Dr.portuna

Dr.portuna

Share

creator

23/02/2026

💃 Siap bikin penampilan makin percaya diri!
🎁 Harga terjangkau, kualitas premium
📦 Bisa kirim ke seluruh Indonesia
📲 Yuk order sekarang sebelum kehabisan!
https://id.shp.ee/h9te41g?smtt=0.0.9

22/02/2026
22/02/2026

📦 Bisa kirim ke seluruh Indonesia
📲 Minat? Langsung chat sekarang sebelum kehabisan!
https://id.shp.ee/fc146n4?smtt=0.0.9

21/02/2026

Cocok untuk
✔️ Santai
✔️ Kerja
✔️ Acara keluarga
✔️ Nongkrong

https://id.shp.ee/9ik0k76?smtt=0.0.9

20/02/2026

Koleksi terbaru sudah hadir!
👕 Bahan adem & nyaman dipakai
🎨 Model kekinian & elegan
📏 Tersedia size S – XXL
https://id.shp.ee/pg8s0yz?smtt=0.0.9
💰 Harga mulai dari Rp.54360

18/02/2026

Keris Kalamunyeng adalah pusaka legendaris yang dikaitkan dengan Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa, khususnya di daerah Gresik.
Menurut cerita tutur masyarakat, nama “Kalamunyeng” berasal dari kata kalam (pena) dan munyeng (berputar-putar). Konon, keris ini awalnya adalah pena milik Sunan Giri yang kemudian berubah menjadi keris atas izin Allah untuk melindungi beliau dari ancaman musuh. Saat menghadapi bahaya, keris tersebut dikisahkan dapat berputar-putar di udara dan membuat musuh ketakutan atau kebingungan.
Secara bentuk, Keris Kalamunyeng digambarkan seperti keris Jawa pada umumnya, dengan bilah lurus atau sedikit berlekuk, lengkap dengan gagang dan warangka (sarung) khas. Namun yang membuatnya istimewa bukan hanya bentuknya, melainkan nilai spiritual dan sejarah yang melekat padanya.
Pusaka ini menjadi simbol bahwa dakwah Sunan Giri tidak mengandalkan kekerasan, melainkan ilmu, kebijaksanaan, dan keteguhan iman. Keris Kalamunyeng lebih dipandang sebagai lambang perlindungan dan kewibawaan seorang wali, bukan sekadar senjata.
Hingga kini, kisah Keris Kalamunyeng tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa dan menjadi bagian dari warisan budaya serta sejarah Islam Nusantara.

18/02/2026

Keris batu adalah pusaka yang memancarkan kesan tua, kokoh, dan berwibawa. Disebut “batu” karena bilahnya memiliki pamor bertekstur kasar, berpola alami, menyerupai guratan batu alam yang terbentuk oleh waktu. Warna bilahnya cenderung abu-abu kehitaman, dengan corak yang tampak tegas dan berkarakter.
Dalam tradisi perkerisan Nusantara, keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol kehormatan, perlindungan, dan jati diri. Beberapa keris batu dipercaya mengandung unsur logam alam atau meteorit, sehingga memberi kesan magis dan sakral. Tekstur pamornya yang kuat melambangkan keteguhan hati, ketahanan menghadapi ujian, serta kekuatan batin pemiliknya.
Sebagai bagian dari warisan budaya, keris telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2005. Hal ini menegaskan bahwa keris, termasuk keris batu, bukan hanya benda pusaka, tetapi juga karya seni tempa yang sarat filosofi dan nilai sejarah.
Keris batu berdiri sebagai lambang kekuatan yang membumi—seperti batu yang kokoh, diam namun penuh daya

Photos from Dr.hana's post 18/02/2026

Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Nazar Nazar, Tio Amartani, Mtorik Sa-ad, Jawi Pekan Kiur Langbuana, Rizqi Mallo, Yuliani, Muchamad Idris, Deen Meric, Hendy Boyle, M Rizky Aditya, Riki Adiansyah, Al Barzan, Alpin, Muhammad Dzulfiqar, Abid Kaendea, Leovie Rachmans, Edo, Firman ALfatih, Sarawak Darulhana, Muhammad Safriadi, Zulkifli Jumari, Herisugiarto, Fuad Pettruci, Wahyu Ilham, Amaq Eca, Malik Samudera Pasee, Alvi Wijaya, PENGIRAN MUDA MOHD AZUANIZAM, Koliq Asnawi, Ganto Suseno, Shaqila Azzahra, Seri Rasa, Hendra Een, Daeng BagusPusaka Peninggalan Sultan Hasanuddin – Kerajaan Gowa
Sultan Hasanuddin dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur”, raja pemberani dari Kerajaan Gowa yang gigih melawan VOC Belanda pada abad ke-17. Pusaka peninggalannya bukan sekadar benda, tetapi lambang harga diri, keberanian, dan kedaulatan tanah Makassar.
⚔️ 1. Keris Pusaka Kerajaan Gowa
Keris menjadi simbol kehormatan raja dan bangsawan. Dalam tradisi Bugis-Makassar, keris bukan hanya senjata, melainkan penanda martabat, sumpah setia, dan kekuatan spiritual. Konon, keris pusaka Sultan Hasanuddin digunakan dalam perjuangan mempertahankan Benteng Somba Opu dari serangan VOC.
🗡️ 2. Pedang dan Tombak Perang
Sebagai panglima yang turun langsung ke medan laga, beliau memiliki senjata perang khas Makassar. Senjata ini melambangkan keberanian dan semangat pantang menyerah rakyat Gowa saat mempertahankan negeri dari penjajahan.
👑 3. Mahkota dan Perlengkapan Kebesaran
Atribut kerajaan seperti mahkota, payung kebesaran, serta pakaian adat raja menjadi simbol legitimasi kekuasaan. Pusaka ini biasanya disimpan oleh keturunan kerajaan dan digunakan dalam upacara adat tertentu.
🏰 4. Peninggalan di Benteng Somba Opu
Benteng ini menjadi saksi bisu perjuangan Sultan Hasanuddin. Di kawasan inilah berbagai artefak dan benda bersejarah Kesultanan Gowa pernah tersimpan dan kini sebagian direkonstruksi sebagai situs sejarah.
Pusaka peninggalan Sultan Hasanuddin bukan hanya keris dan pedang, tetapi warisan keberanian yang tak lekang oleh waktu. Dari tanah Gowa, beliau mengangkat senjata demi menjaga kehormatan negeri. Setiap pusaka menjadi saksi bahwa harga diri bangsa lebih tinggi dari segala bentuk penjajahan.”

18/02/2026

Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin adalah raja ke-16 dari Kesultanan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai pahlawan besar dalam melawan penjajahan Belanda (VOC) pada abad ke-17. Ia lahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape dan memerintah sekitar tahun 1653–1669.
Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Gowa merupakan kerajaan maritim yang kuat dan pusat perdagangan penting di kawasan timur Nusantara. Banyak pedagang dari berbagai bangsa datang ke Makassar untuk berdagang rempah-rempah. Namun, kehadiran VOC Belanda ingin memonopoli perdagangan dan menguasai wilayah tersebut.
Sultan Hasanuddin dengan tegas menolak monopoli itu. Ia memimpin perlawanan besar melawan VOC yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Karena keberanian dan semangat juangnya, ia dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” oleh Belanda.
Perang antara Gowa dan VOC berlangsung sengit. Namun pada tahun 1667, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, yang sangat merugikan Kerajaan Gowa. Meski begitu, semangat perlawanan rakyat Makassar tetap dikenang sebagai simbol keberanian dan harga diri bangsa.
Atas jasa dan perjuangannya, Sultan Hasanuddin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya kini diabadikan menjadi nama berbagai tempat penting, seperti Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar.

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Tangerang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Tangerang
15117