Herbal mata sehat

Herbal mata sehat

Share

Kami distributor resmi penjual limatta untuk pemesanan via wa;085314813193

SEHAT MATA LIMATTA ORIGINAL - Walatra Sehat Mata Limatta - Sehat Mata 28/07/2020

Asalammualakum..

Bingung Cari Obat Herbal Buat Mengobati Mata Yang Manjur Dan Berkualitas.

Kali Ini Saya Merekomendasikan Pakai Walatra Sehat Mata Untuk Keluhan Mata Aman Di Komsumsi dan Tidak Ada Efek Samping.

Yuk Tunggu Apa Lagi Di Order Lewat Aplikasi TokoPedia Dan Nikmati Bebas Ongkir Ke Seluruh Indonesia.

Pemesanan Clik Link Di bawah Ini😊

Beli SEHAT MATA LIMATTA ORIGINAL - Walatra Sehat Mata Limatta - Sehat Mata
https://tokopedia.link/hWIBmygIu8 di toko HERBAL-Tsm Rp425.000 di Tokopedia dengan Bebas Ongkir, Sekarang!

SEHAT MATA LIMATTA ORIGINAL - Walatra Sehat Mata Limatta - Sehat Mata SEHAT MATA LIMATTA ORIGINAL - Walatra Sehat Mata Limatta - Sehat Mata

24/06/2020

Blefaritis adalah peradangan pada kelopak mata, yang menyebabkan bagian tersebut jadi terlihat bengkak dan merah. Kondisi ini dapat terjadi pada kedua mata, dengan kondisi peradangan yang lebih terlihat jelas pada salah satu mata dibanding mata yang lain. Blefaritis bisa dialami semua golongan usia dan kondisi ini umumnya tidak menular.

Penyebab dan Faktor Risiko Blefaritis
Belum diketahui apa penyebab pasti blefaritis, namun ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini, seperti munculnya ketombe pada kulit kepala atau alis. Reaksi alergi dari penggunaan produk kosmetik atau prosedur kecantikan pada mata, misalnya extension bulu mata, juga dapat memicu radang pada kelopak mata. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko blefaritis antara lain:

Efek samping penggunaan obat
Infeksi bakteri
Kelainan pada kelenjar minyak
Terdapat kutu pada bulu mata
Jenis Blefaritis
Blefaritis dibagi dalam dua jenis, yaitu:

Blefaritis anterior, yaitu peradangan pada kulit di bagian luar kelopak Jenis ini umumnya dipicu oleh infeksi bakteri Staphylococcus dan ketombe pada kulit kepala.
Blefaritis posterior, yaitu peradangan di bagian dalam kelopak mata. Blefaritis posterior dipicu oleh kelainan pada kelenjar minyak yang terletak di bagian dalam kelopak mata. Selain itu, blefaritis jenis ini juga bisa dipicu oleh kelainan kulit, seperti dermatitis seboroik atau rosacea.
Gejala Blefaritis
Blefaritis umumnya terjadi di kedua mata, namun gejala yang timbul akan lebih parah pada salah satu kelopak mata. Gejala ini akan memburuk di pagi hari. Beberapa gejala tersebut antara lain:

Bengkak dan kemerahan pada kelopak mata
Kelopak mata terasa gatal
Mata merah
Kelopak mata menjadi lengket
Mata menjadi sensitif pada cahaya
Pertumbuhan bulu mata yang tidak normal
Sering mengedipkan mata
Pengelupasan kulit di sekitar mata
Mata bisa tampak berair atau bisa juga tampak kering
Penglihatan buram
Mata terasa berpasir
Sensasi terbakar atau tersengat pada mata
Bulu mata rontok
Diagnosis Blefaritis
Diagnosis blefaritis dilakukan dengan memeriksa keadaan mata pasien, khususnya pada bagian kelopak mata. Selama pemeriksaan, dokter akan menggunakan alat khusus yang menyerupai kaca pembesar, agar bisa melihat keadaan mata pasien dengan lebih detail.

Untuk mengetahui penyebab blefaritis atau kemungkinan penyakit selain blefaritis, dokter akan meneliti sampel kerak kulit atau minyak pada kelopak mata. Sampel tersebut akan dianalisa untuk mengetahui jika terdapat infeksi jamur atau bakteri, serta adanya kemungkinan alergi.

Pengobatan Blefaritis
Hingga saat ini, belum ada pengobatan untuk menangani blefaritis. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menangani gejala yang dialami.

Pasien bisa meredakan peradangan di rumah dengan mengompres mata dengan kain dan air hangat minimal selama 1 menit. Basahi kain sesekali agar tetap hangat, guna melunakkan kerak dan mencegah endapan minyak di kelopak mata.

Kortikosteroid

Pada pasien yang tidak terserang infeksi, dokter akan meresepkan tetes mata atau salep kortikosteroid, untuk mengurangi peradangan. Air mata buatan juga dapat diresepkan untuk mengurangi iritasi yang disebabkan oleh mata kering.

Antibiotik

Untuk pasien blefaritis yang diduga dipicu oleh infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik minum, salep, atau tetes mata.

Beberapa hal yang perlu diketahui terkait penggunaan antibiotik adalah:

Hindari penggunaan lensa kontak bila menggunakan antibiotik dalam bentuk salep atau tetes mata, karena dapat menyebabkan iritasi.
Pasien dapat mengalami sensasi terbakar akibat salep antibiotik, namun sensasi ini tidak berlangsung lama.
Antibiotik minum bisa menyebabkan pasien lebih sensitif terhadap sinar matahari. Karena itu, sebisa mungkin hindari paparan matahari.
Antibiotik minum juga dapat memengaruhi perkembangan janin dan bayi. Oleh sebab itu, tidak dianjurkan pada pasien blefaritis yang sedang hamil atau menyusui.
Waspadai efek samping penggunaan antibiotik, seperti muntah, diare, dan nyeri lambung.
Pola makan

Selama menjalani pengobatan, pasien disarankan mengonsumsi makanan yang mengandung lemak omega-3. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 dapat membantu mengatasi gejala blefaritis. Sejumlah makanan dengan kandungan asam lemak omega-3 adalah:

Ikan sarden, tuna, atau salmon.
Kacang-kacangan.
Kacang kedelai dan produk dari kacang kedelai.
Biji-bijian.
Sayuran hijau.
Komplikasi Blefaritis
Blefaritis yang tidak tertangani dengan baik berisiko menimbulkan komplikasi-komplikasi, seperti:

Pertumbuhan bulu mata yang tidak normal.
Kerontokan bulu mata.
Bintit atau benjolan yang menyakitkan di kelopak mata akibat infeksi.
Kelebihan air mata, atau malah mata kering.
Bentuk ujung kelopak mata yang melipat ke dalam atau ke luar.
Konjungtivitis.
Kalazion atau benjolan seperti bintit yang muncul di bagian dalam kelopak mata.
Rasa tidak nyaman ketika memakai kontak lensa.
Kerusakan pada kornea akibat iritasi berkepanjangan pada kelopak mata yang mengalami peradangan.
Pencegahan Blefaritis
Blefaritis dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan nyeri pada mata. Untuk mencegahnya, beberapa langkah di bawah ini bisa dilakukan.

Cuci muka secara teratur. Untuk wanita yang biasa memakai riasan wajah, jangan lupa untuk membersihkannya setiap sebelum tidur malam.
Selalu jaga kebersihan tangan untuk menghindari infeksi bakteri, dan jangan menggaruk mata dengan tangan yang kotor.
Segera periksa ke dokter bila mata memerah, membengkak, dan terasa nyeri.
Mintalah sampo khusus ke dokter untuk mengurangi ketombe, terutama pada penderita yang kondisi ketombenya sudah parah.

22/06/2020

Ablasi retina adalah penyakit mata akibat lepasnya lapisan tipis di dalam mata yang disebut retina. Kondisi ini tergolong darurat dan dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak segera ditangani.

Retina mata merupakan bagian penting yang berfungsi memproses cahaya yang ditangkap oleh mata. Setelah ditangkap, cahaya tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Sinyal ini kemudian diproses di dalam otak dan diinterpretasikan sebagai gambar yang dilihat oleh mata.

Jika retina terlepas dari posisinya, tentu penglihatan akan terganggu. Gangguan penglihatan ini bisa terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung seberapa besar bagian retina yang terlepas. Ablasi retina bisa terjadi pada siapa pun, khususnya orang-orang yang berusia 50 tahun ke atas.

Gejala Ablasi Retina
Ablasi retina atau ablasio retina tidak menimbulkan rasa sakit. Hilangnya penglihatan dapat terjadi secara tiba-tiba, atau didahului sejumlah gejala di bawah ini:

Muncul bercak hitam yang tampak melayang di dalam penglihatan (floaters).
Penglihatan kabur atau tertutup oleh bayangan seperti tirai.
Lapang pandang menyempit.
Kilatan cahaya pada penglihatan (fotopsia).
Penyebab Ablasi Retina
Ablasi retina terjadi ketika retina mata terlepas dari pembuluh darah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi. Berikut ini adalah 3 kondisi yang dapat menyebabkan retina terlepas:

Terdapat robekan kecil di dalam retina. Robekan ini membuat cairan di bagian tengah bola mata (cairan vitreus) merembes masuk dan menumpuk di belakang retina. Cairan yang menumpuk akan membuat seluruh lapisan retina terlepas dari dasarnya. Pada umumnya, robekan pada retina mata terjadi akibat berubahnya jaringan seiring pertambahan usia. Orang dengan mata minus (rabun jauh) atau pernah menjalani operasi katarak juga berisiko mengalami robekan pada retina.
Menumpuknya cairan vitreus tanpa disertai robekan pada retina. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera, tumor, peradangan, dan penyakit degenerasi makula.
Terbentuk jaringan parut di permukaan retina. Kondisi ini membuat retina tertarik dan lepas. Kondisi ini lebih sering dijumpai pada penderita diabetes dengan gula darah yang tidak terkontrol dengan baik.
Faktor Risiko Ablasi Retina
Terdapat sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang terserang ablasi retina, antara lain:

Berusia di atas 50 tahun.
Sudah pernah mengalami ablasi retina.
Memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang sama.
Pernah mengalami cedera parah pada mata.
Menderita rabun jauh (miopia) yang parah.
Pernah menjalani operasi pada mata, misalnya operasi katarak.
Pernah menderita penyakit pada mata, misalnya radang pada lapisan tengah mata (uveitis).
Diagnosis Ablasi Retina
Untuk menentukan diagnosis ablasi retina, dokter mata akan melakukan pemeriksaan oftalmoskopi dengan alat khusus untuk untuk melihat bagian dalam mata. Jika oftalmoskopi tidak dapat mengamati kondisi retina dengan jelas, misalnya akibat perdarahan di mata, dokter akan melakukan USG mata.

Pengobatan Ablasi Retina
Pengobatan terhadap ablasi retina berbeda-beda, tergantung kondisi pasien. Jika retina robek atau berlubang namun belum sampai terlepas, dokter mata dapat menerapkan beberapa tindakan di bawah ini untuk memperbaiki penglihatan dan mencegah retina terlepas:

Kriopeksi. Prosedur ini dilakukan dengan cara membekukan robekan di retina, agar retina tetap menempel pada dinding mata.
Terapi laser (fotokoagulasi). Sinar laser akan membakar jaringan di sekitar robekan retina. Laser juga akan membantu retina tetap menempel.
Jika retina sudah terlepas, dokter akan mengatasinya dengan pembedahan atau operasi. Jenis operasi yang dilakukan tergantung kepada keparahan kondisi pasien. Operasi tersebut antara lain:

Pneumatic retinopexy. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan gelembung gas ke mata, yang akan menekan retina kembali ke posisi normal. Prosedur ini dipilih jika bagian retina yang terlepas hanya sedikit.
Vitrektomi. Pada vitrektomi, dokter akan mengeluarkan cairan vitreus dan jaringan yang menarik retina. Kemudian, gelembung gas atau silikon akan disuntikkan ke mata untuk menahan retina pada posisinya. Seiring waktu, gelembung gas akan digantikan secara alami oleh cairan tubuh.
Scleral buckling. Pada prosedur ini, dokter akan menempatkan silikon dari sisi luar bagian putih mata (sklera). Silikon ini akan mendekatkan dinding bola mata ke retina, sehingga retina kembali ke posisinya. Jika kondisi lepasnya retina sangat parah, silikon akan dipasang melingkari mata secara permanen. Meski begitu, silikon tidak akan menghalangi penglihatan.
Pencegahan Ablasi Retina
Ablasi retina tidak selalu dapat dicegah. Namun demikian, risiko terjadinya ablasi retina dapat dikurangi melalui beberapa langkah berikut ini:

Segera periksa ke dokter mata apabila muncul floaters, kilatan cahaya, atau terdapat perubahan apa pun pada lapang pandang.
Rutin memeriksakan mata minimal satu kali setiap tahun. Pemeriksaan harus dilakukan lebih sering jika menderita diabetes.
Rutin mengontrol kadar gula dan tekanan darah, agar kondisi pembuluh darah retina tetap sehat.
Gunakan pelindung mata saat berolahraga atau saat melakukan aktivitas yang berisiko mencederai mata.

15/06/2020

Penyakit mata kering adalah kondisi saat mata tidak mendapat pelumasan yang memadai dari air mata. Kondisi ini membuat mata tidak bisa menghilangkan debu atau benda asing yang mengganggu mata. Akibatnya, mata terasa sangat tidak nyaman.

Pada mata yang sehat, kornea akan terus dialiri oleh air mata ketika mata berkedip, untuk memberi nutrisi pada sel kornea dan melindungi kornea dari lingkungan luar. Air mata merupakan senyawa campuran dari lemak, air, lendir, serta lebih dari 1500 protein yang membuat permukaan mata tetap halus dan terlindungi dari lingkungan sekitar, unsur yang mengganggu, atau kuman yang menimbulkan infeksi. Saat kelenjar di sekitar mata tidak bisa memproduksi air mata yang cukup atau saat komposisi air mata berubah, maka permukaan luar mata yang berperan untuk meneruskan cahaya ke dalam mata juga dapat terganggu.

Nama lain dari penyakit mata kering adalah keratoconjunctivitis sicca atau sindrom mata kering. Mata kering lebih banyak dialami wanita dibandingkan pria, dan risiko mata kering juga makin meningkat pada usia lanjut.

Gejala Mata Kering
Gejala yang umumnya dialami penderita mata kering meliputi:

Mata merah.
Mata terasa panas.
Mata seperti berpasir dan kering.
Mata berair karena respon tubuh terhadap iritasi pada mata kering.
Sensitif terhadap sinar matahari.
Penglihatan buram
Sulit membuka mata saat ketika bangun tidur, karena kelopak mata atas dan bawah menempel.
Terdapat lendir di dalam atau sekitar mata.
Memiliki kesulitan saat memakai lensa kontak atau berkendara di malam hari.
Mata terasa cepat lelah.
Tingkat keparahan mata kering bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Tetapi pada sebagian besar kasus, gejala yang dirasakan masih tergolong ringan.

Gejala mata kering dapat semakin parah saat penderita berada dalam kondisi tertentu, misalnya bekerja dengan melihat layar komputer selama be-jam, terlalu lama berada di lingkungan yang udaranya kering, atau membaca buku dalam waktu lama. Kondisi mata kering bisa menyebabkan peradangan pada permukaan mata, sehingga menimbulkan jaringan parut pada kornea atau terjadi infeksi bakteri.

Penyebab Mata Kering

Beberapa kondisi dapat menjadi penyebab mata kering, yaitu:

Produksi air mata berkurang. Kondisi ini timbul karena usia tua, penyakit tertentu (misalnya diabetes, rheumatoid arthritis, lupus, skleroderma, sindrom Sjogren, gangguan hormon tiroid, kekurangan vitamin A atau xerophthalmia), konsumsi obat-obatan tertentu (misalnya antihistamin, dekongestan, antidepresan, obat hipertensi, obat jerawat, obat penyakit Parkinson, atau obat terapi pengganti hormon), kerusakan kelenjar air mata karena radiasi atau akibat operasi laser mata.
Air mata lebih cepat menguap. Kondisi ini dapat disebabkan cuaca (angin, asap, atau udara kering), kondisi yang membuat jarang berkedip (saat membaca atau bekerja terlalu lama di depan layar komputer), kelopak mata yang berbalik ke luar (ektropion) atau berbalik ke dalam (entropion).
Komposisi air mata tidak seimbang. Air mata terdiri dari 3 komposisi, yaitu minyak, air, dan lendir, dengan komposisi tertentu. Ketika komposisi ini berubah, misalnya karena sumbatan kelenjar minyak, blefaritis, atau rosacea, dapat mengakibatkan mata kering.
Di samping beberapa penyebab mata kering tersebut, risiko mengalami mata kering pada seseorang juga akan semakin besar jika:

Usia di atas 50 tahun. Semakin tua usia, produksi air mata cenderung berkurang.
Mengalami perubahan hormon. Kondisi ini sering terjadi pada wanita yang mengalami perubahan hormon karena kehamilan, konsumsi pil KB, serta menopause.
Pola makan dengan kandungan vitamin A yang rendah.
Memakai lensa kontak.
Diagnosis Mata Kering
Untuk menetapkan diagnosis mata kering, dokter mata akan menanyakan gejala yang dirasakan pasien dan riwayat penyakitnya, sebelum melakukan pemeriksaan fisik.

Guna mengukur volume air mata pasien, dokter akan melakukan Schirmer’s test. Melalui tes ini, dokter akan mengukur tingkat kekeringan pada mata dengan cara menempelkan potongan kertas khusus yang dapat menyerap cairan di kelopak mata bagian bawah selama 5 menit. Mata tergolong sebagai mata kering jika ukuran kertas yang basah kurang dari 10 milimeter dalam waktu 5 menit.

Sementara untuk mengetahui kondisi permukaan mata, maka tes menggunakan tetes mata mengandung pewarna khusus (tes pewarna fluorescein) dapat dilakukan. Setelah memberi tetes mata pada pasien, dokter dapat melihat pola perubahan warna pada mata untuk mengetahui seberapa cepat mata menjadi kering. Tes pewarna fluorescein ini juga dapat menunjukkan area yang mengalami kerusakan pada permukaan mata.

Untuk melihat kerusakan permukan bola mata juga dapat dilihat melalui tes lissamine green atau pewarna khusus dalam sebuah kertas. Selanjutnya, kertas tersebut akan dibasahi dengan larutan saline dan ditempelkan ke permukaan mata. Melalui pola warna yang menempel pada permukaan bola mata, dokter dapat melihat tanda awal kerusakan pada mata. Selain pemeriksaan mata, pemeriksaan fisik secara keseluruhan juga akan dilakukan untuk mencari penyebab mata kering,

Pengobatan Mata Kering
Penanganan mata kering ditujukan untuk membantu penderita meringankan gejala dan mengatasi penyebab mata kering. Jika penyebab mata kering terkait faktor medis, langkah penanganan yang perlu didahulukan adalah mengatasi penyebab tersebut. Contohnya, jika penyebabnya adalah efek samping dari konsumsi obat, maka dokter dapat menganjurkan penderita untuk mengganti obat yang tidak menimbulkan efek samping mata kering.

Untuk mata kering yang tergolong ringan atau hanya sesekali terjadi, maka penderita dapat menggunakan obat pelumas mata atau dikenal dengan air mata buatan, dalam bentuk tetes mata, gel, atau salep yang dijual bebas di apotik. Obat-obatan tersebut dapat melembabkan mata dan berfungsi sebagai pengganti air mata.

Selain itu, upaya lain juga bisa dilakukan di rumah untuk meredakan gejala atau mencegah sindrom mata kering, yaitu:

Melindungi mata dari lingkungan yang menyebabkan mata kering, seperti cuaca berangin, panas, berasap, atau berdebu. Hindari lingkungan tersebut atau gunakan kacamata sebagai pelindung, serta gunakan pelembab atau penyaring udara di dalam ruangan.
Menghindari pemakaian riasan pada mata.
Berhenti merokok.
Mengatur lama kerja di depan layar komputer.
Menjaga kebersihan mata dengan menggunakan kompres hangat pada kelenjar di sektar mata, dan menghilangkan kotoran atau minyak pada kelopak mata.
Banyak mengonsumsi asam lemak omega-3 yang dapat memperbaiki kondisi mata kering. Omega-3 banyak terdapat pada beberapa jenis ikan, seperti makarel, tuna, sardine, atau salmon.
Jika penanganan di rumah belum berhasil, maka dokter dapat melakukan beberapa pilihan terapi, antara lain:

Obat-obatan. Salah satu obat yang biasa diberikan untuk mengatasi mata kering adalah obat antibiotik untuk meredakan peradangan di ujung kelopak mata dan obat penekan imunitas tubuh (misalnya ciclosporine atau kortikosteroid) yang berkhasiat mengurangi peradangan pada kornea mata. Kendati demikian, konsumsi obat kortikosteroid dalam waktu lama dapat menimbulkan efek samping. Sedangkan untuk mendorong produksi air mata, maka dokter dapat memberi obat kolinergik, seperti pilocarpine. Bila mata kering masih belum teratasi, dokter dapat menyarankan untuk menggunakan tetes mata yang dibuat dan diproses dari darah orang tersebut (tetes mata serum autologous).
LipiFlow thermal pulsation. Alat ini bertujuan untuk membuka hambatan kelenjar minyak yang menjadi penyebab mata kering. Selama terapi ini, alat berbentuk seperti mangkok akan dipasang di mata, dan memberi pijatan yang lembut serta hangat pada kelopak mata bawah,
Intensed-pulsed light therapy. Terapi cahaya yang diikuti dengan pijatan pada kelopak mata dapat membantu penderita mata kering yang parah.
Lensa kontak khusus. Lensa kontak yang disebut scleral lens ini dianjurkan dipakai penderita agar bisa melindungi permukaan mata dan mempertahankan kelembapan mata.
Operasi. Prosedur ini bisa dilakukan untuk kasus mata kering yang parah dan tidak bisa diatasi dengan terapi lainnya. Operasi dilakukan dengan menyumbat saluran pembuangan air mata secara permanen, sehingga permukaan mata akan selalu lembap. Operasi lainnya adalah autotransplantasi kelenjar ludah. Dalam prosedur ini, kelenjar air ludah dari bagian bawah bibir diangkat untuk ditempatkan di dalam kulit sekitar mata untuk berperan sebagai pengganti kelenjar air mata.
Umumnya, gejala mata kering dapat dikendalikan pasca pengobatan. Namun, ada juga sebagian penderita yang masih mengalami sindrom mata kering setelah pengobatan, bahkan keluhan tersebut menetap seumur hidup.

Komplikasi Mata Kering
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit mata kering antara lain adalah meningkatkan risiko terjadi infeksi mata akibat kekurangan pasokan air mata, kerusakan permukaan mata akibat kondisi mata kering yang dibiarkan tanpa pengobatan sehingga memicu konjungtivitis, kerusakan permukaan kornea, luka terbuka pada kornea, serta gangguan penglihatan. Sindrom mata kering juga menimbulkan kesulitan pada penderitanya dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seperti membaca atau mengemudikan kendaraan.

10/06/2020

Glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. Seseorang yang menderita kondisi ini dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, hingga sakit kepala.

Pada dasarnya, mata memiliki sistem aliran cairan mata (aqueous humour) ke dalam pembuluh darah. Aqueous humour itu sendiri adalah cairan alami yang berfungsi menjaga bentuk mata, memasok nutrisi, dan membersihkan kotoran pada mata. Ketika terjadi gangguan pada sistem aliran cairan ini akan menyebabkan penimbunan cairan aqueous humour dan meningkatkan tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan pada bola mata kemudian dapat merusak saraf optik.

Berdasarkan gangguan yang terjadi pada sistem aliran cairan mata, glaukoma terbagi menjadi beberapa jenis, yakni:

Glaukoma sudut terbuka. Glaukoma jenis ini merupakan kondisi yang paling banyak terjadi. Pada glaukoma sudut terbuka, saluran pengalir cairan aqueous humour hanya terhambat sebagian karena trabecular meshwork mengalami gangguan. Trabecular meshwork adalah organ berupa jaring yang terletak di saluran pengalir cairan aqueous humour.
Glaukoma sudut tertutup. Pada tipe ini, saluran pengalir cairan aqueous humour tertutup sepenuhnya. Glaukoma sudut tertutup akut atau yang terjadi secara tiba-tiba merupakan kondisi darurat dan membutuhkan penanganan dengan segera.
Glaukoma menjadi penyebab kebutaan terbanyak kedua di dunia setelah katarak. Data yang dihimpun WHO pada 2010 menunjukan, 39 juta orang di dunia menderita kebutaan dan 3,2 juta di antaranya disebabkan oleh glaukoma. Glaukoma dapat terjadi pada orang dewasa dan juga pada bayi. Glaukoma yang terjadi pada bayi baru lahir ini disebut glaukoma kongenital.

Meskipun glaukoma bukanlah kondisi yang dapat dicegah, tapi gejalanya akan lebih mudah diredakan jika kondisi tersebut dapat dideteksi dan ditangani lebih awal.

Gejala Glaukoma
Gejala yang muncul akan berbeda-beda pada setiap penderita glaukoma. Akan tetapi penderita glaukoma umumnya mengalami gangguan penglihatan. Beberapa gangguan penglihatan yang muncul dapat berupa:

Penglihatan kabur
Terdapat lingkaran seperti pelangi ketika melihat ke arah cahaya terang
Memiliki sudut buta (blind spot)
Kelainan pada pupil mata, seperti ukuran pupil mata tidak sama.
Penyebab Glaukoma
Diduga kelainan gen merupakan faktor utama terjadinya glaukoma. Ditambah lagi ada beberapa faktor sekunder yang menjadi penyebab glaukoma seperti:

Cedera akibat paparan zat kimia
Infeksi
Peradangan
Penyumbatan pembuluh darah
Pengobatan Glaukoma
Pengobatan glaukoma dilakukan untuk mencegah kebutaan total dan mengurangi gejalanya. Pengobatan tersebut dapat berbeda-beda, karena disesuaikan dengan kondisi pasien. Metode pengobatan glaukoma meliputi:

Pemberian obat tetes
Terapi laser
Operasi

26/03/2020

Rabun dekat atau hipermetropi adalah gangguan penglihatan jarak dekat. Pada penderita hipermetropi, objek yang jauh terlihat jelas, tetapi objek yang dekat justru terlihat tidak jelas atau buram.

Bayi dan anak kecil cenderung mengalami hipermetropi, tetapi penglihatannya tidak buram. Kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan, karena penglihatannya akan normal seiring perkembangan organ mata.

Hipermetropi berbeda dengan presbiopi atau mata tua, meskipun kedua jenis gangguan refraksi mata ini menyebabkan penderitanya kesulitan melihat objek yang dekat. Hipermetropi terjadi akibat bentuk kornea maupun lensa mata yang tidak normal, sedangkan presbiopi disebabkan oleh otot di sekitar lensa yang menjadi kaku akibat faktor penuaan.

Gejala Hipermetropi
Penderita hipermetropi akan mengalami gejala berikut ini:

Penglihatan tidak fokus ketika melihat objek yang dekat.
Harus menyipitkan mata untuk melihat sesuatu lebih jelas.
Mata terasa tegang, sakit atau terbakar
Mata lelah atau sakit kepala usai melihat pada jarak dekat dalam waktu lama, misalnya menulis, membaca atau menggunakan komputer.
Kapan harus ke dokter
Seseorang yang berisiko tinggi menderita penyakit mata, misalnya glaukoma, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan mata rutin setiap satu atau dua tahun sekali sejak usia 40 tahun.

Pemeriksaan mata rutin juga disarankan pada bayi dan anak-anak serta orang dewasa yang tidak memiliki masalah pada mata. Pemeriksaan bisa dimulai pada usia 6 bulan, 3 tahun, dan setiap 1 atau 2 tahun sekali sejak masuk usia sekolah.

Segera periksakan diri ke dokter mata apabila gejala hipermetropi sampai mengganggu aktivitas. Pemeriksaan mata harus segera dilakukan bila penglihatan terganggu secara tiba-tiba.

Penyebab Hipermetropi
Hipermetropi terjadi akibat cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus ke tempat yang semestinya (retina), tetapi terfokus ke belakangnya. Hal ini disebabkan oleh bola mata yang terlalu pendek, atau bentuk kornea maupun lensa mata yang tidak normal.

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang menderita hipermetropi, yaitu:

Memiliki orang tua yang menderita hipermetropi.
Berusia di atas 40 tahun.
Menderita diabetes, kanker di sekitar mata, gangguan pada pembuluh darah di retina, atau sindrom mata kecil (micropthalmia).

24/03/2020

Ablasi retina adalah penyakit mata akibat lepasnya lapisan tipis di dalam mata yang disebut retina. Kondisi ini tergolong darurat dan dapat menyebabkan kebutaan permanen jika tidak segera ditangani.

Retina mata merupakan bagian penting yang berfungsi memproses cahaya yang ditangkap oleh mata. Setelah ditangkap, cahaya tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Sinyal ini kemudian diproses di dalam otak dan diinterpretasikan sebagai gambar yang dilihat oleh mata.

Jika retina terlepas dari posisinya, tentu penglihatan akan terganggu. Gangguan penglihatan ini bisa terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung seberapa besar bagian retina yang terlepas. Ablasi retina bisa terjadi pada siapa pun, khususnya orang-orang yang berusia 50 tahun ke atas.

Gejala Ablasi Retina
Ablasi retina atau ablasio retina tidak menimbulkan rasa sakit. Hilangnya penglihatan dapat terjadi secara tiba-tiba, atau didahului sejumlah gejala di bawah ini:

Muncul bercak hitam yang tampak melayang di dalam penglihatan (floaters).
Penglihatan kabur atau tertutup oleh bayangan seperti tirai.
Lapang pandang menyempit.
Kilatan cahaya pada penglihatan (fotopsia).
Penyebab Ablasi Retina
Ablasi retina terjadi ketika retina mata terlepas dari pembuluh darah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi. Berikut ini adalah 3 kondisi yang dapat menyebabkan retina terlepas:

Terdapat robekan kecil di dalam retina. Robekan ini membuat cairan di bagian tengah bola mata (cairan vitreus) merembes masuk dan menumpuk di belakang retina. Cairan yang menumpuk akan membuat seluruh lapisan retina terlepas dari dasarnya. Pada umumnya, robekan pada retina mata terjadi akibat berubahnya jaringan seiring pertambahan usia. Orang dengan mata minus (rabun jauh) atau pernah menjalani operasi katarak juga berisiko mengalami robekan pada retina.
Menumpuknya cairan vitreus tanpa disertai robekan pada retina. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera, tumor, peradangan, dan penyakit degenerasi makula.
Terbentuk jaringan parut di permukaan retina. Kondisi ini membuat retina tertarik dan lepas. Kondisi ini lebih sering dijumpai pada penderita diabetes dengan gula darah yang tidak terkontrol dengan baik.
Faktor Risiko Ablasi Retina
Terdapat sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang terserang ablasi retina, antara lain:

Berusia di atas 50 tahun.
Sudah pernah mengalami ablasi retina.
Memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang sama.
Pernah mengalami cedera parah pada mata.
Menderita rabun jauh (miopia) yang parah.
Pernah menjalani operasi pada mata, misalnya operasi katarak.
Pernah menderita penyakit pada mata, misalnya radang pada lapisan tengah mata (uveitis).
Diagnosis Ablasi Retina
Untuk menentukan diagnosis ablasi retina, dokter mata akan melakukan pemeriksaan oftalmoskopi dengan alat khusus untuk untuk melihat bagian dalam mata. Jika oftalmoskopi tidak dapat mengamati kondisi retina dengan jelas, misalnya akibat perdarahan di mata, dokter akan melakukan USG mata.

23/03/2020

Manfaat jus wortel untuk kesehatan sangat beragam. Minuman ini baik untuk menjaga kesehatan mata dan kulit, meningkatkan proses metabolisme dan daya tahan tubuh, serta memelihara fungsi otak. Manfaat ini berkat kandungan nutrisi yang melimpah dalam segelas jus wortel.

Wortel merupakan sayuran sarat vitamin yang mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E, serta vitamin K. Sayuran berwarna jingga ini merupakan sumber karotenoid atau beta karoten, kalium, serat, serta antioksidan yang dibutuhkan oleh tubuh.

Selain diolah menjadi campuran sup, salad, atau lalapan, wortel juga bisa diracik menjadi minuman menyehatkan, seperti jus. Selain sehat dan lezat, jus wortel juga memiliki rasa yang unik, warna yang menggugah selera, dan kaya akan kandungan nutrisi, namun rendah kalori.

Berikut ini adalah daftar manfaat jus wortel untuk kesehatan:

1. Meningkatkan kesehatan mata
Jus wortel adalah sumber beta karoten yang baik. Di dalam tubuh, beta karoten akan diolah menjadi vitamin A yang baik untuk kesehatan mata dan kulit. Vitamin ini mampu melindungi mata dari beragam gangguan, seperti degenerasi makula, katarak, glaukoma, dan xerophthalmia.

Jus wortel juga mengandung lutein dan zeaxanthin, yakni antioksidan alami yang bisa melindungi retina dan lensa mata.

2. Membuat kulit menjadi sehat
Dalam 100 gram wortel, terdapat setidaknya 6 mg vitamin C. Vitamin ini adalah salah satu sumber antioksidan dan dapat membantu kulit pulih lebih cepat dari luka dan cedera. Jus wortel baik dikonsumsi setiap hari bagi Anda yang memiliki masalah kulit, seperti kulit kering atau psoriasis.

3. Memperkuat daya tahan tubuh
Kandungan nutrisi pada jus wortel juga berperan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jika Anda sedang mengalami flu, konsumsilah jus wortel agar Anda cepat pulih dan bisa kembali melanjutkan aktivitas sehari-hari.

4. Memperkuat fungsi otak
Selain baik untuk mata, beta karoten yang terkandung dalam wortel juga dipercaya baik untuk menjaga kesehatan dan fungsi otak. Rutin mengonsumsi beta karoten bahkan dikatakan mampu meningkatkan fungsi kognitif dan mengurangi risiko terjadinya kepikunan atau demensia.

5. Membantu menjaga berat badan
Dalam 100 gram wortel terdapat sekitar 3 gram serat yang cukup mengenyangkan untuk perut. Bila ingin menurunkan berat badan, Anda bisa mencoba mengonsumsi jus wortel, lho. Sebab, jus ini rendah kalori namun kaya akan asupan nutrisi.

6. Mengontrol tekanan darah dan kolesterol
Wortel mengandung kalium yang berfungsi untuk mengatur tekanan darah. Dalam 100 gram wortel, setidaknya terdapat 300 gram kalium.

Kalium dari wortel mampu menyeimbangkan kadar garam (natrium) dan cairan tubuh, sehingga bisa mengontrol tekanan darah.

Jus wortel baik untuk dikonsumsi, terlebih jika Anda sering mengonsumsi makanan yang asin. Selain itu, rutin mengonsumsi jus wortel juga dipercaya bisa mengontrol kadar kolesterol.

7. Mengurangi risiko terkena kanker
Kanker berkembang ketika sel-sel dalam tubuh mengalami perubahan sifat menjadi ganas dan berkembang biak tidak terkendali. Kandungan antioksidan yang ada pada wortel inilah yang mampu melindungi sel-sel tubuh dari ancaman berbagai jenis kanker, seperi kanker payudara dan kanker prostat.

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Surabaya?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Surabaya
60243