Zona Novel Seru

Zona Novel Seru

Share

Follow ya, untuk info novel2 seru all pf

13/03/2026

Baca di fizzo
Judul : Ditaklukkan Gadis Bercadar
Penulis : Reren Andespa

13/03/2026

MENANTU TANPA HARGA (1)

Prakkk!

Aku berdiri mematung, menatap pecahan gelas yang berserakan di lantai. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut terluka, melainkan karena aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Ya ampun, Alya!" pekik suara yang sudah terlalu akrab di telingaku. Ibu mertuaku melangkah memasuki dapur dengan wajah merah padam. Aku bisa melihat api kemarahan di matanya yang langsung tertuju padaku.

"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?! Kamu memecahkan gelas mahal itu!" Suaranya meninggi, menusuk telingaku. "Kamu tahu nggak kalau semua benda di rumah ini harganya mahal? Kamu itu nggak akan pernah sanggup membelinya, Alya!"

Kata-katanya seperti belati yang menancap dalam di hatiku. Aku menunduk, mencoba meredam air mata yang mulai menggenang di sudut mata. Tapi ini bukan kali pertama. Sudah terlalu sering aku diperlakukan seperti ini. Semua karena satu alasan; aku adalah menantu miskin yang menurut mereka, tidak pantas berada di rumah besar ini.

"Maaf, Bu. Alya nggak sengaja, tangan Alya tadi lemas sekali," sahutku dengan suara gemetar.

Dan memang benar, tubuhku rasanya seperti kehilangan tenaga. Sejak pagi aku bekerja tanpa henti. Membersihkan rumah besar ini, mencuci, memasak—semua aku lakukan sendiri. Mbok Imah, pembantu rumah ini, sedang cuti beberapa hari karena anaknya menikah di kampung. Namun, beban yang berat ini tidak pernah dianggap sebagai alasan.

"Alasan!" bentak ibu mertuaku. Mata tajamnya seperti hendak menerkamku. "Kamu itu memang nggak becus! Pekerjaan sesederhana ini saja nggak bisa kamu selesaikan dengan baik!"

Aku menggigit bibir, mencoba menahan emosi yang sudah hampir meluap. Kalau bukan karena cinta, aku pasti sudah lama pergi dari tempat ini. Tapi aku tetap bertahan, demi Mas Amran, pria yang aku cintai lebih dari apapun.

"Ada apa, Bu?" suara lembut Mas Amran tiba-tiba terdengar. Ia muncul di pintu dapur, menatap ibunya dengan raut penuh tanya.

"Lihat tuh istri kamu, Amran!" Suara ibu mertuaku meninggi lagi. "Entah sudah berapa kali dia memecahkan gelas-gelas mahal ibu! Kamu itu benar-benar nggak punya otak waktu milih istri. Lihat abangmu Wisnu, dia menikah dengan dokter kecantikan ternama. Bukan wanita miskin lulusan SMA seperti istri kamu ini!"

Aku membeku. Apa yang baru saja dia katakan? Itu jelas fitnah, setelah satu tahun menjadi menantu di keluarga ini. Ini baru pertama kalinya aku memecahkan gelas. Aku menggigit bibir lebih keras, menahan air mata yang sudah hampir meluap.

"Ibu!" Suara Mas Amran terdengar lebih tegas dari biasanya. "Alya sudah melakukan yang terbaik di rumah ini. Kalau ada yang salah, itu bukan sepenuhnya salah dia. Jangan terus-terusan menghina istriku, Bu!"

Aku menatap Mas Amran dengan mata berkaca-kaca. Ini bukan pertama kalinya dia membelaku, dan aku tahu dia benar-benar tulus melakukannya. Namun, di saat yang sama, aku tahu bahwa pembelaannya hanya akan memperburuk suasana.

"Ah, sudahlah, Amran! Kamu sudah dibutakan cinta!" Ibu mertuaku mendengus, lalu melangkah keluar dapur.

Namun, sebelum pergi, dia sempat menambahkan kalimat terakhir yang terasa seperti hantaman palu di dadaku. "Kalian sudah menikah selama setahun. Kamu lihat, sampai sekarang kalian belum punya anak. Mungkin ini karma, karena kamu menikah dengan perempuan seperti dia."

Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya jatuh juga. Aku tak mampu menahan lagi. Mas Amran mendekat, menggenggam tanganku erat. "Maafkan Ibu," bisiknya.

Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski hati ini rasanya remuk redam. Tapi dalam hati aku bertanya-tanya; sampai kapan aku harus bertahan di sini?

"Sudah, biar Mas saja yang bersihkan pecahan gelas ini. Mas nggak mau kamu terluka." Suara Mas Amran terdengar lembut namun tegas. Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung mengambil alih pekerjaanku. Dengan cekatan, ia mengumpulkan serpihan kaca itu satu per satu dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

Aku berdiri di dekatnya, menatap punggungnya yang kokoh. Dalam hati, aku merasa bersyukur memiliki suami seperti Mas Amran. Tapi rasa syukur itu bercampur dengan kepedihan. Haruskah dia terus menerus berada di tengah konflik ini, hanya karena aku?

"Mas?" panggilku pelan, suaraku serak menahan tangis.

Mas Amran menoleh, wajahnya lembut seperti biasa. "Ya, Sayang. Ada apa?" Ia meletakkan serpihan terakhir di tong sampah, lalu mendekat, mengusap lembut p**iku. "Jangan masukin ke hati ucapan Ibu tadi, ya? Ibu memang s**a seperti itu. Mas tahu kamu pasti capek banget hari ini."

Aku mencoba tersenyum, tapi gagal. Air mata yang kutahan sejak tadi mulai menetes. "Iya, Mas. Aku nggak apa-apa kok." Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, dan aku tahu aku harus mengatakannya.

"Mas ..." aku menghela napas panjang, mencoba menguatkan diriku. "Apa tidak sebaiknya kita pergi dari rumah ini?"

Mas Amran tertegun. Wajahnya berubah, keningnya berkerut seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maksud kamu apa, Sayang?"

Aku menunduk, menghindari tatapannya yang penuh tanya. "Aku cuma berpikir ... kita tinggal di kontrakan aja, Mas. Aku nggak mau terus-terusan begini. Aku capek ... dihina, dibanding-bandingkan. Rasanya setiap hari aku harus menahan diri biar nggak meledak."

Mas Amran diam sejenak, seolah mencerna ucapanku. Tapi aku tahu dia belum sepenuhnya setuju, jadi aku melanjutkan, mencoba meyakinkannya.

"Gaji Mas yang sepuluh juta per bulan itu pasti cukup buat kita hidup berdua. Kita nggak perlu mewah, Mas. Yang penting aku bisa merasa tenang ... merasa dihargai." Suaraku bergetar, air mataku kembali jatuh.

"Alya ..." Mas Amran menghela napas panjang, mendekat dan menggenggam kedua tanganku. "Mas ngerti apa yang kamu rasain. Mas tahu, Ibu sering bikin kamu sedih. Tapi kamu juga tahu kenapa Mas nggak mau pergi dari sini. Ibu dan Ayah sudah tua, Sayang. Mas nggak tega ninggalin mereka."

"Tapi, Mas ..." aku menatapnya dengan mata penuh harap. "Sampai kapan? Sampai aku nggak sanggup lagi? Sampai aku kehilangan diriku sendiri? Mas, aku juga butuh bahagia. Aku nggak kuat kalau harus terus begini ..."

Mas Amran terdiam, tatapannya berubah sendu. Ia mengangkat tanganku ke dadanya, menggenggamnya erat. "Mas janji, Alya. Mas akan terus lindungi kamu. Kalau memang ini yang terbaik, Mas akan pikirkan. Tapi kasih Mas waktu, ya? "

***

Judul : Menantu Tanpa Harga

Penulis : Reren Andespa

Baca selengkapnya di KBM App

20/02/2026

GUS ARKHAN, AYO KITA NIKAH (4)

Isak tangis Kayla menyayat hati Bu Rahma. Gumpalan-gumpalan tisu telah berserakan di lantai kamar, namun air mata itu tak juga berhenti mengalir. Tubuh Kayla terguncang oleh tangis yang ia tahan sejak tadi di ruang tamu.
“Kayla, sayang,” bujuk Bu Rahma lembut sambil mengusap punggung putrinya. “Sudah, Nak. Jangan menangis lagi.”

Ia mencoba tersenyum, meski dadanya ikut sesak. “Kamu itu cantik. Kamu bisa dapat yang lebih tampan, lebih baik dari Gus Arkhan.”

“Tapi aku maunya Gus Arkhan, Bu …” Kayla kembali terisak. Suaranya pecah. “Pria yang selama ini selalu aku doakan di setiap salat. Pria yang selama ini hanya bisa aku kagumi diam-diam.” Dadanya naik turun. “Pria yang membuatku ingin mondok di pesantren itu … Arkhan.”

Bu Rahma terdiam.

“Aku cuma ingin dia jadi suamiku,” lanjut Kayla lirih, lalu suaranya meninggi. “Tapi kenapa? Kenapa dia lebih memilih Nada?”

Kayla bangkit dari duduknya. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata yang tak sempat ia seka.

“Nada yang bodoh!” teriaknya. “Nada yang nggak pernah bisa bikin ayah dan ibu bangga. Nada yang nilainya selalu rendah!” Dadanya bergemuruh oleh amarah dan luka. “Sementara aku?” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Aku ini anak kalian yang pintar!”

Langkahnya terhenti di depan lemari kaca. Dengan tangan gemetar, ia menunjuk deretan piala dan piagam yang tersusun rapi.

“Lihat semua ini, Bu!” suaranya bergetar hebat. “Semua ini aku yang dapatkan. Bukan Nada! Aku yang berprestasi. Aku yang membanggakan!”

Kayla menoleh kembali pada ibunya, air matanya jatuh satu per satu.

“Tapi kenapa?” suaranya merendah, hampir seperti bisikan yang hancur. “Kenapa pria yang aku kagumi itu lebih memilih Nada?”

“Kenapa … Bu?”

Bu Rahma menatap putrinya dengan dada sesak.

“Kamu yang tenang, ya,” ucap Bu Rahma lembut, menahan gejolak di dadanya. Ia menghampiri Kayla lalu menuntun putri kesayangannya itu duduk di sofa kamar. Tangan Bu Rahma mengusap p**i Kayla, menghapus sisa air mata yang masih mengalir.

“Kalau kamu sedih begini, ibu juga ikut sedih,” katanya lirih. “Sudah, jangan menangis lagi. Biar ibu yang urus semuanya.”

Beberapa saat kemudian, setelah napas Kayla mulai teratur, Bu Rahma melangkah keluar kamar. Wajahnya berubah, kelembutan itu menguap, digantikan oleh amarah yang tertahan.

Langkahnya berhenti di depan kamar Nada.

Bruakk!

Pintu terhempas kasar.

Nada yang tengah asyik memetik gitar langsung tersentak. Jemarinya berhenti di senar.

“Ibu?” Nada bangkit setengah duduk.

“Puas kamu, hah?” pekik Bu Rahma tajam. “Puas kamu sudah bikin kakakmu menangis? Puas kamu sudah menyakiti hati kakakmu?!”

Nada menggeleng bingung. “Aku … aku nggak ngerti maksud ibu.”

“Nggak usah sok polos, Nada!” bentak Bu Rahma. “Gara-gara lelucon kamu tadi, Gus Arkhan malah ingin melamar kamu!” Suaranya meninggi. “Dia bahkan menolak kakakmu mentah-mentah! Apa saja yang sudah kamu lakukan, Nada? Apa selama ini kamu diam-diam menggoda Gus Arkhan, hah?!”

Nada berdiri. Wajahnya pucat, matanya bergetar. “Bu, Nada nggak ngerti apa yang ibu katakan. Menggoda? Siapa yang menggoda Gus Arkhan?” Suaranya bergetar. “Kalau ucapan Nada tadi salah, Nada minta maaf. Tapi Nada ngomong begitu karena selama ini ibu selalu membandingkan Nada dengan Kak Kayla.”

Nada menelan ludah. “Nada ini juga anak ibu, Bu.” Dadanya naik turun. “Tapi kenapa … kenapa selalu Kak Kayla yang ibu banggakan?”

Bu Rahma tertawa sinis. “Karena hanya dia yang bisa bikin ibu dan ayah bangga.”

Nada menatapnya, berharap ada sedikit saja rasa sayang yang ibunya itu tunjukkan untuknya.

“Sejak kecil, cuma Kayla yang berprestasi,” lanjut Bu Rahma dingin. “Sementara kamu—”

Ucapan itu terhenti saat tangan Bu Rahma mendorong kening Nada dengan kasar.

“Kamu ini bodoh!” hardiknya. “Kamu cuma bisa bikin masalah! Cuma bikin malu!” Suaranya pecah oleh amarah. “Ibu malu punya anak seperti kamu, Nada! Ibu malu!”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan mana pun.

Nada terdiam. Dadanya sesak, seolah ribuan jarum menghimpit jantungnya sekaligus. Tenggorokannya tercekat, matanya panas, tapi tak satu pun air mata jatuh.

“Pokoknya ibu nggak mau tahu,” teriak Bu Rahma sebelum berbalik pergi. “Kamu nggak boleh menikah dengan Gus Arkhan! Ingat itu!”

Pintu dibanting keras.

Nada berdiri sendiri di kamar itu, di antara gitar yang tergeletak, dinding yang sunyi, dan hati yang hancur berkeping-keping. Ia hanya bisa bertanya dalam diam: Kalau aku bukan kebanggaan … lalu aku ini apa?

Baca di kbm App
Judul : Gus Arkhan, Ayo Kita Nikah
Penulis : Reren Andespa
Klik lin_k di k0lom komentar untuk baca lanjutannya 👇👇👇

19/02/2026

Bu Rahma menggaruk telapak tangannya yang mendadak terasa gatal. Wajahnya menegang, seolah tengah menimbang sesuatu yang sejak awal sudah ia putuskan.
“Kalau Gus Arkhan benar-benar berniat melamar putri kami,” ucapnya hati-hati, “saya sangat berharap Gus memilih putri sulung kami.” Ia melirik Kayla penuh arti. “Karena Kayla inilah yang pantas. Dia bisa menjadi istri yang sempurna untuk Gus.”

Arkhan menghela napas panjang. Tatapannya beralih pada Kayla sejenak. Gadis itu tersenyum manis, lalu buru-buru menunduk, p**inya merona malu.

“Saya memang sudah didesak Abi dan Umi untuk segera menikah,” ujar Arkhan tenang. “Dan jika Bu Rahma serta Pak Hendra tidak keberatan … saya ingin melamar putri kalian.” Ia berhenti sejenak, suaranya tetap mantap. “Saya ingin melamar Nada.”

“Apa?” Pak Hendra membulatkan mata, sementara Bu Rahma dan Kayla serempak terbatuk, seolah tersedak oleh kalimat itu.

“Nak Arkhan ingin melamar … Nada?” ulang Pak Hendra, masih tak percaya.

Arkhan mengangguk singkat. “Jika Bapak mengizinkan, tentu saja.”

Hening sesaat menyelimuti ruang tamu. Lalu perlahan, senyum lebar tersungging di wajah Pak Hendra.

“Masyaallah, alhamdulillah,” ucapnya tulus. “Tentu saja saya sangat senang, Nak Arkhan. Nada itu gadis yang baik. Saya yakin, dia bisa menjadi istri yang baik p**a.”

“Apa-apaan ini, Pak?” Bu Rahma langsung menyela, nadanya meninggi, jelas tak terima. “Semua orang tahu bagaimana Nada.” Ia menggeleng keras. “Satu kampung tahu kalau anak bungsu kita itu sejak dulu selalu jadi biang onar. Bahkan mungkin Kyai Zainal pun tahu bagaimana kelakuannya, Pak.”

Bu Rahma berdiri, emosinya tak lagi terbendung. “Bagaimana nanti kalau dia membuat perbuatan yang memalukan keluarga kita?” suaranya bergetar antara marah dan takut. “Apa Bapak siap tanggung jawab kalau itu terjadi, hah?”

“Soal itu, Ibu tenang saja,” ucap Arkhan mantap. “Jika Nada sudah menjadi istri saya, saya akan membimbingnya. Saya akan menuntunnya dengan sebaik-baiknya.”

“Tapi, Gus Arkhan,” Bu Rahma menyela cepat, suaranya bergetar. “Nada itu anak yang bandel. Anak yang nakal.” Ia menggeleng keras. “Sedangkan Gus ini orang soleh, orang terhormat, putra kyai yang disegani. Apa kata orang nanti kalau Gus menikah dengan putri kami yang penampilannya saja seperti itu?”

Nada kembali menjadi bahan perbandingan, bahkan tanpa hadir di ruangan itu.

“Dia bisa bikin malu keluarga Gus,” lanjut Bu Rahma semakin emosional. “Lebih baik Gus menikah dengan Kayla saja. Kayla itu bisa membanggakan keluarga Gus.”

“Maaf, Bu Rahma.” Suara Arkhan tetap tenang, namun tegas. “Saya hanya ingin menikah dengan Nada.”

Kalimat itu bagai pisau.

Kayla yang sejak tadi duduk diam tiba-tiba bangkit. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari keluar sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata.

“Kayla, tunggu!” Bu Rahma ikut bangkit, amarah dan panik bercampur jadi satu.

Tinggallah Pak Hendra dan Arkhan di ruang tamu. Pak Hendra menatap pemuda itu lama, seolah ingin memastikan bahwa semua ini bukan sekadar mimpi.

“Nak Arkhan benar-benar yakin ingin menikah dengan putri bungsu kami?” tanyanya pelan.

“Sangat yakin, Pak.”

“Tidak akan menyesal?”

“InsyaAllah, tidak, Pak.” Arkhan mengangguk mantap. “Saya akan menjadi suami yang baik untuknya.”

Pak Hendra menghela napas panjang. Ada rasa haru, ada p**a kehati-hatian seorang ayah.

“Kalau begitu, ada baiknya Nak Arkhan bicarakan ini lebih dulu dengan Kyai Zainal,” ujarnya bijak. “Jika Pak Kyai berkenan, maka pintu rumah ini akan terbuka lebar untuk Nak Arkhan dan keluarga.”

“Baik, Pak.” Arkhan bangkit, membenarkan sikapnya. “Akan saya sampaikan kepada Abi dan Umi.” Ia menunduk hormat. “Kalau begitu, saya pamit. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Pak Hendra lirih.

Langkah Arkhan menjauh meninggalkan rumah itu, namun keputusannya telah mengguncang semuanya.

Baca kisahnya di KBM App
Judul : Gus Arkhan, Ayo Kita Nikah
Penulis : Reren Andespa

Klik lin_k di k0lom komentar untuk lanjut baca 👇👇

17/02/2026

“Ya,” ucap Arkhan sambil membenarkan peci putih di kepalanya. Tatapannya beralih pada Nada, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia memperhatikan gadis di hadapannya: topi menutupi sebagian rambut pirang sebahu, jaket jeans melekat di tubuhnya, jauh dari gambaran perempuan yang biasa ia temui.

“Bukankah kamu ingin menikah dengan saya?” tanyanya datar.

“Anu …” Nada mendadak kelagapan. “Maksudku, eh—”

“Ah, jangan dengarkan leluconnya itu, Gus,” potong sang ibu cepat, nyaris panik. “Dia memang s**a asal bicara.” Bu Rahma lalu tersenyum kaku. “Ayo, Gus. Lebih baik kita bicarakan di dalam saja, biar tidak dilihat tetangga.”

Arkhan kembali menatap Nada. Wajah gadis itu tampak pucat, senyum usilnya menguap entah ke mana. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan.

“Pak Hendra ada di rumah?”

“Ada,” sahut Bu Rahma bersemangat. “Pasti Mas Hendra senang sekali dengan kedatangan Gus.”

Arkhan mengikuti langkah Bu Rahma masuk ke rumah. Sementara itu, Nada membenarkan posisi topinya, mengembuskan napas panjang. Baru saja p**ang dari kampus, dan kini ia terjebak dalam situasi paling tidak menyenangkan seumur hidupnya.

Ia tak bisa berbuat apa-apa selain berjalan kikuk di belakang mereka, jauh dari sikap tengil dan bar-bar yang biasanya melekat padanya.

“Pak! Bapak!” Bu Rahma memanggil suaminya lantang. “Lihat siapa yang datang ke rumah kita.”

Pak Hendra menoleh. Begitu melihat Arkhan berdiri di ambang ruang tamu, ia segera bangkit, mengelap tangannya, lalu menjabat tangan pemuda itu dengan antusias.

“Nak Arkhan? Wah, mimpi apa saya semalam sampai bisa didatangi Nak Arkhan?” katanya ramah. “Ayo, Nada, buatkan kopi untuk tamu spesial kita.”

“Biar ibu saja, Pak,” sahut Bu Rahma cepat. “Si Nada mana bisa buat kopi.” Ia melirik Nada tajam. “Sana, kamu masuk ke kamar. Jangan ganggu!”

Nada mengangkat bahu ringan. Sebelum beranjak, ia sempat melirik Arkhan dan tersenyum geli.

“Mari, Gus,” ucapnya singkat, lalu buru-buru pergi.

Arkhan menghela napas panjang, menatap punggung Nada yang menjauh.

Bu Rahma buru-buru menghampiri Kayla, putri kesayangannya, yang tengah sibuk menatap layar laptop.

“Kayla, sayang,” panggilnya lembut. “Ayo siap-siap.”

“Siap-siap?” Kayla mengangkat wajahnya, heran. “Memangnya kita mau ke mana, Bu? Bisa nggak sih Kayla menikmati masa libur Kayla dengan tenang tanpa diganggu ibu?”

Bu Rahma tersenyum penuh arti. “Ada tamu spesial. Di luar ada Gus Arkhan, Kayla. Gus Arkhan.”

Sekejap mata Kayla berbinar. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Gus Arkhan?” ucapnya dengan nada tak percaya.

“Iya. Ayo buruan! Kamu bikinkan kopi dan bawa ke depan. Jangan lupa pakai hijab kamu.”

“Beres, Bu.” Kayla tersenyum lebar. “Ibu tenang saja, aku akan buatkan kopi spesial.”

Dengan sigap, Kayla membuka lemari pakaiannya. Ia meraih gamis terbaiknya, jilbab panjang yang biasa ia kenakan ke pondok, lalu mengenakannya dengan hati-hati. Sedikit parfum disemprotkan di pergelangan tangan, pemerah bibir warna n**e ia poles tipis, cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar dan anggun.

Langkahnya nyaris berlari menuju dapur.

'Mimpi apa aku semalam?' batinnya berdesir.

Tamu yang begitu istimewa kini benar-benar duduk di ruang tamu rumahnya. Sosok yang selama ini diam-diam ia kagumi, pria yang sering ia perhatikan dari kejauhan di pondok, yang namanya tak pernah luput dari doanya setiap usai salat.

Kesempatan ini tak boleh disia-siakan.

Karena bisa jadi, hari ini adalah awal dari takdir yang selama ini hanya berani ia simpan dalam harapan.

Kayla melangkah keluar dari dapur dengan hati-hati. Sebuah nampan kecil ada di tangannya, berisi dua cangkir kopi yang aromanya hangat dan menenangkan. Gamisnya menjuntai rapi, jilbab panjang membingkai wajahnya yang teduh.

“Silakan, Gus,” ucap Kayla lembut sambil menunduk sopan, meletakkan cangkir di hadapan Arkhan.

Arkhan mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Belum sempat suasana mengalir dengan wajar, Bu Rahma sudah lebih dulu duduk mendekat, wajahnya berbinar penuh kebanggaan.

“Ini Kayla, Gus,” ujarnya antusias, seolah Arkhan belum tahu. “Putri sulung saya. Anak perempuan yang sejak kecil saya didik dengan penuh perhatian.”

Kayla tersenyum malu-malu, menundukkan wajahnya.

“Kayla ini perempuan solehah, Gus,” lanjut Bu Rahma tanpa ragu. “Rajin ibadah, tutur katanya dijaga, pakaiannya juga selalu rapi. Beda sekali sama adiknya.” Ia tertawa kecil, seolah itu hanya candaan.

“Alhamdulillah,” sahut Arkhan singkat, tetap menjaga sikapnya.

“Oh iya, Gus,” Bu Rahma kembali bersuara, nadanya makin bangga, “Kayla ini satu pesantren dengan Gus. Pondok Darul Hikmah, kan? Sejak mondok, Kayla selalu jadi anak yang penurut dan nggak pernah bikin masalah.”

Mata Kayla kembali berbinar. “Iya, Gus. Kita memang satu pondok,” ucapnya pelan. “Cuma … mungkin Gus nggak terlalu ingat.”

Arkhan menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Saya ingat,” katanya singkat.

Senyum Bu Rahma langsung melebar, seakan jawaban itu adalah pengakuan yang ia tunggu-tunggu sejak lama.

“Makanya saya senang sekali, Gus, waktu tahu yang datang ke rumah itu Gus Arkhan,” lanjutnya. “Kayla ini sudah lama saya doakan dapat pendamping yang seiman, sejalan, dan paham agama. Biar kelak rumah tangganya sakinah.”

Nada hanya bisa menghembuskan napas pelan dari balik pintu. Ia tahu, sejak awal … ibunya memang tak pernah membanggakannya seperti apa yang dilakukannya untuk Kayla.

Baca di kbm app
Judul : Gus Arkhan, Ayo Kita Nikah
Penulis : Reren Andespa

Atau klik lin_k di k0lom komentar untuk baca kisahnya hingga tamat👇👇👇

16/02/2026

“Nada, kamu itu lihat kakak kamu. Sudah cantik, solehah, dan penampilannya jauh berbeda dengan kamu yang seperti laki-laki itu,” ucapan ibunya kembali menghantam harga diri Nada. “Kakakmu nanti pasti bisa menikah dengan Gus Arkhan. Sementara kamu?”

Nada hanya bisa membuang napas kasar saat kalimat itu kembali terucap, tepat ketika ia baru saja turun dari motornya dengan gaya tomboy khas yang tak pernah benar di mata ibunya.

Belum sempat Nada membalas, sang ibu justru berseru lantang pada sosok yang kebetulan melintas di depan rumah. “Gus Arkhan!” panggilnya antusias. “Baru p**ang dari masjid ya?"

Pemuda tampan itu mengangguk dengan senyum ramah.

"Mari mampir, Kayla ada di rumah, loh.”

Nada menoleh. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung dalam senyum nakal.

“Gus Arkhan,” ucapnya ringan, seolah tak ada beban apa pun di dadanya, “ayo kita nikah.”

“Nadaaaa!” Ibunya memekik marah. “Jangan buat malu ibu!”

Nada berbalik, “Kenapa harus malu?” sahutnya santai, meski nada suaranya tajam. “Sedangkan ibu saja nggak pernah malu. Setiap hari yang keluar dari mulut ibu cuma Gus Arkhan. Kayaknya ngebet banget pengen mantu anak Pak Kyai.”

Ucapannya membuat suasana di depan rumah mendadak tegang.

Tanpa ragu, Nada melangkah mendekati sosok anak kyai yang sejak tadi tampak kebingungan, berdiri kaku seperti tak tahu harus bersikap apa.

“Tenang saja, Gus,” ujar Nada ringan. “Meski penampilanku ini setengah laki-laki, aku perempuan tulen. Perempuan normal.” Ia menyeringai tipis. “Aku memang nggak berhijab kayak Kak Kayla. Tapi kalau dituntun sama Gus … boleh lah aku pikirkan lagi nanti.”

“Nadaaa,” panggil ibunya, suaranya tertahan antara marah dan panik.

Namun Nada justru semakin berani. Ia menegakkan bahu, menatap Arkhan lurus.

“Gimana, Gus? Tertarik menikah denganku?” Nada menyeringai menggoda. “Lagian aku nggak jelek-jelek amat, kan?”

Arkhan Ziyad Al-Hakim adalah putra bungsu KH. Zainal Abidin Al-Hakim, seorang kyai ternama yang disegani dan diidam-idamkan banyak keluarga sebagai menantu. Parasnya tampan, sikapnya santun, dan kecerdasannya membuat namanya harum di pondok pesantren Darul Hikmah.

Ia terdiam sejenak, menatap Nada dengan ekspresi sulit dibaca.

“Apa kamu serius?” tanya Arkhan akhirnya.

Nada menggigit bibir. Barulah ia sadar, semua ini bermula dari lelucon, pelarian dari rasa sakit akibat perbandingan yang tak pernah usai.

“Iya …” jawabnya pelan. “Itu pun kalau Gus mau.” Suaranya bergetar, tak lagi setegas sebelumnya.

Arkhan mengangguk pelan. “Kalau kamu memang serius, saya akan ajak Abi dan Umi untuk melamarmu.”

“Hah? Melamar?” Nada dan ibunya berseru hampir bersamaan.

Baca di KBM App
Cari judul : Gus Arkhan, Ayo Kita Nikah
Penulis Reren Andespa
Atau klik lin_k di kolom komentar untuk baca kisahnya hingga tamat 👇👇👇

06/02/2026

ISTRI BAR-BAR DOSEN DINGIN (2)

"Bagus. Gue pegang kata-kata lo," ucap Azura dengan senyum sinis. "Itu artinya lo tahu diri, dan satu hal lagi. Jangan pernah lo bongkar tentang hubungan kita ini pada teman-teman kampus gue. Gue nggak sudi kalau teman-teman gue sampai tahu gue menikah dengan manusia kutub kayak lo." Tangan Azura menunjuk wajah Revandra dengan kasar.

Revandra menepis tangan itu dengan lembut, "Kamu itu istri saya!" nada suaranya sedikit membentak. "Jadi tolong ... bersikap baiklah!"

Mendengar itu, Azura tergelak. Ia berkacak pinggang dengan bibir yang mengulas senyum sinis.

"Lo emang suami gue. Suami yang sama sekali nggak gue cintai, jadi lo jangan coba-coba buat ngatur hidup gue! Gue ini masih muda, gue bisa ngelakuin apapun yang gue mau dan lo jangan sampai memberitahukan status penikahan kita sama teman-teman gue. Ingat itu!"

"Mau ditarok di mana muka gue ini, apalagi kalau Bima sampai tahu. Huaaaa ... " Azura menggeleng, "Gue nggak mau dia semakin jauhin gue karena semua ini."

Azura sangat mengidolakan kapten basket di kampusnya, pria berambut gondrong yang juga aktif dalam organisasi pecinta alam.

Sikap Revandra yang dingin itu tentu saja membuat Azura menatap kesal. "Lo dengar gue nggak sih? Masa masih muda udah budeg sih?"

Lagi dan lagi Revandra tak merespons, ia malah sibuk dengan kancing kemejanya. Membuka k4ncing kemejanya satu persatu.

"Itu lo mau ngapain?" Azura bertanya dengan wajah cemas. "Lo jangan macam-macam, ya. Gue nggak s**a sama lo, jadi jangan pernah berpikir kalau kita akan ngelakuin-- "

Ucapan Azura terpotong saat Revandra memotongnya, "Memangnya apa yang akan saya lakukan? Apa kamu pikir saya akan menidurimu? Tentu saja tidak, saya ini memiliki selera yang tinggi dan kamu bukan tipe saya."

Azura meneguk ludah dengan susah payah. Suami sekaligus dosennya itu memang memiliki paras yang tampan, berkulit putih, memiliki hidung mancung dan brewok tipis yang menghiasi wajah dingin pria itu sukses membuat teman-teman Azura tergila-gila pada sosok pria yang sudah menjadi suaminya itu.

Tapi di mata Azura, dosen yang mengajar mata kuliah Ekonomi Bisnis itu sangatlah menyebalkan. Sampai kapanpun ia tak akan lupa, jika suaminya ini beberapa kali memberi hukuman berat untuknya hanya karena ia belajar sambil mendengarkan musik.

"Saya hanya ingin berganti pakaian, jadi ... bisakah kamu menutup matamu itu sekarang?" pertanyaan bernada dingin itu terlontar dari mulut pria berparas tampan nan memikat.

"Dengan senang hati," sahut Azura dengan wajah cuek. "Siapa juga yang ingin melihatmu? jangan kegeeran!" segera saja ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, tapi Azura yang keras kepala dan nakal itu tentu saja tak bisa dipercaya.

Rasa penasaran mendorongnya merenggangkan anak jari, hingga ia bisa melihat tubuh sempurna yang dimiliki suaminya itu.

Dengan susah payah Azura meneguk ludah, "Sial!" umpatnya dalam hati. "Kenapa tubuhnya begitu sempurna?"

Jantung yang awalnya berdetak normal dan biasa-biasa saja malah berdetak kencang dan menjadi tak karuan. Matanya terus mengawasi suaminya yang tengah membuka lemari besar dalam kamar itu, punggung lebar nan kekar milik Revandra begitu menggoda.

"Nggak." Azura menggeleng kemudian memicingkan matanya dengan rapat. Ia tidak boleh terpesona hanya karena keindahan tubuh pria itu, pria ini hanyalah pria yang menyebalkan.

"Sadarlah Azura, dia ini dosen yang sangat menyebalkan. Dia yang sudah menghukummu selama ini, jadi kamu jangan sampai terpedaya oleh tipu daya iblis berwujud manusia ini." Ia hanya bisa bergumam di dalam hati.

"Kamu bisa membuka matamu sekarang," ucap Revandra dengan nada dingin.

Azura membuka matanya, ia bersikap biasa-biasa saja dan mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih saja berdetak tidak karuan.

"Saya akan keluar sebentar saja, kalau kamu ingin berganti pakaian silahkan saja. Waktumu hanya 5 menit," kata Revandra sambil menunjuk lemari besar di dalam kamar itu. "Bajumu sudah Umi siapkan di dalam lemari ini. Kamu bisa gunakan baju apapun yang kamu mau."

Setelah mengatakan itu, Revandra melangkah dengan santai meninggalkan istrinya yang terpaku pada lemari besar dalam kamar itu.

Azura mendekat ke lemari besar tersebut, tangannya segera membukanya dan ia terbelalak mendapati kemeja flanel dengan aneka warna tersusun rapi di dalam lemari mewah tersebut. Bahkan label merk pun masih menempel, itu artinya ibu mertuanya sengaja menyiapkan semua ini untuknya sesuai dengan kesehariannya selama ini.

Awalnya, ia sempat mengira kalau menikah dengan Revandra akan mengubah penampilannya. Tapi ternyata semua dugaan itu salah.

"Syukurlah," ucapnya sambil meraih sebuah kemeja. "Umi tak memintaku untuk berpenampilan sepertinya, ini artinya aku bisa tetap menjadi diriku sendiri. Ah, ternyata tinggal di rumah ini tidak terlalu buruk." Bibir Azura menyunggingkan senyum tipis.

***

Judul : Istri Bar-Bar Dosen Dingin

Penulis : Reren Andespa

Baca selengkapnya di KBM App

06/02/2026

ISTRI BAR-BAR DOSEN DINGIN (1)

"Saya terima nikah dan kawinnya Azura binti Bambang Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Revandra, wajahnya tampak tegang.

"Gimana para saksi?" tanya Pak Penghulu.

"Sah!" sahut kedua saksi, diiringi riuh tepuk tangan tamu undangan yang menyaksikan momen sakral itu.

"Alhamdulillah," ucap sang penghulu. "Kalian berdua sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri."

Semua yang ada di sana begitu bers**a cita mendengar hal itu, tapi tidak halnya dengan Azura dan Revandra. Mereka berdua terpaksa menikah karena perjodohan konyol yang bahkan sudah terjadi sebelum mereka ada dan terlahir di dunia ini.

Revandra yang bisa dipanggil 'Pak Evan' oleh mahasiswanya itu menghela napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Dalam hati ia mengumpat kesal, bagaimana tidak? Ia benar-benar tak menyangka harus menikah dengan mahasiswinya sendiri.

Azura namanya, mahasiswi cantik yang kesehariannya berpenampilan tomboy. Di kampus, Azura terkenal sebagai biang masalah, s**a berbuat onar dan terkesan bar-bar.

Satu-satunya mahasiswi yang membuat Revandra selaku dosen yang dikenal sabar, kewalahan. Bagaimana tidak wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu sangat sulit diatur. Sering membuatnya darah tinggi karena kelakuan nakalnya.

"Dosa apa hamba padamu, Tuhan? Padahal, selama ini hamba selalu berdoa pada engkau agar engkau memberikan hamba jodoh terbaik. Tapi mengapa harus dia?" batin Revandra, ia melirik Azura sejenak. Azura memang memiliki paras yang cantik, tapi sikapnya sangat tidak terpuji. Wanita itu terlihat menyeka sudut matanya yang berair.

Ketika mata mereka bertemu, Azura malah mendengus kesal. Bahkan Revandra dibuat terperanjat kaget saat istrinya itu tiba-tiba saja mengacungkan jari tengah padanya.

"F**k You!"

Revandra tercekat. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat. Gigi gerahamnya bergesekan, menahan amarah yang hampir meledak. Tapi, dengan segala upaya, ia menahan diri. Di ruangan ini, keluarga besar mereka hadir, dan ia tak ingin membuat kegaduhan yang mempermalukan kedua keluarga.

***

Satu persatu tamu undangan mulai membubarkan diri, Azura menangis di pelukan ibunya.

"Mommy, Zura pengen ikut Mommy." Ia terus merengek, meminta agar ia bisa p**ang bersama ibunya itu.

"Nggak bisa gitu, Sayang. Kamu sudah menikah, jadi mulai hari ini kamu harus tinggal di kediaman suamimu ini," ucap Musrita, ibunya dengan nada lemah lembut sambil mengusap punggung putri kesayangannya itu.

Bambang Wijaya, ayah Azura yang memiliki sikap tegas itu berkata dengan nada menekankan. "Kamu harus menjadi istri yang baik, karena jika tidak. Daddy akan buang kamu ke jalanan, biarkan saja kamu hidup menjadi gembel di jalanan."

Kalimat ancaman itu selalu berhasil membuat Azura terdiam seribu bahasa, bahkan ia bersedia menikah dengan dosen dinginnya itu pun karena takut akan ancaman sang ayah.

Umi Laila, ibunda Revandra tersenyum lebar. Ia mendekat dan berdiri di dekat Musrita yang juga merupakan sahabat baiknya.

"Kamu tenang saja, Sri," katanya dengan nada lemah lembut. "Aku akan menganggap Azura seperti anakku sendiri, dan kamu juga Azura. Anggap rumah ini seperti rumahmu sendiri dan kalau kamu butuh sesuatu, kamu jangan sungkan buat bilang sama Umi."

Dibawah tatapan sang ayah, Azura hanya bisa mengangguk lemah. "Baiklah Umi, Azura ingin istirahat."

Umi tersenyum lembut, wanita itu segera memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk mengantarkan menantunya itu ke kamar pengantin.

"Aku senang sekali, " kata Musrita. " Akhirnya kita benar-benar menjadi besan. Aku titip putriku padamu, aku sangat berharap semoga pernikahan ini bisa membuat hidupnya menjadi jauh lebih baik."

***

Revandra menarik napas dalam-dalam, setelah kedua orang tua Azura pamit pergi. Ia segera mendekati ibunya dan berkata dengan nada lembut.

"Aku sudah menuruti keinginan Umi, jadi kapan Umi akan operasi gondok beracun yang Umi derita?"

Umi terdiam, dibalik tampilan muslimahnya. Ia memang tengah menderita penyakit gondok beracun yang membuatnya tubuhnya semakin hari semakin kurus.

"Tentukan saja kapan waktu yang tepat, Umi pasti akan menurut. Sekarang, kamu temui Azura. Kasian dia sendirian di dalam kamar," kata-kata lembut Umi selalu mampu membuat Revandra merasa nyaman dan tenang.

Dan itulah yang menjadi alasan kenapa Revandra mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai, itu semua karena rasa sayangnya pada sang ibu. Ibunya itu setuju untuk operasi jika ia bersedia menikah dengan Azura.

"Baik, Umi." Revandra segera melangkah menuju kamar.

Begitu tiba di dalam kamar, Azura menyambutnya dengan mata yang melotot.

"Gue nggak cinta sama lo. " Azura menunjuk wajah pria yang baru saja sah menjadi suaminya itu. " Cepat ceraikan gue! "

Revandra menatap tajam istrinya itu, menahan gejolak emosi yang mulai membara. Dengan nada dingin, ia menjawab, " Kamu pikir saya mencintai kamu? Tentu tidak, dan kamu tenang saja. Saya pasti akan menceraikan kamu suatu saat nanti."

Judul : Istri Bar-Bar Dosen Dingin

Penulis : Reren Andespa

Baca selengkapnya di KBM App

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Sungaipenuh?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Website

Address


Sungai Penuh
Sungaipenuh
37111