Bunda idaman
curahan hati#jeritanhati#keluhkesah#
terungkap di dini//
tawaku ada besamamu..
09/03/2024
Buah manggis Buah jambu
Salam manis Buat kamu😍😍🥰
08/03/2024
"Mana mungkin orang misqin kayak Bu Marini bisa beli daging? Ternyata menantunya ...."
WANITA YANG KALIAN HINA MISKIN ITU MERTUAKU. (1)
"Eh kamu kan istrinya Farhan ya? Anaknya si Marini?" tanya seorang wanita paruh baya padaku. Kutaksir usia wanita itu sekitar 48 tahunan.
"Iya, Bu. Ibu mau belanja juga?" Aku menjawabnya dengan sopan sembari tersenyum manis ke arahnya. Namun, bukannya balasan senyum yang kudapatkan melainkan tatapan sinisnya padaku.
"Ya Iyalah mau belanja. Memangnya kalau ke tukang sayur mau ngapain kalau gak belanja? Masa iya mau ng3mis?" Jawaban seseibu itu membuat beberapa wanita yang juga tengah berbelanja mendadak tertawa.
Memangnya apa yang salah dari pertanyaanku? Kan aku juga nanyanya baik-baik. Tapi, kenapa dia ketus begitu? Hah, terserah lah emangnya aku pikirin. Aku pun kembali melanjutkan aktivitas belanjaku.
"E e e e yang itu jangan diambil. Taro lagi!" Aku menghentikan pergerakan tangan ketika suara si Ibu tadi kembali terdengar di telinga. Apa sih maksud dan maunya dia?
"Kenapa, Bu? Ada yang salah?"
"Jelas salah! Ayam itu mau aku ambil. Lagian kamu ngapain ngambil-ngambil ayam itu? Kayak yang mampu beli aja." Aku kembali mengerutkan dahi. Sungguh, apa sih maksud perkataan wanita tua itu?
"Ya biarin aja sih Bu Maemunah. Siapa tahu dia beneran mau beli," timpal seseibu yang lainnya.
"Halah, dvit dari mana coba. Gegayaan pengen belanja ayam segala. Noh biasanya si Ibu mertuanya mah hobi belanja tempe, tahu, sama kangkung doang. Mentok juga belinya ikan cue yang harga empat ribu satu keranjang kecilnya."
"Maksudnya Ibu apa? Siapa yang gak mampu beli?"
"Ya kamu lah. Siapa lagi? Suami kamu kan kerjaannya cuma tukang parkir paling juga ngasih kamu nafkah berapa sih? Noh tahu sama tempe saja kamu belanjanya. Itu sangat pantas buat kamu sekeluarga makan." Tanganku mengepal erat. Kalau sudah begini jiwa barbarku seakan meronta-ronta minta untuk diluapkan.
Tahan Sofia, tahan … jangan sampai kamu malu-maluin keluarga Mas Farhan kalau sampe ngereog di sini.
Kuhembuskan napas lalu membuangnya, hembuskan lagi, napas lagi. Oke, cukup! Kalau keterusan takut ada yang keluar lewat jalur belakang. Takut juga nantinya aroma kandang sapi akan keluar. Kan tidak lucu kalau ada gosip menantu barunya Bu Marini tukang ngereog sama tukang ngeluarin aroma kandang sapi. Iyuuuhhh.
"Heh! Kok malah bengong! Lepas! Ayamnya mau aku bayar!" Si Ibu yang aku baru tau namanya Maemunah itu menyentak tanganku hingga terlepas dari kantong kresek yang berisikan satu kilo ayam mentah.
Aku pun akhirnya melepaskan plastik ayam tersebut dan langsung saja ditarik oleh Bu Maemunah.
"Nih! Kamu mah pantesnya masak ini saja!" Bu Maemunah menyodorkan sebungkus oncom sama leunca padaku.
Hemm, bukannya aku tidak s**a sama oncom sih. Tapi kan aku mau masak menu spesial buat suamiku. Asem bener nih orang tua satu. Kalau saja dia bukan orang tua pasti sudah aku jadikan dia karag lalu aku kasih makan ayam biar ayamnya gemuk-gemuk dan bisa aku sembeleh buat kusajikan jadi opor. Huh, pagi-pagi udah dibikin kesal begini.
Sabar, Sofiya sabar. Kalau sabar nanti dikiss Mas Farhan, eh ….
Akhirnya aku mengalah, aku memutuskan mengambil bungkusan daging yang ada di depanku.
"Mang, kalau ini berapa?"
"Oh, dagingnya sisa sekilo itu. Harganya 130 ribu."
"Yaudah Mang, aku mau yang ini saja. Sama wortel juga kentangnya sekilo yah."
"Eh gak bisa juga! Daging itu juga mau aku beli!" Tiba-tiba Bu Maemunah kembali merebut sekantong daging sapi dari tanganku.
Dasar tokek belang, beraninya dia cari gara-gara sama aku. Kesabaranku habis sudah. Aku pun merebut kembali plastik daging dari tangan Bu Maemunah.
Srett.
"Lho, kenapa diambil! Kembalikan! Itu mau aku beli! Orang misqin kayak kamu dan keluarga suamimu gak cocok makan yang begituan! Buruan kembalikan!"
"Heh! Kamu pikir kamu siapa! Seenaknya saja ngerebut belanjaanku! Ayam tadi aku diam ya tapi yang ini gak akan! Memangnya aku masak harus minta persetujuan darimu apa!"
"Halah, orang misqin kayak kalian gak akan mampu beli beginian! Sini kembaliin!"
"Gak akan! Ini sudah aku cup duluan! Siapa cepat dia dapat! Lagian perasaan nih daging nganggur dari tadi tapi Ibu diam aja. Kenapa pas saya yang ambil tiba-tiba Ibu bilang mau beli?"
"Ya karena aku sedang menyelamatkan Mang sayur aja."
"Menyelamatkan? Menyelamatkan apa maksudnya?"
"Ya menyelamatkan biar gak kamu hutan9i! Kan kasian kalau kamu hutan9i Mang sayurnya!"
"Lah … sok tau bener, emangnya situ manajemen keuanganku apa? Nih, Mang! Aku bayar! Sekalian sama kentang juga wortelnya! Tuh kembaliannya ambil saja!" Aku menyerahkan uang dua ratus ribu pada Mang sayur. Lantas, aku gegas meninggalkan sekumpulan ibu-ibu tersebut sembari mendengkus kesal.
"Astaghfirullah … baru juga sehari diboyong Mas Farhan tinggal di sini tapi udah bikin naik darah. Kalau kayak begini terus bisa-bisa darah tinggi beneran nih aku, huft."
***
Tok
Tok
Tok
"Bu Marini! Bu!"
"Duh, siapa sih bertamu siang-siang gini teriak-teriak." Aku menggerutu karena suara ketukan pintu itu sangat mengganggu aku yang sedang fokus membaca novel online dari author kesayanganku.
"Bu, siapa sih yang ketuk pintu sampe segitunya? Kayak orang mau n4gih hutan9 saja?"
"Ibu juga gak tau, Nak. Tapi dari suaranya sih itu kayak Bu Salamah."
"Mau ngapain dia?"
"Biasanya sih narikin duit kebersihan sama keamanan. Terus juga sumbangan."
"Sumbangan? Sumbangan buat apa?"
"Sumbangan rutin buat warga sini yang kurang mampu. Misalnya ada warga yang kesusahan atau terkena musibah ya nanti akan dibantu pake uan9 s√mbangan itu."
Hemm, bagus sih sebenernya tapi kok ya cara datang dan n4gihnya kayak orang mau n4gih hutank saja.
"Oh ada ya yang begitu."
"Ya ada, nih nyatanya dia n4gih. Ya sudah biar Ibu saja yang buka."
Ibu mertuaku pun berjalan menuju ke depan dan membukakan pintu rumah. Namun, karena aku yang penasaran seperti apa sosok Bu Salamah yang sudah berani mengganggu ketenangan seorang Sofia.
"Heh Bu Marini! Buruan bayar ini, kamu sudah nunggak empat bulan tau gak! Jangan s√mbangannya aja mau giliran b4yar susah!" Tiba-tiba saja telingaku mendengar suara Bu Salamah memarahi Ibu. Aku tidak terima jika Ibu mertuaku diperlakukan seperti itu.
"Eh kenapa ini? Kok marah-marah sama Ibu mertua saya?"
"Oh ini menantumu yang gak punya adab itu ya. Nih Ibu mertua kamu udah n√nggak bayar uank keamanan, kebersihan, sama s√mbangan rutin!"
"Apa maksudnya saya gak punya adab?"
"Ya kamu udah ngerebut belanjaan Bu Maemunah! Pake segala ngatain dan hina dia. Dasar orang baru saja belagu!"
Huft, sabar, Sofia sabar. Ada Ibu mertua jadi jangan bikin pertunjukan di sini.
"Memangnya Ibu mertua saya kurang berapa?" Kuabaikan ucapan dia perihal fitnah Bu Maemunah.
"Nih nunggak empat bulan. Uank keamanan tiga puluh ribu sebulan, uank kebersihan dua puluh ribu sebulan, sama uank s√mbangan rutin minimal tiga puluh ribu sebulan. Jadi total 320 ribu kurangnya. Kenapa? Kamu mau bayarin?"
"Kalau iya memang kenapa?"
"Halah, benar kata Bu Maemunah. Selain gak punya adab ternyata kamu juga sombong. Istri tukang parkir aja belagunya bukan main."
Tak kuhiraukan ucapan menyakitkan dari Bu Salamah. Aku pun bergegas masuk lagi ke dalam kamar dan mengambil dompet. Aku pun kembali lagi sembari membawa dompet tersebut.
"Nih 320 ribu buat tunggakan Ibu mertuaku dan ini 480 ribu buat enam bulan kedepan untuk uang keamanan, kebersihan, sama s√mbangan rutin. Nih aku tambah lagi 200 ribu buat nambahin uang s√mbangan rutinnya. Jadi, genep satu juta Ibu mertua aku bayar sama Bu Salamah."
https://read.kbm.id/book/detail/70cbd1f3-789f-4079-81bd-dd61a5a3554b?af=c410eb8c-f039-c132-fa1e-e22e0dc579d1
06/03/2024
Di langit mungkin banyak Bintang,, mukinkah di hatimu ada aku🤭
06/02/2024
Satu titik di dua koma,, aku cantik kamu yg punya🤭🤭
21/01/2024
Gandeng aku d**g biar gak jatuh😊😊
20/01/2024
Siangggg✋
😊😊
18/01/2024
Pinjem seratus di kasih 50 rupiah,,,
Kalo serius coba main kerumah 😊😊
17/01/2024
Assalamualaikum imam🙏🙏
27/03/2023
gelisah karnanya😌😌♥️
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Jln. Jendra Sudirman
Semarang