanan ruhani.

Cahaya yang benar melahirkan perubahan akhlak.

---

🕯️ JANGAN MENCARI ALLAH HANYA DI LUAR

Jangan memahami ungkapan “mengenal diri mengenal Ilahi” secara keliru.

Allah tidak berada di dalam tubuh manusia.

Allah tidak menjadi manusia.

Allah tidak menyatu secara fisik dengan makhluk.

Tetapi manusia dapat mengenal Allah melalui ayat-ayat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, wahyu-Nya, ciptaan-Nya, dan petunjuk-Nya yang menerangi hati.

Karena itu ketika seseorang memandang dirinya, hendaknya ia melihat:

betapa lemahnya dirinya dan betapa sempurnanya Allah.

Ketika melihat hidup:

betapa bergantungnya dirinya dan betapa sempurnanya pengaturan Allah.

Ketika melihat alam:

betapa luas tanda-tanda kekuasaan Allah.

Dan ketika melihat hatinya:

betapa ia membutuhkan petunjuk Allah setiap saat.

---

🌙 JALAN PRAKTIS MENYINGKAP TABIR

Mulailah dari perkara yang nyata.

Pertama: Taubat.
Bersihkan dosa dan kesalahan dengan penyesalan yang tulus.

Kedua: Tegakkan shalat.
Jangan mencari hakikat dengan meninggalkan syariat.

Ketiga: Dzikir.
Hidupkan lisan dan hati dengan mengingat Allah.

Keempat: Tadabbur Al-Qur'an.
Jadikan Al-Qur'an sebagai cahaya petunjuk, bukan sekadar bacaan.

Kelima: Muhasabah.
Tanyakan setiap malam: apa yang hari ini mendekatkanku kepada Allah dan apa yang justru menjauhkan?

Keenam: Perbaiki akhlak.
Karena kedalaman spiritual harus terlihat dalam perilaku.

Ketujuh: Carilah guru yang amanah dan berilmu.
Seorang pembimbing ruhani yang benar tidak mengajak manusia menyembah dirinya, tetapi mengarahkan manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

---

🌄 PUNCAK PERJALANAN

Pada akhirnya, perjalanan mengenal diri bukan untuk menemukan “Tuhan yang berada di dalam diri.”

Tetapi untuk menemukan kenyataan bahwa:

diriku adalah hamba,
hidupku adalah amanah,
nafasku adalah kesempatan,
hatiku membutuhkan petunjuk,
dan seluruh perjalanan hidupku akan kembali kepada Allah.

Allah berfirman:

«“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)»

Maka rahasia terbesar perjalanan ruhani bukanlah menemukan sesuatu yang baru.

Melainkan menyingkirkan apa yang selama ini menghalangi hati untuk tunduk kepada Allah.

Ketika tabir keakuan mulai menipis, seorang hamba tidak berkata:

“Aku telah menjadi Tuhan.”

Justru ia berkata:

“Ya Allah, semakin aku mengenal diriku, semakin aku sadar bahwa aku hanyalah hamba-Mu.”

Dan mungkin di sanalah pintu Makrifatullah mulai terbuka:

bukan ketika manusia merasa telah menemukan Allah,
tetapi ketika manusia berhenti menjadikan dirinya sebagai pusat segala sesuatu.

🙏 PESAN PENUTUP

Kenalilah dirimu agar engkau mengenal kelemahanmu.
Kenalilah kelemahanmu agar engkau membutuhkan Allah.
Dekatilah Allah dengan taat, dzikir, taubat, ilmu, dan akhlak.
Bersihkan cermin hati, agar cahaya petunjuk semakin jelas.

Nurun ‘ala Nur — cahaya di atas cahaya.

Bukan untuk membesarkan “aku”,
tetapi untuk menundukkan “aku” di hadapan kebesaran Allah.

اللهم زدنا علماً ومعرفةً وهدىً وقرباً إليك

Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu, pengenalan, petunjuk, dan kedekatan kepada-Mu.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🤲

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Sampang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Tambelangan, Jawa Rimur
Sampang
69253